
Jari Pamela tak henti mengetuk kaca transparan yang berada di hadapannya. Hari ini adalah batas waktu terakhir dia menyempurnakan obat penawar untuk sepupunya yang kaya raya itu. Dia tengah menunggu reaksi janin ketika di tetesi biang obat yang dua malam ini berhasil membuatnya tak bisa beristirahat dengan benar.
Ya. Setelah insiden kegagalan hari itu, Pamela benar-benar memfokuskan diri untuk kembali membuat campuran obat yang baru. Saking fokusnya dia sampai lupa istirahat. Hanya beristirahat untuk makan dan pergi ke kamar mandi saja. Selain itu, semua waktunya habis hanya demi obat penawar tersebut. Dan di sinilah dia sekarang. Menanti dengan harap-harap cemas apakah racikan obat baru bisa memberikan hasil yang dia inginkan atau tidak karena ini adalah harapan terakhirnya.
"Ayolah janin. Cepat tunjukkan padaku kalau obat yang aku buat berhasil menghentikan penyebaran racun itu. Come'on," ujar Pamela makin tak sabar. Detik demi detik telah terlewat, membuat perasaan kian dilanda kegelisahan saat janin kedua yang dia korbankan masih belum menunjukkan reaksi apa-apa. Tak kehabisan akal, Pamela memutuskan untuk kembali meneteskan obat ke tubuh si janin. Supaya lebih cepat memberikan reaksi, begitu pikirnya.
Tess
"Aku harap kali ini tidak mengecewakan. Kak Jove benar-benar akan mengebom labolatorium ini jika aku sampai gagal menyerahkan obat penawar untuknya!" Pamela berucap lirih sambil menggigit bibir. Matanya tak berkedip memperhatikan tubuh janin muda yang secara perlahan mulai menujukkan pergerakan. Sambil menyeringai tipis, dia memasukkan semacam kabel ke dalam kotak transparan itu kemudian menyambungkannya ke layar besar yang biasa dia gunakan untuk mengumpulkan informasi.
Sangat canggih. Di dalam ruangan yang sangat luas berdiri seorang gadis tengah menyentuh layar yang menunjukkan pergerakan cepat seperti pendataan. Sementara di dalam kotak transparan di sampingnya, terlihat sosok janin mungil yang usianya baru sekitar lima bulan tengah menggeliat seperti sedang menahan sakit akibat tetesan obat yang baru saja didapatkannya. Kasihan. Eksperimen ini benar-benar di luar nalar. Berawal dari bentuk embrio yang di keluarkan paksa dari rahim seseorang, kini secara perlahan mulai membentuk tubuh bayi berkat kegilaan gadis bernama Pamela itu. Entah bagaimana cara dia menemukan percobaan seperti ini dan campuran apa saja yang di gunakannya. Yang jelas eksperimen gadis itu membuat orang lain langsung menggeleng tak percaya jika melihatnya langsung. Psycho, ya, itulah Pamela Thampson.
"Ini dia yang aku cari. Akhirnya. Hahaha!" ucap Pamela kegirangan begitu data dan informasi yang dia mau muncul sesuai dengan perkiraan. Segera dia menari sambil berkeliling memutari kotak transparan yang di dalamnya ada janin yang masih bernafas. "Na na na na. Kak Jove tidak jadi mengebom tempat ini. Otak cerdasku berhasil menemukan cara untuk memutuskan rantai kutukan itu. Kau benar-benar luar biasa, Pamela. Kau sangat luar biasa!"
Bersamaan dengan kabar baik tersebut seorang mutan masuk ke dalam ruangan sambil membawa ponsel di tangannya. Pamela yang melihat hal itupun enggan untuk berhenti menari. Dia acuh saja sampai akhirnya mutan itu bicara pada seseorang yang ternyata sedang menelpon.
"Franklin, Nona Pamela sedang menikmati kebahagiaannya. Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengganggunya. Telpon nanti saja!"
"Tuan Jove ada bersamaku. Katakan hal ini kepada Nona Pamela!" sahut Franklin menolak untuk memutuskan panggilan. "Hari ini adalah batas waktu terakhir untuknya menyelesaikan pekerjaan itu. Beritahu Nona Pamela aku sudah menyiapkan rakitan bom yang bisa meluluh-lantakkan labolatorium kesayangan kalian!"
"Yaakkk Franklin, apa-apaan kau hah! Seenaknya mengancam orang. Tidak tahu apa kalau aku sedang menikmati kebahagiaanku!" teriak Pamela kesal saat mendengar ancaman pria itu. Segera dia merebut ponsel dari tangan si mutan kemudian mengusirnya dari sana. Sambil mengerucutkan bibir, Pamela kembali melayangkan protes pada pria yang hanya diam saja setelah dia berteriak. "Sekalinya menelpon langsung mengancam orang. Kau pikir kau siapa ingin menggertakku. Sekalipun kau dan Kak Jove benar-benar mengebom labolatorium ini, jangan kira kalian bisa hidup bebas setelahnya ya. Enak saja kalian. Huhh!"
__ADS_1
"Bagaimana dengan obatku?" Kali ini Jove yang berbicara. Dia sama sekali tak mau mendebat gadis berisik ini. Terlalu membuang waktu. "Aku ingin segera meresmikan hubunganku dengan Casandra. Namun, Ayah menghalangi rencanaku karena kau masih belum memberikan jawaban apakah penyakit yang aku derita bisa dihilangkan atau tidak. Jadi sekarang kau sebaiknya mengatakan kabar gembira untukku. Tiga koper dollar sudah aku siapkan di depan pintu mansion ini. Ambillah!"
Kekesalan di diri Pamela lenyap seketika begitu mendengar nama dollar di sebut. Sembari memainkan rambutnya, Pamela pun langsung berbicara dengan nada yang sangat luar biasa manis kepada sepupunya itu.
"Kak Jove, aku baru saja berhasil mendapatkan jawaban untuk pertanyaanmu. Dan bisa aku pastikan kalau penyakit itu tidak akan menular pada semua keturunanmu. Seperti yang sama-sama kita tahu kalau darah langka milik Casandra sangatlah hebat. Kau aman jika ingin menikahinya!" ucap Pamela penuh binar kesenangan. Setelah itu dia menoleh ke samping. Satu smirk evil nampak menghiasi bibir tatkala menyaksikan janin yang baik-baik saja setelah melewati percobaan mematikan. "Aku bahkan sampai mengorbankan janin percobaanku demi bisa membuatmu sembuh, Kak. Jadi saat aku datang ke mansionmu, berbaik hatilah sedikit dengan membiarkan aku tinggal sejenak. Aku lelah, juga ingin menyapa calon kekasihku. Bibi Rose sudah memberitahumu, bukan?"
"Ya. Kau bebas melakukan apapun asalkan obat itu segera berada di tanganku. Bersiaplah. Seseorang akan segera datang menjemput!"
Dan klik, panggilan terputus. Pamela tertawa. Dia berputar-putar kesenangan sambil membayangkan tiga koper berisi dollar miliknya. Kaya raya, dia kaya raya.
"Awan, bersiaplah sayang. Sebentar lagi kita akan segera berjumpa. Kau pasti senang dengan pertemuan ini."
Suasana di laboratorium Grisi mendadak jadi berubah riuh setelah Pamela mengumumkan keberhasilannya lewat pengeras suara. Ucapan selamat saling bersahutan karena beberapa dari mereka ikut menderita selama dua hari terakhir. Jadilah sekarang semua orang bersorak senang karena pimpinan mereka berhasil menyelesaikan tugas yang awal terjadi merupakan perbuatan dari orang Grisi yang melakukan pengkhianatan. Racun yang dulu disuntikkan Flynn ke tubuh Rose merupakan ciptaan Tuan Christ Harrison, pendiri organisasi dan juga labolatorium Grisi. Dan kini petaka itu berhasil di patahkan berkat kegigihan dan juga kecerdasan Nona Pamela Thampson yang merupakan generasi ke enam. Luar biasa.
"Sebaiknya aku segera bersiap saja sebelum orangnya Kak Jove datang menjemput. Aku sudah tidak sabar ingin segera memeluk dollar-dollarku. Aaaaa!" jerit Pamela sambil menelan ludah membayangkan betapa aroma wangi yang berasal dari tumpukan uang kertas itu memanjakan indra penciumannya. Sambil berjalan menuju kamar pribadinya, Pamela terus berandai-andai barang baru apa yang akan dia beli dengan dollar tersebut. "Pasti akan sangat seru sekali jika aku bisa mempunyai banyak barang yang adalah hasil ciptaanku sendiri. Kira-kira apa ya yang belum ada di labolatorium ini? Aku harus meminta mereka untuk memeriksanya!"
Tiap kali Pamela mendapatkan dollar, dia selalu menggunakannya untuk berbelanja barang aneh di mana itu berbeda dengan yang biasa di beli para gadis kebanyakan. Jika gadis-gadis biasa akan sibuk memilih barang branded ataupun perhiasan berlian, Pamela malah melakukan sebaliknya. Dia menggunakan dollarnya untuk menciptakan satu ruangan yang isinya adalah benda-benda aneh, mutakhir, dan juga mustahil untuk di bayangkan oleh orang awam. Dan dari semua benda yang dia beli tidak ada satupun yang berharga murah. Makanya dia begitu gencar menjual organ manusia guna memenuhi dahaga agar ruangan favoritnya bisa segera full kebutuhan.
Tak berapa lama setelah itu, Pamela telah siap dengan penampilannya yang segar. Mengenakan hotpants berwarna putih dan tanktop hitam bermodel crop, dia berjalan menuju ruangan guna mengambil obat. Sesekali dia nampak terkikik kesenangan saat beberapa ilmuwan datang mengucapkan selamat dan memujinya. Oh ayolah, Pamela masihlah seorang gadis biasa yang suka dengan pujian. Jantungnya kembang kempis saat para ilmuwan itu menyatakan kekaguman mereka atas pencapaiannya yang sangat menakjubkan.
"Lihatlah, Awan. Aku begitu hebat dalam semua hal. Kau akan menjadi pria terbodoh di dunia ini jika sampai menolak untuk jadi kekasihku. Eh, tapi meskipun dia menolak aku tetap tidak akan melepaskanmu. Kau itukan sangat keren dan juga kaya, aku mana mungkin rela melepasnya seperti aku melepas Franklin. Tidak bisa!" ucap Pamela memarahi dirinya sendiri. Dia membuka pintu ruangan kemudian terdiam syok melihat apa yang terjadi di sana. "A-apaan ini. Kenapa janinnya bisa jadi seperti itu? Bukankah tadi dia baik-baik saja ya? Apa mungkin karena aku terlalu banyak menetesi tubuhnya dengan obat penawar itu? Ya ampun!"
__ADS_1
Janin yang masih berada di dalam kotak transparan tiba-tiba saja sudah membesar seperti ukuran bayi normal. Wajar jika Pamela panik. Dengan terburu-buru dia berteriak memanggil beberapa ilmuwan agar masuk ke dalam ruangan. Setelah itu mereka semua segera melakukan pemeriksaan ulang guna mencari tahu penyebab mengapa janin ini bisa membesar dalam waktu yang sangat singkat.
Brengsek! Kenapa malah kacau begini sih. Argghhh, apa yang harus ku jelaskan pada Kak Jove nanti kalau aku sampai gagal membawakan obat itu kepadanya. Benar-benar sulit menebak pergerakan darah milik Casandra. Kenapa sih harus sesulit ini? Lama-lama kau kubunuh juga, Casandra. Membuat orang kesal saja.
Hampir dua jam lamanya Pamela dan teman-temannya di buat kelimpungan menangani masalah yang tiba-tiba muncul. Hingga pada akhirnya mereka berhasil menemukan titik masalah dengan cara memotong satu jari janin kemudian melakukan percobaan ini dan itu. Di ketahui kalau tubuh janin bisa tiba-tiba membesar adalah karena darah milik Nona Casandra ternyata menolak untuk menyatu dengan darah yang ada di tubuh janin tersebut. Yang artinya keturunan Jove akan berukuran raksasa jika sampai terjadi penolakan di antara darah mereka.
"Haihh, PR lagi. Kalian merasa heran tidak dengan darah langka ini. Entah kenapa aku jadi merasa kasihan pada mereka-mereka yang sedang gencar memburu Casandra. Mereka pasti berpikir sekali mendapatkan darah langka itu mereka akan langsung mendapatkan kejayaan dan juga kesuksesan besar. Salah, pemikiran itu sangat salah. Yang sebenarnya terjadi darah milik Casandra adalah suatu petaka jika sampai salah di gunakan. Dan petaka yang akan muncul sangatlah mengerikan. Ini tidak bisa di biarkan!" ucap Pamela sambil memijit pinggiran kepalanya. Dia pusing memikirkan Casandra, terheran-heran hingga membuat kepalanya terus berdenyut.
"Lalu apa yang harus kita lakukan pada darah langka itu, Pamela?" tanya salah seorang ilmuwan.
"Memastikannya tetap berada di tubuh Casandra. Jika bisa, semampu mungkin kita jangan sampai membiarkannya keluar tanpa sebab yang jelas. Karena setetes saja darah itu sampai dibawa masuk ke ruang penelitian, itu akan berdampak sangat besar pada kehidupan ini. Dan orang yang akan di salahkan atas petaka itu adalah ilmuwan seperti kita!" jawab Pamela seraya menarik nafas panjang.
"Astaga, baru kali ini kami mendengar ada sesuatu yang begitu mengerikan. Kalau memang seperti ini, bukankah sudah waktunya untuk kita mencaritahu asal-muasal darah langka itu?"
"Ya, itu sudah ada di dalam rencanaku. Dan aku yakin pasti ada seseorang yang bisa menjadi penawar kengerian ini. Untuk orang-orang seperti kita, mempercayai kejadian yang terjadi turun-temurun sudah menjadi suatu keharusan. Jika Tuhan menciptakan Casandra sebagai wanita penerus darah langka, harusnya Tuhan juga menciptakan wanita lain yang memiliki masa lalu hampir sama sepertinya. Entah siapa orang itu, aku bersumpah aku pasti bisa menemukannya!"
Pamela kemudian membawa sebotol obat keluar dari ruangan saat seorang datang melapor kalau anak buah sepupunya sudah datang menjemput. Sambil terus berpikir keras, dia mengira-ngira orang mana lagi yang akan dia temukan dengan menyimpan keistimewaan lain di dirinya. Sungguh unik. Tiba-tiba Pamela jadi merasa sangat bersyukur karena Tuhan telah mengizinkannya hadir di dunia ini. Walaupun memusingkan, tapi dia merasa takjub akan rahasia besar yang saling berhubungan di mana dia ikut terlibat di dalamnya.
Semoga saja orang yang menjadi manusia langka selanjutnya masih berhubungan dengan anggota keluargaku yang lain. Dengan begitu aku pasti akan merasa sangat senang sekali karena di kelilingi oleh orang-orang unik yang sangat luar biasa. Hehehe.
***
__ADS_1