The Devil JOVE

The Devil JOVE
127. Lipstik Darah


__ADS_3

Pamela melangkah keluar dari dalam mobil sambil mengikat rambutnya ke atas. Dia kemudian menyeringai, puas menyaksikan kediaman calon kekasihnya yang sudah rusak berantakan.


"Kerja bagus anak buahku. Tidak sia-sia aku memprogram otak kalian. Hahahaha!" girang Pamela sambil terbahak-bahak. Dia lalu melangkah menuju pintu pagar yang sudah berserak di tanah. Sambil berdecak pelan, kaki Pamela menyepak besi yang menghadang jalan. "Ck, tidak kusangka mereka akan sekuat ini. Awan dan anak buahnya pasti takut sekali saat mutan-mutan itu menyerang mereka. Kasihan. Hehehe,"


Dari arah dalam rumah, terdengar suara yang cukup gaduh hingga akhirnya sebuah tembakan senjata api menghentikan langkah Pamela. Beruntung rumahnya Awan tak berada di lingkungan ramai. Kalau iya, bisa di pastikan saat ini ada banyak sekali polisi yang berdatangan. Hmmm.


Doorr


Lagi, suara tembakan itu kembali terdengar. Khawatir ada serangan mendadak, seorang mutan langsung berdiri di depan tubuh Pamela. Setelah itu mereka sama-sama melangkah masuk ke dalam rumah sambil menyiagakan sebuah senjata api di tangan masing-masing. Terkecuali Pamela tentunya.


"Ochhhh, ini seperti kapal pecah!" ejek Pamela saat mendapati ruang tamu rumah ini berantakan tak karu-karuan. Dia lalu mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan kekasihnya. "Eh, kemana calon kekasihku pergi? Kalian tidak membunuhnya, kan?"


"Nona." Semua mutan yang ada di dalam rumah tersebut langsung menunduk sopan begitu melihat bos mereka datang. Salah satunya kemudian memberitahukan di mana pemilik rumah berada. "Awan kami sandera di dalam kamarnya. Dan kami sedang membereskan orang-orang yang ingin membawanya pergi dari sini."


"Apa? Ingin membawa kekasihku pergi di saat aku akan datang berkunjung?"


"Benar, Nona."


"Sialan. Apa maksud mereka melakukan itu semua? Awan begitu merindukan aku. Tega sekali mereka ingin memisahkan kami. Cari mati!" geram Pamela emosi. Dia lalu merebut senjata dari tangan salah satu mutan. "Apa masih ada sisa? Tiba-tiba aku ingin meledakkan kepala manusia!"


"Maaf, Nona. Tapi kami semua sudah membunuh habis orang-orang itu. Mereka bebal, jadi kami asingkan saja ke neraka!"


"Oh, ya sudahlah kalau begitu. Aku mau pergi menemui calon kekasihku dulu."

__ADS_1


"Perlu kami antar?"


"Ck, kalian ini bagaimana sih. Kami berdua itu ingin melepas rindu, kenapa kalian malah ingin mengganggu? Tidak-tidak, kalian cari kekasih sendiri saja. Awas ya kalau ada yang berani mengintip kami. Aku akan langsung memasukkan kalian ke dalam lelehan timah panas. Mau?!" ancam Pamela dengan sengitnya. Enak saja para mutan ini ingin mengantarnya bertemu dengan Awan. Yang ada nanti calon kekasihnya bisa merajuk besar jika tahu dia datang bersama makhluk lain. Haihh.


"Maaf, Nona. Kami hanya khawatir."


"Ini rumah calon majikan kalian. Apanya yang harus di khawatirkan? Heran!"


Sambil bersungut-sungut, Pamela akhirnya pergi mencari kamar milik Awan. Dia sama sekali tak mempedulikan ceceran otak kepala manusia yang hampir memenuhi seluruh lantai di rumah ini. Brutal sekali, bukan? Masa bodo. Siapa suruh mereka berani melawan mutan didikannya. Jadi jalan-jalan ke neraka kan mereka sekarang? 😂


Setelah memeriksa satu persatu kamar yang ada di rumah ini, sampailah Pamela di depan pintu kamar yang terbuat dari bahan pilihan. Seketika smirk tipis langsung menghiasi bibirnya. Awan, calon kekasihnya, pasti ada di dalam kamar ini. Haha.


Tok tok tok


Mendengar suara yang sudah tak asing di telinga, membuat Awan yang kala itu sedang membekap bekas tusukan di pinggangnya menggeretak marah. Pamela, gadis sinting itu datang. Sial sekali nasibnya malam ini. Belum juga dia sempat kabur menjauh, gadis itu malah sudah lebih dulu datang kemari. Awan jelas tahu kalau ini adalah tanda bahaya untuknya. Namun, dia tak bisa melakukan apa-apa untuk menghindari gadis sinting itu. Tubuhnya sedang terluka parah sekarang.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Pandangan Awan dan Pamela langsung bertemu meski keadaan kamar sedikit remang-remang. Lampu sengaja Awan matikan untuk mencari tahu apakah di kamar ini ada kamera tersembunyi atau tidak.


"Hmmmm, sebegitu rindunya kau padaku sampai-sampai memilih untuk mencelakai diri?" tanya Pamela sambil melangkah masuk. Dia berjalan sambil memainkan pistol di tangan. Dan setelah sampai di dekat Awan, Pamela langsung menarik tangannya yang sedang memegang pinggang. Dia lalu mengernyitkan hidung saat mencium bau amis darah. "Kau bandel sih. Anak buahku jadi menyerangmu, kan!"


"Apa maumu sebenarnya, hah? Bukankah aku sudah menegaskan kalau aku tidak akan pernah sudi menjalin hubungan dengan perempuan gila sepertimu!" sentak Awan merasa risih akan apa yang Pamela lakukan. Kalau dirinya tidak sedang terluka, Awan pasti sudah mencekiknya sampai mati. Sungguh.

__ADS_1


"Yakin kau tidak mau menjadi kekasihku?" sahut Pamela sambil tersenyum lebar. "Tidak takut aku akan membuat hidupmu seperti berada di neraka, hem?"


"Ciihhh, Pamela. Di mataku kau itu sama seperti kebanyakan wanita di luaran sana. Kau lemah dan bisanya hanya menangis dan merengek saja. Jangan kau pikir aku tidak tahu kalau keberanianmu muncul karena ada Jove dan Nyonya Rose yang melindungi. Jadi aku minta berhentilah mengusik hidupku sebelum kesabaranku habis tak bersisa. Kau akan sangat menyesal jika aku sampai murka. Mengerti!"


"Oya? Huuuu, aku takut sekali. Siapapun tolong aku!"


Setelah berpura-pura ketakutan, Pamela langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan suara tawanya sampai menggema di dalam ruangan kamar ini. Awan yang melihat hal itupun mendadak jadi merinding. Dia seperti melihat seorang psikopat gila yang baru saja menemukan mangsa baru. Sangat mengerikan.


Mustahil aku takut pada gadis ini.


"Kau bilang aku berlindung di balik kekuasaan Kak Jove dan Bibi Rose? Ya ampun, sayang. Darimana kau menemukan pemikiran konyol seperti itu, hm? Kau salah, sayang. Salah. Karena yang sebenarnya terjadi itu bukan aku yang berlindung pada sepupu dan bibiku, tapi akulah yang berada di belakang mereka!" ucap Pamela sambil mengedipkan sebelah mata. Dan di detik selanjutnya, dengan sangat brutal Pamela memasukkan tiga jari tangannya ke luka menganga yang ada di pinggang Awan. Dia kemudian tertawa, merasa sangat senang melihat calon kekasihnya berjuang menahan sakit. "Lihat, aku begitu hebat. Apalagi yang kau ragukan, sayang? Hanya dengan tiga jariku saja aku mampu membuat seorang pembunuh berdarah dingin sepertimu menggigil kesakitan. Yakin masih mau menolak, hem?"


"K-kau ... hentikan! Jangan bersikap pengecut dengan menyerang orang yang sedang tidak berdaya!" sahut Awan terbata. Jangan tanyakan seperti apa rasa sakit yang sedang di tanggungnya. Gadis ini ... gila.


"Ck, tidak berdaya apanya. Jelas-jelas tadi kau masih mempunyai tenaga untuk mengejekku. Jadi jangan salahkan aku kalau sedikit menunjukkan bahwa aku itu tidak selemah yang kau pikir!" ucap Pamela sambil terus memutarkan ketiga jari tangan yang tengah mengintip isi perut calon kekasihnya. "Sayang, usiaku memang baru dua puluh tahun. Akan tetapi aku itu sangatlah matang. Aku tidak cengeng, aku kuat dan aku sangat suka dollar. Spesifikasi yang sangat sempurna sekali, bukan? Ayolah, jangan menolakku terus. Aku tahu kok kalau kau itu sebenarnya sangat mencintaiku. Hanya saja tertutup oleh rasa gengsimu yang besar itu. Iya, kan?"


Karena tak kuat menahan sakit, Awan akhirnya tumbang ke lantai. Bersamaan dengan itu tiga jari tangan Pamela tercabut keluar. Tak ayal, hal tersebut membuat darah semakin banyak tercecer di lantai. Sadar kalau tubuhnya semakin melemah, Awan memilih untuk diam membiarkan gadis sinting itu melakukan apa yang dia mau. Awan pasrah.


"Lemah sekali," ejek Pamela sambil mengangkat ketiga jari tangannya yang berlumuran darah. Dia lalu mengoleskan darah itu ke bibirnya, mencoba mengenali rasa dari cairan merah yang mengalir di dalam tubuh calon kekasihnya. "Wangi, aku suka. Apa kau mau merasakannya juga?"


Sambil bersenandung kecil, Pamela mendekatkan wajahnya ke depan mulut Awan. Dia lalu menyatukan bibir mereka, membiarkan Awan merasakan rasa dari darahnya sendiri.


"Ahahahahaaa, kau tampan sekali dengan lipstik darah yang menempel di bibirmu, sayang. Aku suka aku suka. Hahahaha!" ucap Pamela sambil terbahak-bahak melihat bibir Awan berlumuran darah. Setelah itu Pamela bangun, kemudian melangkah pergi dari sana. Cukup sampai di sini dulu pertemuan mereka. Awan tidak asik. Pria itu pingsan saat Pamela memoles lipstik di bibirnya. Menyebalkan.

__ADS_1


***


__ADS_2