
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Franklin bergegas membukakan pintu mobil begitu sampai di pekarangan rumah keluarga Lin. Setelah itu Franklin dan para bawahannya yang lain langsung menundukkan kepala ketika bos mereka keluar sambil membopong Nona Casandra yang masih belum sadar. Tadi saat masih di rumah, Nona Casandra sebenarnya sempat akan membuka mata. Tapi karena keadaannya masih sangat lemah dia kembali jatuh pingsan hingga sekarang.
“Casandra, putriku!” jerit Elzavat sambil menutup mulutnya begitu dia melihat Casandra yang tak sadarkan diri di gendongan Jove. Kalau saja pria yang membawa putrinya bukan pria berbahaya, Elzavat pasti sudah akan menghambur ke arahnya. Namun karena pria ini adalah Jove Lorenzo, sekuat hati Elzavat berusaha menahan keinginannya untuk tidak langsung memeluk Casandra. Dia ibunya, wajarkan kalau Elzavat histeris seperti ini?
Meskipun syok melihat apa yang terjadi, tapi Cadenza tidak memiliki keberanian untuk mendekat. Dia dan Elzavat hanya bisa berdiri di teras rumah sambil terus memperhatikan Jove yang tengah menggendong Casandra berjalan mendekat ke arah mereka. Khawatir itu sudah pasti. Namun Cadenza memilih menahan diri untuk tidak bertanya karena takut itu akan membuat Jove merasa tersinggung. Demi keselamatan Casandra, begitu pikirnya.
“Selamat malam Tuan Cadenza, Nyonya Elzavat,” sapa Jove sopan. Iya sopan. Saking sopannya di wajah Jove sampai tidak menunjukkan ekpresi apa-apa ketika menyapa Tuan dan Nyonya Lin. Dingin sekali bukan?
“M-malam, Tuan Jove,” sahut Cadenza agak gugup.
“Panggil Jove saja.”
“Em b-baiklah.”
Tanpa menunggu di persilahkan, Jove dengan santainya membawa Casandra masuk ke dalam rumah. Mungkin jika itu orang lain, mereka pasti akan berhenti di ruang tamu. Tapi Jove tidak. Dengan di pandu oleh pelayan yang adalah mata-matanya, Jove tanpa ragu membawa Casandra menuju ke kamarnya. Dia sama sekali tidak mempedulikan tatapan aneh dari mata pelayan dan juga penjaga yang ada di sana. Casandra adalah miliknya, penting bagi Jove mamastikan keamanannya. Benar tidak?
__ADS_1
Sementara itu di ruang tamu, terlihat Fidel yang tengah menatap tajam ke arah Franklin. Dia datang tepat setelah rombongan mafia Jove sampai di rumah ini. Meski tak suka, tapi Fidel merasa lega karena Jove menepati ucapannya dengan mengantarkan Nona Casandra pulang ke rumah.
“Kami mengantarkan Nona Casandra pulang dengan selamat. Apalagi yang kurang?” tanya Franklin dingin.
“Kalian memang telah mengantarkan Nona Casandra pulang ke rumah ini. Akan tetapi ada apa dengan keadaannya? Kenapa Nona Casandra sampai harus di gendong seperti itu oleh bosmu? Apa dia tidak baik-baik saja?” cecar Fidel mempertanyakan tentang keadaan majikannya. Dia tidak bodoh. Fidel jelas tahu kalau majikannya tidak akan mungkin bersedia di gendong orang lain jika keadaannya tidak sedang baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi.
“Nona Casandra memotong urat nadi di tangannya. Dia melakukannya untuk menggertak Tuan Jove,” jawab Franklin jujur. “Fidel, apa kau sudah menarik orang-orangmu agar berhenti membuat kegaduhan? Jika belum, maka bersiaplah menghadapi kemarahan Tuan Jove!”
“Ekhmmm Fidel, biar aku saja yang bicara,” ucap Cadenza sambil memegang bahunya Fidel. Dia tahu kalau Fidel sedikit banyak mulai terprovokasi oleh perkataan anak buahnya Jove.
“Baik, Tuan.”
Fidel mundur ke belakang. Dia memberikan ruang untuk majikannya bicara dengan Franklin.
“Anda bisa memanggil saya Franklin, Tuan. Saya adalah asisten Tuan Jove,” jawab Franklin memperkenalkan dirinya.
“Oh, Tuan Franklin. Baiklah. Kalau begitu bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?”
Saat Frankli hendak menjawab, bosnya sudah lebih dulu datang. Dia lalu mengangguk samar kemudian mundur dan berdiri di belakang bosnya. Cadenza yang baru pertama kali ini berhadapan langsung dengan Jove nampak tak henti menelan air liurnya. Mafia ini belum mengatakan apa-apa, tapi auranya mampu membuat orang lain merasa sangat tertekan. Bahkan Elzavat sampai bersembunyi di belakang tubuh Fidel saking takutnya pada Jove.
“Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, sebaiknya kau tanyakan langsung saja kepadaku. Selagi itu berhubungan dengan Casandra aku pasti akan menjawabnya,” ucap Jove berusaha bersikap seramah mungkin kepada calon mertuanya.
__ADS_1
“J-Jove, maaf jika di dalam perkataanku nanti ada omongan yang tidak sengaja menyinggungmu. Aku penasaran bagaimana putriku bisa berada di tanganmu. Apa karena Casandra telah memprovokasimu lebih dulu?”
Jove melirik kepada para penjaga dan juga pelayan yang ada di sana. Dia lalu menggerakkan dagunya ke arah Franklin, memberi kode agar Franklin mengusir semua orang itu dari sana. Paham akan apa yang di maksud oleh bosnya, Franklinpun segera memerintahkan semua orang untuk segera pergi. Tak lupa juga dia mengunci pintu rumah untuk memastikan kalau tidak ada orang lain yang ikut mendengar pembicaraan penting yang berhubungan dengan rahasia di keluarga Lin.
“Tuan Cadenza, Casandra bisa ada di tanganku karena aku memang sudah memperhatikannya sejak beberapa hari yang lalu. Dan jika kau bertanya alasan kenapa aku memperhatikannya, aku rasa kau sudah tahu apa jawabannya. Tapi kau tenang saja. Rahasia Casandra aman di tanganku. Aku bahkan bisa menjamin keselamatannya dari kejaran orang-orang yang memang sedang mengincar darah di tubuhnya. Namun, semua itu tidak gratis!” ucap Jove sambil berjalan ke arah sofa. Dia kemudian duduk sambil bersilang kaki sebelum akhirnya menatap satu-persatu orang yang ada di sana. Pandangan Jove kemudian terhenti pada Fidel, orang yang di percaya oleh Tuan Cadenza untuk menjaga Casandra-nya. “Aku menginginkan Casandra. Bukan hanya darahnya, tapi juga dengan orangnya. Dan kau Fidel, kau harus bisa menerima jika nanti aku menempatkan orang lain di sisi Casandra. Kau lemah. Kekuatanmu masih belum bisa menjamin kalau Casandra akan selamat dari pengejaran mereka!”
“Fidel, tenanglah. Jangan menyela perkataannya,” ucap Cadenza memperingatkan Fidel agar jangan membuat masalah dulu. Dia kemudian berbisik. “Ingat, Fidel. Orang yang sedang kita hadapi adalah seorang mafia kejam. Kita tidak boleh gegabah. Kasihan Casandra. Dia bisa menjadi korban nanti. Tenang ya?”
“Tapi saya tidak bisa menerima keinginannya yang gila itu, Tuan. Nona Casandra, dia ….
“Sttttt, aku tahu. Sekarang lebih baik kita mengiyakan semua keinginannya dulu. Baru nanti kita akan sama-sama memikirkan jalan keluarnya. Oke?”
Fidel hanya bisa pasrah saat dirinya diminta tenang oleh Tuan Cadenza. Sedangkan Jove dan Franklin, mereka nampak tersenyum tipis menyaksikan bisik-bisik yang sedang terjadi di hadapan mereka. Sungguh lucu. Di situasi seperti ini Fidel dan Tuan Cadenza masih saja bersikekeh ingin menjauhkan Casandra dari Jove. Apa mereka tidak bisa berpikir kalau di luaran sana ada bahaya besar yang sedang mengancam nyawa Casandra? Lawak sekali.
“J-Jove, apa putriku akan baik-baik saja jika bersamamu?” tanya Elzavat memberanikan diri membuka suara. Dia lalu menelan ludah saat Jove menatapnya sambil menganggukkan kepala. “K-kalau begitu bisakah aku bergantung padamu? Putriku sangat istimewa, aku tidak mau dia sampai kenapa-napa.”
“Elzavat, apa-apaan kau!” teriak Cadenza kaget mendengar Elzavat yang tiba-tiba menyerahkan harapan pada Jove. Sudah gila apa.
“Cadenza, sudahlah. Mau itu Jove atau bukan, mereka sudah sama-sama tahu siapa Casandra. Kalau dengan bergantung harapan padanya itu bisa membuat Casandra baik-baik saja, lalu kenapa tidak kita lakukan saja? Walaupun Casandra pulang dengan tangan terluka, setidaknya Jove masih mau berbesar hati untuk mengembalikannya kepada kita meskipun dia tahu kalau Casandra bisa menjadi boneka mainannya. Jika itu orang lain, apa mungkin mereka akan mengembalikan Casandra seperti yang dilakukan oleh Jove? Tidak ‘kan?” sahut Elzavat balas meneriaki Cadenza. “Aku ibunya. Aku orang yang telah melahirkan Casandra ke dunia ini. Aku tidak mau putriku sampai kenapa-napa, Cadenza. Aku tidak mau. Huhuhu,” ….
Jove bangun dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Nyonya Elzavat yang sedang menangis di belakang Fidel. Seolah tengah bersama ibu kandungnya, Jove dengan penuh sayang memberinya pelukan. Dia lalu berbisik. “Nyonya, pilihanmu sudah sangat tepat dengan membiarkan aku memiliki Casandra. Kau jangan khawatir. Aku berjanji akan menjaganya seperti menjaga nyawaku sendiri!”
__ADS_1
***