The Devil JOVE

The Devil JOVE
94. Menjadi Patuh


__ADS_3

Jove berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menatap tubuh atletisnya yang masih di penuhi buliran air. Dia baru saja selesai membilas tubuh setelah tadi sempat bermandikan darah sepulang dari memberi peringatan pada Albert. Saat dia sampai di rumah, Casandra masih terlelap dalam tidurnya. Jove kemudian tersenyum saat teringat akan gumaman jaguar kesayangannya itu.


"Aku sangat membencimu, Jove. Sangat membencimu!"


"Sebegitu bencinya kau padaku sampai-sampai dalam mimpi pun kau terus menyebut namaku. Kau sangat menggemaskan, Cassey," gumam Jove sambil terkekeh kecil. Dia lalu menyeka butiran air yang mengalir mengenai pelipis matanya. "Kau milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun bisa merebutmu. Kau milikku, Casandra Lorenzo."


Puas berdiam di dalam kamar mandi, Jove pun akhirnya keluar. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, membelakangi wanita yang masih terjebak di dunia mimpinya. Jauh di dalam pandangan Jove, ada gurat kekelaman yang mengingatkannya pada kejadian tak terduga di mana dia tak sengaja melukai Casandra. Sungguh, sampai detik ini Jove masih sangat penasaran mengapa dia bisa kambuh tiba-tiba. Mustahil jika tak ada sebab yang jelas. Dan hal tersebut sangat amat mengganggu pikirannya.


Saat Jove sedang berlarut dalam tanya, dia di kejutkan oleh sebuah elusan lembut di punggungnya. Tahu kalau jaguarnya sudah bangun, Jove memutuskan untuk diam membiarkan. Jove kemudian tersenyum saat merasakan ada pergerakan pelan ke arahnya.


"Sudah bangun?"


Casandra mengangguk lemah. Sambil menahan sakit dan juga pusing, dia bergerak mendekat ke arah punggung Jove yang hanya berbalut handuk dari pinggang ke bawah. Casandra penasaran, jadi dengan berani mer*ba tatto naga yang ada di punggung bajingan ini.


"Sejak kapan kau menjadi peternak naga, Jove?" tanya Casandra terpesona akan keindahan tatto tersebut. Seolah gambar ini sangat nyata, membuatnya jadi ingin berlama-lama menyentuhnya.


"Naga itu sudah ada sejak aku berusia lima belas tahun. Nona Reina yang menggambarnya untukku," jawab Jove. Dia lalu memejamkan mata, merasai rabaan lembut dari tangan jaguarnya. "Aku sedang sangat kesakitan saat tato itu di buat. Dan memang sengaja di gambar untuk mengalihkan rasa sakitku kala itu!"


Elusan tangan Casandra langsung terhenti begitu mendengar cerita Jove. Saat akan bertanya, sebuah suara menghancurkan segalanya. Wajah Casandra menjadi merah padam, merasa malu karena harga dirinya dirusak oleh erangan cacing kelaparan yang tinggal di dalam perut.


"Apa yang ingin kau makan?" tanya Jove tanggap. Dia kemudian berbalik, menatap lucu ke arah Casandra yang terlihat malu.


"Apa saja selagi bukan racun," jawab Casandra asal.


"Baiklah,"


Jove mengambil ponsel di atas nakas kemudian menghubungi Franklin. Namun, tatapan matanya terus tertuju ke arah Casandra. Dengan satu tangan, dia membantu menyusun beberapa bantal ketika melihatnya yang ingin duduk.


"Halo, Tuan. Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Franklin dari dalam telepon.


"Siapkan makanan dan bawa ke kamarku. Jangan terlalu lama, Frank. Di sini ada jaguar yang sedang kelaparan," jawab Jove sedikit berkelakar. Dia kemudian tersenyum kecil melihat Casandra yang langsung memelototkan mata padanya. "Cepat sedikit. Jaguar ini mulai berna*su untuk memangsaku!"


Mungkin karena sudah tahu siapa jaguar yang di maksud oleh Jove, Franklin langsung mengiyakan perintahnya kemudian mematikan panggilan. Setelah itu Jove menarik selimut dan menutupkannya ke tubuh Casandra. Berpura-pura tidak melihat kalau mata gadis itu terus saja menatapnya.


"Sejak kapan aku menjadi jaguar, Jove? Aku ini manusia, bukan binatang!" protes Casandra dengan suara yang masih lemah. Kesal sekali dia mendengar Jove yang menyebutnya sebagai jaguar saat menelpon Franklin.


"Tidak ada yang menganggapmu sebagai binatang, Cassey," sahut Jove santai.

__ADS_1


"Lalu jaguar? Kau pikir itu nama makanan?"


"Jaguar sengaja aku gambarkan untukmu karena kau itu bertubuh kecil, tapi galak dan tak mau mengalah. Kalian memiliki sifat yang hampir serupa. Mengerti?"


Jove mendekat ke depan wajah Casandra kemudian mencium keningnya lama. Dalam hati Jove, saat ini dia sedang tersenyum bahagia karena wanita ini tak menunjukkan penolakan seperti hari biasanya. Cukup patuh, dan itu membuatnya merasa senang.


"Tidak berniat memakiku lagi, hem?"


"Kau membuatku hampir sekarat. Tunggu setelah tenagaku pulih aku baru akan membuat perhitungan denganmu!" sahut Casandra dengan intonasi suara yang tidak tercampur kekesalan.


Ya Tuhan, kenapa tubuhku bereaksi berbeda terhadap perlakuan Jove ya? Aku tidak mungkin mulai menerimanya, kan? Astaga.


"Aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba, sayang," ucap Jove. "Dan juga, sebaiknya kau jangan terlalu boros dengan tenagamu. Karena dalam waktu dekat Ibu akan mengajakmu melakukan sesuatu yang cukup menguras dahaga. Jadi pastikan kau memiliki stok tenaga yang banyak supaya tidak kalah dari seseorang!"


"Seseorang? Siapa maksudmu?"


Sebuah pesan di terima Jove begitu dia sampai di rumah tadi. Dan pesan itu datang dari sang ibu. Jove di beritahu kalau besok pagi orangtuanya akan menjemput Kiara dari pulau dan akan melatihnya sendiri bersamaan dengan Casandra. Karena tahu tujuan sang ibu melakukan semua itu, Jove pun langsung menyetujuinya. Cara ini sepertinya cukup berguna agar suatu hari nanti Casandra bisa melindungi diri jika sampai tertangkap oleh musuh. Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi, bukan? Dan sedia payung sebelum hujan itu sangatlah baik daripada harus mengobati setelah sakit.


"Fidel tidak layak untuk berada di sisimu, Cassey. Dan aku telah menyiapkan seseorang yang akan mengawal kemanapun kau pergi. Seseorang ini sangat kuat, juga bisa di andalkan!"


Casandra menghela nafas. Dia agak kesal saat Jove menyebut Fidel tidak layak berada di sisinya. "Aku tahu kau mengkhawatirkan aku, terima kasih. Akan tetapi aku tidak bisa menerima ucapanmu yang menganggap Fidel tidak layak menjadi penjagaku. Asal kau tahu saja ya, Jove. Selama ini Fidel lah yang selalu mengertiku. Dia selalu ada saat aku membutuhkan bantuan. Jadi tolong jangan sembarangan menilai tentang dia. Aku tidak suka!"


Setelah berkata seperti itu Juve menarik tubuh Casandra kemudian memeluknya erat. Kejam memang, tapi seperti inilah hidup. Saat seseorang memiliki daya tarik dengan dampak yang sangat besar, otomatis bahaya yang akan muncul akan sama besarnya juga dengan daya tarik tersebut. Jove hanya ingin memberi pengertian pada Casandra agar tidak lagi mengharapkan Fidel. Karena selain lemah, Fidel hanya akan membuat Casandra berada dalam bahaya. Itu fakta, dan akan benar-benar terjadi jika tidak segera di cegah.


"Aku terkadang bingung dengan sikapmu, Jove. Sedetik kau bersikap lembut, tapi sedetik kemudian kau memperlakukan aku dengan kasar dan kejam. Sebenarnya apa aku di hidupmu? Hanya sebatas alat yang bisa kau gunakan sebagai tameng penyembuhkah?" tanya Casandra lirih.


"Kau segalanya, Casandra."


Tubuh Casandra menegang. Tidak menyangka kalau Jove akan mengeluarkan jawaban seperti ini.


"Aku memang membutuhkanmu sebagai penyembuh, tapi aku juga membutuhkanmu di dalam hidupku. Terdengar menjijikkan memang karena kata-kata ini keluar dari mulut seorang bajingan. Akan tetapi ketahuilah. Seburuk apapun aku di matamu, aku hanya ingin menjadikanmu yang terbaik. Menjadi wanitanya Jove haruslah kuat dan berhati baja. Anggaplah perubahan sikapku sebagai latihan berkala dengan tujuan agar kau tidak mudah di intimidasi oleh orang lain. Karena apa? Karena kau berbeda, sayang. Kau tidak sama seperti kebanyakan wanita. Kau tahu itu, kan?" ucap Jove sembari membelai rambut Casandra yang sedikit berantakan.


"Apa ... kau mencintaiku?"


Hening.


"Cinta sebagai seorang pria pada wanita, bukan cinta karena ingin memanfaatkan kelebihanku?"

__ADS_1


"Perlukah aku menjawabnya?"


"Umm terserah kau saja. La-lagipula itu juga tidak terlalu penting untukku," sahut Casandra sambil menggigit bibir. Entah apa yang sedang dia pikirkan sampai berani bertanya seperti itu pada Jove. Memalukan.


"Ya, aku mencintaimu. Dan akan semakin mencintaimu kalau kau tumbuh menjadi wanita yang kuat," ucap Jove penuh ketulusan. "Apa sekarang sudah senang?"


"S-sedikit,"


"Lalu?"


Tok tok tok


"Tuan, makanannya sudah siap!" ucap Franklin dari luar kamar.


"Masuklah!"


Pintu terbuka. Franklin berjalan santai meskipun di atas ranjang bosnya sedang berpelukan dengan Nona Casandra. Bagi Franklin ini adalah hal yang sudah sangat biasa karena sebelumnya dia bahkan tak merasa canggung ketika melihat bosnya yang sedang bercinta dengan pel*cur.


"Ada lagi yang anda butuhkan, Tuan?" tanya Franklin setelah meletakkan nampan berisi makanan ke atas nakas.


"Tidak. Kau istirahatlah," jawab Jove tanpa ada niat melepas pelukan.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi!"


Casandra langsung mendorong tubuh Jove begitu mendengar pintu kamar sudah kembali tertutup. Dengan garang dia menatapnya, tak percaya di hadapan anak buahnya sendiri Jove tak canggung bersikap mesum. Benar-benar gila.


"Apa?"


"Kau ... kenapa kau terus memelukku saat Franklin masuk ke dalam kamar? Kau sudah tidak punya urat malu ya?" amuk Casandra dengan amarah yang berkobar-kobar. Dia kesal sekali.


"Franklin bahkan pernah menungguku saat sedang bercinta dengan pel*cur," sahut Jove dengan sangat santai. Dan di detik selanjutnya, dia hanya diam saja saat Casandra memukul kepalanya menggunakan bantal.


"Dasar bajingan kau, Jove. Aku benar-benar sangat jijik padamu. Enyah dari hadapanku sekarang juga!"


Bukannya pergi, Jove malah mengambil makanan di atas nakas kemudian meniup sop yang masih mengeluarkan asap. Tak mengindahkan makian Casandra, dia dengan penuh perhatian mulai menyuapinya. Dan lucunya, Casandra patuh dengan langsung membuka mulut dan mulai mengunyah makanan. Suatu pemandangan aneh di mana ada orang yang sedang mengamuk tiba-tiba menerima suapan dari orang yang membuatnya marah.


Ada apa dengan tubuhku? Seharusnya aku tidak seperti ini, tapi kenapa aku malah jadi patuh pada Jove? Astaga, sepertinya aku benar-benar sudah gila menghadapi prilaku bajingan ini. Haihhh.

__ADS_1


***


__ADS_2