The Devil JOVE

The Devil JOVE
85. Pendarahan


__ADS_3

"Kau mengantarkan aku lagi?" tanya Casandra sambil menatap tak suka pada pria yang baru saja masuk ke dalam mobil. Seketika keceriaannya lenyap, berganti dengan kekesalan hebat saat tangan pria ini mulai merayap ke pinggangnya. "Jove, bisa kondisikan tanganmu tidak? Aku tidak mau ya kalau bajuku sampai berantakan karena ulah kurang ajarmu!"


Ditegur seperti itu tak membuat Jove menghentikan aktifitas tangannya. Dia malah dengan sengaja menarik ke atas kemeja yang Casandra kenakan. Setelah itu jari telunjuk Jove langsung berselancar menyusuri kulitnya yang lembut seperti yogurt. Ah, menggoda sekali. Rasanya Jove ingin meniduri Casandra detik ini juga. Sungguh.


"Pagi ini terlalu manis jika harus dilewatkan begitu saja. Maukah singgah di hotel sebentar?" tanya Jove dengan nafas yang mulai memburu. Dia lalu berbisik di samping telinga Casandra yang sedikit memerah. "Aku membutuhkan pelepasan itu, Cassey. Bisakah tanpa harus memaksa?"


Blusssshh


Wajah Casandra langsung berubah semerah tomat mendengar permintaan Jove yang begitu terus terang. Meski awalnya dia kesal setengah mati, tapi tubuhnya seperti bereaksi lain begitu tangan pria ini memberinya sentuhan. Murahan sekali, bukan? Dan Casandra mengakui itu, tapi di dalam hati. Tak mungkin untuknya mengaku bahwa ingin sekali dia mengiyakan keinginan Jove untuk singgah di hotel guna melepas hasrat. Sayangnya akal sehat Casandra masih bisa berfungsi dengan benar meski hati terus mendesak untuk berkata iya. Ah, kenapa n*fsu ini terasa begitu sulit dikendalikan?


"Cassey?" ....


"Jove, kita belum menikah. Cukup dua kali kita melakukan, jangan lagi!" Casandra dengan tegas menolak. Sebisa mungkin dia mengalihkan pikiran agar tidak terfokus pada sentuhan lembut di pinggang dan perutnya. Mafia ini benar-benar sialan sekali. Dia begitu pandai memainkan gelenyar n*fsunya.


"Kalau begitu ayo mendaftar ke kantor sipil. Masalah resepsi bisa menyusul kelak. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Cassey," sahut Jove tanpa ragu. Dan dia langsung menghembuskan nafas berat saat Cassey mengumpat kasar seraya melontarkan makian untuknya. "Aku mengajakmu bercinta secara baik-baik, tapi kau tolak dengan alasan kita tidak ada ikatan. Lalu saat aku mengajakmu meresmikan status kau malah sibuk memaki dan mengumpat kasar padaku. Apa maumu, Cassey? Jangan memintaku untuk berbuat kasar karena aku tidak akan segan melakukannya padamu. Paham?"


Casandra berdecih sinis. Lagi-lagi ancaman yang dia dapatkan dari bajingan ini. Ekor mata Casandra kemudian melirik ke luar di mana Franklin tak kunjung masuk ke dalam mobil. Apa-apaan buntut mafia itu. Bukannya bergegas masuk dan mengantarkannya pergi ke perusahaan, Franklin malah bersantai sambil menikmati sebatang rokok. Siapalah yang tidak kesal jika berada di posisi Casandra sekarang. Tidak bos tidak anak buah, semua-muanya tak ada yang beres. Huh.


"Yaaakkkk! Jove, kau sudah gila ya!" pekik Casandra kaget saat tubuhnya tiba-tiba sudah berpindah ke atas pangkuan Jove. Sedetik kemudian wajah Casandra berubah semakin merah saat dia merasakan ada tonjolan benda tumpul di bawah bokongnya.


Sialan. Apa bajingan ini tak malu pamer kalau dirinya sedang birahi berat? Brengsek.


"Kau bisa merasakannya, bukan?" tanya Jove. "Beri aku sekali saja, Cassey. Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini juga. Please," ....

__ADS_1


Untuk pertama kalinya seorang Jove Lorenzo menghiba pada seorang wanita. Dan ini terjadi bukan hanya karena desakan hasrat semata, tapi juga dikarenakan tubuhnya yang mulai terasa kaku. Jove tak ingin Casandra tahu kelemahannya. Bukan malu, tapi lebih ke menjaga privasi saja.


"Jove, you okay?" tanya Casandra seraya mengerutkan kening. Dia merasa ada yang salah dengan gerak tangannya Jove yang masih menempel di pinggang. Kasar, tidak selembut sentuhan di awal tadi.


"Jangan banyak bertanya. Buka bajumu dan biarkan aku menemukan pelepasan itu. Sekarang, Casandra!" geram Jove dengan di iringi derasnya aliran keringat yang mulai membasahi wajah dan sekujur tubuh.


Sial. Kenapa rasa sakitnya harus datang sekarang. Arrggghhhhhhh! Aku butuh obat.


Dilema apakah harus menuruti keinginan atau tidak, Casandra malah diam memperhatikan Jove yang terlihat seperti sedang menahan sakit. Bingung, dia memberanikan diri untuk menempelkan bibir mereka. Niat hati hanya ingin memastikan sesuatu, perbuatannya itu malah membuat Casandra terjebak paksaan Jove yang langsung merespon perbuatannya dengan cara menggigit bibir penuh n*fsu. Sontak saja gerakan tak terduga itu membuat Casandra syok setengah mati. Namun, semuanya sudah terlambat. Sudah tidak ada celah untuknya bisa melarikan diri lagi karena Jove mulai bersikap kasar. Kemejanya dirobek paksa, menyisakan rok pendek beserta pakaian dalam berwarna senada.


"J-Jove, hen-hentikan. Jangan paksa aku!" Casandra berusaha mencegah. Namun dia kesulitan karena Jove menyentuhnya seperti orang tidak sadar. Bahkan di sela-sela nafasnya yang memburu Casandra seperti mendengar ada geraman mengerikan. Entahlah, mungkin lubang telinganya sudah rusak sehingga membuatnya berpikir yang tidak-tidak tentang bajingan ini.


"Ki-kita selesaikan nanti. Sekarang biarkan aku menjemput obatku. Aku seperti akan mati, Casandra. Tolong!" lirih Jove tak berdaya. Sungguh, dia sama sekali tak mengerti kenapa rasa sakit ini bisa muncul tiba-tiba. Padahal sebelumnya Jove sudah tidak pernah meminum obat penawar itu sejak meniduri Casandra. Tapi sekarang? Sangat membingungkan.


Sudahlah, pada akhirnya Casandra hanya bisa pasrah saat Jove mulai menghentak miliknya. Di dalam mobil dengan pakaian yang sudah berantakan, Casandra dibuat tak berdaya oleh gerakan Jove yang luar biasa kasar. Ini agak aneh. Seingatnya bajingan ini tidak pernah melakukan hal kasar saat sedang bercinta. Tapi kenapa sekarang berbeda? Jove seperti sosok monster kayu yang tengah mencari obat penawar. Entah apa istilah jelasnya, dia tak tahu.


Ah, kenapa sakit sekali. Jove sebenarnya kenapa. Kenapa dia seperti tidak sadar kalau perlakuannya menyakitiku. Hiksss, ....


Keringat di wajah Casandra menyatu dengan buliran air mata saat dia tak kuasa menahan sakit akibat perbuatan brutalnya Jove. Sedang Jove sendiri, dia tak terlalu memperhatikan reaksi Casandra karena sendirinya juga sedang kesakitan. Dalam tatih derita yang masih tersisa, akhirnya Jove berhasil melakukan satu pelepasan. Dia lalu menyender ke kursi mobil, menunggu detik-detik kenormalannya kembali seperti semula.


"Jove, a-aku sakit," cicit Casandra dengan suara gemetaran. Wajahnya pucat pasi akibat rasa nyeri yang sangat luar biasa hebat berasal dari bawah tubuhnya.


Tubuh Jove menegang kaku. Barulah dia tersadar kalau perbuatannya tanpa sengaja telah melukai Casandra. Bermodalkan sisa tenaga, secepat kilat Jove mengangkat tubuh Casandra hingga penyatuan mereka terlepas. Setelah itu Jove tampak memejamkan mata sambil menggeretakkan gigi saat mendapati adanya aliran darah di daerah lembab yang baru saja dijamahnya.

__ADS_1


"Sakit," ....


Casandra kembali mengeluh kesakitan. Dan kini pandangannya mulai mengabur. Ini mengerikan. Rasanya Casandra seperti baru saja bercinta dengan sebatang pohon yang sangat tajam dan keras. Sama sekali tak ada rasa nikmat yang tercipta, hanya kesakitan panjang yang dia terima selama Jove menuntaskan hasrat.


"Cassey, maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukan hal ini," ucap Jove frustasi sendiri. Dia lalu melepas kemejanya kemudian dia tutupkan ke bagian tubuh Casandra yang terbuka. Setelah itu dengan cepat Jove menurunkan kaca jendela.


"Ada apa, Tuan?" tanya Franklin tanpa berani melihat ke dalam mobil.


"Ambilkan selimut dan siapkan obat. Aku tak sengaja menyakiti Casandra," jawab Jove.


"Bukankah anda sudah tidak lagi merasakan sakit setelah malam itu, Tuan? Kenapa bisa jadi begini?"


Franklin kaget. Tidak menyangka kalau kelalaiannya telah menyebabkan Nona Casandra terluka. Andai saja tadi Franklin tidak menunggu di luar mobil, dia pasti bisa menghentikan kesakitan bosnya dengan cara memberikan obat penawar yang selama ini di konsumsi.


"Jangan banyak bicara. Cepat siapkan semuanya sebelum aku meledakkan kepalamu. Sekarang, Franklin!" teriak Jove menggila saat mendapati Casandra yang sudah hilang kesadaran. Wanita ini ... dia pendarahan.


Brengsek! Arrrggghhh!


"Baik, Tuan!"


Tanpa banyak bicara lagi Franklin langsung berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak meminta pelayan mengambil selimut. Sedangkan dia sendiri pergi menuju ruang penyimpanan obat guna mengambil ramuan untuk diminum bosnya dan juga untuk mengobati Nona Casandra. Ayolah, bukan baru sekali ini Franklin menjumpai keadaan mencekam karena penyakit bosnya yang kambuh tiba-tiba. Jadi dia sudah tahu harus mengambil obat apa tanpa perlu ada penjelasan. Sudah biasa.


***

__ADS_1


__ADS_2