
📢 BESTI, SERI NOVEL BERN & AMORA UDAH UP. BUAT YG MAU BACA SILAHKAN KLIK PROFIL EMAK ATAU CARI DENGAN JUDUL SANG PENGUASA HATI. JANGAN KHAWATIR, NOVELNYA ELEA AKAN TETAP DI TERUSKAN SAMPE TAMAT KOK. JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA. MAKASIH.
***
Cadenza dan Elzavat dengan tergesa-gesa keluar dari dalam kamar begitu pelayan melaporkan kalau putrinya pulang ke rumah. Waktu yang menunjukkan masih pukul lima dini hari tak membuat mereka merasa ngantuk. Yang ada justru panik memikirkan gerangan apa yang membuat Casandra bisa tiba-tiba pulang sendiri seperti ini. Baik Cadenza maupun Elzavat, mereka takut sekali gadis pemberontak itu membuat masalah besar yang mana telah menyinggung Jove. Kalian pasti pahamlah seperti kelakuan Casandra. Hmmm.
"Cassey, kenapa kau pulang mendadak begini? Dosa apa yang telah kau lakukan di mansionnya Jove?"
Begitu melihat putrinya sedang duduk santai di ruang tamu, Cadenza langsung mencecarnya penuh tuduhan. Segera dia dan Elzavat menghampiri gadis itu kemudian berkacak pinggang di hadapannya.
"Cepat beritahu kami apa yang sudah kau lakukan sehingga kau bisa berada di rumah pagi-pagi buta begini!" desak Cadenza dengan suara yang cukup tinggi. Dia lalu berdecak saat Elzavat memintanya untuk tenang. "Jangan halangi aku memarahi gadis nakal ini, sayang. Dia harus tahu kalau tindakannya itu bisa mengancam banyak orang!"
"Iya, tapi tenanglah dulu. Bagaimana Casandra akan menjawab kalau kau terus mencecarnya seperti ini. Biarkan dia bicara dan menjelaskan apa yang terjadi kepada kita. Ya?" bujuk Elzavat dengan sangat sabar.
"Huh!"
Casandra santai-santai saja meski sang ayah terus berpikir buruk terhadap kepulangannya. Biar saja. Salah sendiri berpikiran negatif tanpa mencari tahu lebih dulu.
"Cassey, kau dan Jove baik-baik saja, kan?" tanya Elzavat lembut. Dia kemudian duduk di sebelah Casandra. "Jangan membuat kami khawatir, Nak. Bicara ya?"
"Bu, Ibu kan sudah tahu kalau aku menyukai bajingan itu. Lagipula apa salahnya sih kalau aku ingin pulang ke rumah orangtuaku sendiri?" sahut Casandra sedikit cetus. Ekor matanya melirik pada sang ayah yang masih menatapnya penuh curiga. "Haihhh, Ayah-Ayah. Memangnya Ayah pikir aku ini cuma bisa membuat masalah saja apa. Aku pulang kemari itu karena ingin memberitahu kalian kalau aku dan Jove akan segera melangsungkan pernikahan. Jika tidak ada halangan sih rencananya nanti siang kami akan mendaftarkan pernikahan ke kantor sipil!"
"A-APA?!!!"
Cadenza dan Elzavat kompak memekik kencang begitu mendengar penyebab putri mereka pulang mendadak. Sungguh, ini terdengar jauh lebih mengerikan dari sekedar yang mereka pikir. Bagaimana bisa gadis ini menyebut akan menikah nanti siang dengan ekpresi wajah yang begitu tenang? Tidakkah Casandra tahu kalau perkataannya itu hampir membuat mereka terkena serangan jantung?
"Aduuhh, Ayah dan Ibu ini sebenarnya kenapa. Tadi marah-marah dan menuduh aku telah berbuat dosa pada Jove. Dan sekarang kalian malah menerikaiku setelah ku beritahu kalau aku dan Jove mau menikah. Bagaimana sih!" sungut Casandra sembari mengusap daun telinganya. Dia seperti akan tuli gara-gara mendengar suara teriakan pasangan suami istri ini. Sungguh.
__ADS_1
"O-oh, maaf-maaf. Kami tidak sengaja melakukannya," sahut Cadenza langsung meminta maaf. Sebisa mungkin dia menyembunyikan raut tak sukanya. Cadenza tak mau istri dan juga anaknya mengetahui kalau dia sebenarnya masih belum rela putri semata wayangnya menikah dengan mafia kejam itu. Cadenza khawatir.
Untuk memastikan kebenaran dari perkataan Casandra, dengan penuh sayang tangan Elzavat terulur untuk mengelus pipinya. Dia kemudian tersenyum, sangat amat menyadari kegembiraan di diri putri kesayangannya ini.
"Sayang, benar kalian akan menikah?"
"Tentu saja sangat benar, Ibu. Semalam Jove sendiri yang mengatakan padaku kalau siang ini kami akan mendaftarkan pernikahan di kantor sipil," jawab Casandra sambil tersenyum lebar. Dia lalu bersedekap manja, merasa gemas akan sikap Jove semalam. "Jove bilang dia ingin punya anak yang banyak dariku. Hehehe, lucu ya?"
"Apa kau sudah benar-benar memikirkan masalah ini?"
Elzavat tentu saja sangat mendukung kebahagiaan putrinya. Dia hanya merasa aneh kenapa bukan Jove saja yang datang ke rumah ini untuk menyampaikan kabar baik tersebut. Sebagai seorang ibu, jelas keadaan ini terasa sangat mengganjal di hati Elzavat. Dia jadi berpikir apakah mungkin perasaan putrinya ini sebenarnya tidak berbalas, makanya mafia itu meminta Casandra pulang seorang diri. Jika benar, maka Elzavat tidak akan pernah mau menerima pernikahan mereka. Casandra tidak boleh diperlakukan tidak adil begini. Tidak boleh.
"Tidak adalagi yang perlu di pikirkan di sini karena aku dan Casandra akan tetap menikah meski tanpa restu dari kalian!"
Casandra, Elzavat dan juga Cadenza menoleh ke arah pintu masuk saat mendengar seseorang bicara. Masing-masing dari mereka memperlihatkan reaksi yang berbeda-beda. Casandra dengan senyum bahagianya, Elzavat dengan tatapan penuh kelegaan, dan Cadenza dengan pandangan yang berubah-ubah. Tapi begitu Franklin muncul sambil membawa sesuatu di tangannya, dengan sangat cepat ekpresi wajah Cadenza berubah ramah. Dia tentu masih ingat dengan sangat jelas bagaimana kaki tangan mafia itu mengancamnya.
"Jove, kau lama sekali sih. Tidak berbelok ke rumah wanita lain, kan?"
"Kau tidak perlu menutupi ketidaksukaanmu terhadap hubungan kami, Tuan Cadenza. Aku tahu benar kalau kau masih belum rela sepenuhnya melepaskan Casandra untukku!" ucap Jove santai. Kali ini dia sedang tidak ingin mengintimidasi orang, apalagi orang ini adalah calon mertuanya sendiri. Jadi Jove mencoba untuk bersikap santai meski pada kenyataannya raut dingin di wajahnya masih begitu jelas terlihat.
"Ekhmmm." Cadenza berdehem sambil menoleh ke arah lain. Mencoba memberanikan diri, dia akhirnya mengakui akan ketidakrelaan tersebut. "Jove, aku hanya seorang ayah yang ingin melihat putrinya hidup bahagia. Tak peduli dengan statusmu, aku memiliki hak penuh memastikan yang terbaik untuk putri kesayanganku. Aku harap kau bisa paham akan hal ini!"
"Dan kebahagiaanku adalah bersama Jove, Ayah!"
Casandra berdiri. Dia masuk ke pelukan Jove kemudian menatap galak pada ayahnya. "Ayah, walaupun aku benci mengakuinya, tapi hanya bajingan ini saja yang bisa menjamin keselamatanku. Pokoknya kalau Ayah tidak mau merestui hubungan kami, aku akan mengajak Jove kawin lari. Coba saja kalau tidak percaya!"
Kriik kriik kriik
Fidel yang sejak tadi hanya diam saja sampai terbatuk mendengar rencana konyol dari anak majikannya. Fidel pikir dengan tinggal bersama gerombolan para mafia, sikap Nona Casandra akan sedikit berubah. Tapi sayang, sepertinya harapan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Nona Casandra tetaplah Nona Casandra yang suka asal bicara tanpa memandang tempat. Dan jujur, sikapnya itu sangat menggelitik hati. Sungguh.
__ADS_1
"Cassey, percaya tidak Ayah akan memukulmu kalau kau masih sembarangan bicara. Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Tahu?!" tegur Cadenza tak habis pikir dengan kelakuan putrinya. Kepalanya langsung berdenyut.
"Sudah, jangan bertengkar lagi. Jove sedang ada di sini, kenapa kalian malah sibuk sendiri. Janganlah begitu!" lerai Elzavat sudah tak heran melihat perdebatan antara anak dengan suaminya. Dia kemudian berdiri, menatap seksama ke arah Jove yang terlihat santai-santai saja sambil memeluk putrinya. "Jove, apa benar nanti siang kalian akan mendaftarkan pernikahan ke kantor sipil?"
"Benar, Nyonya," jawab Jove.
"Dengan waktu sesingkat ini bagaimana mungkin kalian bisa menyelesaikan semua urusannya? Kau tidak mungkin menikahi Casandra hanya dengan pernikahan sederhana saja, kan?"
Begitu Elzavat selesai bicara, Franklin langsung datang mendekat. Dia lalu menujukkan benda apa yang di bawanya.
"Anda jangan khawatir, Nyonya. Semuanya sudah hampir selesai di persiapkan. Dan ini ....
"Apa ini?" tanya Elzavat seraya mengerutkan kening. Dia tidak paham mengapa Franklin memberinya sebuah koper dengan ukuran yang sangat mini. Besarnya hanya segenggaman tangan anak bayi.
"Itu adalah mahar yang di berikan oleh Tuan Jove kepada keluarga Lin. Di dalam koper tersebut ada semacam kartu flashdisk yang hanya bisa di akses oleh anda seorang," jawab Franklin. Dia berbalik menatap Tuan Cadenza. "Tuan, mohon bantuannya!"
"B-baiklah."
Segera Cadenza datang mendekat kemudian meminta koper kecil itu dari Elzavat. Setelah itu Cadenza meminta Fidel untuk mengambil laptop. Dan begitu kartu tersebut di ambil dan dimasukkan ke dalam laptop, sebuah petunjuk muncul dan meminta agar Elzavat menunjukkan wajahnya.
"Apa tidak apa-apa jika aku melakukannya?" tanya Elzavat agak ragu. Dia takut muncul sesuatu yang tidak-tidak di layar laptop begitu wajahnya di dekatkan.
"Paling hanya kepala buntung, Bu," celetuk Casandra iseng. Dia kemudian tersenyum saat Jove berbisik agar jangan mengganggu.
"Jangan takut, Nyonya. Wajah anda hanya di gunakan untuk membuka akses harta karun yang Tuan Jove jadikan sebagai mahar untuk meminang Nona Casandra. Cobalah!" ucap Franklin datar.
"Emm baiklah."
Meski takut, Elzavat akhirnya mendekatkan wajah ke depan laptop. Dan begitu wajahnya terdeteksi, dia langsung jatuh terduduk begitu melihat berbagai jenis harta karun yang di maksud oleh Franklin. Sungguh, ini sangat jauh melampaui ekspektasi. Jove, pria itu ....
__ADS_1
***