
"Fidel, di mana Ayah?" tanya Casandra saat melihat Fidel yang sedang berjalan menuju ruangannya. Segera dia berjalan menghampiri pria itu. "Mana Ayahku?"
Kening Fidel mengerut. Agak kaget melihat kemunculan majikannya di perusahaan. Yang Fidel tahu majikannya ini sedang tidak enak badan, tapi kenapa malah datang bekerja?
"Ck, kenapa kau malah diam sih. Ayah mana!" desak Casandra sambil berdecak kesal melihat Fidel yang malah menatapnya dengan pandangan heran.
"O-oh, Tuan Cadenza ya?" Fidel menyahut sambil menggaruk pinggiran kepalanya. "Itu, Tuan Cadenza masih berada di luar kantor, Nona. Beliau meminta saya datang lebih dulu untuk menyiapkan beberapa berkas yang nanti akan di bawa ke ruang meeting."
"Di luar kantor?"
Casandra menautkan kedua alisnya. Khawatir terjadi sesuatu, dia memutuskan bertanya pada penjaga yang berdiri tak jauh darinya.
"Hei kalian. Ayahku tidak sedang dalam bahaya, kan?"
Salah satu penjaga berjalan mendekat. Dia lalu menyentuh jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tak lama setelah itu, muncul sebuah layar yang tidak terlalu besar tengah memperlihatkan video berisi orang yang di maksud oleh Nona Casandra barusan.
"Tuan Cadenza saat ini sedang berada di makam keluarga anda, Nona. Jangan khawatir, Tuan Jove sudah banyak menempatkan penjaga di sana. Tuan Cadenza aman!" ucap penjaga dengan suara yang begitu dingin.
Mulut Casandra ternganga. Sedangkan Fidel, dia terlihat menarik nafas panjang beberapa kali saat menyaksikan betapa canggih cara kerja anak buahnya Jove. Pantaslah jika mafia itu begitu di takuti oleh lawan, la wong pengamanannya saja seperti ini. Mustahil bisa selamat dari amukannya. Astaga.
Hah? Hebat sekali. Bagaimana bisa dari dalam sebuah jam muncul layar seperti itu yang langsung terhubung ke Ayah? Apa jangan-jangan Jove telah menanamkan sesuatu di dalam tubuh Ayah sehingga dia bisa dengan mudah melacak? Tapi tidak mungkin. Memangnya Ayah robot. Ayah kan manusia, mustahil ada hal-hal semacam itu. Ya ampun, calon suamiku menakjubkan sekali. Kira-kira dia tahu tidak ya apa yang sedang aku lakukan sekarang?
"Astaga. Kenapa aku bisa sampai lupa sih!" pekik Casandra sambil memukul keningnya sendiri. Tadinya dia berniat menelpon Jove guna memberitahukan tentang kedatangan sang paman. Akan tetapi gara-gara tak bisa menemukan keberadaan sang ayah, Casandra sampai lupa menghubungi calon suaminya itu. Hadehhh.
"Nona, ada apa?" tanya Fidel khawatir. Di tatapnya lekat wanita cantik yang sedang sibuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Tuan Fidel, tolong kondisikan mata anda sebelum kami mencongkelnya keluar. Nona Casandra adalah milik tuan kami, kau tidak seharusnya menatapnya dengan cara seperti itu. Kurang ajar!" tegur salah satu penjaga sambil menepuk pundak Fidel.
"Aku tahu, dan yang aku lakukan bukanlah sesuatu yang bersifat kurang ajar. Jangan berlebihan kalian!" sahut Fidel agak dongkol mendengar teguran penjaga. Yang benar saja.
__ADS_1
"Selama berjenis kelamin laki-laki, kami akan menganggap orang tersebut sedang bersikap kurang ajar jika berani melewati batasan. Jadi sebelum kami melakukan tindakan lebih kepadamu, kami sarankan kau sebaiknya jangan membantah. Atau kau ingin berurusan langsung dengan tuan kami?"
Fidel membuang nafas dengan kasar. Segera dia mundur ke belakang saat penjaga itu mengancamnya. Benar-benar posesif sekali mafia itu. Bahkan Fidel pun sampai tak di izinkan untuk sekedar mengobrol dengan majikannya. Padahal sebelumnya mereka itu sudah seperti saudara. Ya ampun.
Tak menghiraukan perdebatan yang terjadi antara Fidel dengan penjaga, Casandra malah sibuk menunggu Jove menjawab panggilan. Dia berjalan bolak-balik sambil terus berdecak. Kesal, karena calon suaminya itu seperti sengaja tak mau menjawab.
"Aku akan menghajarmu kalau kau sampai berani mengabaikan panggilan dariku, Jove!" geram Casandra jengkel. Dan begitu dia selesai mengomel, calon suaminya itu akhirnya memberikan respon. Namun hal tersebut tak serta-merta membuat Casandra merasa senang. Dia malah mengerucutkan bibir dan tidak mau bicara. Biar saja. Siapa suruh membuat orang menunggu. Jadi kesal kan dia.
"Aku sudah menjawab panggilannya. Apalagi yang kurang?" tanya Jove dari seberang telepon. "Cassey, di hadapanmu sekarang ada tiga orang pria asing. Jangan menampakkan ekpresi menggemaskan seperti itu di depan mereka. Aku cemburu!"
Satu seringai lebar langsung muncul menghiasi bibir Casandra begitu dia mendengar perkataan Jove. Ternyata dugaannya memang benar kalau Jove itu bisa mengetahui apapun dan juga siapa saja yang ada di sekitarnya. Benar-benar bajingan tengik.
"Ekhmmm, karena mata-matamu ada di mana-mana, aku rasa aku tidak perlu menjelaskan alasan kenapa aku menelponmu. Iya, kan?" ucap Casandra sedikit cetus.
"Tentang Ayahmu atau tentang kedatangan pamanmu?"
"Keduanya."
"Sejak awal kita bersama bukankah aku sudah memberitahumu kalau keamananmu dan juga keamanan keluargamu akan menjadi tanggung jawabku?" ucap Jove santai. "Dan mengenai Eriko, kau tidak perlu cemas. Sudah ada orang yang akan mengurusnya nanti!"
"Jove, sepertinya Paman Eriko datang ke L Group karena sudah mengetahui rahasia tentang darah langka itu. Sikapnya terlalu aneh menurutku," sahut Casandra. "Apa mungkin dia berkeinginan untuk menjualku juga?"
"Ya. Bahkan lebih daripada itu," jawab Jove.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Tidak ada. Cukup cintai aku, maka semuanya akan beres!"
"Dasar brengsek!"
__ADS_1
Klik. Casandra langsung mematikan panggilan saat omongan Jove mulai melantur. Lupa kalau ada banyak mata yang mengawasinya, Casandra dengan pedenya menangkup kedua pipinya sambil menggerak-gerakkan badan. Bohong besar kalau dia tak tersipu mendengar bualan Jove barusan. Tersipu sekali malah. Sudah tahu Casandra menelpon adalah untuk membahas masalah yang penting, tapi bajingan tengik itu malah membahas masalah yang lain. Membuat orang malu saja, tapi Casandra suka. Hehehe.
"Ekhmm-ekhmmm!"
Fidel berdehem cukup kuat. Agak tergelitik dia melihat kelakuan majikannya yang berbeda antara mulut dengan gerak tubuhnya. "Nona Casandra, anda baik-baik saja?"
"Tentu saja aku baik-baik sa ....
Glukkk
Casandra menelan ludah. Dan barulah dia tersadar kalau dirinya tidak sedang sendirian. Mencoba menutupi rasa malunya dengan cara pura-pura terbatuk, Casandra menatap Fidel dengan gaya sok santai. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah jantungnya tengah berdegub kuat sekali karena malu ketahuan sedang menggatal.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir!"
"Benarkah?"
Fidel tersenyum. Namun senyum tersebut sarat akan ejekan.
"Coba saja kalau kau masih berani menunjukkan senyum seperti itu di hadapanku, Fidel. Aku bersumpah akan langsung meninju gigimu sampai rontok. Mau?!" ancam Casandra antara malu dan juga jengkel.
"Saya tidak sedang tersenyum, Nona," sahut Fidel tak mau mengakui.
"Oh, benarkah?" Casandra memicingkan mata. "Lalu di sebut apa kedua sudut bibir yang tertarik ke atas? Menangis?"
"Maaf, Nona Casandra. Saya hanya merasa lucu saja melihat prilaku anda yang lain di mulut, lain juga dengan fakta yang terjadi. Saya tahu ini lancang, tapi memang seperti itulah yang terlihat di hadapan saya sekarang!"
Begitu mendengar perkataan jujur Fidel, dengan langkah seribu Casandra langsung kabur dari sana. Mantan asistennya itu terlalu terus-terang, yang mana membuatnya merasa malu setengah mati.
"Dasar brengsek! Kenapa sih semua laki-laki yang berada di sekitarku selalu menyebalkan. Tidak Jove, tidak Fidel, tidak Regent. Huh, sifat mereka benar-benar membuatku merasa muak sekali. Huhhh!" gumam Casandra bersungut-sungut begitu dia sampai di dalam ruangannya. Dia lalu mengunci pintu agar kedua penjaga itu tidak masuk ke dalam. "Menyebalkan!"
__ADS_1
***