
Pandangan Jove terus tertuju pada wanita cantik yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Di samping wanita cantik tersebut terlihat seorang pria yang matanya tampak berkaca-kaca. Tuan Cadenza, ah bukan, Ayah Cadenza, pria bangsawan yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertuanya. Meski Jove tahu kalau pria itu belum sepenuhnya rela Casandra menikah dengannya, pria itu masihlah bersedia mengantarkan Casandra untuk diserahkan kepadanya. Syukurlah. Dengan begini Jove tidak perlu melihat istrinya bersedih hati karenanya.
"Cantik," Jove bergumam. "Sangat luar biasa cantik. Dan wanita ini adalah calon istriku."
Pendeta yang tidak sengaja mendengar gumaman Jove tampak menyunggingkan senyum. Saat dirinya diminta untuk memimpin acara pemberkatan ini, rasanya semua tulang di kaki pendeta tersebut seperti lebur semua. Bayangkan! Yang akan dia nikahkan adalah putri semata wayang dari keluarga Lin. Sedang mempelai prianya adalah putra tunggal dari pasangan Tuan Adamar Clarence dan Nyonya Rosalinda Osmond. Walaupun ini bukan pertama kalinya dia menikahkan anak-anak orang kaya, tapi tetap saja pendeta ini merasa sangat gugup sekali. Dia sama sekali tak pernah mengira akan menjadi saksi penyatuan kedua orang yang berasal dari keluarga yang sama-sama sangat terpandang. Wajarlah jika dia merasa gelisah seperti ini.
Seulas senyum tipis muncul di bibir Casandra begitu dia dan ayahnya sampai di hadapan Jove. Wajahnya yang kala itu tertutup veil berwarna putih tak bisa menyembunyikan raut kebahagiaan ketika sang ayah menggenggam jari tangannya erat.
"Jove, hari ini kuserahkan putri kesayanganku kepadamu. Sebagai seorang Ayah, tentunya aku menginginkan yang terbaik untuk putriku. Jika di suatu hari nanti putriku melakukan kesalahan yang membuatmu merasa marah, tolong berjanjilah untuk tidak memperlakukannya secara kasar. Kembalikan saja dia pada kami. Bisa?" ucap Cadenza dengan suara tercekat. Dia menatap seksama ke manik mata pria yang tengah berdiri dengan stelan yang begitu rapi. Sangat tampan, Cadenza mengakui hal itu.
"Selama aku hidup, tidak pernah ada yang namanya Casandra akan menangis. Bahagianya adalah bahagiaku juga, dan kesedihannya adalah petaka bagi mereka yang berani mengusik. Aku mencintainya, dan akan terus menjaganya sampai titik nafas terakhirku," sahut Jove tegas menyatakan kalau dia tidak akan pernah menyakiti Casandra. Selamanya.
"Aku pegang kata-katamu, Jove!"
Setelah itu Cadenza membawa tangan Casandra untuk dia letakkan di atas tangan Jove yang sudah terulur. Dengan mata berkaca-kaca, Cadenza menepuk bahu mafia yang beberapa menit lagi akan segera menjadi menantunya.
"Tolong jaga putriku dengan baik. Dia agak sedikit nakal, jangan terlalu keras padanya," bisik Cadenza sebelum berbalik meninggalkan kedua mempelai pengantin.
Elzavat yang kala itu duduk berdampingan dengan kedua orangtua Jove langsung memeluk Cadenza begitu melihatnya datang. Dia sangat mengerti akan rasa tidak rela yang hinggap di hati suaminya ini. Jadi sebisa mungkin Elzavat mencoba untuk menghibur supaya tidak berlarut dalam kesedihan.
"Tuan Cadenza, mewakili seluruh keluarga besar kami, kami ingin mengucapkan kata terima kasih banyak kepadamu. Terima kasih karena kau telah dengan sukarela mengantarkan Casandra masuk ke dalam lingkup keluarga Osmond, Clarence, dan juga Lorenzo. Jangan khawatir. Kami semua berjanji akan melindungi putrimu dengan sebaik mungkin. Kami janji!" ucap Grizelle sembari tersenyum hangat. Dia sangat maklum akan kesedihan di diri besannya Rose dan Adam.
Cadenza menoleh. Dia kemudian tersenyum sembari menganggukkan kepala.
"Kau tidak perlu berterima kasih seperti ini, Nyonya. Adalah sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengantarkan Casandra menuju jenjang kehidupan rumah tangganya bersama Jove. Jujur kuakui kalau aku sebenarnya teramat berat melepaskan Casandra pada cucumu. Maaf jika menyinggung, tapi ini adalah fakta dari seorang ayah yang baru saja menyerahkan putri kesayangannya pada pria berlatar belakang mafia. Aku gelisah, takut kalau-kalau suatu saat Casandra akan terluka dengan status yang dipunyai Jove!" ucap Cadenza mengakui secara terus terang akan keresahan yang dia rasa. "Nyonya Grizelle, putri kami sedikit berbeda dari kebanyakan wanita lain. Dengan teramat sangat aku memohon pada kalian tolong jangan biarkan siapapun bisa menyakitinya. Casandra adalah nyawaku. Aku dan istriku bisa mati kalau dia sampai kenapa-napa!"
"Jangan khawatir, Tuan Cadenza. Casandra akan aman bersama kami," sahut Drax menggantikan Grizelle bicara.
__ADS_1
"Terima kasih,"
Setelah suasana hati Cadenza menjadi sedikit lebih tenang, Rose memberi kode agar pembaca acara segera mempersilahkan pendeta untuk memulai pemberkatan pernikahan. Jove dengan penuh sayang menggenggam tangan Casandra lalu membimbingnya untuk maju ke hadapan pendeta. Ruangan yang tadinya sedikit riuh kini berubah senyap saat pendeta mulai bicara. Semua orang khusyuk menyimak, termasuk juga dengan Eriko yang kala itu duduk tak jauh dari keluarganya Jove berada.
Brengsek! Bagaimana mungkin aku bisa menculik Casandra kalau seluruh keluarganya Jove datang ke acara ini? Arrggg. Sial, sial, sial!.
"Tuan Jove Alexander Lorenzo, bersediakah engkau untuk selalu mencintai istrimu dalam suka dan duka? Dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat?"
Hening. Jove diam tak menjawab. Matanya fokus menatap Casandra yang wajahnya masih tertutup veil. Walau tak jelas, tapi Jove bisa menebak kalau sekarang Casandra sedang menahan tangis. Terlalu bahagia, mungkin.
"Tuan Jove?"
Casandra menoleh. Dia lalu menarik nafas panjang begitu mengetahui alasan Jove tak langsung menjawab pertanyaan pendeta. Benar-benar ya mafia satu ini. Sudah tahu sedang berada di acara pemberkatan, malah melamun seperti orang linglung. Gemas melihatnya, Casandra sedikit bergeser ke samping kemudian menyenggol lengan Jove dengan maksud untuk menyadarkannya.
"Aku bersedia!"
"Jangan main-main, Jove. Ingat, kita sedang mengikat janji suci di hadapan Tuhan. Jangan melamun," bisik Casandra agak kaget saat Jove tiba-tiba bicara.
"Aku tidak melamun," sahut Jove dengan entengnya.
"Lalu apa yang baru saja kau lakukan kalau bukan melamun?"
"Hanya sedang memandang istriku yang begitu cantik dengan gaun pengantinnya."
Jove tersenyum setelah berkata seperti itu. Dia tak mempedulikan gelagat Casandra yang terlihat malu-malu seusai dia memujinya cantik. Tersadar sudah mempermainkan waktu, Jove segera meminta pendeta untuk kembali melanjutkan acara.
"Nona Casandra Lin, bersediakah engkau untuk selalu mencintai suamimu dalam suka dan duka? Dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat?"
__ADS_1
"Ya, aku bersedia," jawab Casandra lantang. Dia kemudian berbalik menghadap ke arah Jove. "Aku Casandra Lin, berjanji untuk selalu setia mendampingimu, suamiku, Jove Alexander Lorenzo. Dalam suka maupun duka, dalam senang maupun susah, dan dalam sakit maupun sehat. Aku juga berjanji akan terus menjaga hubungan suci kami selamanya!"
(Gengss, maaf ya jika ada yang kurang pas dengan kata-katanya)
Prok prok prok
Suara tepuk tangan riuh mengiringi di sahkannya hubungan baru untuk Jove dan Casandra. Mereka kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Tak lama kemudian pendeta meminta kedua mempelai untuk saling memasangkan cincin di jari manis masing-masing. Lalu setelahnya mereka diminta untuk berciuman sebagai tanda penutup kalau acara pemberkatan telah selesai dilaksakan.
Jove dengan sangat hati-hati membuka veil yang menutupi wajah Casandra. Dia lalu menyunggingkan senyum tipis saat mendapati kalau istrinya sedang menangis.
"Apa aku perlu menghabisi pendeta yang telah lancang membuat istriku menangis?" tanya Jove pelan. Jarinya bergerak menyeka cairan bening yang mengalir membasahi pipi Casandra.
"Omong kosong. Aku menangis bukan karena ada yang menyakiti, tapi aku menangis karena terlalu bahagia. Tahu kau!" sahut Casandra sambil memukul pelan dadanya Jove. Mafia ini benar-benar ya.
"Aku tahu,"
Tanpa banyak bicara lagi, Jove langsung mencium bibir Casandra di hadapan semua orang. Kali ini hanya ciuman lembut, tidak ada l*matan ataupun hal yang menuntut seperti biasanya. Dia ingin menikmati kebahagiaannya yang telah berganti status menjadi seorang suami.
"Aku mencintaimu, Nyonya Casandra Lorenzo,"
"Aku juga mencintaimu, suamiku, Jove,"
Cadenza, Elzavat, Rose dan yang lainnya tak kuasa menahan tangis melihat Jove dan Casandra saling berpelukan. Di saat yang bersamaan, tirai besar yang terpasang di depan altar pemberkatan pun terbuka. Di sana, di balik kaca bening, terpampang sebuah taman indah di mana ada air mancur di dalamnya. Banyak sekali kupu-kupu beterbangan, yang mana membuat suasana menjadi semakin lebih romantis lagi. Kejutan ini adalah idenya Franklin. Pria itu ingin memberikan kesan mewah dan juga manis di hari paling bahagia di hidup bosnya.
Tuan Jove, Nona Casandra. Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkah kalian dalam mengarungi biduk rumah tangga. Sekali lagi selamat.
***
__ADS_1