The Devil JOVE

The Devil JOVE
131. Mencoba Mencegah


__ADS_3

Kabar pernikahan antara putra dari keluarga Clarence, Jove Alexander Lorenzo, dengan putri tunggal dari keluarga Lin, Casandra Lin, membuat seluruh penghuni kota menjadi gempar. Tanpa ada angin dan tanpa ada hujan, dua keluarga yang sama sekali tak pernah tertangkap kamera pernah berinteraksi secara berlebih, membuat konferensi pers dan mengumumkan kalau anak-anak mereka akan menikah hari ini juga. Untuk sebagian orang yang mengenal keluarga mereka sebagai satu keluarga terpandang yang sangat di segani, dengan senang hati menyatakan diri akan hadir di acara tersebut. Namun bagi mereka yang mengenal lebih salah satunya, pasti akan berpikir kalau pernikahan tersebut tidak seharusnya terjadi. Sama halnya dengan reaksi seorang wanita yang terlihat sangat marah begitu menonton video siaran langsung dari layar ponselnya.


"Jove, aku tidak rela kau menikah dengan wanita selain aku. Kau jangan lupa kalau darikulah kau bisa mengetahui tentang ****. Aku yang pertama, Jove. Harusnya kau menikah denganku, bukan dengan wanita manja itu. Cuihhhh!"


***


Di kediaman Eriko, terlihat dia yang sedang mengamuk dengan menghancurkan semua barang yang ada di atas meja begitu mendengar kabar kalau Casandra dan Jove akan benar-benar melangsungkan pernikahan. Tadi pagi saat menyambangi kediaman Cadenza, Eriko sama sekali tak melihat gelagat mencurigakan di diri kakak tirinya itu. Jadi dia berpikir kalau apa yang Casandra katakan hanyalah satu keisengan semata. Namun siapa yang akan menyangka kalau hal tersebut ternyata adalah kebenaran di mana telah di umumkan langsung oleh kedua pihak keluarga.


"Brengsek! Apa maksud Cadenza merahasiakan hal ini dariku. Aku Pamannya Casandra, aku berhak mengetahuinya lebih dulu sebelum orang lain. Argggghhh!" teriak Eriko murka. Dia benar-benar sangat kesal sekarang.


Melihat amarah sang ayah yang begitu menggebu-gebu, Regent hanya diam membiarkan. Jujur, dia syok sekali setelah menonton konferensi pers yang masih berlangsung sampai sekarang. Casandra, sepupu yang sangat di gilainya itu, di umumkan akan menikah dengan laki-laki yang jelas bukan saingan Regent. Kecewa, itu sudah pasti. Namun untuk memberontak dan menentang pernikahan tersebut Regent sangatlah tidak bernyali. Jove Alexander Lorenzo, si mafia dingin yang tak mempunyai hati nurani saat membantai musuh. Oho, tidak. Regent masih sayang dengan nyawanya sendiri. Jadi dia memilih memendam kekecewaan di dalam hati daripada harus bermasalah dengan pria itu dan juga antek-anteknya. Regent menolak mati muda.


"Regent, cepat bantu Ayah memikirkan jalan keluar untuk menggagalkan pernikahan Jove dan Casandra. Apapun yang terjadi mereka tidak boleh menjadi satu sebelum Ayah sempat mengambil darah langka itu. Cepat pikirkan!" teriak Eriko sambil mengusap wajahnya hingga memerah. Dia berjalan kesana kemari sambil sesekali menyepak benda yang berserak di lantai.


"Ayah, harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak mau berurusan dengan manusia yang bernama Jove. Dan juga untuk apa sih Ayah masih memburu darah langka milik Casandra. Jelas-jelas jalan untuk memiliki semua itu sudah terhalang tembok yang sangat tinggi, tapi kenapa Ayah masih saja keras kepala seperti ini. Bosan hidup atau bagaimana, hah?" tanya Regent jengah melihat sikap ayahnya yang begitu serakah. Regent juga serakah sebenarnya, tapi tidak sampai seperti ini juga.

__ADS_1


"Jaga mulutmu, Regent. Saat ini kau sedang bicara dengan Ayahmu sendiri!" tegur Eriko dengan tatapan nyalang.


"Justru karena Ayah adalah Ayahku makanya aku sampai bicara seperti ini. Sadarlah, Ayah. Kekuatan yang kita miliki sampai kapanpun tidak akan pernah bisa mengimbangi kekuatan Jove. Percaya tidak. Ayah hanya akan mati konyol di tangan mereka kalau masih nekad mengejar Casandra!" sahut Regent lantang. Dia lalu mendesis pelan saat rasa nyeri muncul di dekat tulang leher yang belum sepenuhnya sembuh. "Lihatlah keadaanku sekarang, Ayah. Tidakkah Ayah merasa takut akan diperlakukan seperti ini juga oleh mereka?"


"Cihh. Omong kosong!"


Eriko berdecih sambil berkacak pinggang mendengar omongan Regent yang tengah mengkhawatirkannya. Kembali teringat kalau sebentar lagi keponakannya akan segera dinikahi oleh mafia busuk itu, emosi Eriko kembali tersulut. Dia lalu termenung lama, memikirkan bagaimana cara untuk menculik keponakannya itu kemudian membawanya pergi jauh dari negara ini.


Aku tidak boleh tinggal diam. Apapun yang terjadi hari ini juga aku harus berhasil membawa Casandra lari dari Jove. Dengan begitu rencana baru akan berjalan lancar dan aku akan menjadi penguasa dunia yang sesungguhnya. Hehehe, aku jadi tidak sabar.


Kedua alis Regent tampak mengerung dalam saat dia melihat senyum aneh di bibir sang ayah. Mencoba menebak-nebak, kemungkinan sang ayah sedang merencanakan sesuatu untuk menculik Casandra. Regent jadi dilema sekarang. Di satu sisi pria di hadapannya adalah orangtua yang harus dia jaga, tapi di sisi lain Regent sangat takut jika harus berurusan dengan Jove. Dia masih sangat trauma akan apa yang menimpanya belakangan ini.


"Bukan urusanmu!" sahut Eriko dingin.


"Dengarkan aku baik-baik, Ayah. Hari ini adalah hari besarnya Jove dan Casandra. Kalau Ayah tetap nekad mencari masalah dengan mereka sekarang, aku jamin rencana Ayah hanya akan manja boomerang untuk Ayah sendiri. Jove dan keluarganya pasti sudah menyediakan pengamanan yang sangat ketat sekali di sana. Apalagi beberapa hari terakhir Ayah terus menunjukkan sikap yang berbeda pada Casandra dan Paman Cadenza. Aku berani bertaruh kalau Jove sebenarnya sudah mengetahui rencana Ayah, tapi dia memilih diam membiarkan karena sedang menunggu momen yang tepat untuk memberi pelajaran pada Ayah!" teriak Regent setengah frustasi membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa ayahnya.

__ADS_1


Langkah Eriko langsung terhenti begitu dia mendengar perkataan Regent. Jakunnya tampak bergerak dengan cepat, menandakan kalau dia sedang meragu.


Apa mungkin ucapan Regent benar kalau Jove sebenarnya sudah tahu kalau aku diam-diam sedang mengincar Casandra? Tapi masa iya sih. Memangnya darimana dia mengetahui hal ini?


"Please, Ayah. Sekali ini saja tolong dengarkan kata-kataku. Tunggu setelah acara ini berakhir, baru Ayah pikirkan lagi bagaimana cara untuk menculik Casandra. Ini aku katakan bukan karena aku akan mendukung rencana Ayah, tidak sama sekali. Tapi aku hanya tidak ingin melihat Ayah mati cepat!"


"Kurang ajar. Kau tidak punya sopan santun ya!" hardik Eriko kembali dibuat jengkel oleh putranya. Benar-benar ya.


"Terserah Ayah ingin mengataiku apa. Yang jelas aku tidak akan membiarkan Ayah membuat masalah di pernikahan Casandra. Aku tidak mau terkena imbas dari sikap Ayah yang bodoh ini. Aku masih ingin hidup!"


"Dasar pengecut. Cuihhh!"


Braaaakkk


Dengan kasar Eriko membanting pintu kamar setelah menyebut Regent sebagai pengecut. Sedangkan Regent sendiri, dia tampak menekan tulang hidungnya sendiri karena merasa kesal akan sikap sang ayah barusan.

__ADS_1


"Casandra-Casandra, kenapa sih kau harus menikah secepat ini. Padahal aku masih ingin berusaha untuk mendapatkan cintamu. Hmmm, nasib-nasib," gumam Regent mengeluhkan nasibnya sendiri.


***


__ADS_2