The Devil JOVE

The Devil JOVE
61. Makan Malam Yang Berbeda


__ADS_3

📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE


***




Tubuh Casandra tak berhenti bergetar setelah dia menyaksikan bagaimana Franklin dengan santainya menembak kepala penjaga yang tadi sempat menarik perhatiannya. Sebenarnya tadi Casandra sempat terpikir kalau Jove hanya ingin menggertaknya saja, tapi siapa yang akan menyangka kalau Jove benar-benar membuat Casandra menyaksikan secara langsung satu tragedi pembunuhan yang begitu sadis. Belum hilang kekagetan di diri Casandra, dia dibuat memekik ketakutan saat Franklin dengan brutalnya menggorok kepala penjaga itu sampai putus. Sungguh, ini benar-benar sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa Jove memiliki anak buah sebrutal Franklin. Casandra sampai tak habis pikir karenanya.


“Why, Casandra? Bukankah tadi kau berkata dengan begitu percaya diri kalau di dunia ini tidak ada hal yang kau takuti selain kekangan dari ayahmu? Kenapa sekarang tubuhmu bergetar sehebat ini, hem?” tanya Jove iseng-iseng mengolok Casandra yang sedang ketakutan di atas pangkuannya. Saking takutnya Casandra melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Franklin, dia sampai tidak sadar kalau sejak tadi tangannya Jove tidak berhenti mengelus pahanya. Hal ini tentu saja membawa keuntungan tersendiri bagi Jove. Dia jadi leluasa menyentuh tubuh Casandra tanpa harus ada pemberontakan darinya. Manis sekali bukan?


“Aku ini manusia normal, Jove. Dan ini adalah kali pertama aku melihat pembunuhan brutal yang terjadi tepat di depan mataku. Wajarkan kalau aku gemetaran seperti ini?” jawab Casandra berusaha untuk menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Mulutnya memang sedang bicara dengan Jove, tapi matanya terus tertuju pada Franklin yang sedang menghujamkan pisau ke jantung penjaga yang sudah mati dengan kepala terpisah. Walaupun kejadian itu berlangsung di luar ruangan, tapi Casandra seolah bisa mencium aroma darahnya di dalam sini. Terlalu sadis hingga membuat perutnya bergejolak.


“Tentu saja itu sangat tidak wajar, Casandra. Bukankah tadi aku sudah bilang padamu kalau aku tidak mengizinkanmu merasa takut?” sahut Jove santai. Menggunakan sebelah tangannya, Jove menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Casandra yang tak berhenti bergerak karena tertiup angin laut. “Kau wanita jaguarku, bersikaplah layaknya seekor jaguar yang tidak mengenal rasa takut sedikitpun. Seluruh penghuni dunia ini pasti akan mencemoohmu jika mereka sampai melihat tubuhmu gemetaran seperti ini hanya karena melihat seseorang yang mati terbunuh dengan sadis. Buang jauh-jauh rasa takut itu sebelum kau mati karena rasa takutmu sendiri. Mengerti?”


Casandra yang tadinya sedang fokus memperhatikan tindakan Franklin mendadak jadi tersulut emosi saat Jove menyebutnya wanita jaguarku. Tak terima dengan sebutan itu, Casandra dengan berani mendekatkan wajahnya ke depan wajah Jove lalu menunjuk matanya menggunakan jari telunjuknya.


“Kau dan anak buahmu mungkin tak mengenal rasa kasihan terhadap orang yang ingin kalian bunuh, tapi itu tidak akan pernah berlaku untukku. Aku manusia, dan aku bukan binatang buas yang tidak punya hati nurani seperti kalian. Saat ini kau mungkin sedikit berkuasa atas hidupku, tapi kau perlu tahu satu hal kalau aku tidak akan pernah tunduk pada siapapun termasuk dirimu. Jadi tolong berhentilah memperlakukan aku dengan semena-mena, Jove. Karena itu tidak akan membuatku menyerahkan hati pada bajingan sepertimu. Paham?!” ucap Casandra dengan tegas.

__ADS_1


Jove tertawa lepas mendengar perkataan Casandra yang terdengar sangat lucu. Sungguh, dengan mimik wajahnya yang begitu galak di mata Jove Casandra malah terlihat mirip sekali dengan anak jaguar yang sedang kelaparan. Sadar kalau sikap Casandra bisa membangunkan sesuatu di dalam tubuhnya, Jove memutuskan untuk menyudahi lawakan ini. Dia mengambil minuman di atas meja lalu mengarahkannya ke depan bibir Casandra.


“Mari awali makan malam ini dengan menikmati anggur dari gelas yang sama. Oke?”


“Memangnya pelayan tadi hanya menyediakan satu gelas saja apa sampai kita harus minum dari tempat yang sama?” protes Casandra merasa aneh saat Jove mengajaknya untuk meminum anggur dari dalam gelas yang sama. Agak risih rasanya.


“Kalaupun pelayan tadi membawa seratus gelas kemari, aku akan memecahkan sembilan puluh sembilan gelas yang lain dan hanya menyisakan satu gelas saja untuk kita berdua. Jadi Casandra, menurutlah sebelum aku membagi minuman denganmu lewat mulut. Kau pilih yang mana, hem?”


Tanpa pikir panjang lagi Casandra langsung merebut gelas dari tangan Jove kemudian meminum setengah anggur yang ada di sana. Manis dan sedikit pekat, itu yang Casandra rasakan saat minuman itu melewati tenggorokannya.


Kenapa anggur ini berbeda dari rasa anggur yang biasa aku minum ya? Jove tidak mungkin mencampurkan obat ke dalamnya ‘kan?


“Good girl. Aku suka melihatmu patuh begini. Itu terlihat sangat manis,” ucap Jove sebelum dia menghabiskan anggur yang tersisa di dalam gelas. Tak lupa juga Jove meminum anggur itu lewat pinggiran gelas bekas bibir Casandra. Saat isinya sudah habis, dengan cepat Jove membanting gelas tersebut ke lantai hingga pecah berhamburan. Tatapan Jove berubah nyalang saat dia merasakan ada yang mencoba mengacaukan makan malamnya dengan Casandra. “K*parat!”


“Jangan sisakan satupun dari mereka, Frank. Apapun alasannya!” geram Jove sambil mencengkeram kuat pinggang Casandra.


“Baik, Tuan. Saya akan segera menyebar anak buah kita untuk memburu mereka semua!” sahut Franklin langsung tanggap penyebab mengapa bosnya bisa begitu marah.


“Setelah ini aku tidak mau ada yang mengganggu makan malamku. Bahkan nyamuk sekalipun. Kalau itu sampai terjadi, kau dan anak buahmu bersiaplah berhadapan denganku, Frank! Enyah dari hadapanku sekarang juga!”

__ADS_1


“Baik, Tuan!”


Casandra hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat Jove tak kunjung melepaskan cengkeraman di pinggangnya. Jika biasanya Casandra akan langsung memberontak, kali ini dia tidak berani melakukannya. Jove terlihat begitu marah, dan Casandra cukup tahu diri dengan tidak memanaskan keadaan. Dia sadar kalau Jove adalah orang yang nekad, jadi melindungi keselamatannya sendiri adalah keputusan yang terbaik.


“Kau lihat itu, Casandra. Bahkan di saat aku sedang bersamamu masih ada anjing liar yang berusaha untuk menggigitmu. Jadi kalau kau lemah dan mudah merasa takut, aku bisa pastikan kalau kau akan mati konyol di tangan salah satu dari mereka!” ucap Jove sambil menatap tajam Casandra yang mendadak berubah jadi pendiam tanpa ada niatan memberontak meski secara sadar Jove telah menyakitinya. Pelan tapi pasti Jove mulai mengendurkan cengkeraman tangannya kemudian beralih menangkup lembut kedua pipi Casandra. “Kau milikku, dan aku tidak suka milikku diincar oleh orang lain. Jadi mau tidak mau malam ini aku akan membawamu pulang ke rumahku. Patuhlah agar aku tidak berubah pikiran untuk membunuhmu!”


“Jangan mengaturku, Jove. Ada Fidel yang akan menjagaku dengan nyawanya. Kau jangan terlalu berlebihan dalam memperlakukan aku. Aku bukan boneka!” tolak Casandra dengan cepat. Omongan yang keluar dari mulut seorang bajingan seperti Jove mana mungkin bisa di percaya. Kemarin saja Jove tetap memperkosanya saat Casandra sedang tidak sadarkan diri. Apalagi nanti saat mereka berada di bawah atap yang sama. Bisa-bisa Casandra dibuat tak bisa bangun besok pagi. Benar tidak?


“Perlukah aku meminta Franklin untuk mengirim Fidel ke rumah sakit agar kau tidak melawanku, Nona Casandra Lin?”


“Kau gila, Jove!”


“Ya kau benar, aku gila. Dan kegilaanku yang sekarang masih belum seberapa kalau kau mau tahu. Jadi pilihlah. Pulang bersamaku atau Fidel akan menjadi korbannya!” sergah Jove tak terbantahkan.


Saat Casandra sedang terjebak dalam pilihan, dia di kagetkan oleh suara tembakan yang terdengar saling bersahutan tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Beruntung restoran ini telah disewa sepenuhnya oleh Jove, jadi tidak ada suara teriak ketakutan dari para tamu yang datang ke restoran ini. Sambil mengeratkan pegangan tangan di pakaian Jove, Casandra mengaku kalah. Dia akhirnya menyetujui keinginan Jove yang hendak membawanya pulang ke rumahnya.


“Aku ikut denganmu. Dan jika Fidel sampai kenapa-napa, maka aku sendiri yang akan menghabisimu!”


“Hmmmm,”

__ADS_1


Dengan di iringi suara tembakan, Jove dan Casandra melangsungkan makan malam mereka dengan posisi Casandra yang masih duduk di atas pangkuan Jove. Mau bagaimana lagi. Selain karena Casandra yang merasa tak nyaman dengan suara baku tembak itu, juga karena Jove tak membiarkannya beranjak dari atas pangkuannya. Jadi ya sudah, seperti ini makan malam mereka sekarang. Agak lain bukan? Jika orang-orang menikmati makan malam mereka dengan penuh sukacita dan bahagia, Casandra justru sebaliknya. Makan malam ini penuh dengan ketegangan dan juga tekanan. Andai kalian ada di posisinya Casandra, kira-kira apa yang akan kalian lakukan? Tolong komen di bawah.


***


__ADS_2