The Devil JOVE

The Devil JOVE
123. Bibir Berdarah


__ADS_3


📢YAKIN GK MAU MAMPIR?? 😁


***


"Selamat datang, Tuan!"


Langkah Jove terhenti saat dua orang penjaga menyapa begitu dia ingin masuk ke dalam rumah. Ingat kalau kedua penjaga ini adalah mutan yang dia tugaskan untuk mengawal Casandra, Jove memutuskan untuk bicara sebentar dengan mereka. Tadi saat dalam perjalanan pulang Franklin memberitahunya kalau ada sekelompok orang yang datang memburu calon istrinya. Jadi Jove berniat meminta penjelasan dari kedua mutan tersebut.


"Siapa mereka?" tanya Jove dingin.


"Orang suruhan Awan, Tuan," jawab salah satu penjaga. Dia kemudian menunjuk ke arah dua kepala yang di gantung di dekat pintu gerbang. "Kami membawa kepala mereka untuk diserahkan kepada anda. Sedangkan tubuh kedua bedebah itu sudah di angkut dan di bawa ke lab oleh anak buah Nona Pamela."


"Hmmm, kerja bagus. Ingat, kalian akan mati jika calon istriku sampai kenapa-napa!" puji Jove merasa puas akan kinerja kedua mutan ini. "Apa Pamela menitipkan pesan pada kalian?"


"Iya, Tuan. Nona Pamela berpesan agar anda tidak mengganggu Awan. Penyerangan ini terjadi karena Awan sedang mengirim sinyal rindu kepadanya."


"Konyol!"


Sebuah smirk tipis muncul di bibir Franklin begitu dia mendengar alasan gadis psikopat itu melarang bosnya agar tidak menyerang Awan. Sungguh, kalau Franklin yang berada di posisinya Awan sekarang, dia akan lebih memilih mati saja ketimbang harus menjadi target incaran Nona Pamela. Terlalu mengerikan.


"Kalian cepat bereskan kepala itu sebelum calon istriku melihatnya. Dia sedikit cerewet, aku khawatir gendang kalian akan meledak jika sampai mendengar ocehannya!"


"Baik, Tuan."


Jove kembali melanjutkan langkahnya seusai berbicara dengan para penjaga. Sambil berjalan masuk, bibirnya tak henti-henti tersenyum. Bukan karena dia merasa lucu akan alasan Pamela, tapi Jove sedang merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan segera bertemu dengan Casandra. Entahlah, perasaan ini terlalu sulit untuk di jelaskan. Jove merasa sekarang dirinya seperti berubah menjadi orang lain setiap kali berurusan dengan calon istrinya yang galak itu. Kekejaman yang telah mendarah daging di tubuhnya seakan hilang jika sudah berada di dekatnya. Agak menjijikkan memang untuk di akui. Namun, itu adalah fakta yang benar-benar di alami oleh seorang Jove Alexander Lorenzo.

__ADS_1


"Kau pergilah beristirahat. Aku tidak akan keluar kamar lagi," ucap Jove sesaat sebelum membuka pintu kamarnya.


"Baik, Tuan," sahut Franklin sambil mengangguk pelan. Dia kemudian pamit pergi dengan sopan.


Ceklek


Pandangan mata Jove langsung tertuju pada tubuh seorang wanita yang sedang berbaring di atas ranjang. Samar-samar Jove seperti mendengar ada suara gumaman dari arah sana. Sadar kalau obat bius di tubuh Casandra sudah mulai hilang, Jove memutuskan untuk segera datang mendekat. Dia menutup pintu dengan perlahan kemudian mulai melepas kancing kemejanya. Ah, andai ada yang melihat, gerakan yang sedang Jove lakukan sekarang sangatlah keren. Apalagi deretan roti sobek di perutnya langsung terpampang nyata begitu dia membuang asal kemeja yang dia pakai. Pria ini sangat panas. Sungguh.


"Ughhhh, pusing sekali." Casandra kembali menggumam, tapi anehnya mata Casandra sangat sulit untuk di buka. Padahal dia sudah bangun dari tadi. Entah apa yang terjadi, Casandra tidak tahu.


"Sayang, rindu aku tidak?"


Suara bariton yang tidak asing terdengar begitu indah di telinga Casandra. Walaupun matanya masih terpejam, dia bisa tahu kalau yang baru saja bicara adalah Jove. Dengan kondisi tangan yang masih sangat lemas, Casandra meraba-raba di mana keberadaan calon suaminya sekarang. Dia lalu tersenyum kegirangan ketika tangannya berhasil menyentuh wajah pria yang ternyata sudah berada di atas tubuhnya.


"Jove, apa kau mau memperkosaku?" tanya Casandra iseng.


"Lakukan saja kalau kau tidak takut mati ku bunuh," jawab Casandra bercanda.


"Hmmm,"


Mungkin jika ini adalah Jove yang dulu, bisa di pastikan dalam sekejap tubuh Casandra sudah tidak akan mengenakan pakaian lagi. Akan tetapi karena Jove telah memutuskan untuk lebih menghargai wanita, terlebih lagi setelah kejadian di mobil waktu itu, Jove memilih untuk tidak memaksakan kehendaknya. Casandra adalah calon ibu dari para penerusnya kelak, jadi dia harus memperlakukannya dengan hormat.


"Jove, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Casandra sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Dia lalu mendesis pelan saat kepalanya tiba-tiba berdenyut kuat. "Sshhhh, pusing sekali. Aku sebenarnya kenapa ya? Perasaan tadi saat pulang dari perusahaan aku baik-baik saja. Tapi kenapa kepalaku bisa jadi sesakit ini? Apa aku terjangkit virus?"


Cup cup cup


Tiga kecupan mendarat indah di kening, ujung hidung, dan terakhir di bibir Casandra. Jove merasa gemas melihat wanita ini yang malah sibuk bertanya-tanya sendiri.

__ADS_1


Pipi Casandra langsung merona. Dia malu akan sikap manis yang baru saja Jove lakukan. Sambil menoleh ke samping, Casandra memukul pelan dada Jove yang masih betah berada di atas tubuhnya.


"Kau membuatku malu saja, Jove. Tidak bisa tidak menyentuhku apa?"


"Aku selalu ingin menyentuhmu, Cassey. Setiap detik, menit, jam, bahkan di setiap tarikan nafasku. Tapi aku sadar kau tidak suka aku melakukan hal itu," jawab Jove sambil tersenyum kecil. Dia lalu mendekatkan wajahnya, merasai betapa dia sangat mendamba dan hampir gila karena jaguarnya ini. "Kapan kita akan meresmikan hubungan ini, Cassey? Aku tidak bisa bertahan terlalu lama. Aku butuh kau, butuh segala kehangatan yang kau punya. Kapan sayang, hem?"


"Jove, aku sebenarnya siap-siap saja kapanpun kau ingin meresmikan hubungan kita. Akan tetapi sekarang kita masih belum menerima kabar dari Pamela. Kau tidak lupa kan akan cerita mengerikan yang dia sampaikan waktu itu? Kita tidak boleh egois. Harus bisa bersabar sebentar demi kelangsungan hidup anak-anak kita kelak. Ya?" sahut Casandra mencoba membujuk Jove supaya mau bersabar. Ya mau bagaimana lagi. Dia dan Jove berbeda dari orang lain yang bisa melangsungkan pernikahan tanpa harus merasa cemas. Jadi mau tidak mau mereka harus mau menundanya dulu sampai Pamela memberikan kepastian.


"Tapi mau sampai kapan? Aku ... benar-benar sangat butuh dirimu!"


Jove mel*mat bibir Casandra setelah bicara seperti itu. Dengusan nafasnya terdengar begitu kuat, menandakan kalau dirinya sudah dalam keadaan on fire. Ayolah, saat ini di bawah tubuh Jove tengah terbaring seorang wanita yang sangat cantik. Jadi wajar saja kalau dia merasa tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Namun ketika teringat dengan hal-hal mengerikan yang bisa saja terjadi, membuat Jove jadi kesal sendiri. Alhasil dia meluapkan kekesalannya dengan cara menyesap bibir Casandra sekuat dan selama mungkin sampai Jove merasa puas.


"Ssshhh, awhhh. Kau melukai bibirku, Jove," omel Casandra saat dia merasakan perih di sudut bibirnya. Cairan merah nampak merembes keluar dari sana, Jove bermain kasar hingga meninggalkan bekas luka. "Ck, luka kan bibirku? Kau ini ya."


"Jangan merajuk. Aku benar-benar akan memperkosamu kalau kau berani melakukannya!" ancam Jove sambil mendengus kasar. Dia lalu menjilat bekas darah di sudut bibir Casandra. "Aku tahu ini sakit, tapi aku suka melihatnya. Kau jadi terlihat semakin seksi dengan bibir berdarah seperti ini!"


"Dasar psikopat!"


"Ingin mandi bersama?" Jove menawarkan hal menyenangkan. Dia butuh sentuhan tangan jaguarnya.


"Ck, dasar modus. Jangan kau kira aku tidak tahu ya apa yang ingin kau lakukan di dalam kamar mandi!"


"Maaf, aku tidak menerima penolakan!"


Dan di detik selanjutnya, Casandra hanya bisa memekik kencang saat Jove dengan paksa mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama setelah itu suara aneh pun mulai terdengar dari arah sana. Mungkin mereka sedang melakukan ritual pengusiran jin. Mungkin. Kalian jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu ya. Oke? 😁


***

__ADS_1


__ADS_2