The Devil JOVE

The Devil JOVE
133. Restu Seorang Ayah


__ADS_3


📢Silahkan yang mau kondangan. Undangan bisa di dowload sendiri-sendiri ya 😂


***


"Fyuhhh, kenapa gugup sekali ya. Aneh," gumam Casandra sambil terus menghela nafas. Dia kini tengah berada di ruang tunggu. Sendirian, tanpa ada Jove di sisinya.


Setelah semalam menerima kabar baik dari ibunya, Jove langsung memerintahkan Franklin agar mengatur pesta pernikahan semeriah dan semegah mungkin. Dengan segala kekuasaan dan nama besar keluarga Clarence, bukanlah suatu hal yang mustahil untuk Jove mewujudkan impian Casandra yang memang menuntut sebuah pernikahan megah. Jelaslah. Dia adalah satu-satunya putri di keluarga Lin. Casandra menolak hanya menikah secara biasa saja. Apalagi dia juga mempunyai jabatan yang lumayan penting di L Group. Jadilah dia menantang Jove apakah mampu memberinya satu pernikahan yang tak akan pernah bisa dia lupakan sepanjang masa atau tidak. Dan sepertinya apa yang Casandra inginkan benar-benar akan terwujud. Entah berapa tumpuk uang yang Jove keluarkan demi bisa membahagiakannya di hari spesial ini. Masa bodo, Casandra tak peduli. Yang penting dia dan Jove bisa menjadi raja dan ratu sehari di mana membuat banyak wanita merasa iri. Hehe.


Ceklek


"Ya ampun putri Ibu cantik sekali!" pekik Elzavat heboh begitu melihat putrinya bak bidadari mengenakan gaun pengantin yang sangat luar biasa indah. Segera dia berjalan cepat menghampiri kemudian mengelus pipinya penuh sayang. "Selamat ya, sayang. Akhirnya kau dan Jove menikah juga. Ibu bahagia sekali."


"Terima kasih banyak, Ibu. Tolong do'akan agar rencana kami berjalan lancar ya?" sahut Casandra mencoba untuk tidak menangis. Hatinya terharu sekali melihat kegembiraan di wajah sang ibu.


"Itu pasti, sayang. Ayah dan Ibu pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."


"Oya, Bu. Ayah mana? Kenapa tidak ikut datang menemui?" tanya Casandra saat tak melihat keberadaan sang ayah. Dia lalu menatap lama ke arah pintu yang masih terbuka setengah. Menebak-nebak, Casandra berpikir kalau sang ayah saking merasa terharu sehingga enggan untuk muncul. "Apa Ayah lebih khawatir pada make-up yang luntur daripada datang menyemangati putrinya sendiri? Kalau benar begitu aku akan meminta seorang perias untuk mencoret-coret wajah Ayah saja. Jahat sekali!"

__ADS_1


Dan benar saja. Begitu Casandra selesai bicara, Cadenza langsung muncul. Matanya terlihat merah, tapi tidak sembab. Sebagai orangtua, mustahil tidak bahagia ketika melihat anak yang dengan susah payah dia besarkan sebentar lagi akan segera melangkah menuju biduk rumah tangganya sendiri. Akan tetapi saat teringat dengan identitas pria yang akan menjadi pendamping putrinya, hati Cadenza kembali diliputi kecemasan yang sangat besar. Dia sangat amat takut Casandra-nya akan terluka. Jadi memutuskan untuk bersembunyi dulu guna menenangkan hati dan pikirannya sejenak. Tapi memang dasarnya Casandra adalah gadis nakal, Cadenza di buat tak berlama-lama menyembunyikan diri. Hingga akhirnya diapun muncul.


"Hmmm, aku pikir Ayah benar-benar tidak akan datang menemuiku tadi," ucap Casandra sembari menatap lekat wajah sang ayah yang terlihat sedih.


"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, Cassey? Kau adalah satu-satunya anak Ayah, bagaimana mungkin Ayah bisa tak hadir di hari paling spesial di hidupmu? Dasar anak nakal kau ya," sahut Cadenza mencoba untuk menutupi keresahannya. Dia lalu menyentuh kedua bahu Casandra, menatapnya lekat dengan pandangan yang sulit di artikan. "Cassey, kau tahu kan kalau Ayah sangatlah menyayangimu?"


Kening Casandra mengerut. Dia meras aneh mendengar ayahnya yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Sambil menganggukkan kepala, Casandra mencoba untuk memahami mungkin ayahnya hanya terlalu terbawa perasaan melihatnya yang sudah akan menikah. Wajar, selama inikan ayahnya begitu posesif kepadanya. Hmmm.


“Nak, sejak kecil Ayah dan Ibu selalu menginginkan yang terbaik untukmu. Walau sebenarnya Ayah masih belum sepenuhnya rela melepasmu pada Jove, tapi Ayah akan tetap mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Jika di suatu hari Jove melakukan sesuatu yang membuatmu tak bahagia, segeralah pulang ke rumah. Pintu rumah keluarga Lin akan selalu terbuka lebar untukmu. Ya?” ucap Cadenza dengan suara tercekat. Matanya memanas, tapi sebisa mungkin dia tahan agar tidak menangis melihat Casandra yang begitu cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih.


“Ayah,” ….


“Hei, Cadenza. Hari ini adalah hari bahagia putri kita, tolong jangan membuatnya menangis. Nanti make-upnya rusak. Tahu?” tegur Elzavat sembari menyeka air mata yang sudah meluncur jatuh mengenai pipinya. Jangan di tanya bagaimana perasaannya sekarang. Ya sedih, ya bahagia, ya terharu, ya cemas. Pokoknya semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu. Membuat air mata jadi sulit untuk tidak menetes keluar.


“Justru karena ini adalah hari bahagia putri kita makanya aku ingin memberitahu kalau kita akan selalu menyayangi dan mencintainya. Aku ingin Cassey tahu kalau apapun kondisinya, kita pasti akan selalu menerimanya jika ingin kembali pulang ke rumah,” sahut Cadenza yang akhirnya meneteskan air mata juga. Dia tak tahan untuk tetap berpura-pura kuat. Apalagi melihat Elzavat yang juga meneteskan air mata, semakin membuat perasaan Cadenza menjadi tidak karu-karuan saja.


“Ayah, Ibu. Terima kasih karena selama ini kalian selalu menyayangi dan mencintaiku. Walaupun terkadang aku suka membuat kalian sakit kepala, tapi ketahuilah kalau aku juga sangat menyayangi kalian. Ayah dan Ibu adalah malaikat tak bersayap yang di kirim Tuhan untukku. Sekali lagi terima kasih banyak atas segala cinta dan kasih sayang yang kalian beri. Aku sangat mencintai kalian. Sungguh,” ucap Casandra meluapkan rasa terima kasih di hadapan Ayah dan juga ibunya. Sekuat apapun Casandra berusaha menahan, pada kenyataannya air mata itu tetap jatuh juga. Dia lalu tersenyum saat sang ibu sigap mengelapnya dengan sangat hati-hati. “Ayah, Ibu. Aku minta maaf ya jika selama ini aku selau menyusahkan kalian. Aku juga minta maaf karena sering membuat kalian merasa tak tenang. Hikss,”


“Syuuuttt sayang, jangan menangis. Nanti make-upnya luntur. Kalau Jove pingsan melihat penampilanmu yang berantakan bagaimana? Kan tidak lucu jika mempelai prianya kabur gara-gara make-up pengantin wanita yang tidak sempurna. Iya, kan?” ledek Elzavat tak membiarkan Casandra terus menangis.

__ADS_1


“Aku akan menghajarnya kalau dia sampai berani kabur dan meninggalkanku seorang diri di altar pemberkatan, Bu!”


“Maka dari itu jangan menangis lagi. Ini adalah hari paling spesial di hidupmu, jadi kau harus tersenyum bahagia. Kau jangan khawatir. Ayah dan Ibu sudah memaafkan semua kenakalan yang telah kau lakukan. Benarkan, Cadenza?”


Cadenza mengangguk.


“Ayah dan Ibu tak pernah mempermasalahkan perbuatanmu, Cassey. Hari ini dengan tulus Ayah dan Ibu menyatakan kalau kami memberikan restu untukmu dan juga untuk Jove. Berbahagialah, Nak. Doa Ayah dan Ibu akan selalu menyertai kebahagiaan di rumah tangga kalian.”


Tepat ketika Cadenza memberikan restunya, seorang wanita masuk ke dalam ruangan. Wanita ini memberitahu sudah saatnya Casandra keluar menuju altar pemberkatan. Elzavat yang mendengar hal itupun segera memeriksa kalau penampilan suami dan putrinya sudah sempurna. Setelah itu dia keluar meninggalkan kedua orang yang sedang saling tersenyum sambil berdiri berhadapan.


“Siap?”


“Sangat, Ayah.”


“Baiklah kalau begitu. Kita keluar sekarang.”


Casandra mengangguk. Dia lalu melingkarkan tangan ke lengan sang ayah sebelum akhirnya mereka bersama-sama melangkah menuju altar pernikahan di mana Jove dan para tamu lainnya sudah menunggu.


Jove, hari ini aku mengalah pada egoku dengan menyerahkan putriku kepadamu. Aku harap kau bisa menjaganya dengan baik. Casandra adalah permata di keluarga Lin. Aku akan sangat kecewa padamu jika kau sampai berani membuatnya menangis.

__ADS_1


***


__ADS_2