The Devil JOVE

The Devil JOVE
67. Demi Keluarga


__ADS_3

“Arggghhhhhhhhh!”


Terdengar suara teriakan yang sangat kuat dari dalam salah satu ruangan yang berada di sebuah pulau. Dan suara teriakan tersebut berasal dari mulut seorang wanita yang tubuhnya tengah di gantung di atas bara api. Entah kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga dia harus menerima hukuman yang begitu berat.


Namun, yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang kalian pikirkan. Kaira, dia adalah wanita yang baru saja berteriak. Dan penyebab mengapa tubuhnya bisa digantung seperti itu adalah karena dia yang tengah menjalani pelatihan dari dua orang manusia yang berdiri di sisi kanan dan kirinya. Resan dan Reina, dua makhluk paling berbahaya di pulau ini, terus memperhatikan keadaan Kaira sambil sesekali mendorong bara api yang keluar dari tempat pembakaran.


Sangat kejam! Dan seharusnya Kaira belum sampai di tahap pelatihan yang ini. Tapi karena Jove telah memberikan sinyal bahwa dia ingin agar Kaira siap lebih cepat, mau tidak mau Reina terpaksa memberikan pelatihan paling berat yang ada di pulau ini. Mau bagaimana lagi. Mafia dingin itu ingin mereka segera menjadikan Kaira sebagai seseorang yang tak terkalahkan, jadi ya sudah. Terpaksa Kaira akan menjalani pelatihan seribu kali lebih keras dari yang anggota lain rasakan.


“T-tolong aku, Nona Reina. A-aku sudah tidak kuat lagi!” cicit Kaira dengan suara yang cukup kecil. Rasanya tulang tangannya seperti akan patah setelah di gantung selama berjam-jam sambil di panggang hidup-hidup di atas tumpukan bara api yang masih menyala. Kalian bisa bayangkan sendiri bukan semenderita apa kehidupan yang Kaira tanggung sekarang?


“Maaf, Kaira. Masih ada satu jam yang harus kau lewati jika ingin kami melepaskanmu. Bertahanlah. Aku percaya kau pasti bisa menjalani ini semua!” sahut Reina memberikan kata motivasi untuk gadis yang tengah menderita ini.


“Ta-tapi aku ….


“Syuutttt, lebih baik kau jangan banyak bicara dulu sekarang. Gunakan sisa tenagamu untuk melewati pelatihan ini karena nanti kau akan kembali menerima pelatihan yang kemungkinan besar akan lebih berat dari yang kau rasakan saat ini. Jadi diam dan berusahalah untuk tetap sadar agar kami tidak perlu mengulangi pelatihannya. Okey?”

__ADS_1


Kaira sudah tidak tahu harus bagaimana lagi setelah mendengar kalau siksaan ini akan kembali berlanjut dan bahkan bisa lebih mengerikan lagi. Dalam keadaan yang sudah sangat tidak berdaya, Kaira berpikir haruskah dia semenderita ini hanya agar bisa bertemu kembali dengan keluarganya? Dan mungkinkah juga Jove akan benar-benar menepati janjinya? Bagaimana jika tidak? Entahlah, Kaira tidak berani berharap banyak pada hal ini. Jove adalah orang yang sangat sulit untuk ditebak. Bisa sajakan kalau dia hanya akan di peralat olehnya? Siapalah Kaira dan kekuatan apa yang dimilikinya. Selain nyawa dan keluarga, tidak ada yang Kaira miliki di dunia ini. Jadi sangat mustahil untuknya bisa melawan seorang Jove yang notabennya adalah seorang mafia. Dia kalah bahkan sebelum bertanding.


Ayah, Ibu. Tolong berikan aku kekuatan untuk melewati semua siksaan ini. Hiksss, aku sangat ingin berkumpul dengan kalian semua. Tolong bantu kuatkan aku agar bisa melewati sesuatu yang bahkan aku sendiri tak pernah membayangkan. Di sini sangat mengerikan Ayah, Ibu. Tempat ini hanya di penuhi dengan pelatihan dan kekejaman yang sangat tidak manusiawi. Jika Jove tidak mengingkari janjinya dengan membiarkanku menemui kalian, aku mungkin akan menganggap yang terjadi di sini sebagai hukuman atas kehinaan yang selama ini aku lakukan dengan menjual tubuhku pada banyak pria hidung belang. Namun jika Jove tidak mengizinkanku untuk bertemu dengan kalian lagi, maka bantulah aku memohon pada Tuhan agar Dia memberikan kutukan terburuk pada Jove dan semua keturunannya. Tolong bantu doakan keinginanku ini Ayah, Ibu ….


Resan menoleh menatap Reina saat dia melihat rembesan air mata dari sudut matanya Kaira. Dia tahu, sangat tahu malah kalau Kaira pasti sedang mengatakan hal-hal buruk di dalam hatinya. Tak mau hal-hal buruk tersebut menjadi doa yang di kabulkan oleh Tuhan, Resan segera berbisik pada Reina.


“Jangan biarkan Kaira menyumpah-serapahi Jove dengan kata-kata yang tidak layak. Dia sedang melewati masa yang sangat sulit sekarang. Hiburlah dia,”


Reina tanggap. Segera dia mengangguk ke arah Resan kemudian sedikit mendekat pada Kaira yang tengah menangis dalam diam. Agak terenyuh, perasaan ini jujur muncul dari lubuk hati terdalam Reina. Biar bagaimanapun Reina jelas sangat paham akan penderitaan yang tengah dijalani oleh Kaira sekarang. Karena dulu Reina juga menerima pelatihan yang sama persis dari Rose. Namun bedanya dulu dia diselimuti kobaran api dendam, jadi seberat apapun pelatihan yang Rose berikan saat itu sama sekali tak membuat Reina merasa menderita. Beda cerita dengan Kaira yang diculik paksa tanpa ada tujuan ataupun dendam pada seseorang. Di mata Reina, sebenarnya Kaira sangatlah tidak cocok jika harus terlibat dalam hal seperti ini. Tapi apa mau dikata. Ketulusan hatinya secara tidak sengaja malah menarik perhatiannya Jove. Nasibnya sial sekali bukan? Berhasil dikeluarkan dari lingkaran yang hina, kini dia malah terperosok masuk ke dalam lingkaran gelap yang pastinya akan membuat hari-hari Kaira di penuhi dengan penderitaan yang sangat hebat. Menyedihkan, tapi tidak ada jalan keluar lain selain menjalani takdir yang ada. Hmmm.


“Kaira, berhentilah mengutuk Jove dan semua orang yang terlibat. Jangan khawatir. Begitu kau berhasil melewati semua pelatihan di pulau ini, aku sendiri yang akan mengantarkanmu pergi menemui keluargamu. Jove memang mafia, tapi dia adalah tipe orang yang tidak akan pernah mengkhianati perkataannya sendiri. Kau jangan takut. Aku pastikan kau akan langsung berkumpul dengan keluargamu begitu keluar dari sini,” ucap Reina dengan intonasi kata yang sangat lembut.


“Sampai kau benar-benar siap untuk menjalankan tugas yang di berikan oleh Jove. Dan itu semua tergantung dari tekad dan kemampuanmu. Semakin kau cepat menguasai apa yang akan kami ajarkan nanti, maka itu akan membuatmu semakin cepat bertemu dengan keluargamu. Sungguh,” jawab Reina jujur. “Jadi Keira, aku minta tolong fokuskan pikiranmu ke dalam pelatihan ini. Aku tahu kau menderita, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena kau adalah orang yang dipilih langsung oleh Jove. Sebenarnya belum waktunya untukmu menjalani pelatihan yang ini, tapi karena Jove meminta agar kau bisa secepatnya keluar dari pulau, mau tidak mau kau harus menjalani pelatihan lebih cepat dari anggota lain. Tapi percayalah, ini hanya sementara saja. Kau akan segera bertemu dengan keluargamu begitu semuanya usai!”


“Benarkah?”

__ADS_1


Mata Kaira langsung memancarkan binar kebahagiaan begitu dia mendengar janji yang di ucapkan oleh Nona Reina. Meski saat ini tubuhnya serasa seperti sedang di kuliti, tapi rasa menyiksa ini tak bisa mengalahkan kebahagiaan yang tengah menelisik ke dalam hati Kaira. Biarlah menderita sementara, tak apa. Toh hidup yang Kaira jalani selama beberapa tahun ini juga tak kalah menyakitkan dari yang sedang terjadi sekarang. Setidaknya rasa sakit ini memiliki penghujung akhir yang akan membawa Kaira sampai pada mimpi yang selama ini di idam-idamkan olehnya. Jadi sekarang Kaira akan fokus dan bertahan menjalani pelatihan mau seperih apapun itu. Demi bertemu dengan keluarganya, itulah penguat Kaira sekarang.


“Kaira, kau gadis yang kuat. Ayah dan Ibumu pasti bangga jika saja mereka tahu keperihan macam apa yang telah kau lewati selama ini. Jangan khawatir. Saat tubuhmu sudah terbiasa menerima rasa sakit dari pelatihan ini, aku akan memberimu imbalan dengan mengizinkanmu menghubungi keluarga. Namun, kauu harus tahu batasan karena Jove bukan orang yang bisa dengan mudah mentolerir kesalahan seseorang. Kau pasti bisa memahami apa maksud perkataanku, bukan?” ucap Reina sembari menyeka keringat yang mengucur deras di wajah Kaira. Dia lega karena gadis ini langsung patuh pada apa yang dia katakan. Tidak menyulitkannya sama sekali.


“Nona Reina, kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan ‘kan? Kau benar akan mengizinkanku menghubungi Ayah dan Ibuku?” cecar Kaira setengah tak percaya.


Reina mengangguk. Dia menarik nafas dalam-dalam saat akan mendorong masuk bara api ke dalam tempat pembakaran. Untuk menguatkan Kaira, Reina mengambil inisiatif dengan cara memperlihatkan video berisi rekaman tentang aktifitas Kaira palsu yang tengah bersenda gurau bersama keluarganya.


“Ayah, Ibu,” ucap Kaira lirih.


“Kau ingin segera berkumpul dengan mereka, bukan?”


“I-iya, Nona. A-aku ingin bersama mereka secepatnya,”


“Kalau begitu kuat dan bertahanlah. Demi keluargamu, Kaira. Oke?” hibur Reina sambil tersenyum penuh ketulusan. Hatinya serasa tertusuk duri melihat bagaimaan Kaira yang rela menahan penderitaan sebesar ini demi hanya agar dirinya bisa berkumpul dengan keluarganya. Manis sekali, bukan?

__ADS_1


Dengan penuh semangat Kaira menganggukkan kepala. Rekaman video itu benar-benar memberikan dampak yang sangat besar di tubuhnya. Bak menerima kiriman kekuatan dari langit, Kaira melewati sisa pelatihannya dengan hati yang begitu membuncah. Dia mengabaikan rasa sakit dan juga panasnya bara api yang tengah memanggang tubuhnya. Masa bodo. Karena rasa sakitnya tidaklah sebanding dengan kerinduan yang sudah Kaira pendam selama bertahun-tahun lamanya. Keluarga adalah penyemangatnya sekarang.


***


__ADS_2