
Jakun di leher Awan nampak bergerak naik turun dengan cepat begitu dia mendengar laporan dari bawahannya. Menerima imbalan yang sangat luar biasa besar, membuat Awan begitu bergairah untuk mengejar sosok gadis pemilik darah langka. Namun siapa yang akan mengira kalau kini gadis tersebut berada di tangan seseorang yang paling tidak ingin Awan temui. Jove Alexander Lorenzo, haruskah ia berhadapan dengan keturunan wanita mengerikan itu demi agar bisa mendapatkan darah milik gadis bernama Casandra Lin? Entahlah. Awan meragu. Takut sekaligus segan karena pernah menerima peringatan langsung dari Nyonya Rosalinda Osmond.
"Jadi bagaimana ini, Tuan. Nona Casandra berada di tangan orang yang paling tidak ingin anda singgung. Haruskah kita mundur dari perburuan ini?"
"Kita lihat dulu bagaimana keadaan ke depannya nanti. Yang mengejar gadis itu bukan hanya kita saja, tapi ada banyak sekali orang. Terutama mereka yang membutuhkan biang penawar untuk penemuan di labolatorium. Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang berhasil membawanya keluar dari kuasa Jove. Dan saat itu terjadi barulah kita bergerak untuk merebutnya!" jawab Awan seraya mengerungkan alis. Dia sedikit ragu dengan kata-katanya barusan.
Tapi mungkinkah mereka mampu menembus keamanan yang Jove berikan untuk melindungi gadis itu? Sekalipun bisa, apa iya mereka sanggup menghadapi tekanan dari orang-orangnya Nyonya Rosalinda? Sial. Kenapa juga gadis itu harus berada di tangan mereka. Membuat repot saja.
"Tuan, saya merasa tidak yakin orang-orang itu bisa menghadapi keamanan yang Jove terapkan. Sekarang saja posisinya Jove di dunia permafiaan masih belum ada yang mampu menandingi. Mungkinkah mereka sanggup membawa Nona Casandra pergi darinya?"
"Entah, aku juga tidak tahu. Sebenarnya kalau untuk berhadapan dengan Jove sendiri aku sama sekali tidak merasa takut. Tapi yang aku khawatirkan adalah tentang kekuatan kedua orangtua Jove, terutama Nyonya Rosalinda. Dia kabarnya merupakan ketua dari satu kelompok terorganisir yang sampai saat ini tidak ada yang mengetahui jelas siapa saja anggotanya!" sahut Awan seraya menarik nafas. Dia lalu bersilang kaki, menatap lurus ke depan sebelum menyebutkan satu nama kelompok yang mana langsung membuat tengkuk meremang hebat. "Ma Queen. Kelompok ini bagaikan kematian pasti bagi mereka yang telah di tandai. Tidak tanggung-tanggung. Mereka akan membantai habis seluruh anggota hingga tak bersisa bahkan sampai ke titik akar keturunannya. Ini yang aku takutkan dari Jove!"
"Lalu apa dia akan bersedia menunggu sampai kesempatan itu datang?"
Drrttt drrrttt
Bertepatan dengan pertanyaan tersebut, ponsel yang berada di atas meja berdering. Segera Awan meraihnya kemudian menekan tombol hijau yang tertera di atas layar.
"Halo?"
"Awan, bagaimana ini. Sudah hampir dua minggu tapi aku masih belum menerima kabar baik darimu. Kau tahu tidak kalau putraku akan berada di ambang kematiannya kalau kau tidak segera membawakan darah langka itu? Ako mohon cepatlah. Kalau bayaran yang kemarin masih kurang, kau tinggal sebutkan saja berapa nominal yang perlu ku tambahkan. Asalkan bisa membawakan darah itu, berapapun jumlahnya pasti aku beri. Tolonglah!"
__ADS_1
Awan memainkan lidah di dalam mulut. Menimang jawaban seperti apa yang harus dia ucapkan pada seorang ayah yang sedang berjuang mati-matian untuk putra semata wayangnya. Terdengar baik, bukan? Tapi pada kenyataannya, pria yang baru saja mengemis pertolongan merupakan sampah yang sangat menjijikkan. Jika bukan karena bayaran yang begitu besar, tak akan sudi Awan membahayakan nyawanya demi menolong anak tak berdosa itu. Hingga terjadilah kesepakatan di antara mereka sebelum akhirnya Awan menerima kabar pahit kalau dia harus berhadapan dengan keluarga Nyonya Rosalinda jika ingin mendapatkan darah langka tersebut.
"Ini bukan tentang uang, tapi ini tentang nyawa. Kau menganggap seolah aku begitu membutuhkan uang darimu tanpa memikirkan dengan siapa aku harus berhadapan. Jika putramu memang semembutuhkan itu dan kau tidak bisa sabar menunggu, aku tidak keberatan untuk sama-sama mengirim kalian pergi ke alam baka!" ucap Awan penuh nada ancaman. Dia paling benci di gertak, apalagi menggunakan sesuatu yang di sebut uang. Awan sangat membenci hal ini. "Asal kau tahu saja. Mendapatkan darah gadis itu bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus bertaruh nyawa, bahkan harus menghadapi malaikat maut yang ketika kau mendengar namanya pasti akan langsung mati ketakutan. Jadi pikirkanlah lagi sebelum kau mendesakku dengan mengiming-imingi banyak uang!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Para dokter bilang putraku harus secepatnya mendapatkan obat penawar itu. Aku mohon tolong kami, Awan. Tolong!"
Klik. Panggilan di putus sepihak saat Awan merasa muak mendengar permohonan pria itu. Sambil memutar-mutarkan ponsel ke udara, dia merenung memikirkan cara apa yang bisa dilakukan agar menemukan jalan menuju si pemilik darah langka.
"Jika aku menggunakan Albert sebagai umpan, mungkinkah Jove akan menyadari?" tanya Awan kepada anak buahnya. Tiba-tiba saja dia terpikir tentang pengecut itu.
"Saya rasa Jove akan langsung menyadarinya, Tuan. Akan tetapi kita bisa mensiasati masalah ini dengan cara lain," jawab si bawahan sambil tersenyum samar.
"Kedatangan Tuan Albert kemarin pasti sudah terendus oleh Jove dan anak buahnya. Kita bisa gunakan alasan ini untuk menjadikannya sebagai alibi agar tidak ketahuan kalau kita sebenarnya bukan bekerjasama dengan Tuan Albert, tapi dengan orang lain. Tuan Albert itukan mempunyai banyak koneksi, kita perkeruh saja hubungan mereka saat Jove mulai mencurigai kita. Bagaimana?"
"Apa kau pikir Jove dan anak buahnya setolol itu?"
Praaannggg
Dengan marah Awan membanting ponsel hingga pecah berhamburan di lantai. Bodoh sekali bawahannya ini. Kalau memang Jove semudah itu untuk dikelabui, Awan tak perlu lagi repot-repot memikirkan jalan keluar dari masalah ini.
"Seharusnya kau menimang terlebih dahulu apa akibat dari ide rendahan yang baru saja kau lontarkan di hadapanku. Kau tahu bukan kalau aku benci dengan orang-orang yang dengan bangganya suka menunjukkan kebodohan mereka?" tanya Awan sambil menarik belati dari wadah coklat yang terbuat dari kulit tangan manusia. Dia lalu memberi kode agar bawahannya mengulurkan tangan. "Aku benci memelihara orang bodoh di sekitarku. Jadi sebagai tanda, aku akan menghilangkan satu jari tanganmu. Apa kau keberatan?"
__ADS_1
"Ma-maafkan saya, Tuan. S-saya ceroboh. Saya salah," ucap si bawahan dengan wajah pucat pasi. Tangannya nampak gemetar ketika ujung belati menempel di jari telunjuknya.
"Kalau kata maaf bisa menyelesaikan semua masalah, aku yakin di dunia ini tidak akan ada yang namanya penjara. Jadi ....
Kreeesssss
"AAAAAAAAKKKKKKKHHHHHHH!"
Darah segar langsung mengucur keluar begitu Awan memotong jari telunjuk milik sang bawahan. Alih-alih merasa kasihan melihat bawahannya berguling kesakitan di lantai, dia malah dengan santai menikmati percikan darah yang tertinggal di tangannya. Manis, sangat amat manis. Dan Awan suka rasa beserta aroma manis ini.
"Bawa dia pergi dari hadapanku dan jangan biarkan aku melihat wajahnya lagi. Sia-sia selama ini aku mengajarinya cara berpikir cerdas kalau bicara saja dia tidak becus. Dan jika kalian mau, kalian bebas ingin berbuat apa kepadanya!" perintah Awan kepada anak buahnya yang lain.
"Baik, Tuan Awan. Kami akan membereskan masalah ini!"
"Jangan biarkan aku mendengar ada kegagalan. Jika sampai terjadi, sebagai gantinya aku akan menguliti kalian lalu menjadikannya sebagai hiasan di kamar tidurku. Mengerti?"
"Kami mengerti, Tuan!"
Awan berdiri. Dia lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan sambil membawa belati yang masih meneteskan darah. Bagi yang belum terbiasa melihat hal seperti ini, sudah bisa di pastikan kalau orang tersebut pasti akan langsung pingsan karena ketakutan. Namun bagi seorang Awan, melihat darah menetes keluar dari tubuh manusia lain merupakan sesuatu yang sangat amat menyenangkan. Itu semacam hiburan yang membuat candu, seakan memaksanya untuk melakukan lagi, lagi, dan lagi.
***
__ADS_1