The Devil JOVE

The Devil JOVE
107. Rasa Sakit


__ADS_3

"Tuan Jove, Nona Pamela sudah tiba!" lapor Franklin seraya menatap bosnya yang sedang sibuk membersihkan senjata laras pendek kesayangannya. Dia tahu suasana hati pria ini sedang buruk. Mungkinkah karena kelakuan Nona Casandra semalam? Entahlah, Franklin tak mau mengambil pusing.


"Dollarnya?" Jove menyahut santai. Matanya fokus memperhatikan ujung sentaja yang sedang di pegangnya.


"Sudah saya siapkan di depan pintu masuk. Harusnya Nona Pamela bisa langsung melihatnya begitu datang!"


"Hmmm."


Senjata yang sedang di pegang oleh Jove merupakan sentaja yang hanya dia gunakan untuk meledakkan kepala musuh tertentu saja. Itulah kenapa dia sampai turun tangan langsung membersihkannya sendiri. Dan musuh yang kali ini akan mendapatkan lesatan timah panas dari senjata ini adalah Albert. Jove, dia kesal. Sikap bajingan itu lama-lama mengusik pikiran. Dia ingin menghabisinya begitu ada waktu luang.


"Di mana Casandra?" tanya Jove saat teringat dengan calon istrinya yang masih belum keluar dari dalam kamar. Sepertinya jaguar itu merajuk setelah semalam dia menghukumnya gara-gara ketahuan sedang membuat rencana untuk kabur dan bersenang-senang dengan Kiara. Oh ayolah. Jove sudah sangat memahami kelakuan jaguar betina satu itu. Jadi begitu Kiara dan kedua orangtuanya pergi meninggalkan mansion, Jove tak ragu memaksa Casandra untuk berdiri di dekat jendela yang sudah dia buka lebar-lebar. Casandra phobia ketinggian, dan Jove menyiksanya lewat kelemahan itu.


"Nona Casandra masih belum mau keluar, Tuan. Dia tadi mengamuk saat pelayan datang membawakan sarapan," jawab Franklin seraya menghela nafas pelan. "Sepertinya Nona Casandra sedikit mendendam kepada anda. Perlukah saya menyiapkan kejutan untuk membujuknya?"


"Biar saja. Walaupun aku sudah melamarnya, dia harus tetap tahu batasan. Kiara aku pekerjakan untuk menjaganya, bukan untuk menemani pergi jalan-jalan yang hanya mengundang petaka. Jadi aku tidak perlu membujuknya. Biarkan saja. Nanti dia juga akan luluh sendiri."


"Kalau rajukannya melebar kemana-mana bagaimana, Tuan?" Franklin khawatir. Bukan Nona Casandra yang dia khawatirkan, tapi suasana hati pria ini. Semuanya bisa kacau balau nantinya.


"Maka aku sendiri yang akan memperlebar rajukan itu!" jawab Jove seraya membuang nafas kasar. "Jangan bahas masalah ini lagi. Tutup mulutmu rapat-rapat. Paham?"


Franklin mengangguk. Bosnya sudah bicara seperti ini, artinya masalah Nona Casandra sudah bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Lagipula entah apa maksud wanita itu. Jelas-jelas Kiara di didik untuk menjadi seorang penjaga yang bisa di andalkan, malah dengan santainya Nona Casandra membujuk Kiara agar bersedia kabur dengannya. Wajarlah jika sekarang bosnya marah. Sudah tahu keadaan sedang tidak aman, masih sempat Nona Casandra terpikir untuk bersenang-senang. Membuat masalah saja.


"Oya, Tuan Jove. Anak buah kita melapor kalau Awan menarik semua anak buahnya dari sekitaran rumah sakit. Sepertinya dia sudah sadar kalau pertemuannya dengan Regent telah kita ketahui!" ucap Franklin melaporkan informasi yang pagi tadi di terimanya.


"Biarkan saja. Awan telah di tandai oleh Pamela, dan nanti dia akan menyapanya. Kita tidak perlu mempermasalahkan hal ini lagi," sahut Jove santai. "Hanya bantu pastikan saja agar Pamela bisa berbincang nyaman dengan Awan. Dengan begitu Casandra akan aman dari lirikan matanya!"


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


Tak lama setelah itu seorang penjaga datang melapor kalau rombongan yang membawa Pamela sudah tiba. Segera Jove memasukkan senjata ke laci meja kemudian bergegas keluar untuk menyapa. Bukan menyapa Pamela, tapi menyapa obat yang akan menghantarkannya pada kebahagiaan yang baru. Sebentar lagi. Sebentar lagi Jove akan segera bisa meresmikan hubungannya dengan Casandra begitu Pamela menyampaikan kabar bahagia kalau penyakit di tubuhnya tidak akan menurun pada anak-anaknya kelak.


Di luar mansion, terlihat Pamela yang tengah berdiri sambil mengibaskan rambut panjangnya. Datang hanya dengan mengenakan tanktop hitam model crop yang di pasangkan dengan celana hotpants berwarna putih, membuat penampilan Pamela terlihat sangat segar. Senyum lebar tampak mengembang indah menghiasi bibir Pamela ketika bawahannya memberikan kotak kecil berhiaskan bunga-bunga lucu yang dia rangkai dari kuku tangan manusia. Jangan lupakan juga dengan warna warni hiasannya, membuat kotak itu jadi terlihat mahal bak tangan selebriti.


"Sungguh sangat membahagiakan bisa menjemput tiga koper dollar hanya dengan menukar sebotol kecil obat ini. Kenapa tidak dari dulu-dulu saja aku melakukannya?" gumam Pamela seraya berdecak kagum.


"Jangan pernah terpikir untuk mencuri setetes darah dari tubuh calon istriku. Berani melakukannya, aku akan langsung menghabisimu!"


Pintu mansion terbuka lebar. Keluarlah Jove bersama dengan Franklin di belakangnya. Pamela yang melihat hal itupun langsung lari menghambur sambil memamerkan botol keberuntungan yang ada di tangannya.


"Kak Jove, coba lihat apa yang aku bawa. Tahu tidak, tadi sebelum kemari obat ini membuatku hampir terkena serangan jantung. Janin yang menjadi bahan percobaan tiba-tiba saja tumbuh besar seperti raksasa. Padahal usianya baru sekitar lima bulan. Luar biasa sekali, bukan?" ucap Pamela dengan begitu antusias. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Kegembiraan yang menghiasi wajah Pamela mendadak berubah menjadi aura dingin yang mampu membuat bulu kuduk siapapun yang melihat berdiri semua. "Casandra selain istimewa, darah di tubuhnya juga sangat luar biasa berbahaya. Kalian semua harus bisa memastikan tidak ada satupun orang yang bisa membawa darah itu masuk ke ruang penelitian. Terkecuali aku. Dampak akan sangat besar sekali jika kalian sampai lengah!"


"Bicaralah dengan benar. Jangan berputar-putar!" sahut Jove langsung sadar ada yang tidak beres. Ekor matanya melirik ke arah botol yang masih berada di tangan Pamela.


Apa yang sudah terjadi dengan obat itu? Bagaimana bisa janin yang menjadi bahan percobaan berubah menjadi bayi raksasa. Jika memang benar begitu artinya anak-anakku dengan Casandra tidak akan bisa tumbuh dengan normal. Lalu apa gunanya Pamela melakukan penelitian pada darah langka itu? Brengsek!


"Tuan Jove, Nona Pamela. Sebaiknya masalah ini kita bicarakan di dalam saja. Saya khawatir ada kelelawar yang datang mengintai!" ucap Franklin mengingatkan bosnya agar tidak membahas masalah sepenting itu di tempat terbuka. Karena sekarang segala yang berhubungan dengan Nona Casandra terlalu menarik perhatian. Untuk jaga-jaga saja, siapa tahu ada pengkhianat yang berhasil menjadi penyusup.


"Selagi anda menginginkan, maka saya akan melakukannya, Nona Pamela," sahut pria berwajah datar sambil melayangkan tatapan dingin pada dua pria di hadapannya.


"Jelaskan sekarang!" Jove tak mau menunggu lagi. Dia ingin segera tahu reaksi apa yang akan terjadi jika obat itu di suntikkan ke dalam tubuhnya.


Pamela menarik nafas panjang. Dia lalu mengulurkan tangan pada bawahannya.


"Jarum!"


"Apa tidak perlu melakukan pengecekan dulu, Nona?"

__ADS_1


"Tidak usah. Kakakku sangat sehat. Buktinya dia begitu tidak sabar ingin segera mengetahui reaksi dari obat buatanku," sahut Pamela santai. Jarum sudah ada di tangannya, segera dia menyedot obat dari dalam botol sambil sesekali bersenandung lirih. "Kau mungkin akan sangat menderita setelah obat ini masuk ke dalam tubuhmu. Setelah beberapa saat menunggu reaksinya bisa langsung kau rasakan. Tapi Kak, aku tidak bisa menjamin darah di tubuhmu mau menerima obat ini. Karena yang menjadikan janin itu tumbuh besar seperti raksasa adalah karena darahnya tidak cocok dengan darah milik Casandra. Jadi kau berdoa saja supaya darah kalian akur. Dengan begitu nasib keturunanmu bisa terselamatkan!"


"Jadi masalah ini belum selesai sepenuhnya?" tanya Jove penuh penasaran. Dia tak menyangka kalau darah langka milik Casandra sangat sulit untuk di pecahkan misterinya.


"Bukan belum selesai, Kak. Hanya saja terlalu rumit. Dan jika ingin masalah ini benar-benar terpecahkan maka kau perlu bersabar. Aku yakin masih ada Casandra-Casandra lain yang juga memiliki keunikan tersendiri dimana mereka saling terhubung. Tunggu saja. Cepat atau lambat aku pasti akan segera menemukannya!"


Pamela langsung menyuntikkan obat ke lengan kakak sepupunya begitu dia selesai bicara. Setelah itu dia menyeringai, tak sabar menanti detik-detik mafia ini menggeliat kesakitan.


"Franklin bersiaplah. Sebentar lagi bosmu akan merasakan derita yang hampir sama seperti saat penyakit itu kambuh. Jangan lengah!"


Dan benar saja. Begitu Pamela selesai bicara, Jove langsung menggeram kuat sambil mencengkram pundak Franklin. Wajah dan kedua matanya memerah, lalu otot di tubuhnya menimbul semua. Erangan Jove semakin kuat terdengar hingga membuat seseorang yang sejak tadi mengawasi dari samping jendela berlari keluar.


"Dasar gadis jahat. Apa yang sudah kau lakukan pada calon suamiku! Kau meracuninya ya?" teriak Casandra panik sambil lari menghambur ke arah Jove. Begitu sampai, dia langsung mendorong Franklin kemudian menangkup wajah Jove yang sudah memerah tegang. "Jove, kau kenapa? Penyakitmu kambuh atau bagaimana?"


"Kenapa kau keluar?" tanya Jove seraya menggeretakkan gigi. Tangannya terasa kaku dan pandangannya berkunang-kunang. Obat penawar itu ternyata sangat menyakitkan, membuatnya serasa sedang di kuliti kemudian di panggang di atas bara api. Perih, panas, semua rasa sakit bercampur menjadi satu. Bedanya Jove tubuh Jove tidak seperti batang kayu yang biasa dia rasakan saat sedang kambuh.


"Aku penasaran tamu mana yang datang berkunjung. Lalu aku mengintip kalian dari celah jendela. Saat itu aku melihat Pamela menyuntikkan sesuatu padamu, lalu setelahnya kau kesakitan. Lagipula aku inikan calon istrimu, Jove. Salah ya kalau khawatir?" tanya Casandra sambil melirik sinis pada gadis yang tengah berdiri santai sambil memainkan rambut. Menyebalkan sekali. Tak tahan, Casandra pun menegurnya. "Awas saja kau, Pamela. Kalau sampai Jove kenapa-napa, kau akan berurusan denganku. Jangan kira aku akan merasa takut hanya karena kau adalah seorang psikopat. Paham?"


Setelah mengomeli Pamela, Casandra meminta Franklin membantu membawa Jove masuk ke dalam mansion. Dia lalu mencibir sinis saat pria yang datang bersama Pamela tak mau menyingkir dari jalan yang akan dilewatinya.


"Bedebah. Kau menghalangi jalanku, bodoh!" umpat Casandra dengan kasar.


"Kawan, jangan ganggu Jaguar itu. Biarkan dia masuk ke dalam rumah. Oke?" ledek Pamela meminta anak buahnya untuk menyingkir.


"Baik, Nona."


Jove hanya bisa pasrah saja saat Casandra membawanya pergi. Dalam hati, sikap peduli wanita ini bagaikan obat di kala dia sedang kesakitan. Dan memang benar. Kehadiran Casandra mampu membuat pikiran Jove sedikit teralih dengan tidak fokus merasakan sakit di sekujur tubuh. Luar biasa.

__ADS_1


Akan ada akhir kisah yang manis di balik semua rasa sakit ini. Aku yakin itu!


***


__ADS_2