
Di pelabuhan, saat ini sedang terjadi transaksi heroin antara Jove dengan Magaska. Kedua orang ini duduk berhadapan dengan di kelilingi oleh anak buah masing-masing. Di sebelah kanan Jove, ada Franklin yang berdiri diam sambil memegang koper besar berisi heroin, yang adalah merupakan barang sisa. Ekor matanya terus saja memperhatikan gelagat Magaska yang terlihat tak tenang meski dia di jaga oleh pengawal bersenjata lengkap.
Cihh, gayamu benar-benar menggelikan sekali, Magaska. Kalau kau merasa takut berurusan dengan bosku, harusnya kau itu tidak memantik api. Lihat sendiri sekarang. Hubungan kerjasama di antara kalian jadi berubah mencekam. Kau juga tidak bisa mendapatkan barang terbaik dari kami lagi karena ulahmu telah membuat Tuan Jove merasa marah. Kau telah menyinggungnya secara terang-terangan, bodoh!
"Tuan Jove, kenapa suasana di sini terasa tegang sekali ya?" tanya Magaska mencoba membuka pembicaraan. Jujur, rasanya dia seperti sedang duduk di hadapan dewa pemberi keadilan. Mafia di hadapannya benar-benar sangat mengerikan. Sejak mereka bertemu, dia sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya diam sambil menatap dari balik kaca mata hitam yang di kenakannya.
"Yang membuat tegang itu adalah perasaanmu sendiri. Kau yang lancang ingin bertemu dengan Tuan Jove setelah apa yang kau lakukan bersama Albert!" sahut Franklin menggantikan bosnya bicara. "Sekarang cepat serahkan uangnya. Waktu kami terlalu berharga jika harus di habiskan untuk manusia tak berguna sepertimu!"
"Yakk Franklin, bicara apa kau hah! Jangan melewati batasan. Kau itu hanya seorang bawahan, jadi tahu dirilah sedikit!" hardik Magaska tak terima mendengar ejekan Franklin. Dadanya terasa panas membara.
"Franklin memegang kekuasaan penuh atas semua bisnis dan keputusanku. Jadi orang yang seharusnya tahu diri itu kau, bukan dia!"
Braaakkkk
Jove menendang meja yang ada di hadapannya kemudian langsung menempelkan pistol ke kepala Magaska. Melihat hal itu anak buah Magaska pun langsung bereaksi. Namun sayang, pergerakan mereka masih kalah cepat dengan pergerakan anak buahnya Jove. Karena begitu tangan mereka bergerak hendak menarik pelatuk senjata, dari arah belakang kepala mereka sudah ada ujung pistol yang menempel lebih dulu. Otomatis hal ini membuat mereka diam tak berkutik, hingga akhirnya mereka semua dipaksa duduk berlutut sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Ingin main-main dengan Jove? Hahaha, mimpi.
"T-Tuan Jove, ap-apaan ini? Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?" tanya Magaska dengan wajah pucat pasi. Dia sampai kesulitan menelan ludah saat Jove semakin menekan ujung senjata ke kepalanya.
"Karena aku muak mendengar omongan yang keluar dari mulutmu!" jawab Jove tanpa ada ekpresi apapun yang muncul di wajahnya. "Kau tahu bukan apa konsekuensinya jika berani memprovokasi ataupun mengkhianatiku?"
Glukkkkk
__ADS_1
Sial. Ternyata Jove masih belum mau melupakan hubunganku dengan Albert. Brengsek! Tahu begini kemarin aku tidak akan tergiur akan bujuk rayunya. Argghhh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kelompokku bisa di pandang remeh jika aku sampai gagal mendapatkan heroin terbaik dari kelompoknya Jove. Sial!
"Jangan begini, Tuan Jove. Aku tahu kesalahanku benar-benar sudah sangat fatal, aku minta maaf. Dan maukah kau memberitahukan cara untuk menebus kebodohan yang telah kulakukan? Aku sungguh sangat menyesal karena telah mempercayai Albert. Aku menyesal sekali!" ucap Magaska mencoba untuk membujuk. Biarlah sekalipun dia diminta untuk sujud di bawah kaki mafia ini. Selagi masih bisa bermitra, maka Magaska rela merendahkan harga dirinya.
Sebuah smirk tipis muncul di bibir Jove begitu dia mendengar kepasrahan Magaska. Dia lalu menarik senjatanya kemudian meminta Franklin melakukan tugasnya.
"Lakukan sekarang!"
"Baik, Tuan."
Franklin maju mendekat. Dia membuka koper dan menunjukkan bungkusan heroin yang ada di dalam sana. Franklin kemudian mengambil beberapa bungkus lalu meletakkannya di atas meja yang sudah ambruk. Namun, itu bukan untuk dinikmati. Melainkan untuk mempermudah jalannya mengambil belati yang tersimpan di bawah tumpukan heroin tersebut.
"Kau sendiri yang ingin tahu bukan bagaimana cara untuk menebus kebodohanmu?" tanya Franklin sembari memainkan belati di depan wajahnya. Dia kemudian menyeringai, merasa tergelitik menyaksikan butiran keringat yang mulai membanjir membasahi wajah menjijikkan pecundang di hadapannya. "Jari tangan atau lidah. Silahkan kau pilih salah satunya. Potongan dari tubuhmu itu yang akan menjadi penebus kesalahannya. Jadi silahkan pilih!"
"J-jari tangan s-saja," ucap Magaska terputus-putus. Belati itu masih belum menyentuh jari tangannya, tapi Magaska sudah bisa merasakan rasa sakit dan juga rasa perih yang muncul.
"Kanan atau kiri?" tanya Franklin. Santai sekali, seolah dia hanya akan memotong dahan pohon.
"K-ki-kiri," jawab Magaska mulai mulas.
"Oke. Persiapkan dirimu dengan baik. Kalau kau berani pingsan, sekalian aku akan memenggal kepalamu. Mengerti?"
__ADS_1
Magaska mengangguk sambil menyeka keringat yang mengalir melewati mata. Sambil terus menelan ludahnya yang sudah hampir mengering, Magaska menata kembali meja yang sudah terguling di tanah kemudian duduk bersimpuh. Dia lalu meletakkan jari telunjuk di pinggiran meja kemudian menatap Franklin penuh benci. Bajingan ini ... Magaska tidak akan pernah melupakan wajahnya. Tidak akan pernah.
Kressssss
"AAAAAAARRRGGGGHHHHHHH!"
Tanpa memberi aba-aba, Franklin langsung memotong jari telunjuk milik Magaska. Dia lalu merobek kemeja yang di pakainya kemudian menggunakannya untuk mengelap darah yang memercik di wajah. Sambil tersenyum sinis, Franklin mengangkat potongan jari ke depan wajah Magaska yang sudah merah padam karena menahan sakit.
"Sebenarnya kami menginginkan lidahmu. Tapi karena kau bersikap patuh dan tahu diri, maka satu jari saja cukup. Benar begitu, Tuan Jove?" tanya Franklin sambil berbalik menatap bosnya. Dia kemudian bergeser ke samping saat bosnya menganggukkan kepala.
"Transaksi ini aku anggap sebagai awal yang baru untuk hubungan kita. Jika di suatu saat nanti aku kembali menemukanmu sebagai seorang pengkhianat, maka bersiaplah untuk kehilangan kepalamu. Mengerti?!" ancam Jove penuh penekanan.
"M-mengerti, Tuan. Terima kasih karena kau masih mengizinkan aku untuk menjadi klien. Dan untuk kejadian ini aku akan mengingatnya sampai aku mati!" sahut Magaska sambil membekap ujung jari telunjuknya yang terus mengeluarkan darah. Jujur, matanya mulai berkunang-kunang.
Sadar kalau Magaska sudah hampir pingsan, Jove memerintahkan anak buahnya untuk mengambil sesuatu di mobil. Dia lalu meminta anak buah Magaska agar menuangkan cairan tersebut pada luka di tangannya. Dan hanya dalam hitungan detik pendarahan itu sudah berhenti. Hal tersebut sampai membuat Magaska dan anak buahnya tercengang heran. Pantaslah jika Jove dan kelompoknya di anggap sebagai momok yang sangat menakutkan. La wong pendarahan saja bisa mereka hentikan dengan mudah, apalagi membunuh orang. Ya ampun.
"Jangan besar kepala dulu. Aku menyelamatkanmu bukan karena aku peduli, tapi karena aku ingin melihat apakah kau bisa menempati perkataanmu atau tidak!" ucap Jove jengah. Dia kemudian melirik ke arah potongan jari yang sudah Franklin masukkan ke dalam kotak bening. Jove menghela nafas. "Kita pulang sekarang, Frank. Jangan lupa ambil semua uang milik kita. Aku akan menunggu di mobil!"
"Baik, Tuan!"
Magaska hanya bisa pasrah saja saat tubuhnya di dorong kasar oleh Franklin. Masih dengan tatapan keheranan, Magaska terus memperhatikan rombongan mafia itu pergi meninggalkan pelabuhan. Dan setelah terdiam selama beberapa menit, barulah Magaska tersadar kalau heroin yang dia mau bukanlah heroin dengan kualitas terbaik seperti yang selama ini dia beli. Dia kemudian mengamuk, tapi tak berani untuk protes.
__ADS_1
"Albert bajingan. Semua ini tidak akan terjadi kalau kau tidak merayuku. Awas saja. Kau harus ikut menanggung penghinaan yang kuterima malam ini. Tunggulah. Cepat atau lambat balasanku pasti akan segera datang. Dasar k*parat! Argghhh!!!"
***