
Jove duduk santai di mobil sembari menonton video di mana terlihat Eriko yang sedang berbincang dengan jaguarnya. Lucu sekali. Pria licik itu terlalu kentara menyatakan tujuannya sehingga membuat Casandra terlihat marah akan apa yang dia lakukan.
"Hmmm, sepertinya Eriko berpikir kalau jaguarku adalah sosok bodoh yang tidak tahu apa-apa. Benar tidak, Frank?" tanya Jove sambil meng*lum senyum mendengar bagaimana Casandra mengusir Eriko agar segera pergi dari hadapannya. Sangat memuaskan.
"Benar sekali, Tuan. Dia belum tahu saja kalau Nona Casandra memiliki lidah yang cukup menusuk setiap kali instingnya merasa terusik akan kehadiran seseorang," jawab Franklin sambil terus mendengarkan suara dari rekaman video yang sedang di putar oleh bosnya. "Sungguh sangat di sesalkan. Harusnya Tuan Eriko bisa lebih pintar sedikit dengan tidak memunculkan diri di L Group. Dengan begitu Nona Casandra tidak akan langsung mencurigainya!"
"Itulah bedanya kita dengan binatang. Manusia di beri akal dan pikiran dengan begitu sempurna oleh Tuhan, dan tujuannya adalah agar kita bisa berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Sedangkan hewan, dia hanya memiliki akal tanpa mengetahui bagaimana cara untuk berpikir. Sama halnya dengan Eriko. Akalnya mungkin bisa bekerja dengan baik, tapi dia sama sekali tak menggunakan pikirannya untuk mengira-ngira apakah tindakannya bisa menimbulkan masalah lain atau tidak. Miris!"
Franklin tersenyum. Dia lalu menatap bosnya lewat kaca spion mobil.
"Tuan, bagaimana dengan Albert? Seharusnya saat ini dia sudah sembuh. Perlukah kita menjenguknya sekarang?"
"Belum saatnya," jawab Jove.
"Tapi kenapa? Bukankah kemarin anda begitu marah padanya?" tanya Franklin penasaran.
"Benar, tapi sekarang aku sedang tidak berselera membunuh orang. Kita pergi ke CL Group saja. Siapa tahu di sana ada tikus yang perlu kau tanggap!"
"Baik, Tuan!"
Segera Franklin melajukan mobil menuju perusahaan. Hari ini suasana hati bosnya sedang baik. Terbukti karena kemarahan mafia ini bisa teralih begitu saja setelah Nona Casandra bersikap lebih patuh. Harus Franklin akui kalau wanita ternyata adalah benar sosok yang sangat mengerikan. Karena selain bisa menjadi kelemahan bosnya, juga bisa menjadi sesuatu yang bisa mengendalikan suatu amarah yang selama ini Franklin tahu tidaklah mudah untuk di bendung. Luar biasa. Franklin sampai merasa takjub karenanya.
"Apa Awan masih berani mengincarku setelah bertemu dengan Pamela?" tanya Jove iseng. Dia sempat terkekeh senang saat mendengar penuturan sang ayah kalau sepupunya itu menggatal dengan langsung menyapa Awan tanpa memberinya kesempatan untuk saling mengenal terlebih dahulu. Jove berani bertaruh kalau pertemuan mereka pasti meninggalkan kesan yang begitu dalam di benak pembunuh bayaran itu.
__ADS_1
"Dari informasi yang saya dapat Awan dan anak buahnya hanya berdiam diri di rumah. Pembunuh itu sedang terluka, Tuan," jawab Franklin. Dia lalu menginjak rem saat lampu lalu lintas berubah merah. "Nona Pamela terlalu terburu-buru. Di pertemuan awalnya dengan Awan dia langsung melukainya. Menurut saya hal ini cukup di sayangkan sekali karena bagaimana pun Awan belum mengenal siapa Nona Pamela. Dia pasti syok di perlakukan seperti itu olehnya!"
"Apa kau merasa sakit hati?"
"Maksudnya?"
Jove terkekeh. "Sejak awal Pamela itu sudah mengincarmu untuk di jadikan kekasih. Tidak mungkin kau tidak menyadari hal itu, Frank!"
Mungkin jika yang bicara bukan bosnya, Franklin pasti sudah memukul wajahnya sampai babak belur. Akan tetapi karena yang bicara merupakan sosok yang tidak mungkin dia singgung, sebisa mungkin Franklin menahan rasa kesalnya di dalam hati. Biar sajalah.
"Pamela cukup menarik untuk ukuran seorang gadis. Harusnya kau tidak mengabaikannya selama ini. Dia jadi berpindah ke lain hati, kan?" olok Jove menyadari akan rasa kesal yang coba di sembunyikan oleh Franklin.
"Tuan Jove, saya memandang Nona Pamela sama seperti saya memandang Nona Casandra. Mereka adalah dua wanita yang perlu untuk saya lindungi, bukan untuk saya kencani. Walaupun Nona Pamela memiliki kelebihan yang tidak di punyai oleh Nona Casandra, saya tetap tidak bisa menatapnya dengan cara yang berbeda. Jadi saya harap anda tidak lagi membahas tentang perasaan yang mustahil saya rasakan. Maaf jika lancang, tapi saya merasa aneh mendengarnya!" sahut Franklin dengan berani menyuarakan ketidaknyamanan yang dia rasa. Franklin memilih menerima hukuman karena di anggap kurang ajar daripada harus membiarkan bosnya terus mengolok-olok tentang gadis gila itu. Franklin tak suka.
"Saya tidak membencinya, Tuan. Saya hanya tidak mau terlibat hubungan dengan yang namanya wanita."
"Apa kau penyuka sesama jenis?"
Jove kembali mengolok.
"Sampai detik ini junior saya masih aktif menegang jika melihat wanita dengan kriteria tertentu, Tuan. Anda jangan risau."
Lampu berganti menjadi warna hijau. Franklin segera menjalankan mobil sambil terus berusaha menyembunyikan kekesalannya. Sementara Jove sendiri, dia tak henti menertawakan Franklin yang merasa kesal mendengar olok-olokan darinya. Hari ini suasana hati Jove sedang cerah, jadi sedikit menggoda bawahannya yang selalu bersikap kaku seharusnya tidak menjadi masalah, bukan? Haha.
__ADS_1
"Oya, Tuan Jove. Menanggapi perkataan Nona Pamela tentang wanita yang kemungkinan memiliki keistimewaan seperti Nona Casandra apakah mungkin ada di dunia ini? Sejak saya mendengar hal itu, saya selalu merasa penasaran sekali. Kira-kira seperti apakah rupa dari orang itu? Mungkinkah mempunyai latar belakang keluarga yang tak biasa seperti keluarga Lin?" tanya Franklin saat terkenang dengan ucapan Pamela.
"Hmmm, bagaimana caraku menjawab pertanyaanmu ini, Frank?" sahut Jove malah balik bertanya. Tatapan matanya berubah dalam saat memikirkan tentang kemungkinan tersebut. "Tapi karena Pamela sudah bicara seperti itu, bisa di pastikan kalau orang tersebut ada dan sudah hidup di dunia ini. Orang awam seperti kita tidak mungkin mampu menembus cara berpikir para ilmuwan seperti Pamela. Jadi untuk jawaban pastinya aku rasa kita perlu menunggu dia yang bicara!"
"Anda benar, Tuan. Akan tetapi tetap saja saya merasa penasaran sekali. Atau jangan-jangan orang ini malah berada di sekitar kita seperti halnya Nona Casandra. Kebetulan seperti ini tidak mustahil untuk terjadi, bukan?"
"Ya. Yang kau katakan tidak salah."
"Haruskah saya memulai pencarian?" Tiba-tiba Franklin merasa bersemangat. Dia tertantang untuk mencari seseorang yang di maksud oleh Pamela.
"Tunggu setelah Pamela memberikan kabar. Baru saat itu kau mulailah melakukan pencarian!" sahut Jove. "Jika dugaan Pamela benar, seharusnya orang ini mampu menyembuhkan kehidupan kekal yang bisa terjadi di diri Casandra. Anggaplah kalau mereka adalah obat di dalam obat. Aku akan sangat berterima kasih jika hal tersebut sampai terbukti benar!"
"Kita berdoa saja, Tuan. Sayapun sangat berharap Nona Casandra bisa terlepas dari darah kutukan yang ada di tubuhnya!"
"Semoga saja."
Nun jauh di sebuah kota, terlihat seorang gadis yang sedang marah-marah tidak jelas karena kakinya tak sengaja jatuh terperosok ke dalam kubangan lumpur. Dan ketika angin berembus cukup kencang, rambut yang menutupi bagian bahu belakangnya bergerak tak beraturan. Saat itu, di detik itu juga, sebuah tanda lahir terlihat dengan sangat jelas. Bulan sabit, tanda itu seakan bercahaya saat sinar mengenainya.
"Sial sekali. Kenapa sih aku selalu saja tertimpa kemalangan seperti ini. Apa Tuhan tidak bosan terus membuatku kesusahan? Heran!" gerutu Ilona sembari memencet lintah yang menempel di kakinya. Setelah itu Ilona berbaring di atas rerumputan sambil menatap langit. "Tuhan, kira-kira kapan kau akan membiarkan aku hidup bahagia, hah? Kalau saja kau dekat, aku pasti sudah menjambak rambutmu dengan sangat kuat. Eh, tapi ngomong-ngomong Tuhan itu berambut tidak ya? Astaga, lama-lama aku bisa gila karena memikirkan hal ini. Haihhh!"
(Ilona adalah karakter yang nantinya akan menjadi pasangannya Karl, anaknya Elea. Sengaja di spoiler di sini karena pertengahan bulan nanti novelnya akan di up setelah novel mamak bapaknya tamat. Sekian)
***
__ADS_1