The Devil JOVE

The Devil JOVE
119. Penjelasan Zian


__ADS_3

Di CL Group, terlihat Jove yang sedang tersenyum tipis sambil memperhatikan video di layar laptop. Sungguh menggelikan. Bisa-bisanya jaguar itu merajuk setelah mengumpatnya. Mungkin jika yang melakukan hal tersebut adalah wanita lain, Jove akan langsung mengirim pembunuh untuk melenyapkannya dari muka bumi ini. Akan tetapi karena yang melakukan adalah Casandra, jaguar kesayangannya, dia memilih untuk duduk santai dan menonton saja. Lumayanlah untuk hiburan.


"Tuan Jove, di luar ada Tuan Zian," lapor Franklin. Dia baru saja masuk ke dalam ruangan ini. "Perlukah saya membawanya masuk kemari, Tuan?"


"Bawa saja. Sekalian aku ingin tahu apa tujuannya datang kemari," jawab Jove santai. Matanya masih terus tertuju ke layar laptop, sibuk memandangi wanita yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi."


Franklin kembali keluar untuk menemui Tuan Zian setelah mendapat perintah dari bosnya. Dengan langkah lebar dan ekpresi wajah yang begitu dingin, dia pergi menghampiri pemilik EH Group yang sedang menunggu di lobi perusahaan. Sengaja Franklin tak membiarkan pria itu naik ke lantai atas dengan maksud ingin memberinya teguran atas persekongkolan yang coba dilakukannya dengan Regent, anaknya Eriko Lin. Beruntung karena bosnya tidak memberikan perintah untuk menghabisinya, jadi Franklin masih berbaik hati membiarkannya tetap datang ke perusahaan ini.


Zian yang sedang duduk dengan gelisah sontak berdiri tegap begitu melihat kedatangan Franklin. Kalau saja ada yang menyadari, saat ini kening Zian sudah mulai bermunculan butiran keringat saking gugupnya dia berhadapan dengan pria berwajah dingin itu. Sebagai sesama pembisnis, Zian jelas tahu kalau Franklin adalah bayangan Jove. Yang artinya pria ini bukanlah seseorang yang bisa dia remehkan begitu saja. Menyinggungnya, itu sama saja dengan dia mencari masalah dengan Jove.


Astaga, kenapa rasanya aku seperti akan menghadapi hukuman mati ya. Menegangkan sekali.


"Tuan Jove memintamu masuk ke dalam ruangannya!" ucap Franklin.


"Baiklah." Zian menyahut patuh. Dia lalu menelan ludah saat Franklin menatapnya dengan sangat lekat. Merasa tak nyaman, diapun memberanikan diri untuk bertanya. "Franklin, ada apa? Kenapa kau menatapku sampai sebegitunya? Ada yang salahkah?"


"Banyak. Bahkan sampai tidak bisa di sebutkan satu persatu kesalahan yang telah kau perbuat!"


Franklin maju mendekat hingga kini tubuhnya sejajar dengan tubuh Tuan Zian. "Tidak ku sangka ternyata nyalimu cukup besar juga, Tuan Zian. Setelah apa yang kau lakukan bersama Regent, masih berani kau menampakkan batang hidungmu di perusahaan ini. Tebal muka, eh?"


Tangan Zian terkepal kuat. Tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terprovokasi. Mencoba untuk tetap bersikap tenang, Zian merespon perkataan Franklin dengan menampilkan satu senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Antara aku dan Regent sama sekali tidak ada persekongkolan yang terjadi. Oke aku akui memang adalah kebodohanku menunda penandatanganan kontrak waktu itu dengan menjadikan Omary Group sebagai alasan. Akan tetapi di balik itu semua, aku punya alasan kuat kenapa melakukannya. Dan aku ....


"Masuklah. Tuan Jove tidak terlalu suka menunggu orang yang tidak penting sepertimu!"


Setelah memotong perkataan Tuan Zian, Franklin kembali berjalan menuju ruangan bosnya. Dan ketika mereka berada di dalam lift, Franklin hanya diam tak bicara. Dia malas mendengarkan alasan Tuan Zian yang terkesan melindungi Regent. Padahal jelas-jelas mereka sepakat untuk menghalau jalannya proyek Bioteknologi yang ingin di kembangkan oleh CL Group. Munafik.


Ting


Pintu lift terbuka. Franklin lalu mempersilahkan Tuan Zian untuk keluar lebih dulu. Setelahnya dia menunjukkan di mana ruangan bosnya berada.


"Kau tidak ikut masuk ke dalam?" tanya Zian agak canggung saat Franklin memintanya untuk pergi menemui Jove seorang diri.


"Takut?"


"Kau lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku akan pergi menemui Jove sendiri saja," ucap Zian merasa dongkol melihat cara Franklin mengejeknya.


"Bagus. Pergilah sekarang juga karena Tuan Jove tidak suka menunggu. Masuklah, tunggu apalagi!"


Zian menarik nafas dalam-dalam kemudian mengetuk pintu ruangan Jove setelah Franklin pergi dari hadapannya. Dia lalu melangkah masuk setelah mendapat izin dari si pemilik ruangan.


Di sana, di dalam ruangan yang sangat mewah, duduk seorang pria tampan berwajah dingin tengah fokus menatap layar laptop. Zian yang melihat hal itupun jadi merasa segan. Dia takut menganggu.


"Duduklah. Kau bukan anak TK yang harus ku beritahu harus duduk di mana, kan?" ejek Jove tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Zian sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa. Dia lalu terdiam, bingung harus membuka pembicaraan mulai dari mana dulu.


Ekor mata Jove melirik ke arah Zian yang terlihat kebingungan. Sambil mendengus pelan, Jove akhirnya meninggalkan kesenangannya kemudian berpindah duduk ke sofa. Setelah itu Jove duduk sambil menyilangkan kaki, menatap seksama ke arah Zian yang malah bersikap canggung.


"Ada apa, Zian? Bukankah saat kau memutuskan untuk bekerjasama dengan Regent kau tidak malu-malu seperti ini?" tanya Jove penuh penekanan.


"Tuan Jove, aku rasa kau sudah salah memahami keputusanku. Oke aku tahu sikapku telah tak sengaja menyinggung perasaanmu, aku akui itu. Akan tetapi waktu itu aku memang benar-benar tidak bisa menghadiri acara penandatanganan kontrak dengan CL Group. Dan alasan kenapa aku melibatkan Omary Group karena kami adalah rekan. Omary Group akan menjadi perusahaan yang menerima dampak paling besar dari kerjasama yang akan kita lakukan. Jadi aku bermaksud melibatkan perusahaan milik Tuan Eriko dan Regent agar bisa ikut bergabung dalam proyek kita!" jawab Zian langsung menjelaskan titik kesalahpahaman. Walaupun tidak sepenuhnya benar, tapi Zian sangat berharap Jove akan mempercayainya.


"Siapa kau berani mengatur bisnisku, hah? Kualifikasi apa yang kau punyai sehingga bisa bebas menentukan siapa-siapa yang ingin kau ajak bergabung?"


Pandangan Jove menggelap. Dia kemudian mengulurkan tangan merogoh sesuatu yang tersembunyi di bawah meja kaca ruangannya. Sambil tersenyum tipis, Jove menarik keluar satu buah senjata api yang langsung dia arahkan ke kepala Zian.


"Kita tidak sedekat itu kalau kau mau tahu. Jadi aku sarankan kau mundurlah saja dari proyek ini. Aku tak sudi bekerjasama dengan orang tidak kompeten sepertimu. Dan satu lagi. Kau silahkan bekerjasama sesuka hati dengan mereka. Asalkan tidak bersinggungan dengan pekerjaanku, maka aku tidak akan mengusik kalian. Tapi jika kalian melewati batas, jangan salahkan aku kalau EH Group dan juga Omary Group akan rata dengan tanah. Kau mengerti?"


Rasanya Zian seperti berpindah alam saat ujung pistol itu tertodong ke arahnya. Dengan wajah yang sudah di banjiri keringat dingin, dia akhirnya bergegas pergi meninggalkan ruangan Jove. Zian masih sayang nyawa, jadi dia sudah tidak mempedulikan seberapa besar kerugian yang harus dia terima karena di keluarkan paksa dari proyek bioteknologi yang di buat oleh CL Group.


"K*parat! Ini semua gara-gara Regent. Kalau saja waktu itu aku tidak terpedaya oleh bujuk rayunya, sekarang aku pasti tidak akan merugi seperti ini. Aku harus segera menemuinya dan menuntut pertanggungjawaban dari bajingan itu. Harus!" geram Zian sambil berjalan cepat menuju lift. Dan dia abai saja ketika berpapasan dengan Franklin. Terlalu kesal dan juga malas untuk sekedar menganggukkan kepala.


Tahu akan apa yang terjadi, Franklin hanya tersenyum saja melihat sikap Tuan Zian barusan. Dia dengan santai berjalan menuju ruangan bosnya kemudian masuk ke dalam sana.


Ingin memprovokasi Tuan Jove? Hah, kau pikir kau itu siapa, Tuan Zian. Beruntung kau masih bisa keluar dari ruangan ini hidup-hidup setelah apa yang telah kau perbuat. Dasar bodoh.


***

__ADS_1


__ADS_2