
Tok tok tok
"Cadenza, apa kau sudah selesai berpakaian?"
Elzavat melongok ke dalam ruang ganti pakaian setelah mengetuk pintu. Dia kemudian menyunggingkan senyum kecil mendapati sang suami yang tengah mengancingkan baju. "Boleh aku masuk?"
"Masuk saja, sayang. Dan kenapa juga kau harus bertanya dulu padaku. Lupa ya kalau aku ini adalah suamimu?" sahut Cadenza merasa aneh akan sikap istrinya. Dan setelah dekat, dia langsung menatapnya lekat. "Ada apa, hem? Apa sesuatu telah mengusik pikiranmu?"
Sekian tahun tinggal bersama wanita cantik bernama Elzavat ini, membuat Cadenza hafal akan semua sifat-sifatnya. Jika istrinya tiba-tiba bersikap seperti sungkan dan menjaga jarak, besar kemungkinan ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya. Dan hal inilah yang sedang Cadenza coba cari tahu sekarang. Dia yakin betul kalau istrinya tengah memikirkan tentang sesuatu hal.
"Boleh aku tahu apa yang terjadi?" tanya Cadenza dengan lembut.
Sebelum menjawab, Elzavat mengambil dasi berwarna hitam bergaris kemudian mengalungkannya ke leher Cadenza. Setelah itu dia membantu mengikatnya sembari bicara.
"Semalam aku memimpikan putri kita. Di dalam mimpi itu aku melihat Casandra yang sedang menangis tersedu-sedu dengan tubuh bersimbah darah. Hatiku sakit, tapi tak bisa menolongnya. Karena aku merasa tak tenang, tadi aku memutuskan untuk langsung menghubunginya saja. Akan tetapi tidak ada jawaban," ucap Elzavat lirih. Dia kemudian mendongak seraya menampilkan ekpresi yang begitu cemas. "Jove ... dia tidak mungkin menyakiti putri kita, kan? Casandra pasti baik-baik saja, kan?"
"Sayang, tolong jangan berpikir yang tidak-tidak tentang putri kita. Yakin dan percayalah kalau mimpi yang kau lihat hanya sebatas bunga tidur. Oke?" sahut Cadenza berusaha menyikapi cerita sang istri dengan tenang.
Ya Tuhan, tolong lindungi putriku. Elzavat adalah orang yang telah melahirkan Casandra, mereka terikat hubungan batin yang sangat kuat. Semoga saja apa yang dilihatnya di dalam mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Casandra pasti baik-baik saja di tangan Jove. Semoga.
"Meskipun aku berusaha meyakinkan diri kalau Jove tidak akan mungkin menyakiti Casandra, tetap saja hatiku merasa gelisah. Karena sepeduli dan sebaik apapun Jove dalam melakukan tanggung jawabnya, dia tetaplah seorang manusia yang memiliki hawa na*su. Aku sangat takut Jove akan khilaf kemudian memanfaatkan apa yang ada di dalam diri putri kita. Kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi, bukan?"
"Ya, akupun berpikir demikian. Tapi kita bisa apa sekarang. Hanya Jove tempat paling aman untuk Casandra berlindung. Tolong percayailah hal ini. Atau jika tidak bagaimana kalau setelah sarapan nanti kita pergi menjenguk Casandra saja. Siapa tahu dengan begitu kau bisa merasa sedikit tenang!"
"Kenapa harus menjenguknya? Tidak bisakah kami bertemu di kantor saja? Di sana pasti akan lebih leluasa untuk kami mengobrol. Boleh?" tanya Elzavat merasa keberatan jika harus menyambangi kediaman mafia itu.
Cadenza terdiam lama. Dia kurang yakin apakah hari ini putrinya akan datang ke perusahaan atau tidak. Karena kemarin Franklin memberitahunya kalau Casandra sedang demam. Sebenarnya bukan niat Cadenza ingin merahasiakan hal ini dari Elzavat, dia hanya tak mau saja wanita ini bersedih hati jika tahu kalau putri mereka sedang dalam kondisi kurang sehat. Namun, kembali lagi pada satu fakta tentang ikatan seorang anak dengan ibunya. Berusaha untuk menutupi, Elzavat malah mendapat firasat melalui mimpi. Haihh.
"Cadenza, boleh?" desak Elzavat lagi.
"Sayang, sebenarnya ....
Tok tok tok
__ADS_1
"Tuan Cadenza, Nyonya Elzavat. Di luar ada Tuan Eriko. Dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Penting!" lapor seorang pelayan dari balik pintu.
Kening Cadenza langsung mengerut begitu tahu kalau saudara tirinya datang berkunjung. Setelah itu dia menatap lama ke arah Elzavat, merasa heran dengan kunjungan yang begitu tiba-tiba.
"Katakan pada Eriko kami akan segera keluar untuk menemuinya!" perintah Elzavat.
"Baik, Nyonya. Permisi."
Elzavat menghela nafas. "Tidak biasanya Eriko datang tanpa mengabari kita dulu. Mungkinkah telah terjadi sesuatu pada kesehatan Regent?"
"Entahlah, aku juga kurang tahu," sahut Cadenza. "Kita keluar sekarang?"
"Baiklah."
Setelah merapikan dasi, Elzavat dan Cadenza akhirnya keluar dari dalam ruangan ganti. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, menapaki satu persatu anak tangga sambil sesekali saling melempar senyum. Sangat harmonis.
Sementara itu di ruang tamu, terlihat Eriko yang duduk dengan memasang ekpresi aneh. Tujuannya datang ke rumah ini adalah untuk memastikan kebenaran tentang darah langka yang ada di tubuh keponakannya. Kemarin setelah Regent menceritakan masalah ini, mendadak tidur Eriko jadi tak tenang. Dia lalu menghubungi salah satu kenalannya guna menanyakan tentang keistimewaan darah tersebut. Dan apakah kalian tahu jawaban yang di dapat oleh Eriko? Luar biasa. Hanya dengan menjual setetes darah langka itu, dia bisa mendapatkan kekayaan yang luar biasa banyak. Bayangkan saja jika seandainya dia bisa menjual semua darah langka milik keponakannya, Eriko pasti akan menjadi orang terkaya di dunia. Itulah mengapa sekarang dia datang ke rumah ini. Eriko ingin memastikan kalau Casandra adalah benar tambang uang yang sesungguhnya.
"Eriko, ada apa kau pagi-pagi begini sudah datang bertamu. Regent baik-baik saja, kan?" tanya Cadenza begitu sampai di ruang tamu. Dia kemudian meminta Elzavat untuk duduk lebih dulu. Setelah itu dia pun duduk di sebelahnya.
"Apa itu?"
"Ini tentang Casandra!"
Nafas Cadenza tertahan sejenak. Dia lalu mengelus punggung Elzavat saat merasakan sebuah r*masan kuat di pinggangnya. Khawatir, itu sudah pasti. Mereka sama-sama menebak kalau hal yang ingin di tanyakan oleh Eriko adalah tentang keistimewaan Casandra. Jika benar, maka habislah mereka. Bertahun-tahun menjadi saudara, tidak sekalipun Cadenza memiliki niat untuk memberitahu Eriko tentang hal ini. Dia tahu benar seperti apa perangainya.
"Memangnya ada apa dengan putriku, Eriko? Apa dia melakukan suatu kesalahan?" tanya Elzavat mencoba untuk tenang. Siapapun yang sedang duduk di hadapannya sekarang, Elzavat akan menganggapnya sebagai musuh. Tentu saja musuh. Karena yang menyebut nama putrinya, sudah pasti memiliki tujuan tersendiri.
"Tidak, kakak ipar. Casandra sama sekali tidak membuat kesalahan. Hanya saja ....
Ucapan Eriko terjeda. Dan matanya yang tajam terus memperhatikan perubahan ekpresi di wajah kedua orang ini. Namun, kebenaran itu masih fifti fifti. Karena baik Cadenza maupun istrinya, mereka sama-sama terlihat tenang tanpa menujukkan reaksi panik ataupun tegang.
"Hanya saja apa?" Elzavat mengerjapkan mata. Mati-matian dia menahan diri agar tidak menangis. Elzavat takut sekali.
__ADS_1
"Hanya saja seseorang datang menemui Regent di rumah sakit dan memberitahunya kalau Casandra telah di jadikan sandera oleh Jove. Apakah itu benar?"
Eriko sengaja mengganti topik pertanyaan setelah tak sengaja melihat buliran keringat mulai bermunculan di kening kakak iparnya. Sebagai seorang pengamat, sudah pasti hal ini cukup memberinya jawaban bahwasanya memang benar kalau Casandra adalah pemilik darah langka. Tak mau mengundang kecurigaan, Eriko segera memikirkan pertanyaan lain. Lalu terpikirlah dia untuk membahas tentang Jove.
Hahaha, sekarang kekayaan sudah ada di depan mata. Aku hanya tinggal memikirkan bagaimana cara untuk membawa lari Casandra kemudian menguras darahnya sampai habis. Setelah itu, maka semua orang akan mengenalku sebagai Eriko Lin, orang paling kaya raya di dunia. Hahh, aku jadi tidak sabar menantikan kejayaan itu. Hmmm.
"Kalau boleh tahu siapa orang yang telah memberitahu Regent tentang hal ini, Er?" tanya Cadenza merasa aneh. Hatinya menjerit curiga, tak mau percaya begitu saja akan pertanyaan saudaranya ini.
"Regent menolak untuk memberitahukan nama temannya itu. Dan gara-gara masalah ini aku menjadi sangat tidak tenang. Keponakanku di sandera oleh orang seberbahaya Jove, mungkinkah aku hanya akan diam saja? Ini penghinaan, Cadenza. Putrimu adalah wanita terhormat. Tidak layaknya baginya di perlakukan seperti ini!" jawab Eriko mencoba meyakinkan Cadenza bahwa dia tidak memiliki niat terselubung. "Bagaimana kalau kita laporkan masalah ini ke pihak berwajib saja. Jove sangat berbahaya. Aku takut dia akan menggunakan Casandra sebagai alat bisnisnya. Kalian tidak mungkin tidak tahu bukan seperti apa sepak terjang mafia satu itu?"
"Casandra bukan di sandera, tapi dia sendiri yang berkenan untuk tinggal bersama Jove!" sanggah Elzavat dengan lantang. Nalurinya sebagai seorang ibu berkata kalau pria di hadapannya sedang bersandiwara. Dan hal itu membuat Elzavat jadi terpancing emosi.
"Apa? Casandra tinggal bersama Jove atas keinginannya sendiri?" Eriko mengerutkan kening. Dia merasa ada yang janggal di balik perkataan Elzavat barusan.
"Ya. Casandra dan Jove saling cinta, mereka menjalin hubungan asmara. Tapi Eriko, aku jadi penasaran pada orang yang telah memberitahu Regent kalau putriku telah di sandera. Tahu darimana dia?"
Menangkap adanya sinyal sinis penuh curiga, secepat kilat Eriko langsung menormalkan ekpresinya. Saudaranya tidak boleh sampai tahu kalau dia berkeinginan untuk menculik Casandra kemudian menjual darah langkanya. Bisa panjang urusannya nanti jika kedua orang ini sampai tahu.
"Kakak ipar, karena sekarang aku sudah mengetahui kebenarannya, maka aku rasa masalah ini tidak perlu di bahas lagi. Dan aku harap kalian tidak berpikiran macam-macam kepadaku. Kedatanganku kemari murni hanya karena mengkhawatirkan Casandra saja. Tidak lebih!"
"Sebaiknya memang seperti itu, Eriko. Karena jika aku sampai tahu kau merencanakan sesuatu terhadap putriku, maka aku sendiri yang akan membuat perhitungan denganmu!" sahut Elzavat dengan berani. Dia kemudian menoleh saat Cadenza mengelus tangannya, memberi kode untuk bersikap tenang. "Maaf, Cadenza. Akhir-akhir ini hatiku terus saja gelisah. Jadi aku sedikit sensitif setiap kali ada orang yang membahas tentang Casandra. Dan untukmu, Eriko. Aku minta maaf jika kata-kataku tadi ada yang menyinggungmu. Aku hanya seorang ibu yang terlalu menyayangi anaknya. Semoga kau bisa maklum!"
"Tidak apa-apa, kakak ipar. Aku sangat maklum akan hal itu. Jangan khawatir. Kau berhak melakukannya karena Casandra adalah putrimu!"
Elzavat menggigit bibir. Dia kemudian pamit untuk masuk ke kamar, meninggalkan Eriko dan Cadenza dalam diam.
"Ya sudah kalau begitu aku langsung pulang saja. Dan untukmu, Cadenza. Jika ada apa-apa jangan ragu untuk meminta bantuan dariku. Kita saudara, sudah seharusnya berbagi suka dan duka bersama. Iya, kan?" ucap Eriko kemudian berdiri. "Aku pergi dulu. Selamat tinggal!"
Eriko melangkahkan kaki keluar dari sana dengan ekpresi yang begitu santai. Namun saat dia sampai di dekat mobilnya, seulas smirk licik langsung menghiasi bibir. Bayangan tumpukan uang memenuhi rongga matanya, seiring dengan bisikan setan yang terus mendesak untuk segera memburu keponakannya sendiri.
Tunggu kedatangan Paman, Casandra. Paman janji Paman akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Hahahahahaha.
Sepeninggal Eriko, Cadenza tak langsung bergeming dari duduknya. Entah mengapa dia merasa ada yang salah. Saudaranya itu tidak mungkin datang hanya karena hal sepele semacam ini. Tak mau terjadi sesuatu, Cadenza memutuskan untuk menghubungi Jove saja. Dia perlu memberitahukan tentang kedatangan Eriko pada mafia itu.
__ADS_1
***