The Devil JOVE

The Devil JOVE
111. Pergi Menyapa


__ADS_3

Begitu Awan menyatakan persetujuannya untuk beekrjasama dengan Albert, dia langsung mengatur langkah untuk mulai memburu Jove. Melawan keraguan yang sempat membelenggu hatinya, Awan nekad menyalakan peperangan dengan mafia yang memiliki dekingan sangat mengerikan. Biarlah. Kalaupuan harus mati Awan sudah siap di jemput leh malaikat mau demi mendapatkan setetes darah langkah milik Casandra Lin. Mau bagaimana lagi. Jika benar Casandra hanya seitimewa itu saja, harusnya Jove tidak perlu sampai membuat wanita itu tinggal bersama. Awan yakin pasti masih ada hal istimewa lain yang hanya di ketahui oleh mafia itu seorang.


“Tuan Awan, yang lain sudah siap di dalam mobil. Kita berangkat sekarang?” tanya salah seorang penjaga yang matanya hanya tersisa satu. Dia adalah korban kemarahan si pembunuh bayaran yang setiap kali marah harus ada yang mati berkubang darah. Beruntung dia hanya kehilangan sebelah matanya saja. Jadi masih memiliki kesempatan untuk menghirup udara di dunia ini.


“Apa senjatanya juga telah siap semua?” tanya Awan sambil menghela nafas panjang. Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu. “Jove sulit untuk dilawan. Jadi kita musti melakukan persiapan yang matang agar bisa tetap bertahan hidup!”


“Tuan, maaf jika saya lancang. Entah mengapa saya merasa kalau Albert hanya sedang mempermainkan kita saja. Pernah tidak anda membayangkan kalau dia sengaja melakukan hal ini demi mendapatkan keuntungan dari dua sisi. Satu dengan kematian Jove, dan yang kedua dengan memiliki Casandra. Orang penuh tipus muslihat sepertinya mana mungkin tidak meneteskan air liur begitu tahu kalau wanita itu bisa mendatangkan kekayaan yang besar sekali untuknya. Mustahil Albert mau dengan sukarela memberikanya kepada anda!”


“Aku tahu. Dan Albert salah besar jika berikir aku telah termakan bujukannya. Seorang Awan yang sudah sangat lama berlalu-lalang di dunia seperti ini mungkinkah bisa di tipu dengan mudah? Jawabannya sudah pasti tidak!” sahut Awan seraya menampilkan senyum miring. Wajar jika anak buahnya berpikir demikian, dia tak menyalahkan.


“Lalu apa rencana anda untuk membalas kelakuan Albert?”


“Aku akan menghabisinya begitu dia memberikan Casandra. Sekarang biar saja dia merasa menang dengan berpikir kalau kita sudah kalah. Akan tetapi begitu Albert berhasil membawa Casandra kkeluar dari mansionnya Jove, di saat itulah dia akan sadar dengan siapa dia berhadapan. Ayo berangkat!”


“Baik, Tuan.”


Sungguh sangat miris sekali nasib seorang Albert. Niat hati ingin meraih keuntungan dengan memperdaya Awan, diam-diam sekarang dialah yang sedang berada di ujung tanduk. Senjata yang dia lempar akan segera berbalik pada dirinya sendiri. Ah, tidak. Kata ini terlalu mudah. Jangan lupakan juga dengan kemarahan Jove. Bahkan Jove telah menempatkan banyak mata-mata hanya untuk mengintai kapan waktu yang tepat untuk menghabisinya. Malang sekali. Awan dan Jove, tidakkah kedua orang ini sangatlah mustahil untuk bisa Albert kalahkan? Yang benar saja. Bahkan untuk sekedar melawan Awan dia harusnya sudah berpikir ratusan kali. Haihhh.


Dengan membawa banyak penjaga, Awan pergi menuju rumah tempat dia akan memulai pengintaian. Sembari menunggu tiba di sana, Awan mencaritahu tentang sesuatu hal. Dia perlu menyelidiki apa kelebihan darah milik wanita dari keluarga Lin itu. Jika hanya sebagai biang penawar, Awan akan berpikir ulang apakah akan tetap memburu Jove atau tidak. Namun jika ada hal baru yang jauh lebih menarik, dia bersumpah bahkan tidak akan mundur meski di hadapannya ada Nyonya Rose sekalipun.


“Hmmm, di sini tertulis kalau darah langka hanya bisa di gunakan untuk menjadi biang racun. Itu tandanya sudah tidak ada kelebihan lain yang perlu di buru dari wanita itu. Namun, mengapa Jove sampai menahannya di mansion? Tidak mungkin hanya dengan alasan seperti ini saja. Pasti ada yang lain. Harus kucaritahu lebih teliti lagi!”


Di saat Awan dan anak buahnya sedang daalm perjalanan menuju suatu tempat yang akan menjadi lokasi pengintaian, di tempat lain ada Pamela yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas mendengar laporan bawahannya. Pucuk di cinta ulampun tiba. Belum juga dia mengatur rencana untuk menemui calon kekasihnya, tapi pria menarik itu sudah lebih dulu menyerahkan diri. Pamela senang sekali saat tahu kalau Awan sudah meninggalkan kediamannya dan berpindah ke satu rumah yang lokasinya tak seberapa jauh dari mansion sepupunya. Bahagia, itu sudah pasti. Rasanya seperti sepasang kekasih yang sudah lama berpisah jarak. Sungguh.


“Nona Pamela, haruskah kita menghadang perjalanan mereka? Terlalu aneh kalau kita tiba-tiba mendatangi kediaman Awan. Bukannya apa, saya khawatir pria itu akan kabur melarikan diri karena menolak berurusan dengan anda!”

__ADS_1


“Hmmm, benar juga ya. Ya sudahlah, kau atur semuanya. Akum au berdandan dulu untuk menyambut pertemuan pertamaku dengan calon kekasihku. Oke?”


“Baiklah.”


Segera Pamela berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lupa dia bernyanyi di bawah guyuran air shower sebagai bentuk kebahagiaannya. Sebenarnya pertemuan ini terlalu cepat, juga sedikit jauh dari yang di prediksikan oleh Pamela. Akan tetapi karena Awan sudah memutuskan untuk bergerak, Pamela bisa apa. Lebih baik mempercantik diri saja agar pria itu tidak merasa kecewa begitu mereka bertatap muka.


“Awan sayang, bersiaplah. Sebentar lagi kita akan segera merajut cinta sebagai partner yang sama-sama suka dengan dollar. Usiaku boleh saja muda, tapi kematanganku dalam bekerja tidak perlu kau ragukan lagi. Aku berani jamin kau pasti akan menjadi pria paling bahagia di dunia jika mempunyai kekasih sehebat aku. Sungguh,” ucap Pamela berbicara dengan dirinya sendiri. Tak lama setelahnya Pamela tersipu, malu saat membayangkan hal romantis apa yang akan dia dan wan lakukan. “Hehehe, kalau kami berciuman kira-kira dunia ini akan kiamat tidak ya? Bibirku inikan belum pernah di sentuh oleh siapapun. Jika Awan bersikap agresif, dia akan menjadi orang pertama yang akan merasakannya. Ahahah, jadi malu.”


Tak mau terlambat, Pamela bergegas keluar untuk bertukar baju. Kali ini dia memilih pakaian yang sedikit lebih sopan dan terkesan feminim. Tujuannya sangat sederhana. Agar Awan tak bisa mengalihkan pandangan selain pada dirinya. Arogan? Sudah pasti. Pamela telah menetapkan Awan sebagai pasangan dunia akhirat karena fisi misi yang mereka jalankan berada di satu alur yang sama. Itulah kenapa Pamela yang tadinya berniat menghabisi pembunuh bayaran itu malah berbalik menyukainya. Dia terlalu terpesona saat membaca informasi Awan.


“Hmmmm, rasanya sungguh aneh. Kira-kira Ayah dan Ibu akan merestui hubungan kami tidak ya? Secara, Awan itukan seorang pembunuh, sedangkan aku sendiri adalah penerus kekuasaan Ayah di organisasi Grisi. Kalau kami menikah kemudian mempunyai anak, mereka jadi penjahat atau anak baik? Astaga, kenapa aku jadi melantur seperti ini sih. Padahal aku masih belum bertemu dengan Awan, kenapa pikiranku sudah kemana-mana,” gumam Pamela heran akan pemikirannya sendiri. Dia lalu memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah, ingin meninggalkan kesak seksi dan menggoda. “Nah, sudah cantik. Awan pasti tidak akan bisa tidur setelah bertatap muka denganku. Waktunya berangkat!”


Sebelum pergi, Pamela mengambil segepok dollar dari dalam koper kemudian memasukkannya ke dalam tas yang terbuat dari kulit manusia. Setelah itu dia keluar dari dalam kamar kemudian pergi menghampiri semua orang yang masih berada di kamar kakak sepupunya.


“Ya ampun, Paman Adam. Mana ada wanita yang ingin mengganggu pria hidung belang muncul dengan pakaian sesopan ini. Percaya tidak kalau pria hidung belangnya akan langsung pergi karena berpikir salah memesan orang. Bagaimana sih!” sahut Pamela sambil mengerucutkan bibir. Dia kesal di tanya seperti itu oleh sang paman. Ada-ada saja.


“Lagipula siapa suruh aku muncul dengan pakaian aneh begini. Jadi jangan salahkan Paman kalau Paman berpikir seperti tadi!”


“Alasan.”


“Biar saja.” Adam tak mau mengalah. Dan ketika dia hendak meledek Pamela lagi. Rose mencubit lengannya. Adam kemudian menoleh. “Apa, Honey?”


“Jangan membaut gaduh. Jove dan Casandra sedang istirahat, kasihan mereka!” tegur Rose berusaha melerai keributan antara suami dan keponakannya. Dia tak ingin istirahat kedua orang itu sampai terganggu setelah apa yang mereka lewati tadi.


“Baiklah ratuku. Aku akan diam!”

__ADS_1


Rose tersenyum. Kini gantian dia yang terkejut melihat penampilan keponakannya. “Pamela, gerangan apa yang membuatmu berpenampilan seperti ini? Kau mau pergi keluarkah?”


“Iya, Bibi,” jawab Pamela sambil tersenyum malu-malu. “Calon kekasihku sedang dalam perjalanan kemari sekarang. Dan aku berniat pergi untuk menyapanya lebih dulu. Memang sedikit lebih ceoar dari yang aku perkirakan sih, tapi apa mau di kata. Awan bergerak lebih cepat!”


“Awan?”


Pamela mengangguk. “Sepertinya nyali pria itu sudah setinggi gunung Himalaya. Buktinya sekarang dia sudah berani melewati batasan yang pernah Bibi buat. Awan mengesankan sekali, bukan?”


“Oh, jadi dia sudah bernyali ya? Baguslah. Dengan begitu satu musuh Jove bisa segera di tumbangkan. Kau memperingan masalah, sayang. Terima kasih,” ucap Rose menyanjung tujuan Pamela yang secara tidak langsung akan menghentikan Awan agar tidak memburu Casandra. Melegakan.


“Karena aku sudah memilih Awan, seharusnya Paman dan Bibi sudah tidak menyentuhnya lagi. Dia bagianku, jadi biar aku saja yang mengurusnya. Oke?”


Adam dan Rose kompak mengangguk. Mereka kemudian melambaikan tangan saat Pamela mengedipkan mata hendak pergi.


“Honey, menurutmu Jassy akan mengamuk tidak jika tahu kalau putri bungsunya jatuh cinta pada seorang penjahat?” tanya Adam penasaran. “Dia itukan tak pernah mengizinkan Pamela mendekam di lab. Pasti Jessy kaget sekali jika sampai mengetahu pekerjaan Awan. Benar tidak?”


“Apapun itu kita doakan yang terbaik saja. Kau tidak lupakan tentang menantunya Bibi Abigail? Jackson Wang. Pria itu dulunya juga adalah seorang pembunuh bayaran yang jauh lebih keji dari Awan. Jadi aku rasa kemarahan Jessy tidak akan bertahan lama, apalagi Pamela dan Awan terlihat sangat cocok sekali. Mereka berdua sama gilanya, jadi tidak mungkin hubungan mereka akan bermasalah!” jawab Rose santai.


“Benar juga. Haihhh ya sudahlah. Apapun itu aku doakan semoga Pamela bahagia dengan pilihannya.”


“Aku setuju.”


Adam kemudian mengajak Rose keluar dari kamar Jove. Dia takut suara mereka akan membangunkan sepasang kekasih yang sedang terlelap nyenyak sambil berpelukan.


***

__ADS_1


__ADS_2