The Devil JOVE

The Devil JOVE
112. Ketakutan Seorang Ayah


__ADS_3

Fidel berjalan masuk ke dalam ruangan Tuan Cadenza sambil membawa sebuah berkas di tangannya.


"Selamat siang Tuan. Saya datang membawakan berkas tawaran untuk bergabung dengan CL Group. Sepertinya Tuan Jove berniat melibatkan L Group di dalam peluncuran Bioteknologi yang mereka rencanakan!" ucap Fidel sembari meletakkan berkas di atas meja. Dia kemudian menghela nafas. "Tuan Cadenza, entah mengapa saya merasa resah akan sesuatu hal. Bagaimana jika Tuan Eriko merencanakan sesuatu yang bisa mencelakai Nona Casandra? Saya tahu beliau adalah saudara anda, tapi hubungan saudara kalian hanya sebatas saudara tiri. Fakta ini tak menutup kemungkinan kalau Tuan Eriko akan tega untuk melukai keponakannya sendiri!"


Cadenza mendengarkan perkataan Fidel dengan seksama. Kemarin setelah dia mendapat teguran dari Franklin, Cadenza sampai lupa memberitahu pria ini bahwa memang benar kalau Eriko merencanakan hal buruk pada putrinya. Pahit yang di bahas memang. Akan tetapi ini adalah fakta yang berhak untuk Fidel ketahui.


"Fidel, yang kau katakan memang benar kalau Eriko memiliki niat jahat pada Casandra. Tapi kau jangan khawatir. Jove dan Franklin sudah mengatur rencana untuk menghentikannya. Kau bisa tenang," ucap Cadenza seraya menarik nafas panjang. Dia kemudian membuka berkas yang tadi di bawa Fidel kemudian mulai membacanya.


Ya Tuhan, tolong kuatkan aku. Belum juga aku merasa tenang karena Casandra berada di tangan Jove, sekarang muncul lagi masalah lain yang jauh lebih mengkhawatirkan lagi. Eriko adalah adikku, mungkinkah aku akan tega membiarkannya di bantai oleh anak buahnya Jove? Ini terlalu menyakitkan, tapi juga berbahaya jika Eriko sampai mendapatkan Casandra. Astaga.


Pandangan Fidel menajam saat dia mendapati ada gurat kecemasan di wajah majikannya. Dia yakin pasti ada sesuatu hal lain yang tak di ketahuinya. Tak mau kecolongan, Fidel mencoba merayu Tuan Cadenza agar mau bicara. Dia merasa berhak untuk menanyakan hal tersebut karena bagaimana pun dia pernah bertanggung jawab atas keselamatan Nona Casandra.


"Jika ada masalah yang berat, jangan ragu untuk membaginya dengan saya, Tuan. Anda tidak sendiri, masih ada saya yang siap pasang badan untuk melindungi anda dan keluarga. Jadi saya mohon tolong jangan bungkam. Bicaralah!"


"Franklin menegurku!" Cadenza langsung bicara. Kedua matanya terpejam sebelum dia memberitahu Fidel tentang ancaman apa yang dilontarkan oleh orang kepercayaannya Jove. "Franklin tahu kalau aku dan Elzavat berniat membawa Casandra lari dari sana. Dia lalu memberitahukan kalau Pamela, sepupunya Jove, juga berniat mengincar putriku. Mungkin jika Pamela adalah wanita biasa, aku tidak akan segelisah ini. Tapi ....


"Tapi?"


"Tapi Pamela itu adalah pemilik labolatorium Grisi. Dia ilmuwan gila yang tidak punya hati nurani. Juga ada Awan, si pembunuh bayaran yang juga mengincar darah langka. Semua mengerikan, membuat aku seperti tidak bisa bernafas!" lanjut Cadenza lirih. "Franklin bilang di antara semua orang yang mengejar Casandra, Pamela adalah yang paling menakutkan. Dia mengancam akan membiarkannya memburu Casandra jika aku dan Elzavat masih terpikir untuk memisahkannya dari Jove. Ini pilihan yang sangat berat. Kau tahu itu, kan?"

__ADS_1


"Jadi selama ini anda dan Nyonya tidak setuju kalau Nona Casandra tinggal bersama Jove?" tanya Fidel kaget. Dia tidak mengira kalau kedua majikannya memendam kekhawatiran sampai seperti ini. Padahal Fidel sudah cukup merasa lega karena keduanya terlihat tenang saat menyerahkan Nona Casandra pada mafia itu. Ternyata ....


"Semuanya membuat kami merasa terpojok, Fidel. Casandra hanya bisa aman jika berada di bawah perlindungan Jove, kau pun tahu akan hal ini. Dan sewaktu Jove meminta Casandra, kami hanya bisa pasrah dan membiarkannya saja. Mau bagaimana lagi. Kami tak memiliki kuasa untuk menolak keinginan itu. Hingga tempo hari aku dan Elzavat terlibat pembicaraan rahasia yang ternyata di dengar oleh mata-mata Jove yang ada di rumah ini. Kami ketahuan, dan pada akhirnya aku harus menerima ancaman yang sangat menakutkan dari Franklin!"


"Memangnya kapan Franklin melakukan hal itu, Tuan?" tanya Fidel penasaran.


"Kemarin saat aku datang menjenguk Casandra," jawab Cadenza. Setelah itu dia membuka mata kemudian tersenyum. "Kau tahu tidak, Fidel. Casandra menyukai Jove, dan Elzavat langsung menyetujuinya. Sebenarnya aku agak keberatan. Tapi karena melihat Casandra begitu bahagia saat membahas tentang perasaannya, aku jadi bimbang untuk melakukan protes. Menurutmu tindakan apa yang harus aku tunjukkan untuk menyikapi masalah ini? Kira-kira berbahaya tidak kalau aku menolak hubunganya dengan Jove?"


"Jangan lakukan itu, Tuan. Karena bukan hanya Nona Casandra saja yang akan terkena dampaknya, tapi seluruh keluarga Lin. Kalau memang benar Nona Casandra mencintai Jove dan Jove bersedia menerima perasaannya, saya rasa tidak ada alasan kuat untuk anda menolak hubungan mereka. Justru itu malah akan membawa keuntungan lebih karena para musuh pasti akan berpikir dua kali jika ingin mengincar Nona Casandra. Jangan lupa, Tuan Cadenza. Putri anda sangat spesial. Adalah sangat salah kalau anda sampai menolak menantu dengan kualifikasi yang bisa di sebut sangat sempurna seperti Jove. Tolong pikirkan hal ini baik-baik!" jawab Fidel langsung mengingatkan majikannya agar tidak salah mengambil keputusan.


"Baiklah kalau begitu. Kali ini aku akan mencoba belajar untuk menerima," sahut Cadenza seraya membuang nafas kasar.


"Sayang, kau yakin membiarkan Casandra berlarut dalam rasa cinta kepada Jove?" tanya Cadenza dengan ekspresi sangat syok. Dia tak percaya akan apa yang baru saja di ucapkan oleh istrinya. "Jove adalah seorang bajingan. Bukankah kemarin kau juga merasa keberatan akan hal ini?"


"Itu benar, Cadenza. Akupun sebenarnya sangat tidak kau Casandra menikah dengan orang berlatar belakang penjahat seperti Jove. Akan tetapi sebagai seorang ibu aku mana mungkin tega menghambat rasa cinta yang baru pertama kali dirasakan oleh putriku. Jelas terlihat kalau Jove dan Casandra saling cinta, hanya saja cara mereka sedikit berbeda. Jove memang kasar, tapi dia selalu berusaha membuat Casandra aman dan terlindungi. Di sini aku mungkin terdengar munafik, tapi ini adalah fakta yang tidak bisa kita tolak. Casandra mencintai Jove, dan Jove mencintai Casandra. Kita harus bisa menerimanya!" jawab Elzavat mencoba meyakinkan suaminya agar tidak menentang hubungan putri mereka.


"Tapi sayang, keputusan ini bukan sesuatu yang mudah. Kita saja sedang memikirkan cara apa yang bisa membawa Casandra keluar dari jerat lingkaran mafia itu, kenapa sebar kau malah berubah pikiran seperti ini? Tolong jangan plin-plan, Elzavat. Jangan hanya karena kau tersihir kekuasaan mafia itu lantas kau memutuskan untuk menerimanya sebagai menantu. Pikirkanlah lagi. Ada banyak jalan menuju roma, dan aku yakin pasti ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Casandra. Percayalah!"


Elzavat menghela nafas. Setelah itu dia tersenyum sambil mengulurkan tangan mengelus pipi Cadenza. "Aku tahu kau menghawatirkan kebahagiaan anak kita, Cadenza. Akupun demikian. Namun jika kau melihat langsung seperti apa romantisnya mereka saat sedang berbalas kata, aku yakin kau pasti luluh. Casandra terlihat bahagia dengan cara Jove memperlakukannya. Dia nyaman meski bibirnya tak henti berkata kasar. Percayalah, sayang. Aku mengatakan ini bukan karena tersihir oleh apa yang Jove miliki, bukan seperti itu. Tapi aku mengatakannya karena Casandra adalah putri kita, dia buah cinta kita. Jadi mungkinkah aku akan menjebloskan putriku ke dalam jurang kesengsaraan hanya karena harta dan kuasa? Tidak, Cadenza. Sakitnya Casandra adalah sakitku juga. Dan bahagianya Casandra adalah bahagiaku juga. Apa kau mengerti?"

__ADS_1


"Haruskah aku?"


"Ya. Kau harus melakukannya demi kebahagiaan putri kita."


"Jika Casandra sampai tidak bahagia, apa yang akan kau lakukan terhadapku?" tanya Cadenza masih meragu. "Nasi yang sudah menjadi bubur mustahil bisa kembali lagi menjadi nasi. Itu artinya sesuatu yang sudah terjadi mustahil bisa di ulang kembali. Kalau memang benar Casandra dan Jove saling cinta, seberat apapun aku pasti akan mengizinkannya. Akan tetapi jika terjadi sesuatu hal buruk pada hubungan mereka, apa yang akan kita terima kalau bukan penyesalan semata? Ini yang aku khawatirkan, sayang!"


"Aku tahu dan akupun sangat sadar akan hal itu. Tapi tetap saja, keputusanku tapi akan pernah berubah. Jove adalah kebahagiaan putri kita, dan aku pastikan mereka berdua akan berakhir di pelaminan yang sangat indah. Aku bersumpah akan hal itu, Cadenza!"


Melihat tekad istrinya yang begitu kuat, mau tak mau Cadenza hanya bisa pasrah mengikuti. Namun jauh di dalam lubuk hati, dia masih meyimpan keraguan besar. Mungkin terdengar jahat, tapi sebagai seorang ayah Cadenza berhak memilih keputusan. Dan keputusan itu adalah ....


"Tuan Cadenza, saya harap anda tidak menyembunyikan sesuatu dari saya. Tolong izinkanlah Nona Casandra memperjuangkan kebahagiaannya bersama Jove. Kita sebagai keluarga wajib memberi dukungan agar semuanya bisa berjalan lancar. Bisa, kan?" ucap Fidel kembali meyakinkan majikannya agar tidak salah memutuskan. Juga tidak coba-coba menyembunyikan rahasia yang bisa berdampak bahaya bagi banyak orang, terutama Nona Casandra.


"Hmmmm, aku tidak bisa menjawab sekarang, Fidel. Biarkan aku merenungkannya sejenak. Casandra adalah anakku satu-satunya. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya jatuh ke tangan orang yang salah!" sahut Cadenza masih kekeh dengan keputusannya meski telah menerima ancaman dari Franklin. Ini bukan tentang ancaman atau apapun itu, tapi ini tentang kekhawatiran seorang ayah pada anaknya. "Jove Lorenzo. Mendengar namanya saja sudah membuat seluruh tubuh gemetar takut. Pantaskah pria seperti itu bersanding dengan putriku yang begitu berharga, Fidel? Aku paham akan kekhawatiran yang kau rasa. Tapi nanti saat kau sudah menikah dan memiliki anak perempuan, kau pasti akan merasakan ketakutan yang sama seperti yang sedang aku rasakan sekarang. Percayalah!"


"Tuan, maaf sebelumnya. Tapi kemungkinan seperti itu rasanya akan jauh menghampiri hidup saya karena saya bukan bagian dari keluarga Lin. Mustahil untuk saya bisa mempunyai anak dengan keistimewaan seperti Nona Casandra. Jadi maaf, ketakutan yang anda rasakan sekarang tidak saya pastikan tidak akan pernah terjadi di hidup saya," sahut Fidel sambil menahan senyum.


"Hmmm, boleh aku mengumpat?" Cadenza tersenyum. Merasa terhibur akan candaan yang di ucapkan oleh Fidel barusan.


"Silahkan saja, Tuan. Waktu dan tempat di persilahkan!"

__ADS_1


***


__ADS_2