The Devil JOVE

The Devil JOVE
59. Masih Menolak


__ADS_3

“K*parat!”


Dengan marah Albert membanting ponselnya setelah melihat video yang ternyata di kirim oleh anak buahnya Jove. Dia sangat tidak menyangka kalau Jove akan mengetahui rencananya yang diam-diam menemui Awan, si pembunuh bayaran. Sial sekali.


“Bagaimana mungkin Jove mengetahui hal ini. Seingatku hanya beberapa orang saja yang tahu kalau aku pergi menemui Awan di kota ini. Tapi kenapa bajingan itu bisa tahu? Apa mungkin ada anak buahku yang diam-diam memberikan informasi untuknya?” ujar Albert bertanya-tanya. Dia yang barusaja bangun tidur sangat kaget sekali saat anak buahnya melapor kalau kediamannya telah diserang. Juga dengan video yang menampilkan rekaman saat Jove menggorok leher orang kepercayaannya. Membuat kepala Albert jadi berdenyut nyeri sekali.


Sebagai orang yang sama-sama bergelut di dunia narkoba, Albert jelas tahu kalau dia tidak akan mungkin menang melawan Jove dan kelompoknya. Akan tetapi ambisi untuk menjadi yang nomor satu membuat Albert tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya sekarang. Alhasil Albert mulai terobsesi untuk menghancurkan bisnisnya Jove kemudian menduduki posisinya. Namun sayang, dari sekian banyak Albert memainkan trik tidak ada satupun yang berhasil menggoyahkan kejayaan seorang Jove Lorenzo. Malah bisnisnya Jove kini bertambah semakin meroket saja setelah dia berhasil mengirim heroin dalam skala yang sangat besar ke negara barat. Hal ini tentu saja membuat Albert kian mendendam. Dan dia telah mengambil sumpah akan menghancurkan Jove menggunakan cara apa saja, termasuk mengorbankan nyawanya sekalipun. Nekad sekali bukan? Tentu saja. Albert adalah seorang mafia, sangat pantang baginya untuk merasa takut.


“Tuan Albert, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tetap berada di kota ini untuk membujuk Awan atau kembali ke rumah kemudian melakukan balas dendam pada kelompoknya Jove atas kematian anggota kita yang lain?”


“Sebentar. Aku akan memikirkan dulu langkah mana yang harus kita ambil,” jawab Albert berusaha untuk tenang. Dia menekan pinggiran kepalanya kemudian terdiam beberapa saat. Setelah itu Albert mengulurkan tangan pada orang kepercayaannya begitu dia menimang keputusan. “Berikan aku ponselmu. Mari kita coba membujuk Awan sekali lagi. Kalau dia masih menolak, kita semua akan langsung kembali untuk membuat perhitungan dengan Jove dan kelompoknya!”

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


Albert turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah jendela sambil menunggu Awan menjawab panggilan. Namun sebelum itu, Albert memberi isyarat pada anak buahnya agar menyuntikkan narkoba ke tubuhnya. Ya, Albert adalah pemakai. Selain memupuk kekayaan lewat barang haram ini, Albert juga telah lama mencandu dengan ketenangan yang di sajikan. Berbeda dengan Jove yang hanya mengambil keuntungannya saja, Albert bahkan sangat mencanduinya. Dia tidak akan bisa melewati satu hari saja tanpa menikmati barang hara* tersebut.


“Jawabanku masih sama seperti kemarin kalau kau mau tahu. Selangkahpun aku tidak akan pernah mau berurusan dengan gembong narkoba itu. Dan kalau kau tetap bebal dengan terus menggangguku, aku akan langsung mendatangimu kemudian mencongkel kedua bola matamu dan juga bole mata semua anak buahmu. Masalah ini kau bereskan sendiri saja, Albert. Jangan libatkan aku!” ucap Awan dari dalam telepon. Nada suaranya terdengar sangat tegas, seolah ingin menyampaikan kalau dia benar-benar tidak mau terlibat dalam masalah ini.


“Kau terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, Awan. Terlalu dini untuk kau menolak tawaranku!” sahut Albert masih berusaha keras untuk membujuk. Hanya Awan seorang. Hanya pembunuh bayaran ini saja yang Albert yakini mampu menghabisi Jove dan para antek-anteknya. Jadi sebisa mungkin Albert akan terus membujuknya sampai Awan bersedia menerima tawaran darinya. “Awan, kau boleh meminta apapun dariku kalau kau bersedia menghabisi Jove untukku. Sungguh!”


Terdengar dengusan nafas kasar dari dalam telepon setelah Albert berkata seperti itu. Sadar kalau usahanya gagal, Albert dengan sangat terpaksa menutup panggilan. Dia menarik nafas sedalam mungkin kemudian menghembuskannya dengan kuat saat efek dari narkoba itu mulai menguasai alam bawah sadarnya. Setelah itu kedua mata Albert membeliak ke atas hingga menyisakan putihnya saja. Dia kemudian tertawa.


Andai saja Albert tahu penyebab mengapa Awan menolak tawarannya, dia pasti tidak akan berani tertawa seperti ini. Sayang sekali Albert tidak mengetahuinya dan malah berpikir kalau Awan takut pada Jove. Padahal yang membuat Awan menolak tawarannya bukan karena statusnya Jove, melainkan orang-orang yang berada di balik kekuasaannya. Rosalinda Osmond dan Adamar Clarence, sepasang suami istri yang sangat sulit ditebak jalan pikirannya. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa Awan menolak tegas permintaan Albert meski keuntungan yang ditawarkan benar-benar sangat menggiurkan.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, terlihat Adam yang tengah sibuk mengikat rambut panjangnya Rose. Sedangkan Rose sendiri, dia sedang menonton sebuah video di ponselnya. Rose tengah mengawasi pelatihan yang sedang di jalani oleh Kaira dan hari ini pelatihan di pimpin oleh seseorang paling berbahaya di pulau itu. Resan, psikopat yang berkedok pria berwibawa dan juga penyabar. Walaupun kini semua bisnis telah di ambil alih sepenuhnya oleh Jove, Rose dan Adam masih tetap ikut memantau. Bedanya mereka hanya memantau dari belakang saja dan sesekali ikut menimbrung ketika ada kesempatan. Seperti yang Rose lakukan sekarang. Dia ikut mengawasi Kaira, mantan model dan juga mantan p*lacur yang telah di pilih Jove untuk menjaga Casandra, calon menantu mereka.


“Honey, menurutmu Kaira akan membelot dari tugas yang diberikan Jove tidak?” tanya Adam setelah selesai dengan pekerjaannya. Dia meletakkan dagunya di atas kepala Rose kemudian ikut menonton video. “Jove pernah meniduri wanita ini sebelumnya. Aku khawatir keberadaan Kaira di sisi Casandra bisa menciptakan celah untuk merongrong perasaan calon menantu kita!”


“Kau terlalu jauh berpikir, Dam. Sebelum Jove memilihnya, dia pasti sudah memikirkan masak-masak dampak seperti apa yang akan terjadi di kemudian hari. Dan aku sangat percaya kalau Kaira tidak akan mungkin menjadi duri dalam daging untuk Jove,” jawab Rose dengan pasti. “Reina memberitahuku kalau dia sama sekali tak melihat adanya ketertarikan Kaira terhadap putra kita. Kau bisa tenang dalam hal ini.”


“Aku bukannya tidak percaya pada keputusannya Jove, Hon. Hanya saja perasaan wanita terkadang sulit untuk dimengerti. Di satu waktu terkadang wanita terlihat enggan untuk mengakui perasaannya, tapi di lain waktu wanita bisa meluapkan perasaannya dengan menggebu-gebu. Aku hanya tidak mau Casandra sampai salah paham jika mengetahui kalau Kaira adalah mantan teman tidurnya Jove. Kau paham bukan apa maksud perkataanku?”


Rose tersenyum.


“Aku paham, Dam. Dan aku juga sangat mengerti dengan kekhawatiran yang kau rasakan. Tapi seorang Jove Alexander Lorenzo tidak akan mungkin menempatkan miliknya yang paling berharga berada di tempat yang berbahaya. Kita percaya saja semoga Kaira tidak melewati batas yang seharusnya. Oke?”

__ADS_1


Adam menghela nafas. Dia lalu menciumi puncak kepala Rose penuh sayang. Jove Lorenzo, putra semata wayangnya dengan Rose, akhirnya bisa mendapatkan kebebasan setelah berpuluh tahun terkungkung dalam penderitaan. Walaupun sikapnya sedikit brutal dalam mendekati Casandra, tapi harus Adam akui kalau di balik sisi gelap Jove sebagai seorang mafia dan bandar narkoba, Jove masih memiliki sisi lembut dan juga perhatian. Caranya mendekati Casandra memang terhitung kasar, tapi itu cukup sesuai dengan statusnya yang selalu di kelilingi banyak musuh. Posisi Jove dan Adam sama, sama-sama bergelut dalam dunia penuh bahaya. Namun bedanya Casandra tidak seperti Rose yang memiliki kemampuan tersendiri untuk melindungi diri. Jadi sangat wajar sekali kalau Jove mendekatinya dengan cara yang tidak biasa. Anggaplah kalau itu adalah ujian sebelum Casandra menyandang status sebagai istri dari seorang mafia kelas kakap. Yaitu Nyonya Alexander Lorenzo.


***


__ADS_2