
Saat Jove sedang sibuk dengan resepsi pernikahannya, di tempat lain ada Awan yang tengah mengamuk frustasi. Luka di perutnya sudah mengering setelah anak buah Pamela menyuntikkan obat ke tubuhnya, tapi teror yang di kirim gadis gila itu masih belum berhenti juga. Pamela benar-benar membuat emosinya naik tujuh tingkat dari yang biasanya.
"K*parat! Sebenarnya apa maumu, Pamela. Kenapa kau terus saja mengusikku. Dasar j*lang sialan. Arrhhgg!" teriak Awan sambil melemparkan vas bunga ke lantai. Tak ayal perbuatannya itu membuat ruangan menjadi semakin berantakan. "Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan kegilaan gadis itu. Semuanya bisa hancur kalau aku tidak segera menemukan solusinya!"
Saat Awan sedang terbakar emosi, ponsel miliknya berdering. Panggilan pertama di acuhkan begitu saja oleh Awan, terlalu malas untuknya bicara dengan orang lain. Akan tetapi orang yang menelpon cukup bebal. Dering ponsel kembali terdengar yang mana membuat pemiliknya berteriak seperti orang gila. Kesal karena terus menerus di ganggu, dengan sangat terpaksa Awan akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"Wah wah wah, bagaimana ini, kawan. Bukankah seharusnya bajingan itu sudah mati di tanganmu ya? Tapi kenapa aku malah melihatnya sedang berbahagia di atas pelaminan bersama wanita pemilik darah langka itu. Apa yang terjadi, hem?" tanya Albert yang di barengi dengan decihan sinis. "Padahal aku sudah menyiapkan rencana untuk menangkap wanita itu. Tapi apa? Kau malah menghilang tanpa kabar. Ingin mempermainkan aku atau bagaimana?"
Kalau saja Albert ada di hadapannya sekarang, Awan pasti sudah mengeluarkan semua isi perutnya. Berani sekali bajingan ini meremehkan kemampuannya. Kalau saja tidak ada pengganggu yang datang, sudah dari beberapa hari yang lalu Awan sudah berhasil menumbangkan mafia itu. Sayangnya tujuan itu sudah lebih dulu disambut dengan kemunculan Pamela di hari pertama Awan pindah ke tempat ini. Sialan sekali, bukan? Dan yang lebih brengseknya lagi sekarang Awan terkurung dan tidak bisa pergi kemana-mana. Rumahnya di awasi oleh orang-orang yang bahkan tak mati meski kepalanya tertembus timah panas. Orang-orang itu bukan manusia, tapi robot buatan setan berkepala hitam.
"Kalau kau masih sayang dengan nyawamu sebaiknya kau jangan bermulut besar, Albert. Jangan coba-coba memancing amarahku atau aku akan membuatmu mati berkalang tanah hari ini juga!" geram Awan sambil menggeretakkan gigi. Dia lalu menarik nafas panjang saat luka di perutnya berdenyut nyeri. "Ada alasan kenapa rencana ini masih belum bisa kulakukan. Kau tahu Pamela?"
"Pamela? Namanya seperti tidak asing," sahut Albert. "Apa dia wanitamu?"
"Apa kau pikir aku adalah tipe pria yang mudah menyukai wanita? Ya, aku memang menyukai mereka. Tapi bukan dalam konteks perasaan, melainkan uang. Mengerti kau?!"
Terdengar suara kekehan dari dalam telepon. Dan hal ini membuat Awan hanya bisa menghela nafas saja. Sambil memegangi lukanya yang terus berdenyut, Awan berjalan ke arah jendela. Di lalu menyibak tirai, menatap datar ke arah dua penjaga yang tengah berdiri mengawasi kamarnya. Benar-benar memuakkan. Baru kali ini Awan merasa menjadi seorang pecundang di tangan gadis gila bernama Pamela. Dia yang terbiasa hidup bebas kini bagai tahanan hanya karena menolak menjadi kekasih gadis gila itu. Kalau sampai musuhnya ada yang mendengar hal ini, di jamin Awan pasti akan menjadi bahan tertawaan mereka. Brengsek.
"Awan, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi antara kau dengan gadis bernama Pamela itu. Tapi aku ingin mengingatkanmu kalau kerjasama kita masih terus berjalan. Hari ini Jove dan Casandra telah resmi menikah, ya sudah tidak apa-apa. Kita do'akan saja agar mereka bisa hidup bahagia. Lalu setelah mereka melewati manisnya menjadi pengantin baru, aku ingin kau tetap membawakan kepala Jove untukku. Dan sebagai gantinya aku akan menyerahkan Casandra padamu. Bagaimana?" ucap Albert kembali melakukan penawaran.
"Pamela adalah sepupunya Jove. Dia telah membantai habis seluruh anak buahku dan sekarang mengurungku dengan di jaga oleh orang-orang aneh yang tidak bisa mati meski peluru menembus kepala mereka. Kau pikirkan sendiri saja apakah aku masih bisa bekerja sama denganmu atau tidak. Jika sudah menemukan jawaban, segera hubungi aku!"
Klik. Awan langsung mematikan panggilan setelah memberitahu Albert tentang keadaan di sini. Mau bagaimana lagi. Memang seperti inilah fakta yang terjadi. Mau tidak mau Awan harus tetap memberitahu pria itu agar jangan berharap banyak kepadanya karena dia sendiri tidak tahu apakah besok masih hidup atau tidak.
__ADS_1
Sementara itu Pamela yang sedang menikmati pesta tampak menyunggingkan senyum mendengar percakapan antara Awan dan Albert melalui esrpiece yang terpasang di telinga. Oh, jangan kalian kira dia hanya akan mengurungnya begitu saja. Kalian percaya tidak kalau dinding di rumah itu sudah Pamela rubah menjadi pendengar paling baik? Kalian tentu saja harus percaya. Memangnya apa sih yang tidak bisa seorang Pamela lakukan? Hehe.
"Pamela, kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?"
Pamela langsung mengerucutkan bibir saat di tegur oleh sang ibu. Ini, ini dia momok yang paling Pamela takuti. Karena masih belum berhasil menaklukkan hatinya Awan, dia urung untuk memberitahu sang ibu tentang alasan yang membuatnya senyum-senyum sendiri. Pamela takut di pasung jika sampai ketahuan jatuh cinta pada seorang pembunuh bayaran. Dia benci hukuman itu.
"Malah diam. Kau kenapa?" desak Jessy sambil menatap curiga ke arah putrinya. Dia yakin sekali pasti ada rahasia yang coba di sembunyikan oleh gadis ini.
"Apa sih, Bu. Memangnya salah ya kalau aku tersenyum seperti tadi?" sahut Pamela berusaha berkilah. Dia lalu melirik sang ayah yang hanya diam seperti batang kayu. "Ayah, wajarkan kalau aku tersenyum saat teringat dengan kejadian lucu?"
Gerald diam tak menyahut. Di sebelahnya ada Jessy, dia tak mau membuat wanita ini salah paham kepadanya. Jadi dengan berpura-pura menjadi patung adalah cara paling ampuh agar malam ini dia tidak tidur di luar. Kasihan Jessy, istrinya pasti kedinginan dan tidak bisa tidur jika tidak memeluknya. 😂😂
"Haa, Ibu tahu. Kau pasti baru saja melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain, kan?" cecar Jessy sambil menyipitkan mata. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan anak dan suaminya saat sedang menutupi sesuatu hal.
"Mau Ibu pasung?"
"Ibu!"
Saat Jessy sedang mencoba memaksa Pamela agar mau membuka mulut, putranya yang paling baik sedunia datang menghampiri. Segera Jessy mendorong Gerald kemudian berbalik memeluk lengan Sean.
"Ada apa ini? Kenapa Ibu memarahi Pororo?" tanya Sean dengan lembut.
"Ck, Kak. Bisa tidak jangan memanggilku dengan sebutan itu? Aku jijik mendengarnya!" protes Pamela jengkel. Entah siapa yang memulai. Dia itukan anak manusia, masa iya di panggil dengan sebutan dari klan pinguin. Menjengkelkan sekali.
__ADS_1
Sean terkekeh. Dia sudah tak heran dengan adiknya yang memang akan selalu marah setiap kali di panggil dengan sebutan Pororo. Padahal menurutnya panggilan itu sangatlah lucu sekali. Aneh.
"Sudahlah, aku tidak mau bicara lagi dengan kalian. Aku mau pergi makan saja."
"Boleh ikut?" tanya Sean sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Cih, aku sudah dewasa. Jadi aku bisa pergi mengambil makanan untukku sendiri. Jangan mengganggu!" jawab Pamela sudah tahu akan niat sang kakak yang ingin menjahilinya saja.
"Oh, jadi kau sudah dewasa ya? Sudah punya pacar belum?"
Sambil tersenyum malu-malu, Pamela melenggang pergi dari hadapan keluarganya. Dan sikapnya itu membuat kakak dan kedua orangtuanya sadar akan sesuatu hal.
"Aku tidak percaya ada pria yang mau dengan adikmu, Sean. Pamela pacaran dengan manusia, kan?" ucap Jessy resah. Putrinya sedikit berbeda dengan kebanyakan gadis seusianya, dia takut gadis itu salah memilih pasangan.
"Ibu ini bicara apa. Pamela kita sangat manis, manalah mungkin dia berpacaran dengan blackmamba. Pasti manusialah," sahut Sean sambil menggelengkan kepala.
"Adikmu itukan berbeda dari yang lain. Ibu hanya khawatir saja,"
"Percaya saja kalau Pamela tidak mungkin salah memilih pasangan. Ya?"
Jessy mengangguk meski hatinya sedikit gelisah. Setelah itu dia menoleh, menatap datar suaminya yang hanya diam tak bicara.
Pamela sangat mirip dengan Gerald. Aku takut dia memaksa orang lain agar mau menjadi kekasihnya. Haihhh, semoga saja yang kutakutkan tidak terjadi. Cukup aku saja yang menjadi korban, tidak dengan orang lain. Semoga.
__ADS_1
***