The Devil JOVE

The Devil JOVE
130. Kebahagiaan Yang Tak Ternilai


__ADS_3

Di kediaman keluarga Clarence, terlihat Pamela yang sedang terdiam murung sambil bertopang dagu. Dia sedih. Sedih karena melihat kesibukan yang sedang terjadi di rumah tersebut. Setelah semalam dia membuat Awan pingsan karena kesenangan bertemu, sekarang dia dibuat patah hati karena siang ini gembong narkoba itu akan menikah. Sebagai seorang gadis, Pamela merasa telah di tinggalkan. Apalagi sampai detik ini Awan masih malu-malu mengakuinya sebagai kekasih, semakinlah bertambah sedih hati seorang Pamela Thampson.


"Pamela, kau kenapa murung begitu? Sesuatu terjadikah?" tanya Kiara yang datang sambil membawa sekotak perhiasan. Dia kemudian duduk di samping gadis gila yang malah terlihat semakin murung setelah dia bertanya. "Ada apa? Dollarmu di curi orangkah?"


"Memangnya siapa yang berani mencuri dollarku, Kiara? Orang itu kurang kerjaan atau bagaimana?" sahut Pamela sambil mengerucutkan bibir. Melihat apa yang di bawa oleh gadis di sebelahnya membuat Pamela kian kesal. Dia tidak iri pada perhiasan tersebut, tapi dia kesal karena Awan tidak kunjung melamar.


"Yakan siapa tahu ada. Habisnya baru kali ini aku melihatmu begitu murung. Ada apa sih?" ucap Kiara sambil menahan tawa.


"Aku sedih melihat Kak Jove akan segera menikah dengan Casandra."


Hening.


"Harusnya kan aku juga mendapatkan perlakuan yang sama dari Awan, tapi kekasihku itu terlalu malu untuk mengakui perasaannya kepadaku. Makanya sekarang aku merasa tidak adil. Kau bisa mengerti perasaanku, kan?"


Untuk beberapa saat tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Kiara. Dia terlalu bingung menyikapi kejujuran gadis ini. Setahu Kiara, pria yang bernama Awan adalah seorang pembunuh bayaran. Mungkinkah pria seperti itu akan mau menikah dengan gadis yang adalah seorang psikopat berhati iblis? Kiara rasa tidak. Terkecuali dipaksa. Itu baru mungkin terjadi.

__ADS_1


"Ekhmmm, Pamela. Di antara kau dan Awan sudahkah ada pembicaraan mengenai perasaan? Semacam ungkapan hati begitu?" tanya Kiara setelah tersadar dari kebingungannya.


"Tentu saja ada. Bahkan semalam kami berciuman," jawab Pamela dengan lantang. "Karena Awan mengabaikan panggilan dariku, aku memerintahkan anak buahku untuk mengacau di rumahnya. Dia kemudian mengirim pesan padaku, lalu aku datang menemuinya. Karena dia dan anak buahnya melakukan perlawanan, dia terluka di bagian pinggang. Aku lalu mengorek luka itu menggunakan tiga jari tanganku. Dia sih terlihat senang-senang saja saat aku melakukannya. Lalu setelah itu aku mengoleskan darah ke bibirku dan memintanya untuk merasakan darahnya sendiri. Begitu!"


Kalau tadi Kiara sempat di buat bingung oleh pengakuan Pamela, kini dia di buat seperti tidak bisa bernafas mendengar penuturannya. Di bagian mananya yang bisa di anggap sebagai pengakuan hati dan juga berciuman kalau caranya saja dengan saling mencicipi darah? Kiara merinding. Dia seperti sedang mendengar cerita horor yang sangat mengerikan.


"Sudahlah, aku tidak mau bicara lagi denganmu. Sebentar-sebentar kau terkejut, sebentar-sebentar kau diam. Tidak asik!"


Pamela beranjak dari sana setelah memprotes sikap Kiara. Dia berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai, membuat para penjaga yang melihatnya langsung menyingkir jauh. Para penjaga itu tahu kalau gadis psikopat ini sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi sebisa mungkin menghindar agar tidak di jadikan dollar.


Sementara itu di dalam kamar, Rose sedang sibuk mengukur baju untuk Adam. Walaupun pernikahan ini cukup mendadak, tapi Rose sudah sangat siap sekali untuk hadir di acara pemberkatan. Bahkan semua persiapan sudah hampir seratus persen terselesaikan berkat kerjasamanya dengan Franklin.


"Jangan menanyakan sesuatu yang kau sendiri sudah tahu apa jawabannya, Dam," sahut Rose. Ada-ada saja suaminya ini. "Satu-satunya anak kita akan menikah. Bagaimana mungkin aku sebagai ibunya tidak bahagia? Apalagi wanita yang akan segera menjadi menantu kita bukanlah wanita biasa. Wajarkan kalau aku sebahagia sekarang?"


"Ya ya ya, itu sangat wajar sekali, Hon. Dan orang yang paling di untungkan adalah aku. Karena apa? Karena aku bisa terus melihatmu yang sedang tersenyum. Kau cantik, bahkan ketika usiamu sudah tak muda lagi," ucap Adam sembari mengulurkan tangan membelai pipi wanita cantik di hadapannya.

__ADS_1


Dari yang usil menggoda, kini ekpresi wajah Adam berubah menjadi teduh nan dalam. Betapa dia sangat mencintai Rose, perasaan ini terasa begitu sulit untuk dilukiskan. Dalam hati Adam berandai-andai akan jadi seperti apa hidupnya jika tidak bertemu dengan wanita ini. Mungkin selamanya dia tidak akan pernah menikah.


"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Karena semua waktu yang pernah kita lewati bersama merupakan hal yang paling membahagiakan dalam hidupku. Kau dan Jove adalah segala-galanya, jadi jangan pernah terpikir aku tidak menyayangi kalian ya?" ucap Rose seraya menatap penuh cinta pada pria yang telah sudi mencintainya dengan begitu dalam.


"Honey, aku sama sekali tak pernah menduga akan sampai di titik sekarang. Bisa melihatmu yang sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Juga bisa melihat keantusiasanmu dalam mempersiapkan kebutuhan pernikahan anak kita. Hal ini merupakan berkah yang sangat luar biasa besar di hidupku. Kalau kau menyebut aku dan Jove adalah segala-galanya, maka aku akan menyebut kalau kalian berdua adalah letak jantung dan hatiku. Tanpa kalian aku mati. Kalian tak ternilai," sahut Adam. Matanya berkaca-kaca, terharu akan Keasihan Tuhan yang telah memberinya kebahagiaan tak ternilai. "Dan hari ini kita akan mengantarkan Jove menuju kebahagiaan hidupnya. Selamat ya, Honey. Kau berhasil menjadi seorang ibu yang patut untuk di banggakan. Kau berhasil mendidik putramu dengan cara yang begitu memukau. Aku bangga, sangat amat bangga memilikimu!"


Pandangan Adam dan Rose saling bertemu, tapi mereka tak berniat untuk bercumbu. Pengakuan ini terasa begitu menyentuh hati keduanya. Bersama-sama merawat Jove kecil yang begitu menderita, berlari ke sana kemari demi menemukan obat untuk menyembuhkan putra mereka, dan sekarang mereka berdua akan mengantarkan Jove menuju titik kehidupan yang bersumber dari rumah tangga. Semua perjalanan ini terasa begitu cepat di saat mereka sendiri masih belum lupa dengan hari di mana Jove mulai bisa berjalan untuk pertama kalinya.


"Jove sudah dewasa sekarang. Dia telah menemukan jalan hidupnya sendiri. Rasanya ini seperti mimpi, Dam," ucap Rose sambil terisak haru. "Anak kecil yang dulu selalu menangis kesakitan kini telah menemukan obat untuk dirinya sendiri. Aku bahagia sekali. Sungguh!"


"Akupun begitu, Honey. Sangat tidak menyangka Jove akan menikah secepat ini. Dulu aku pernah berpikir mungkinkah Jove bisa mempunyai pasangan hidup atau tidak dengan kondisinya yang seperti itu. Tapi akhirnya Casandra datang merobohkan ketakutanku. Haruskah kita memberinya hadiah yang tak terlupakan sebagai bentuk terima kasih dari kita berdua?"


"Itu harus, Dam. Casandra adalah penyelamat hidup Jove, kita mana boleh membiarkannya masuk dengan tangan kosong," jawab Rose. Tangannya bergerak menyeka air mata yang bergulir membasahi wajah. "Aku sudah menyiapkan hadiah yang sangat banyak sekali untuknya dan untuk keluarga Lin. Semoga dengan hadiah-hadiah itu Casandra bisa merasakan kalau kita sangat amat bersyukur memilikinya!"


Adam mengangguk. Dia lalu mengecup keningnya Rose lama, setelah itu mendekapnya dengan erat.

__ADS_1


Ibu, terima kasih telah melahirkan wanita sehebat Rose. Aku tidak tahu apakah ini pantas di syukuri atau tidak, tapi berkat perbuatan kejam Flynn aku jadi bisa mengenal wanita cantik ini. Terima kasih.


***


__ADS_2