The Devil JOVE

The Devil JOVE
99. Peringatan Keras


__ADS_3

Kedua mata Elzavat nampak berkaca-kaca mendapati putrinya yang sedang duduk di ranjang dengan kondisi wajah yang begitu pucat. Dia sama sekali tak mengira kalau mimpi yang dilihatnya benar menjadi kenyataan. Tadi pagi setelah Eriko pergi dari rumahnya, Cadenza memberitahu Elzavat kalau putri mereka sedang tidak sehat. Awalnya dia pikir hanya demam biasa. Tapi setelah melihat keadaannya yang mirip zombie, Elzavat tak kuasa menahan ledakan tangis. Segera dia menghambur memeluk Casandra begitu sampai di dekatnya.


"Hiksss, putri kesayangan Ibu. Kau kenapa, Nak. Apa yang sudah terjadi sampai kau bisa jadi seperti ini? Jove melukaimu kah?" cecar Elzavat sambil menciumi rambut Casandra. Hatinya seperti di iris-iris.


"Jove tidak melakukan apa-apa kepadaku, Bu. Yang ku alami sekarang murni karena kondisi kesehatanku yang sedang menurun. Juga karena aku terlalu lelah memikirkan tentang keanehan di tubuhku. Jadi ya begini. Aku sakit," jawab Casandra seraya melirik ke arah Jove yang sedang berdiri di dekat pintu. Dia kemudian tersenyum kecil saat pria itu terus menatapnya lekat, seolah ingin memberitahu kalau dia bebas mengatakan apapun di hadapan sang ibu.


Setelah kejadian memalukan pagi tadi di mana Jove meminta Casandra mengeluarkan air seni di hadapannya, sejak saat itu perasaan Casandra seperti di jungkirbalikkan oleh sesuatu hal. Segalanya jadi terasa aneh. Kadang tersipu, kadang marah, kadang juga bahagia. Aneh sekali, bukan? Namun semua keanehan ini malah membuat debaran jantung Casandra kian menguat hanya dengan melihat cara Jove menatapnya. Seperti sekarang contohnya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, tapi manik matanya terus tertuju pada Casandra. Membuatnya jadi salah tingkah.


"Cassey, kau tidak sedang menutupi sesuatu dari Ibu kan, Nak? Ayah dan Ibu memang menitipkanmu pada Jove, tapi bukan berarti kami akan diam saja jika dia sampai menyakitimu. Jadi kau jangan merasa takut ya untuk memberitahu Ibu,"


"Iya, Ibu. Jangan khawatir. Walaupun Jove adalah seorang bajingan, dia menjagaku dengan sangat baik di sini. Sungguh!"


Saking baiknya dia sampai membuatku tak berdaya karena pendarahan. Hmmm, Jove-Jove. Aku jadi penasaran apa alasan Tuhan menciptakan manusia sepertimu. Kadang kasar, kadang baik, kadang juga menyerupai iblis. Tapi ... kenapa aku merasa nyaman? Astaga.


"Kau sudah makan?" Elzavat bertanya seraya mengurai pelukan. Dia lalu membelai wajah Casandra yang begitu pucat. Sedih.


"Sudah. Tadi sebelum Ayah dan Ibu datang Jove sudah menyiapkan sarapan dan juga obat untukku," jawab Casandra sambil tersenyum kecil. Dia suka sekali ketika sang ibu memanjakannya seperti ini.


"Benarkah?"


"Iya,"


Elzavat menoleh ke belakang. Dia menatap seksama ke arah Jove yang hanya diam tak bicara sejak dia datang. Dalam hati, Elzavat bertanya-tanya mengapa pria itu bisa begitu dingin. Padahal tadi Elzavat sempat berharap kalau Jove akan kembali menunjukkan kearogannya saat dia mencecar Casandra. Tapi ya sudahlah, mungkin memang sudah seperti itu wataknya. Elzavat tak mau mengambil pusing masalah tersebut. Karena yang paling penting putrinya baik-baik saja.

__ADS_1


Sementara itu Cadenza yang berada di luar kamar memilih untuk tidak mengganggu kebersamaan istri dan putrinya. Dia justru berniat mengajak Jove bicara empat mata guna membahas tentang saudara tirinya. Akan tetapi karena mafia ini terus memperhatikan interaksi anak dan juga istrinya, Cadenza jadi merasa enggan untuk mengganggu. Biar sajalah. Mungkin memang seperti ini cara Jove melindungi putrinya.


"Ada apa, Tuan Cadenza? Sepertinya ada sesuatu yang ingin anda sampaikan. Katakan saja!" tanya Franklin yang sejak tadi terus memperhatikan gelagat aneh pria di hadapannya.


Cadenza menoleh. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Franklin. "Sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengan Jove. Tapi dia sedang tidak bisa di ganggu. Benar 'kan?"


Franklin langsung melihat ke arah bosnya yang tengah berdiri diam sambil memperhatikan Nona Casandra yang sedang berbincang dengan Nyonya Elzavat di dalam kamar. Benar sekali. Yang di katakan oleh Tuan Cadenza tidak salah kalau bosnya tidak mungkin di ganggu. Mood mafia itu bisa memburuk seketika jika ada seseorang yang berani mengusik kesenangannya. Jadi untuk menyiasati masalah ini, Franklin memutuskan untuk mengajak Tuan Cadenza bicara di lain tempat. Dia lalu membawanya menuju balkon yang tak jauh dari kamar bosnya.


"Kita bicara di sini saja. Tuan Jove sedang gembira, jadi sebaiknya kita jangan menganggunya dulu," ucap Franklin datar. Dia lalu menatap seksama ke arah Tuan Cadenza, memberi tanda agar segera berbicara.


"Begini, Franklin. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan Eriko pagi tadi. Dia memang berkata hanya ingin memastikan kebenaran tentang Casandra yang di sandera oleh Jove. Akan tetapi aku tak sengaja melihat ada yang berbeda dengan sorot matanya. Itu semacam ada kebahagiaan dan juga keserakahan di waktu yang bersamaan. Menurutmu mungkin tidak kalau Eriko diam-diam menyelidiki tentang Casandra?" tanya Cadenza dengan sangat serius. Dia lalu menghadap ke arah lain sambil menghembuskan nafas kasar. "Eriko memang saudaraku, tapi aku tidak pernah memberitahunya tentang rahasia di keluarga Lin. Perangainya lumayan buruk, dan inilah yang membuatku merasa khawatir. Aku takut dia mengincar Casandra, Franklin!"


"Regent dan Eriko memang telah mengetahui rahasia Nona Casandra, Tuan Cadenza. Dan tujuannya datang ke rumah anda adalah untuk memastikan tentang kebenaran ini. Tapi anda jangan khawatir. Tuan Jove telah menyiapkan pengamanan lebih untuk melindungi Nona Casandra dari kejaran orang-orang berhati busuk sepertinya. Saya sarankan mulai detik ini anda dan istri anda berhati-hatilah saat akan keluar rumah. Orang seperti Eriko Lin pasti tidak akan mempedulikan hubungan kekeluargaan di antara kalian. Karena begitu dia mengetahui keistimewaan darah di tubuh Nona Casandra, dia sudah mulai membayangkan berapa banyak kekayaan yang bisa dia dapat dengan menjual darah milik keponakannya sendiri. Ini fakta, dan akan sangat bodoh kalau anda sampai menyangkalnya!"


"Lihatlah sendiri betapa licik senyum di bibir bajingan itu. Saya berani bertaruh kalau saat itu dia sedang memikirkan bagaimana cara bisa menemukan Nona Casandra kemudian menyembunyikannya di suatu tempat. Kejam sekali, bukan?" ucap Franklin sambil tersenyum miring.


Seperti yang kita ketahui kalau satu hubungan tak bisa menjadi penjamin untuk tidak menggigit tubuh anggota keluarga sendiri. Terlebih lagi antara Eriko Lin dan juga Cadenza Lin hanya merupakan saudara tiri. Jelas Eriko langsung berna*su ingin menguasai Casandra seorang diri dengan tujuan kasta dan juga tahta. Dan seperti inilah kenyataan dalam hidup di mana keluarga sendiri tidak akan sungkan untuk melakukan tindakan keji demi kepentingan pribadi. Miris memang, tapi apa mau di kata. Tuhan telah menciptakan manusia lengkap dengan akal pikiran dan juga hawa na*su. Jika tidak di didik dengan benar, maka hawa na*sulah yang akan menang.


"Apa Jove sudah melihat rekaman ini, Frank?" tanya Cadenza seraya menahan sesak. Yang di khawatirkan benar-benar terjadi. Eriko, saudara tirinya, terbukti mengincar darah milik putrinya. Hati siapa yang tidak akan hancur saat mengetahui fakta menyedihkan ini. Begitu pula yang dirasa oleh Cadenza sekarang. Ingin tak percaya, tapi bukti terpampang jelas di depan mata. Sungguh suatu fakta yang sangat menggores jiwa.


"Tuan Cadenza, anda lupa atau bagaimana. Yang berhubungan dengan Nona Casandra, bagaimana mungkin Tuan Jove melewatkannya? Begitu anda memberitahukan tentang kedatangan Eriko, hanya dalam hitungan detik kami sudah mendapatkan bukti ini. Jadi anda sangat salah jika bertanya seperti itu!" ejek Franklin merasa tergelitik mendengar jenis pertanyaan tersebut.


"Aku hanya terlalu panik saja sampai melupakan tentang kemampuan bosmu. Jangan tersinggung!"

__ADS_1


Franklin berdecih. Setelah itu dia mengambil laptop dari tangan Tuan Cadenza kemudian menujukkan video lain. "Pria ini bernama Awan. Dia adalah seorang pembunuh bayaran yang datang menemui Regent di rumah sakit!"


Glukkk


Jakun Cadenza bergerak naik turun dengan cepat saat Franklin memberitahukan tentang identitas salah satu orang yang memburu putrinya. Sebagai seorang ayah, jelas Cadenza takut sekali. Pembunuh bayaran, ya Tuhan. Cadenza tak bisa membayangkan akan seperti apa nasib Casandra kelak jika seandainya sampai jatuh di tangan orang bernama Awan ini. Apalagi jika sampai mengetahui kalau Casandra bisa menjadi abadi jika darah di tubuhnya habis tak bersisa. Sungguh sangat mengerikan sekali. Cadenza sampai bergidik takut memikirkannya.


"Se-selain pembunuh bayaran ini apakah masih ada yang lebih berbahaya lagi, Frank?" tanya Cadenza dengan suara gemetar. Kakinya terasa lemas sekali.


"Ada!" Franklin menjawab singkat. Dia lalu menunjukkan sebuah foto yang mana itu adalah foto seorang wanita. "Namanya Pamela Thampson. Gadis ini adalah kerabat dekatnya Tuan Jove, mereka saudara sepupu. Jika di bandingkan dengan semua orang yang sedang memburu darah Nona Casandra, gadis ini adalah yang paling berbahaya. Pamela tidak mengenal rasa takut, bahkan pada Nyonya Rosalinda dan Tuan Adamar sekalipun. Dia ... mustahil bisa menjinakkannya dengan mudah kalau bukan dari dia sendiri yang ingin berhenti. Jadi bagaimana, Tuan Cadenza. Masihkah anda merasa penasaran tentang siapa saja dan seberbahaya apa orang-orang yang sedang mengincar putrimu? Dan juga apakah anda beserta Nyonya Elzavat masih terpikir untuk memisahkan Nona Casandra dari Tuan Jove? Seharusnya sih tidak. Karena jika kalian nekad, Tuan Jove pasti tidak akan ragu untuk melepaskan Pamela memburu putri anda. Menarik, bukan?"


A-apa? Ba-bagaimana bisa Franklin tahu kalau aku dan Elzavat pernah terpikir ingin menjauhkan Casandra dari Jove? Apa mungkin ada mata-mata yang menguping pembicaraan kami waktu itu? Ya Tuhan, bahkan untuk sekedar membicarakan hal privasi saja kami seperti sudah tak mempunyai hak lagi. Haruskah sampai seperti ini?


Belum juga hilang kekagetan di diri Cadenza tentang fakta kalau sepupunya Jove ikut mengincar Casandra, dia sudah di kagetkan oleh fakta lain yang merojok pada keinginannya dan Elzavat untuk menjauhkan Casandra dari lingkaran dunia gelap Jove. Sungguh, Cadenza sama sekali tak menyangka kalau Franklin akan langsung memberinya peringatan keras seperti ini. Dia syok, hingga tak mampu berkata-kata.


"Tuan Cadenza, hal ini masih belum di ketahui oleh Tuan Jove. Jadi saya minta anda beserta istri lebih berhati-hati lagi dalam merencanakan sesuatu. Ingat, semua hal yang berhubungan dengan Nona Casandra itu sudah berada dalam pengawasan kami. Termasuk udara yang kalian hirup sekalipun. Namun jika anda memilih untuk membiarkan Nona Casandra menderita di tangan Pamela, maka dengan sangat senang hati saya akan memberitahu Tuan Jove tentang pemberontakan yang ingin anda dan istri anda coba lakukan. Mengerti?!" ancam Franklin sambil menutup laptop dengan kuat. Dia lalu menatap tajam pria di hadapannya yang sudah pucat pasi karena ketakutan. Setelah itu Franklin menyeringai. "Demi melindungi nyawa putri anda, Nyonya Rose dan juga Tuan Adamar sampai turun tangan langsung mengamankan keadaan. Dari sini harusnya anda sudah paham akan seperti apa murkanya mereka jika sampai anda melakukan pengkhianatan!"


"F-Franklin, a-aku dan istriku hanya ingin yang terbaik untuk p-putri kami saja. K-kau jangan salah paham!" ucap Cadenza dengan suara terputus-putus. Tenggorokannya begitu sakit, seolah tidak ada air yang membasahi. Cadenza ketakutan, tentu saja. Mungkin jika ada orang yang mengiris kulitnya sekarang, bisa di pastikan tidak akan ada darah yang menetes keluar. Cairan merah itu seperti membeku, gentar akan ancaman yang terdengar begitu mengerikan.


"Seingin-inginnya orangtua, pasti tidak akan sampai membahayakan nyawa anak mereka sendiri. Tapi anda? Anda jelas mempertaruhkan hidup Nona Casandra dengan berniat membawanya pergi dari Tuan Jove. Baiklah, saya rasa cukup sampai di sini saja pembicaraan kita. Untuk yang selanjutnya silahkan anda putuskan sendiri apakah masih berkeinginan membawa pergi Nona Casandra, atau membiarkannya hidup dengan baik di mansion ini. Satu lagi. Jangan memperlihatkan tampang memelas dan ketakutan seperti itu di hadapan Tuan Jove. Karena itu akan membuatnya merasa curiga. Permisi!"


Franklin pergi meninggalkan Tuan Cadenza sendirian agar merenungkan kesalahan fatal yang hampir saja dilakukannya. Sungguh bodoh. Entah apa yang pria itu pikirkan sampai berani memiliki keinginan untuk membawa lari Nona Casandra dari genggaman bosnya. Franklin tak habis pikir karenanya.


Baru sekali ini aku bertemu orangtua berotak dangkal seperti mereka. Beruntung aku masih berbaik hati dengan tidak memberitahukan masalah ini pada Tuan Jove. Dasar to lol. Tidak ada gunanya Tuhan memberi mereka akal kalau caranya seperti ini. Beralasan demi kebaikan Nona Casandra, memangnya mereka lupa kalau Nona Casandra itu tidak sama dengan wanita-wanita lain? Konyol!.

__ADS_1


***


__ADS_2