
Cadenza memasuki sebuah rumah sakit bersama dengan Fidel dan istrinya. Dia yang memang baru mengetahui kalau sang keponakan telah dipindahkan buru-buru datang menjenguk setelah diberitahu kalau ada orang jahat yang telah melakukan penyerangan secara terbuka.
“Oh, Cadenza, kakak ipar. Selamat datang!” sapa Eriko menyambut kedatangan saudara tirinya dengan senyum lebar. Namun, apa yang terlihat tidaklah sama dengan apa yang ada di dalam hati. Ada satu kebencian besar yang diam-diam tersemat di dalam diri seorang Eriko Lin.
“Di mana Regent? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Cadenza penuh kekhawatiran. Di pegangnya erat-erat bahu Eriko begitu sampai di dekatnya. “Eriko, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang telah menyerang putramu?”
“Entahlah Cadenza, aku juga tidak tahu siapa orang ini. Kemarin saat aku dan Regent sedang membicarakan tentang orang yang telah dengan sengaja membuatnya mengalami kecelakaan, tiba-tiba datang seorang perawat membawakan buket bunga untuknya. Perawat itu lalu memperingatkan agar kami berhati-hati pada tamu yang datang berkunjung hari itu. Aku curiga, kemudian memeriksa apakah di dalam buket bunga itu ada sesuatu yang membahayakan atau tidak. Dan apa kau tahu ada apa di dalamnya?” jawab Eriko seraya mengenang kejadian mengerikan di rumah sakit kala itu.
“Apa?”
“Ratusan anak ular dengan bisa yang sangat mematikan!” lanjut Eriko. “Untung saja aku cepat menyadari ada keanehan di diri perawat itu. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Regent. Dia mungkin sudah berada di dalam peti mati sekarang!”
Cadenza dan Elzavat membelalakkan mata mereka karena kaget mendengar cerita Eriko. Sedangkan Fidel, dia nampak biasa-biasa saja menanggapinya. Jelas biasa sajalah, kan dia tahu siapa di balik penyerangan itu. Sudah pasti adalah perbuatan Jove dan anak buahnya. Siapa lagi memangnya yang mampu melakukan tindakan seberani itu kalau bukan mereka. Jadi dia sama sekali tidak merasa kaget ataupun heran mendengar cerita tersebut. Hanya saja Fidel masih belum tahu mengapa Jove seperti tidak menyukai Regent. Mungkinkah karena cemburu? Entah, Fidel pun tak tahu.
“Lalu tindakan apa yang sudah kau ambil untuk menangkap perawat itu, Eriko? Kau tidak mungkin hanya diam saja ‘kan?” tanya Elzavat penuh kecemasan. Keponakannya diserang dengan begitu kejam, siapa yang tidak merasa cemas.
“Aku sudah melakukan banyak cara agar bisa menangkap perawat itu, Kak. Akan tetapi hasilnya nihil. Bahkan semua rekaman cctv di rumah sakit itu seperti sengaja dirusak agar anak buahku tidak bisa menemukan jejaknya. Brengsek sekali, bukan?” jawab Eriko seraya menghela nafas panjang. Jelas terlihat betapa dia sangat amat mendendam pada bajingan yang telah menyerang putranya. Namun apa daya. Dia tidak mempunyai bukti yang bisa mengarahkan pad siapa harus membalas dendam.
“Astaga, kenapa di rumah sakit bisa ada kejadian semengerikan itu ya. Seharusnya kan keamanan di sana sangat ketat. Kenapa bisa sampai kebobolan? Aneh!”
“Entahlah, aku juga bingung memikirkan masalah ini!”
__ADS_1
“Sekarang Regent di mana?” tanya Cadenza.
“Dia ada di dalam ruang rawat. Baru saja minum obat pereda nyeri setelah beberapa waktu lalu diserang oleh Casandra!”
Hening. Cadenza dan Elzavat tak bisa berkata apa-apa begitu tahu kalau Casandra kembali membuat ulah dengan menyerang Regent. Mereka semua tahu kalau selama ini hubungan kedua anak itu tidaklah baik. Namun Cadenza dan Elzavat sama sekali tak menyangka kalau putri mereka akan bersikap begitu kejam terhadap sepupu sendiri.
“Cadenza, kalau boleh tahu sejak kapan posisi Fidel di gantikan oleh dua orang penjaga yang begitu kejam dan bengis? Kalian tahu tidak. Kemarin saat Casandra datang kemari, kedua penjaga itu menyerangku dengan sangat brutal. Mereka melemparkan tubuhku dengan sangat kuat hingga menyebabkan pot bunga di rumah sakit ini hancur berantakan. Di mana kalian menemukan penjaga seperti mereka?” cecar Eriko merasa penasaran akan penjaga yang telah menggantikan posisi Fidel. Dia lalu menyipitkan mata melihat kedua orangtua Casandra yang seperti resah saat di tanya seperti itu olehnya.
Hmmmmm, sepertinya ada yang tidak beres dengan para penjaga itu. Cadenza dan kakak ipar terlihat tidak nyaman saat aku membahas tentang mereka. Aku yakin pasti ada sesuatu yang telah terjadi di rumah utama. Ya, benar.
Tak mau Tuan Eriko mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui, Fidel segera maju untuk pasang badan. Dia dengan sopan menggantikan kedua majikannya bicara.
Skak mat. Eriko terdiam seribu bahasa begitu Fidel membuka mulut. Kurang ajar sekali asisten ini. Berani-beraninya menyudutkan Eriko di hadapan saudara dan kakak iparnya sendiri. Huh.
“Ekhmmm, Fidel, sudah cukup. Kita datang kemari adalah untuk menjenguk Regent. Tolong jangan membuat masalah!” tegur Cadenza melerai ketegangan yang mulai terasa antara Fidel dengan Eriko. Cadenza sangat tahu seperti apa perangai Casandra, jadi tidaklah salah kalau Fidel berkata seperti tadi. Namun karena tak mau memantik keributan, Cadenza memutuskan untuk menegur Fidel saja. Nanti sepulang dari sini dia baru meminta maaf kepadanya.
“Baik, Tuan. Saya minta maaf,” sahut Fidel tanpa ada perlawanan.
“Eriko, bisakah kau mengantarkan kami ke ruangan Regent? Kami ingin melihat keadaannya,” ucap Elzavat masih resah. Bukan karena perselisihan singkat antara Fidel dengan adik iparnya, melainkan dengan kejadian Casandra yang menyerang Regent. Jujur, dia takut putrinya melakukan sesuatu yang bisa berakibat fatal pada hidup keponakannya. Sungguh.
“Baiaklah, Kak. Mari!”
__ADS_1
Dengan hati yang masih sangat dongkol Eriko membawa masuk mereka semua ke dalam ruangan putranya. Dia kemudian buru-buru membantu Regent yang sedang berusaha untuk duduk begitu mendengar suara pintu terbuka.
“Ayah, siapa yang datang? Bukan penjahat itu lagi ‘kan?” tanya Regent yang kesulitan menoleh karena di lehernya terpasang gips.
“Halo, Regent. Ini Bibi Elzavat dan Paman Cadenza. Ada Fidel juga,” sahut Elzavat menggantikan Eriko menjawab. Dia kemudian duduk di tepi ranjang sambil menatap iba pada sang keponakan yang sedang terluka parah pasca mengalami kecelakaan. “Kenapa bisa jadi begini sih. Siapa orang yang dengan tega mencelakaimu sampai seperti ini. Kejam sekali.”
“Entahlah Bibi, aku sendiripun bingung siapa mereka. Seingatku aku tidak sedang bermusuhan dengan siapapun, tapi tiba-tiba saja aku diserang oleh sekelompok orang asing. Gara-gara serangan itu leher dan kedua jari tanganku sampai patah. Dan juga ….
Regent menjeda perkataannya saat ingin mengadukan pada sang bibi tentang perbuatan Casandra tempo hari. Sengaja dia bersikap sedemikian rupa dengan tujuan menarik simpatik kedua orang ini.
“Regent, atas nama Casandra Paman dan Bibi ingin meminta maaf padamu. Kami sungguh tidak tahu kalau gadis nakal itu akan berbuat seperti ini kepada saudara sendiri. Tapi kau jangan khawatir. Sepulang dari sini Paman akan langsung pergi menemuinya. Sekali lagi kami minta maaf atas nama Casandra,” ucap Cadenza merasa sangat bersalah sekali.
“Pergi menemuinya?” Regent membeo. Dia menyadari ada yang janggal di sini. “Paman, memangnya sekarang Cassey ada di mana?”
“Nona Casandra saat ini sudah tidak tinggal di rumah utama lagi, Tuan Regent. Tapi beliau kini tinggal di mansion milik Tuan Jove!” sahut Fidel dengan lantang memberitahukan di mana keberadaan sang majikan.
“A-APAAA!”
Biji mata Regent dan ayahnya seperti akan terlempar keluar begitu mereka mendengar kalau Casandra tinggal di mansion milik mafia kejam itu. Ini gila. Bagaimana bisa Casandra berada di sana? Mungkinkah telah terjadi masalah besar sehingga Jove menjadikan gadis itu sebagai sandera? Ya Tuhan, kabar ini benar-benar sangat mengejutkan sekali. Sungguh.
***
__ADS_1