
“Silahkan masuk, Nona!” ucap Franklin mempersilahkan. Saat ini dia dan bosnya sedang berada di L Group guna menjemput Nona Casandra.
“Thanks,” sahut Casandra sedikit cetus. Setengah enggan dia akhirnya masuk dan duduk di dalam mobil. Mengabaikan keberadaan Jove yang tengah menatapnya dari arah samping, dia meminta agar Franklin segera menjalankan mobil. “Hari ini pekerjaan membuatku merasa sangat lelah. Aku ingin segera sampai di rumah kemudian tidur. Lajukan mobilnya secepat yang kau bisa, Frank!”
Jove hanya tersenyum saja melihat keengganan di diri Casandra. Dia lalu menganggukkan kepala saat Franklin meliriknya lewat kaca spion yang ada di dalam mobil. Setelah itu Jove menarik pinggang Casandra agr duduk lebih dekat dengannya. Dan dia acuh saja saat jaguarnya langsung melayangkan tatapan yang sangat luar biasa tajam. Biasalah, kalian pasti paham bukan seperti apa perangai seorang Casandra Lin? Sangat galak dan sensitive, tapi Jove suka. Sangat suka malah. Di matanya itu benar-benar terlihat sangat menantang.
“Bisa tidak kau jangan sembarangan menyentuhku, Jove?” sindir Casandra jengah.
“Oh, jadi yang begini masih kurang ya?” ledek Jove dengan santainya. Bukan hanya sekedar ledekan biasa, tapi Jove langsung membuat Casandra duduk di atas pangkuannya begitu dia selesai bicara. “Begini apakah sudah membuatmu merasa puas?”
“Puas kepalamu!”
Casandra menghardik. Dia mendengus kasar seraya bersedekap tangan penuh kesal. Dalam hati Casandra merutuk dan mengeluh kapan dia akan terlepas dari bajingan tengik yang suka sekali berbuat semena-mena kepadanya. Walaupun sudah mengetahui penyebab mengapa dia harus tinggal bersama Jove, tetap saja dia merasa tak betah. Tuhan seperti sengaja memindahkannya dari kerangkeng penjara ke jurang neraka yang jauh lebih buruk lagi. Menyebalkan sekali, bukan?
“Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak penting di dalam kepalamu yang cantik ini, Cassey. Kau cukup memikirkan aku saja, yang lain tidak perlu. Paham?” bisik Jove sambil menaik-turunkan tangannya yang bertengger di pinggang ramping milik Cassey. Dia lalu menggeram pelan saat gejolak gairah itu kembali muncul. “Kau kenapa begitu mudah menggoda. Tidakkah kau tahu kalau sekarang aku begitu ingin bercinta denganmu?”
“A-apa kau bilang? Bercinta?” Bola mata Casandra membulat lebar begitu mendengar kalimat vulgar yang terlontar dari dalam mulutnya Jove. Benar-benar ya bajingan ini. Casandra tidak akan membiarkan Jove mendapatkan apa yang diinginkannya. Tidak akan. “Kau jangan macam-macam ya, Jove. Berani kau menyentuhku tanpa izin, aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup. Mengerti?”
__ADS_1
“Hmmmm, kau dengar itu, Frank?” seloroh Jove santai. “Aku hanya bilang kalau aku ingin bercinta dengannya, tapi aku malah mendapatkan ancaman. Sedih sekali,”
“Cihhhh. Kau yang menjadi penjahat tapi kau juga yang berlagak sebagai korban. Dasar lemah!” ejek Casandra seraya berdecih sinis. Jengkel sekali dia melihat Jove dan Franklin. Membuat matanya sakit saja.
“Haruskah saya menepikan mobil di tempat yang sedikit sepi, Tuan?” tanya Franklin menawarkan kesempatan. Dia juga tahu kalau bosnya hanya sedang bercanda, iseng-iseng saja Franklin terpikir untuk meladeni. Lumayanlah. Hitung-hitung dia ikut membantu memanaskan emosi Nona Casandra sebelum nanti mendapat kejutan makan malam istimewa dari bosnya.
“Ide bagus. Cari lokasinya sekarang,” jawab Jove menanggapi candaan Franklin dengan seringai lebar di bibir.
“Yakkkkk! Apa-apaan kalian berdua hah! Kalian pikir aku ini wanita macam apa seenaknya dibawa ke tempat sepi! Jangan macam-macam kalian ya!” amuk Casandra emosi mendengar pembicaraan Jove dan Franklin. Bos dan anak buah ini sama menjijikkannya, membuat Casandra ingin muntah.
Tak menghiraukan suara teriakan Casandra, Jove malah tertawa kesenangan. Dan dia tak peduli saat Casandra menjambak rambutnya dengan kuat. Sama sekali tak berasa. Rasanya seperti sedang dipijit. Sungguh.
“Aku juga tahu kau mendekatiku karena ingin memiliki keistimewaan itu juga. Iya ‘kan?” sindir Casandra cetus. Dia lalu menghela nafas. “Jove, aku tidak tahu makan malam seperti apa yang sudah kau siapkan. Namun jika boleh aku memberi saran, bisakah kita makan malam secara normal saja? Jangan seperti malam itu di mana aku harus makan malam dengan menyaksikan Franklin membunuh dan terlibat baku tembak dengan banyak orang. Walaupun aku tidak kenapa-napa, tetap saja batinku terguncang. Aku manusia normal, tidak seperti kalian yang terbiasa membunuh orang seperti sedang mengupas kulit kacang. Sampai sini paham?”
“Menjadi wanitanya Jove mana boleh bermental lemah, Cassey. Hanya menghabisi satu orang dan terlibat baku tembak itu masih belum apa-apa bagi Franklin dan anak buahnya. Dan kau sangat beruntung karena nanti kau akan menyaksikan pertunjukan yang jauh lebih menarik dari yang waktu itu kau lihat. Iyakan, Franklin?” tanya Jove sembari memainkan anak rambut Casandra yang bergelantungan tak terikat. Lucu. Mirip seperti anak cacing sutra yang baru menetas.
“Benar sekali, Tuan Jove,” jawab Franklin sambil terus mengemudi. Sudut bibirnya kemudian berkedut membayangkan kesenangan yang akan segera terjadi. “Anda jangan khawatir, Nona Casandra. Pertunjukan malam ini tidak akan membuat anda merasa kecewa. Dan saya berani jamin kalau momentnya pasti akan sangat membekas di hati. Tunggu saja!”
__ADS_1
“Kalian berdua benar-benar sudah tidak waras. Sinting kalian semua!”
Muak, dengan kasar Casandra melepaskan diri dari kuasanya Jove. Dia lalu duduk membelakangi Jove yang terlihat tidak sedang dengan tindakannya. Masa bodo, Casandra tidak peduli. Apa yang dia dengar barusan menurutnya sangatlah menjijikkan. Dan Casandra berani jamin kalau pertunjukkan seru yang di maksud oleh kedua bajingan ini merupakan tata cara melenyapkan orang lain dari muka bumi ini. Ya, dia yakin sekali akan hal tersebut.
“Mau sampai kapan kau menolakku, Casandra? Memang benar kalau aku juga sedikit menginginkan keistimewaanmu untuk kepentingan pribadi. Namun kau salah mengira jika sampai berpikir kalau aku ingin memanfaatkanmu saja. Awalnya memang iya, tapi setelah semakin mengenalmu aku jadi berubah pikiran. Hal yang pernah terjadi di antara kita aku akan mengambilnya sebagai tanggung jawab. Kau tinggal beritahu saja kapan kau siap untuk menikah. Mintalah pernikahan sesuka hatimu, pasti ku kabulkan!” ucap Jove melunak saat Casandra merajuk. Biar saja seperti ini. Semakin cepat Casandra membuka hati untuknya, maka itu akan semakin baik untuk melindunginya. Musuh yang sedang mengincar Casandra terus berdatangan, dan Jove tidak mau dengan ketidakjelasan status mereka membuat Casandra membangun jarak sehingga menyebabkan dia yang kecolongan. Ayolah, Casandra bukan tipe wanita lembut dan patuh. Dia beringas dan sangat suka memberontak. Jove hanya takut saja jaguarnya akan nekad pergi melarikan diri yang mana akan membuatnya tertangkap kemudian harus menyaksikan Cassandra menjalani hidup abadi seperti yang di katakan oleh Tuan Cadenza. Jove tidak mau itu terjadi.
“Bualanmu terdengar cukup manis, Jove. Dan itu membuatku muak!” sahut Casandra bimbang antara ingin percaya atau tidak. Karena jujur perkataan Jove tadi sedikit banyak membuat jantungnya berdebar kuat. Bohonglah ada wanita yang tidak merasa tersanjung mendengar janjinya yang memang sangat manis itu. Benar tidak?
“Muak tidak muak suatu saat kita pasti akan tetap menikah juga, Cassey sayang. Jadi lebih baik sekarang kau mulailah untuk membuka hatimu padaku,” ucap Jove sambil menggit bibir bawahnya saat rambut belakang Casandra sedikit tersibak dan memperlihatkan kulit lehernya yang putih bersih. Seketika juniornya bangun dan meronta hebat. Sialan.
“Tergantung bagaimana caramu membuatku mau membuka hati.”
“Baiklah kalau begitu aku akan langsung melakukannya sekarang juga!”
Sreetttt
Franklin dengan cepat menekan tombol untuk menurunkan sekat pembatas antara kursi depan dan kursi belakang saat menyadari apa yang ingin dilakukan oleh bosnya. Dan reflek Franklin memposisikan diri sebagai enderita tunarungu saat mendengar suara teriakan dan juga tawa dari arah belakang.
__ADS_1
“Sungguh malam yang spesial. Semoga nanti anda tidak pingsan menyaksikan kejutan yang telah di siapkan oleh Tuan Jove, Nona,” gumam Franklin seraya menyunggingkan senyum evil yang cukup culas.
***