
Setelah puas menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Casandra, Elzavat dan Cadenza pamit untuk pulang. Mereka cukup tahu dengan tidak berlama-lama berada di mansion milik Jove, apalagi setelah keberadaan mafia itu tiba-tiba lenyap dari pandangan. Membuat mereka semakin merasa tak enak hati. Jadi memutuskan untuk segera pulang saja.
Di dalam kamar, terlihat Casandra yang sedang duduk melamun sambil mendekap guling. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan sang ibu. Jauh di dasar hati, Casandra merasa lega karena sang ibu telah setuju mengizinkannya membuka hati untuk Jove. Casandra tak mau munafik. Semakin dia mengenal Jove, semakin dia merasakan ada getaran-getaran aneh yang muncul di dalam hati. Meski awalnya tak mau mengakui, tapi setelah mendapat sokongan semangat dari ibunya membuat Casandra merasa yakin untuk tidak lagi menampik rasa tersebut. Namun, mungkinkah Jove akan membalas rasa itu? Bagimana jika Jove hanya berniat mempermainkannya saja? Casandra resah, dia takut akan asumsi yang muncul di dalam pikirannya sendiri.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Tak lama setelah itu masuklah Jove yang datang sambil membawa sesuatu di tangannya. Sambil terus berbalas tatapan dengan Casandra, Jove melangkah maju kemudian meletakkan barang yang dia bawa ke atas meja. Setelah itu dia memasukkan satu tangan ke saku celana sembari menatap lurus ke arah depan.
“Malam nanti Ayah dan Ibu akan datang kemari. Mereka ingin mengenalkanmu pada Kiara,” ucap Jove dengan nada yang sedikit datar.
“Kiara?” beo Casandra. Dia kemudian duduk menyamping sambil mengerutkan kening. Kiara. Bukankah ini adalah nama seorang wanita? Lalu untuk apa ayah dan ibunya Jove ingin mengenalkannya pada wanita ini? Mungkinkah Kiara adalah wanita yang pernah mengisi hatinya Jove?
“Jangan biarkan asumsi aneh muncul di dalam kepalamu, Cassey. Aku dan Kiara, kami hanya mantan partner se*ks di ranjang. Dia bukan siapa-siapaku dan aku tidak memiliki rasa padanya!” ucap Jove tanggap akan rasa penasaran di diri jaguarnya. Sambil membuang nafas, Jove berbalik menghadap Casandra. Dia lalu menatapnya lekat. “Dia yang akan menggantikan posisi Fidel. Kiara akan menjadi penjagamu kelak!”
“A-apa? Penjagaku? Wanita? Mantan teman tidurmu? Yaakkkk! Kau gila, Jove!"
Rasanya seperti tersambar geledek saat Casandra tahu siapa Kiara. Sungguh, sedikitpun tak pernah Casandra mengira kalau orang yang akan menjadi penjaganya adalah mantan teman tidur Jove. Brengsek. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran bajingan ini sampai tega memperlakukannya hingga sedemikian rupa? Mantan partner se*ks, Ya Tuhan. Adakah nasib yang lebih mengenaskan daripada ini? Sial.
Bu, bahkan sebelum sempat aku menyuarakan isi hatiku Jove sudah lebih dulu mematahkan segalanya. Sakit sekali. Bagaimana bisa dia setega ini dengan menjadikan mantan teman tidurnya sebagai penjagaku? Apa dia sama sekali tidak berpikir apakah aku akan merasa sakit hati atau tidak? Kau kejam, Jove. Aku membencimu.
“Maaf, Jove. Sepertinya aku tidak bisa menerima Kiara sebagai penjagaku. Wanita itu pernah menghangatkan ranjangmu, pantang untukku mengenal bekasmu. Lebih baik kau biarkan Fidel saja yang menjagaku. Dia seribu kali lebih baik dari Kiara!” ucap Casandra dengan tegas menolak kehadiran mantan teman tidurnya bajingan tengik ini. Dia tak mau hatinya terluka.
“Apa kau pernah mendengar kalau aku menerima penolakan?” tanya Jove. Dia tersenyum, merasa gemas saat mencium adanya aroma kecemburuan.
“Sayangnya aku tidak peduli akan hal itu!” sahut Casandra cetus.
“Kiara akan tetap menjadi penjagamu, dengan atau tanpa izinmu. Ini perintah!”
“Aku tidak mau!”
__ADS_1
“Kau tidak punya hak untuk menolak!”
“Oh, tidak bisa seperti itu. Ini hidupku, dan aku berhak memilih siapa yang akan menjadi penjagaku!”
“Kau yakin?”
“Tentu saja!”
“Baiklah kalau memang itu maumu.”
Segera Jove merogoh ponsel di saku celana kemudian menghubungi Franklin. Tak lupa dia mengaktifkan pengeras suara agar Casandra ikut mendengar pembicaraan mereka.
“Halo, Tuan. Apa anda membutuhkan sesuatu?” tanya Franklin dari dalam telepon.
“Patahkan kedua tangan dan kaki Fidel. Setelah itu kau bawa dia ke hadapanku!” jawab Jove sambil melayangkan senyum licik ke arah Casandra. Dia lalu membuat gerakan agar jaguar itu tidak menyela perkataannya. “Kau harus pastikan kalau Fidel sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi setelahnya. Gara-gara dia, kehadiran Kiara tak di terima. Jadi lakukanlah tugasmu dengan baik sebelum aku yang datang untuk mematahkan tangan dan kakimu. Mengerti?”
Klik. Panggilan terputus.
“Bagaimana? Masih tertarik menjadikan Fidel sebagai penjagamu?” tanya Jove sambil menggoyang-goyangkan layar ponsel yang sudah menggelap. Dia lalu mengangkat tangannya ke atas saat Casandra mencoba merebut ponsel dari tangannya. “Tidak semudah itu kau menolak perintah yang aku katakan, Cassey. Harus berapa kali aku ingatkan kalau Fidel sama sekali tidak layak untuk menjadi penjagamu. Dia lemah, tidak seperti Kiara yang berani memperuhkan nyawanya demi memastikan kau tetap hidup. Jangan membantah. Oke?”
“Tapi Kiara adalah mantan teman tidurmu, Jove!” teriak Casandra frustasi.
“Aku tahu. Dan satu lagi, jangan lupakan tentang Helen juga. Kalian bertiga adalah wanita yang masih kubiarkan hidup setelah bercinta denganku. Ingat, Cassey. Pria yang berdiri di hadapanmu sekarang tidak sama dengan pria-pria yang ada di luaran sana. Setiap perintah dan keputusan yang kubuat, semuanya sudah ku pikirkan dengan matang. Memang benar kalau Kiara adalah mantan teman tidurku, tapi wanita yang akan menjadi pendamping hidupku hanya dirimu. Kau yang terakhir, Casandra!”
Amarah yang ada di diri Casandra mendadak padam saat Jove berkata kalau dialah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Tubuh Casandra menegang dan mulutnya ternganga lebar. Dia yang tadinya ingin marah tiba-tiba bleng seketika saat bajingan di hadapannya mengucapkan kata yang begitu manis. Casandra tersihir hingga membuatnya lupa dengan kemarahannya sendiri.
“Terpesona, hem?” ledek Jove.
“A-apa yang tadi aku dengar adalah sungguh berasal dari dalam hatimu, Jove?’ tanya Casandra antara gugup dan bahagia. Dia lalu menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan ledakan emosi yang membuat hati berbunga-bunga. “Kau tidak sedang bercanda dan sekedar mempermainkan aku saja, kan?”
__ADS_1
“Kapan aku pernah berkata kalau aku hanya ingin mempermainkanmu?” Jove balik bertanya. Satu tangannya terulur ke depan kemudian membelai lembut wajah jaguarnya yang mulai memerah. “Cassey, aku bukan pria yang suka mengingkari ucapanku sendiri. Dari awal aku selalu bilang kalau kau adalah milikku. Itu artinya kau akan menjadi milikku selamanya. Masih belum jelaskah?”
“Di antara kita tidak ada ikatan apa-apa, Jove. Wajarkan kalau aku merasa dipermainkan?”
“Ikatan?”
Casandra mengangguk.
“Tiga kali aku mengeluarkan benihku di dalam rahimmu. Masih belum jelaskah ikatan di antara kita?”
Ucapan vulgar Jove berhasil mendaratkan satu pukulan kuat di dadanya. Kedua sudut bibirnya berkedut, senang karena jaguarnya sudah mau tersenyum. Sambil terus menatapnya lekat, Jove duduk di sebelah Casandra kemudian membawanya ke dalam pelukan. Di usapnya punggung jaguar galak ini dengan penuh sayang sambil sesekali dia kecup pinggiran kepala.
“Aku memang bukan pria romantis yang bisa membawakanmu seikat bunga dan sebuah cincin berlian. Aku juga bukan pria yang bisa memberikan kejutan mewah seperti yang pernah kau lihat di drama-drama. Akan tetapi yakinilah satu hal kalau aku bisa dan aku mampu menjadi pria yang kau andalkan. Bukan aku mengumbar janji manis, tapi ini adalah kesungguhan hatiku. Kau terhormat, Casandra. Walau di awal pertemuan kita bagaikan musuh, tapi di mataku itu adalah satu kenangan yang sangat amat berkesan. Aku mencintaimu, dan aku ingin kaulah yang melahirkan para keturunanku kelak. Maaf jika lamaran ini terlampau sederhana tanpa ada embel-embel apapun. Ikatan yang kau pertanyakan, aku akan memberikannya sekarang juga!” Jove menghela nafas panjang. “Casandra Lin, bersediakah kau menjadi Nyonya Lorenzo? Bersediakah kau menjadi satu-satunya wanita di hidupku dan pemilik semua nafasku? Aku ingin kau menjadi yang terakhir mengucap kata cinta untukku, juga menjadi yang terakhir yang mengucap kalau kau bangga menjadi milikku. Casandra Lin, will you marry me?”
Air mata jatuh bercucuran saat Jove melamar Casandra. Dia menumpahkan semua haru di dada pria bajingan yang dengan sialannya melamar tanpa ada aba-aba. Sambil menangis sesenggukan, Casandra menengadah. Manik matanya bertemu dengan manik mata Jove yang tajam. Dia kemudian mengangguk.
“Yes, I will. Aku mau menjadi yang terakhir mengucapkan kata cinta padamu. Aku juga mau menjadi wanita terakhir yang mengaku kalau aku sangat bangga dimiliki olehmu. Aku mau melakukan semua itu, Jove. Aku mau!”
“Good girl.” Jove memuji lega. Dia lalu menelusupkan tangan ke leher belakang Casandra sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka. “Jangan lagi menolakku, Nyonya Lorenzo. Karena mulai detik ini kau sudah kehilangan hak untuk melakukannya. Tahu?”
“Ya, aku tahu. Tapi aku akan tetap melakukannya jika ada kesempatan.”
“Bibirmu sedang berada di bawah kuasaku. Tidak takut aku akan menggigitnya sampai berdarah, hem?”
“Gigit saja. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan kasarmu kalau kau mau tahu,” bisik Casandra sesaat sebelum dia memejamkan mata.
Dua insan yang di pertemukan atas ikatan takdir yang sangat unik, kini mulai terbuai dalam kehangatan ikatan yang baru saja terikrar keluar. Lidah keduanya saling membelit tanpa ada penolakan seperti waktu sebelumnya. Jove dan Casandra. Tuhan telah mempersatukan mereka dalam hubungan yang di awali kepahitan dan kesengsaraan. Sungguh indah.
***
__ADS_1