
Sementara itu di mansion mewah milik Jove, terlihat dia yang dengan begitu perhatian membantu Casandra yang ingin pergi ke kamar mandi. Jove sebenarnya ingin menggendongnya, tapi jaguar ini menolak dan mengancam akan bunuh diri jika dia berani memaksa. Alhasil Jove hanya bisa menurut dengan membantu memapahnya saja. Beruntunglah karena saat ini Casandra sedang terluka. Jika tidak, Jove pasti akan membiarkannya melakukan bunuh diri.
"Terima kasih," ucap Casandra setelah sampai di dalam kamar mandi. "Sekarang kau keluarlah. Aku bisa melakukan yang lainnya sendirian."
Jove diam tak bergeming. Tak berniat untuk pergi dari sana. Casandra yang melihatnya pun nampak menghela nafas panjang. Mungkin kesal, atau malah jengah. Yang jelas Jove akan tetap berdiri di sini untuk memastikan kalau jaguarnya baik-baik saja. Bukan khawatir, dia hanya tak mau Casandra sampai jatuh. Franklin memberitahunya kalau luka di milik Casandra bisa berdarah kapan saja jika sampai salah bergerak, apalagi jika terjatuh. Dan inilah yang sedang Jove lakukan sekarang. Melindungi wanita yang sudah dia lukai dengan tangannya sendiri tanpa memandang situasi.
"Jove, pleasee. Tolong pergilah. Hargai privasiku. Aku ini wanita, jangan perlakukan aku seperti sampah. Paham?" tegur Casandra mencoba sabar menghadapi kebebalan pria ini. Benar-benar ya.
"Aku yang membuatmu terluka, jadi aku harus memastikan kau tidak merasakan sakit lagi," sahut Jove dengan tenang.
"Justru dengan kau tetap berada di sini maka aku akan merasa kesakitan. Kau membuat dadaku sakit, Jove Lorenzo. Tahu?"
Tanpa merasa canggung, Jove meminta Casandra agar membuang air seninya saat itu juga. Dia perlu memastikan wanita ini tidak jatuh pingsan saat rasa sakit itu datang mendera. Namun, bukannya di sambut baik, perintah Jove malah berbuah satu lemparan gayung berisi air dingin. Jove meradang. Segera dia datang mendekat kemudian mencekik leher Casandra.
Tahan, Jove. Casandra sedang terluka, kau tidak boleh bersikap kasar dulu padanya. Ingat, dia terluka karena dirimu.
"Kenapa diam, hah? Ragu untuk mencekikku? Ayo cepat lanjutkan!" teriak Casandra dengan kilat mata berapi-api. Nafasnya menderu dengan cepat saat bajingan ini hanya menempelkan tangan di leher.
Greeeppp
Amukan Casandra di balas dekapan hangat dari Jove. Posisi Casandra yang duduk di atas kloset membuat wajah wanita ini tertempel di perutnya. Jove kemudian memejamkan mata saat mendengar suara isakan lirih, merasa sedikit terenyuh karena telah membuat Casandra bersedih. Dia terpancing emosi, jadi tak sengaja bersikap kasar.
"Aku ini seorang wanita, Jove. Aku punya privasi yang harus kau hargai. Memang apa sulitnya sih membiarkan aku mandi dengan tenang. Aku sedang sakit, tidak mungkin untukku bisa kabur dari sini. Kau tahu itu, kan?" ucap Casandra sambil menangis sesenggukan. Dia merasa malu sekali saat Jove meminta untuk kencing dengan di saksikan langsung olehnya. Harga dirinya sebagai seorang wanita seperti tercoreng. Casandra merasa rendah.
"Jangan berpikiran yang salah tentang perkataanku. Aku memintamu melakukan hal itu hanya karena ingin memastikan kalau kau tidak kesakitan. Kau terluka karena perbuatanku, dan Franklin bilang rasanya akan sangat menyakitkan saat luka di itumu terkena air seni," sahut Jove berusaha menjelaskan. Dia kemudian menunduk, mencium beberapa kali puncak kepala Casandra. "Aku khawatir kau merasa sakit sendirian, Cassey. Jangan salah paham!"
Tangis Casandra terhenti seketika begitu dia mendengar penjelasan Jove. Heran, kenapa hatinya jadi terasa hangat? Bukannya tadi dia begitu marah ya? Kemana perginya semua emosi itu. Tidak konsisten sekali.
Jadi Jove bukan bermaksud ingin merendahkan aku ya? Dan kenapa juga dia tidak bilang dari awal. Aku jadi salah paham begini, kan. Ya ampun.
"Cassey, sekarang lakukan seperti yang aku katakan tadi. Anggaplah kalau aku sedang tidak ada di sini. Aku janji aku akan langsung pergi setelah memastikan kau baik-baik saja. Oke?" bujuk Jove sedikit melunak.
"T-tapi aku malu Jove," sahut Casandra resah. Gila saja dia harus kencing dengan Jove ada bersamanya. Menjijikkan sekali.
"Apanya yang harus dimalukan. Aku bahkan pernah melihat langsung setiap bagian tubuhmu yang tak tertutup pakaian. Jadi singkirkan perasaan itu dan segera lakukan perintahku. Jangan membuang waktu!"
"Sekarang?"
__ADS_1
"Hemmzz," ....
Bayangkan. Jika kalian yang berada di posisi Casandra, masih bisakah kalian untuk bersikap tenang? Namun karena terus di desak hingga di ancam, dengan sangat terpaksa Casandra menuruti perintah bajingan ini. Sambil mencengkram kuat punggung Jove, Casandra harus menahan rasa perih yang sangat luar biasa hebat saat aliran air seni bergerak melewati miliknya yang terluka. Saking sakitnya, wajah Casandra sampai memucat dan tubuhnya di banjiri keringat dingin. Mungkin bagi yang pernah melahirkan secara normal, kurang lebih sama lah rasa perih yang dirasakan Casandra dengan yang pernah kalian rasakan saat pertama kali membuang air seni setelah melahirkan bayi. Semacam luka basah yang disiram dengan air garam. Sangat menyiksa.
"Kau baik-baik saja?" Jove bertanya sambil terus mengelus puncak kepala Casandra. Dia tak mempedulikan rasa perih di bagian punggung akibat cengkeraman tangan jaguar ini. Seperti yang sudah Franklin katakan kalau Casandra pasti akan di dera rasa sakit saat lukanya terkena air seni. Sekarang buktinya.
"Rasanya seperti lukaku di siram air garam, Jove," jawab Casandra dengan bibir gemetar. Tidak, bukan hanya bibir saja yang gemetar, tapi tangan dan kakinya juga.
"Boleh aku bantu menyiramkan air hangat?"
"Jangan! Tidak usah. Aku masih bisa melakukannya sendiri!"
"Kenapa? Malu?"
Casandra mengangguk. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menggeretakkan gigi setelah berhasil mengeluarkan semua air seninya. Lega sekali.
"Maaf, kau pasti merasa tidak nyaman dengan bau tak sedap ini. Bukan salahku, kau sendiri yang memaksaku melakukannya!" cicit Casandra merasa tak enak hati saat ruangan kamar mandi di penuhi aroma yang kurang ramah. Dia malu, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Duduklah dengan benar. Aku akan menyalakan air panas dulu," ucap Jove tak mengindahkan perkataan Casandra.
Dengan sangat hati-hati Jove melepaskan pelukannya kemudian membelai wajah Casandra yang bermandikan keringat. Setelah itu dia meraih gagang shower kemudian menekan tombol untuk mengatur suhu air. Tanpa melepaskan belaian tangannya, Jove mulai mengarahkan shower ke bagian bawah tubuh Casandra. Dan dia melakukan hal ini tanpa ada embel-embel na*su. Jove tulus.
"Aku masih punya hati, Casandra. Dan kau adalah wanita kedua yang bisa merasakan ketulusan hati itu sendiri. Jadi jangan kaget jika aku tiba-tiba memperlakukanmu dengan baik. Karena kau layak menerimanya!"
Casandra tersenyum. Dia menahan tangan Jove yang masih membelai wajahnya kemudian menggenggamnya dengan erat. Andai saja mereka di pertemukan dalam kondisi yang baik, Casandra yakin dia pasti akan langsung jatuh cinta pada bajingan ini. Sayangnya Tuhan mempertemukan mereka dalam satu kejadian yang cukup panas. Akan tetapi semakin sering Casandra melewati waktu bersama Jove, dia mulai merasakan sesuatu berbeda tumbuh di hatinya. Perasaan Casandra tersentuh, merasa takjub akan cara Jove dalam memperlakukannya. Kadang kasar, kejam, tak punya hati. Tapi tulus, hangat, dan juga sangat melindungi. Membuat perasaan Casandra menjadi semakin tidak karu-karuan.
"Kenapa, hem?" tanya Jove sambil menatap lekat perbuatan Casandra. Dia kemudian tersenyum.
"Walaupun aku benci mengakuinya, tapi aku senang melihatmu yang begitu perhatian. Mungkin selama ini kau sering bertindak kejam padaku, kau bahkan tak ragu untuk berbuat kasar. Tapi Jove, sekarang aku mengerti kalau kau melakukan semua itu adalah demi kebaikanku," jawab Casandra dengan sepenuh hati. Dia lalu membalas senyuman Jove dengan tertawa lebar, ingin memberitahu kalau hatinya mulai nyaman.
"Jadi kapan kau akan berhenti memberontak?"
"Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan satu ini. Karena sampai kapanpun juga aku akan tetap menjadi Casandra seperti yang kau kenal sekarang. Apa kau keberatan?"
"Tidak sama sekali!"
Jove mematikan shower. Dia kemudian berjongkok, menatap seksama ke arah Casandra yang masih menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Mandilah. Jika merasa tak nyaman, segera panggil aku. Aku akan menunggu di depan pintu. Oke?"
"Baiklah."
"Jangan terlalu manis. Aku takut lepas kendali lagi seperti waktu itu."
"Brengsek kau!"
Dengan di iringi umpatan, Jove melangkah keluar meninggalkan Casandra seorang diri. Dia kemudian menatap datar ke arah Franklin yang tengah berdiri tak jauh dari depan pintu kamar mandi.
"Ada apa?"
"Tuan Cadenza menghubungi saya, Tuan. Dia melaporkan kalau Eriko baru saja pergi dari kediamannya," jawab Franklin menyampaikan informasi yang baru di terimanya. "Seseorang telah datang menemui Regent di rumah sakit. Orang ini memberitahu Regent kalau anda telah menyandera Nona Casandra. Dengan alasan khawatir, Eriko datang dan menanyakan kebenaran ini pada Tuan Cadenza. Tapi Tuan Jove, menurut saya ini sangat janggal. Jika benar hanya karena mengkhawatirkan keponakannya, seharusnya Eriko tak perlu repot-repot mendatangi rumah keluarga Lin. Saya rasa orang yang menemui Regent telah memberitahukan rahasia lain yang mana membuat Eriko terpancing untuk mencaritahu!"
"Apa kau menempatkan orang untuk mengawasi rumah sakit tempat Regent dirawat?" tanya Jove. Ekpresi wajahnya terlihat begitu datar saat menyadari kalau musuh ingin menjadikan keluarga Lin sebagai tameng. Cukup cerdik, dan itu membuat Jove menjadi sedikit penasaran.
"Maaf, Tuan. Saya lalai dalam hal ini. Akan tetapi saya sudah memerintahkan orang untuk mencaritahu siapa yang datang ke sana!" jawab Franklin dengan penuh sesal mengakui kelalaiannya. Dia terlalu fokus mengawasi Awan dan pergerakan beberapa kelompok, sehingga melupakan keberadaan Regent dan ayahnya.
"Segera laporkan padaku begitu kau tahu siapa pelakunya. Aku sungguh penasaran sekali dengan orang ini. Pasti dia bukan orang sembarangan karena berani mengambil resiko besar dengan melibatkan anggota keluarga Lin yang lain demi bisa mengejar Casandra!"
"Baik, Tuan!"
Jove menghela nafas.
"Apa ada kabar dari Ibu?"
"Tuan dan Nyonya saat ini sudah dalam perjalanan menuju pulau. Kemungkinan sore nanti mereka baru akan kembali bersama Kiara!"
"Kau persiapkan saja apa yang akan di perlukan karena mereka akan berlatih bersama!"
"Baik, Tuan!" sahut Jove patuh. "Tuan Jove, tadi Tuan Cadenza berpesan pada saya agar anda mengizinkan Nona Casandra bertemu sebentar dengan Nyonya Elzavat. Wanita itu sangat merindukannya!"
"Minta mereka untuk datang ke mansion ini. Casandra sedang tidak sehat, aku tidak akan mengizinkannya pergi keluar. Katakan itu pada mereka!" sahut Jove tegas tak terbantahkan.
Franklin mengangguk patuh. Dia kemudian pamit pergi dari sana. Meninggalkan bosnya sendirian merenung di depan pintu kamar mandi.
Eriko, aku harap kau dan putramu yang bodoh itu tidak melakukan sesuatu yang di luar batas. Karena jika itu sampai terjadi, maka aku tidak akan ragu lagi untuk menghabisi kalian berdua. Coba saja jika tidak percaya.
__ADS_1
***