
Kedua lutut Cadenza bagai tak memiliki tulang saat Elzavat menelpon dan mengabarkan kalau semua dokter yang selama ini menangani Casandra mati dalam satu kecelakaan besar. Dia yang baru saja menerima laporan dari Fidel kalau Jove dan Franklin berniat menghabisi semua orang yang terhubung dengan rahsia putrinya, serasa berpindah alam tak percaya kalau Jove tak main-main dengan ancamannya. Tadinya Cadenza berniat menghubungi Jove guna membujuk agar tidak membunuh dokter-dokter itu. Namun belum juga niatnya tersampaikan, Cadenza sudah lebih dulu menerima kabar yang membuat jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya. Jove Lorenzo, mafia itu sungguh sangat berbahaya sekali. Yang keluar dari mulutnya seketika angsung terjadi dalam waktu yang sangat luar biasa singkat.
“Tuan Cadenza, haruskah kita memberitahukan kabar ini pada Nona Casandra?” tanya Fidel seraya menatap Tuan Cadenza yang tengah terdiam seribu bahasa karena syok. Wajarlah. Jangankan majikannya, Fidel saja kaget setengah mati begitu tahu kalau ancaman yang Franklin ucapkan terjadi dalam jarak waktu yang begitu cepat. Sangat di luar dugaan sekali. Sungguh.
“Jangan dulu, Fidel. Kita masih belum tahu apakah Casandra benar-benar sudah bersedia untuk tidak lagi memberontak pada Jove atau tidak. Jika dia sampai mendengar kalau Jove adalah dalang di balik kematian dokter-dokter itu, aku takut pemberontakannya akan semakin besar lagi,” jawab Cadenza lesu. Dia lalu menarik nafas panjang sebelum mengusap lututnya yang terasa lemas. “Haruskah Jove menghabisi mereka semua, Fidel? Mereka tidak salah apa-apa. Haruskah seperti ini akhirnya?”
“Tuan, jalan pikiran Jove dan anak buahnya sulit untuk kita pahami menggunakan nalar manusia yang masih memiliki hati nurani. Di sini saya bukan membenarkan, tapi saya hanya mencoba memahami dari sudut pandang mereka saja. Jove mengambil tanggung jawab untuk melindungi keselamatan Nona Casandra, wajar baginya merasa curiga terhadap dokter-dokter itu. Karena biar bagaimanapun merekalah yang selama ini menangani Nona Casandra setiap kali bermasalah dengan kesehatannya. Jadi bukan tidak mungkin mereka merasa penasaran kemudian melakukan penyelidikan secara diam-diam. Dan jika hal ini dibiarkan begitu saja sudah pasti akan mengundang bahaya yang besar sekali sehingga Jove mengambil keputusan untuk menghabisi mereka sebagai cara untuk mencegah kebocoran rahasia Nona Casandra. Walaupun terhitung kejam, saya rasa tindakan Jove sudah menjadi yang paling benar,” sahut Fidel tak menampik kalau tindak kekejaman yang Jove dan anak buahnya lakukan adalah yang paling tepat.
“Hmmmm, begitu ya,”
Saat Fidel sedang berbincang dengan Tuan Cadenza, datanglah Casandra bersama dengan dua orang penjaga kiriman Jove. Ekpresi wajahnya terlihat marah, yang mana membuat Fidel dan Tuan Cadenza mengerutkan kening mereka.
“Cassey, kau darimana?” tanya Cadenza penasaran. “Kau terlihat marah. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, Ayah,” jawab Casandra sekenanya. Dia lalu menaikkan sebelah alisnya ke atas saat menyadari ada yang berbeda pada sorot mata sang ayah. “Ayah, apa meetingnya berjalan lancar?”
“Iya. Meetingnya berjalan lancar sesuai rencana. Kenapa memangnya?”
“Kalau benar begitu lalu kenapa wajah Ayah terlihat lesu? Ayah sakit?”
Casandra khawatir. Di ulurkannya sebelah tangan untuk mengukur suhu tubuh di kening sang ayah. Dia lalu mengernyitkan kening. “Dingin sekali. Ayah kenapa?”
__ADS_1
Cadenza bingung harus menjawab apa sekarang. Putrinya bukan orang bodoh, pasti bisa dengan mudah menyadari kalau dia sedang berbohong. Akan tetapi tidak mungkin juga Cadenza memberitahu Casandra tentang kabar yang baru saja dia dengar. Cadenza takut putrinya akan mengamuk.
Tak puas melihat kebungkaman sang ayah, Casandra langsung mengalihkan pandangan kepada Fidel. Dan dia merasa sangat yakin ada sesuatu yang telah terjadi saat Fidel terkesan menghindar. “Kalian jujur padaku atau aku akan mencaritahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Jangan kira aku tidak tahu ya ada yang sedang kalian sembunyikan dariku. Ayo cepat beritahu aku sekarang juga!”
Huh, ada-ada saja masalah yang terjadi. Belum juga beres aku membuat perhitungan dengan Regent, sekarang Ayah dan Fidel malah kompak membungkam mulut mereka. Membuat kesal saja.
“Cassey, kau belum menjawab pertanyaan Ayah tadi. Kau darimana, hem?” ucap Cadenza berusaha mengalihkan pembicaraan. Apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan Casandra tahu tentang kematian para dokter itu. Keadaan sedang tidak baik-baik saja, dan dia takut Casandra akan menggila jika tahu kalau kejadian ini adalah perbuatan Jove. Jadi sebisa mungkin Cadenza akan menutupinya dulu.
“Apa Ayah sedang mencoba kabur dari kecurigaanku?” sahut Casandra seraya memicingkan mata. Di tatapnya sang ayah penuh kecurigaan. “Semakin Ayah menghindar, semakin aku merasa penasaran dan meyakini kalau kalian sedang menyembunyikan sesuatu. Iya 'kan?"
Melihat keadaan yang sedikit memanas, Fidel segera memikirkan cara untuk melerai. Dia cukup tahu akan perangai Nona Casandra yang memang sangat keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu. Seperti halnya sekarang. Jadi Fidel harus secepatnya bertindak sebelum ada hal buruk terjadi di antara ayah dan anak ini.
“Benar begitu?” sahut Casandra memastikan. “Awas saja kalau kau sampai ketahuan membohongiku, Fidel. Aku akan langsung memecatmu detik itu juga!”
“Saya mana berani membohongi anda, Nona.”
“Baguslah!”
Casandra kemudian mengembuskan nafas dengan kuat. Kembali jengkel saat teringat wajah menjijikannya Regent. Sayang sekali tadi pamannya muncul sambil membawa security rumah sakit. Kalau tidak, Casandra pasti sudah membuat luka di tubuh Regent menjadi semakin parah. Heh, biar saja. Itu cukup setimpal dengan semua kemalangan yang harus Casandra rasakan semenjak bertemu dengan Jove.
Sialan. Kenapa aku jadi memikirkan bajingan itu sih. Tidak penting sekali.
__ADS_1
“Cassey, you okay?” tanya Cadenza khawatir melihat Casandra menggerutu tidak jelas.
Alih-alih menjawab, Casandra malah melenggang pergi dari hadapan Fidel dan ayahnya. Dia sedang tidak mood untuk banyak mengobrol. Kekesalannya terhadap Regent membuat suasana hati Casandra menjadi benar-benar buruk. Sungguh. Rasanya dia seperti ingin makan kepala orang.
“Em penjaga, kalau boleh tahu kemana kalian pergi tadi. Dan kenapa juga putriku terlihat tidak senang saat kembali ke perusahaan. Kalian tidak mengasarinya lagi ‘kan?” tanya Cadenza hati-hati pada kedua penjaga yang sedang berdiri diam tanpa ekpresi.
“Penyebab mengapa Nona Casandra terlihat kesal adalah karena emosinya tidak tersalurkan dengan baik. Dan jika anda bertanya kami darimana, jawabannya adalah bukan urusan anda,” jawab salah satu penjaga dengan dinginnya.
“Tapi Casandra tidak sedang melakukan sesuatu yang berbahaya 'kan?”
“Nona Casandra pasti sudah mati di tangan kami jika dia sampai berani berbuat yang tidak-tidak. Anda tahu itu, bukan?"
Kalau bukan anak buahnya Jove, Fidel pasti sudah menghajar kedua penjaga ini sampai babak belur. Beraninya mereka bersikap kurang ajar pada Tuan Cadenza. Hal semacam ini baru pertama kalinya Fidel saksikan semenjak dia bekerja di keluarga Lin. Ingin marah dan memberikan teguran, tapi nyali Fidel masih belum sekuat itu untuk bermasalah dengan Jove. Apalagi setelah kematian dokter-dokter itu. Semakinlah Fidel berpikir ribuan kali jika ingin menyinggung sekelompok mafia itu.
“Tuan Cadenza, kami permisi. Dan kami minta anda jangan pernah melewati batasan yang bisa memancing kemarahan di diri Tuan Jove. Jika hal itu sampai terjadi, anda akan berhadapan dengan kami. Mengerti?”
“Kalian jangan khawatir. Aku tahu apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Kalian tenang saja,” sahut Cadenza seraya menarik nafas daalm-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Bahkan anak buahnyapun mampu memberikan tekanan intimidasi yang begitu besar. Lalu apa jadinya jika sampai Jove sendiri yang turun tangan langsung? Ya ampun, seram sekali.
Kedua penjaga itu segera berlalu dari hadapan Fidel dan Tuan Cadenza setelah mereka memberi peringatan. Sedangkan Fidel dan Tuan Cadenza sendiri memilih untuk pergi dari sana. Mereka butuh ruangan untuk menenagkan pikiran. Sekaligus membahas tentang kematian para dokter malang itu.
***
__ADS_1