The Devil JOVE

The Devil JOVE
52. Penolakan


__ADS_3

Albert melangkah masuk ke dalam sebuah kamar bersama seorang pria berbadan besar yang membawa senjata api di tangannya. Demi membalaskan dendamnya pada Jove, Albert sampai rela datang menemui seorang pembunuh yang di kenal dengan sebutan pembunuh tak kasat mata. Kenapa tak kasat mata? Karena dari semua korban yang di bunuhnya, orang ini sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun. Atau anggaplah kalau dia membunuh secepat angin di mana bahkan jejak langkah kakinya sama sekali tak membekas. Berbahaya sekali bukan?


Jove, kali ini tamat riwayatmu. Aku mungkin gagal menghancurkan bisnismu tempo hari, tapi setelah ini? Hah, bahkan untuk bernafaspun kau tidak akan memiliki kesempatan lagi. Lihat saja apa yang akan terjadi dengan hidupmu yang angkuh itu setelah aku bertemu dengan Awan, aku jamin kau tidak akan berani bersikap angkuh lagi di hadapanku. Heh.


Ceklek


“Awan, Tuan Albert sudah datang!”


Seorang pria dengan penampilan yang sangat luar biasa sopan nampak tersenyum ramah saat pintu kamarnya terbuka. Albert yang melihat penampilan pria tersebutpun sampai tercengang kaget karenanya. Bagaimana tidak kaget. Sosok yang di kenal oleh banyak orang dengan sebutan pembunuh tak kasat mata ini benar-benar sangat jauh dari julukan tersebut. Awalnya Albert pikir Awan ini adalah seseorang dengan penampilan misterius atau bahkan menyerupai preman. Namun yang terlihat di hadapannya sekarang sangat jauh dari apa yang dia bayangkan. Awan, si pembunuh tak kasat mata ini tengah mengenakan kemeja panjang warna putih dengan celana panjang layaknya anak sekolahan yang sedang mendaftar bekerja magang. Sedang potongan rambutnya sendiri sama sekali tak menunjukka kalau dia adalah seorang pria yang sangat berbahaya. Malah lebih menunjukka kesan remaja polos yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Wajar sajakan kalau Albert sampai tercengang seperti orang bodoh?


In-ini … ini aku tidak salah lihat, bukan? Kenapa Awan … astaga. Aku tidak sedang dipermainkan oleh mereka ‘kan?


“Halo, Tuan Albert. Senang bertemu denganmu,” sapa Awan seraya tersenyum kecil. Setelah itu dia bangun dari duduknya lalu mendepak satu kepala yang tadi sedang diinjaknya. Sambil mengelap tangannya yang ternyata dilumuri darah, Awan berjalan menghampiri sang tamu yang sedang tercengang syok tepat di depan pintu kamarnya. “Kau jauh-jauh menyambangi kedatanganku apa karena ada sesuatu yang mendesak? Kita langsung saja ya. Sekarang aku sedang menerima tugas dari seseorang untuk mencari bahan utama untuk penelitian racun di labolatorium mereka. Dan jika masalahmu tidak terlalu penting, bagaimana kalau anak buahku saja yang melakukan? Maaf jika keputusanku sedikit tidak sopan dan membuatmu merasa tidak senang. Walaupun aku adalah seorang pembunuh, tapi aku sangat mengutamakan budaya antre. Yaitu di mana aku lebih mengutamakan orang yang lebih dulu datang memohon bantuan dariku. Kau mengerti bukan?”


“Awan, seperti inikah aku harus memanggilmu?” tanya Albert berusaha untuk santai meski sebenarnya dia masih sangat syok dengan apa yang dilihatnya. Albert kemudian berdehem saat Awan menganggukan kepalanya. “Woahhh, ternyata kau pembunuh yang cukup taat pada peraturan juga ya. Aku salut.”

__ADS_1


“Ah, jangan terlalu memujiku. Aku tahu kalau apa yang kau pikirkan tidak sama dengan yang kau katakan barusan. Apa aku benar?” jawab Awan seraya menepuk pelan bahu Albert. “Langsung sampaikan saja apa tujuanmu mendatangi rumahku yang sederhana ini. Aku sedang sibuk mengukir kepala anak buahku yang telah berkhianat. Dan jujur suasana hatiku sebenarnya sedang tidak nyaman. Jadi lekaslah bicara kemudian tinggalkan aku sendirian. Aku bukan orang yang santai. Kau paham?”


Untuk beberapa saat Albert dibuat termangu oleh perkataan Awan. Namun karena Albert sadar di mana dirinya berada sekarang, dia memutuskan untuk langsung memberitahu Awan tentang tujuannya datang ke rumah ini. Sembari merogoh satu foto dari sakun bajunya, Albert menyampaikan betapa dia sangat ingin melihat Awan melenyapkan sosok yang ada di dalam gambar tersebut.


“Who?” tanya Awan dengan santai. Dia hanya menatap seksama ke arah foto yang di pegang oleh Albert tanpa ada keinginan untuk mengambilnya.


“Namanya Jove. Dia seorang raja heroin dan juga pemilik CL Group,” jawab Albert. “Awan, walaupun aku tahu kau sedang tidak menerima perintah dari orang lain, tapi aku sangat berharap bisa melihatmu membunuhnya. Simple saja alasannya. Karena persaingan bisnis dan juga kurang nyaman dengan sikap angkuhnya. Untuk bayarannya sendiri aku membebaskanmu untuk menentukan nominal yang kau mau. Terserah!”


“Jove?” Awan membeo. “Jove Lorenzo anaknya Adamar Clarence dan Rosalinda Osmond?”


“Wow, amazing.”


Awan terkekeh sambil bertepuk tangan sebelum akhirnya dia mengambil foto dari tangannya Albert. Sambil terus memandanginya, Awan berjalan mendekat ke arah jendela kemudian menatap dingin ke arah depan. “Mencari masalah dengan pasangan suami istri itu aku rasa bukanlah sesuatu yang baik, Albert. Bahkan sampai detik ini aku masih sangat penasaran dengan wanita yang bernama Rosalinda Osmond itu. Karena jika dilihat dari silsilah keluarganya, dia itu berasal dari keluarga dengan latar belakang yang cukup mengerikan. Belum lagi dengan Adamar yang adalah sosok di balik seorang Marcellino Lorenzo. Kau pasti tahu sendiri bukan kalau mereka itu adalah pasangan yang tidak seharusnya kau singgung?”


“Tentu saja aku sangat tahu akan hal itu, Awan. Namun bukan berarti aku akan mundur dan membiarka Jove duduk dengan tenang di posisinya sekarang!” sahut Albert sambil menggeretakkan gigi. Dia mencium bau-bau penolakan di diri pembunuh ini. Dan Albert tidak mau kedatangannya ke tempat ini tidak membuahkan hasil apa-apa. “Awan, kali ini aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Semua usaha yang aku lakukan untuk menghabisi Jove selalu gagal. Meskipun di semua kejadian itu sama sekali tidak ada campur tangan orangtuanya Jove, tapi tetap saja langkahku bisa dengan mudah ditebak oleh mereka. Dan sekarang, sekarang hanya kau seorang yang bisa membalaskan dendamku. Tolonglah. Tolong habisi bajingan itu. Apapun syaratnya pasti akan kukabulkan asalkan Jove lenyap dari atas muka bumi ini. Sungguh!”

__ADS_1


Kedua sudut bibir Awan langsung tertarik ke atas begitu dia mendengar janji yang di ucapkan oleh Albert. Sambil menggoyang-goyangkan fotonya Jove, Awan berbalik menghadap Albert kemudian mengacungkan fotonya ke depan wajah. “Haruskah demi pria ini aku sampai harus berhadapan dengan pasangan suami istri itu, Albert? Aku masih belum puas menikmati isi dunia ini kalau kau mau tahu. Jadi maaf, aku menolak tawaran pekerjaan ini. Janjimu terlalu busuk untuk di perdengarkan pada orang sepertiku. Pergilah, aku sibuk!”


“Tapi aku ….


“Bawa dia pergi dari sini!” perintah Awan pada anak buahnya. Setelah itu Awan kembali duduk, tapi masih menggenggam erat fotonya Jove. Tak menghiraukan teriakan Albert yang terus berusaha membujuknya, pandangan Awan sedikit menggelap saat dia teringat dengan pertemuan tak di sengajanya dengan Nyonya Rose, yang tak lain adalah ibu dari pria di dalam foto.


“Jove, jadi kau itu adalah anaknya ya? Pantas orang sekelas Albert kesulitan untuk menyentuhmu. Rupanya kau dilindungi oleh orang-orang misterius yang waktu itu pernah menggagalkan pekerjaanku. Hmmmm!”


“Aku tidak tahu kau siapa. Namun, orang yang ingin kau habisi adalah salah satu dari bawahan suamiku. Jadi, menjauhlah dari masalah ini karena racun jauh lebih baik daripada kau harus kehilangan jantungmu!”


Kurang lebih kata seperti itulah yang Awan dengar saat dia menerima perintah untuk menghabisi seorang pria pengkhianat yang ternyata adalah anak buahnya Adamar. Karena penasaran, Awan akhirnya mencaritahu tentang siapa wanita mengerikan itu. Dan begitu mendapatkan informasinya, Awan langsung dibuat menelan ludah karenanya. Di detik itu juga Awan langsung sadar kalau dia tidak akan pernah mau berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan Rose maupun Adamar. Terlalu berbahaya dan mengancam nyawa. Apalagi Jove adalah putra mereka, sudah pasti Awan akan langsung menolak perintah dari Albert meski hadiahnya cukup membuat Awan menelan ludah.


“Walaupun tawaran Albert cukup menggiurkan, tapi aku musti berpikir seribu kali jika ingin membunuh Jove. Aku mungkin bisa saja berhasil menghabisinya, tapi setelah itu nyawakulah yang akan melayang. Membunuh Jove sama artinya dengan bunuh diri. Dan aku belum siap untuk mati. Aku masih ingin hidup,” gumam Awan sambil mere*mas kuat foto yang masih di genggamnya. Dia lalu membuangnya asal, tak mau berurusan dengan sesuatu yang pernah membuat bulu kuduknya berdiri semua.


***

__ADS_1


__ADS_2