The Devil JOVE

The Devil JOVE
91. Persyaratan Aneh


__ADS_3

Pamela tengah asik mengobrak-abrik perut seorang pria saat penjaga datang melapor kepadanya. Dia yang merasa kesal karena kesenangannya terganggu langsung menghunuskan pisau berlumuran darah pada penjaga tersebut seraya menatapnya dongkol.


“Kau sudah bosan hidup ya? Ingin menggantikan posisi pria ini? Iya?” gertak Pamela.


“Maaf, Nona Pamela. Tapi di luar ada Nyonya Rosalinda dan Tuan Adamar. Mereka meminta saya untuk segera memanggilkan anda karena ada hal penting yang ingin mereka sampaikan kepada anda!” sahut si penjaga tanpa merasa takut sedikitpun. Berada di labolatorium Grisi yang setiap harinya selalu di penuhi dengan kejadian-kejadian menegangkan membuatnya terbiasa ketika gadis psikopat ini melayangkan gertakan. Selagi tak membuat masalah, maka tidak ada bahaya yang perlu di khawatirkan. Begitu pikirnya.


“Paman Adam dan Bibi Rose datang kemari?” Kening Pamela mengerut. Ada apakah gerangan sehingga pasangan suami istri itu sampai repot-repot datang menyambangi tempat ini? Ah, Pamela jadi penasaran. Karena jika tidak ada sesuatu yang penting, mustahil mereka muncul. Dan sepertinya kedatangan mereka berhubungan dengan hilangnya para penyusup yang mencintai keluarga Lin.


Tak mau membuat mereka menunggu, Pamela bergegas membersihkan tangan dan tubuh dengan cairan steril kemudian mengganti baju dengan yang jauh lebih layak. Kenapa layak? Karena pakaian yang dia kenakan tadi sudah serupa dengan darah. Merah dan amis. Jadi Pamela perlu menjaga penampilannya agar tidak mendapat teguran dan paman dan bibinya yang keren itu.


Hmmm, apa mungkin kedatangan mereka karena takut aku mengincar Casandra? Hehe, lucu sekali. Bahkan aku masih belum melakukan apa-apa, tapi Paman Adam dan Bibi Rose sudah lebih dulu menyadari niatanku. Sulit. Benar-benar manusia berdarah mafia. Tidak anak tidak orangtua, selalu saja peka terhadap celah kesempatan yang bahkan hanya sebesar lubang kuman. Haihhh.


Setelah penampilannya sedikit jauh lebih baik, segera Pamela melangkah keluar dari dalam ruangan. Namun sebelum itu dia telah meminta penjaga memanggilkan dokter bedah untuk melanjutkan pekerjaannya. Dan baru setelahnya dia bisa pergi dengan tenang.


Di satu ruangan yang berisi tabung berukuran sedang, terlihat Rose dan Adam yang tengah memandangi salah satunya dengan pandangan begitu datar. Ekpresi di wajah mereka sulit untuk di artikan. Kadang terlihat kagum, kadang juga terlihat heran. Bagaimana tidak heran. Tabung yang saat ini sedang mereka perhatikan berisi embrio yang sedang dalam pengembangan agar tetap hidup meski tidak berada di dalam rahim. Dan sudah pasti gadis psikopat itu mendapatkan embrio ini dengan cara membelah perut wanita yang sedang hamil muda. Gila, bukan? Itulah seorang Pamela Thampson, psikopat sinting yang memiliki wajah cantik dan juga manis.


“Ekhmmm-ekhmmm. Halo Paman Adam dan Bibi Rose. Apa kabar?” Pamela menyapa setelah berdehem kuat. Dia lalu berjalan menghampiri keduanya. “Terpesonakah dengan hasil temuanku? Cantik ya?”


Adam menoleh, tapi Rose hanya diam tak bergeming.


“Sepertinya kau sedang sibuk, Pamela. Apa kami mengganggu?” tanya Adam seraya memperhatikan penampilan keponakannya yang terlihat rapi, tapi penuh dengan kekejaman. Walau gadis ini sedang tidak mengenakan pakaian dinasnya, Adam tahu dengan jelas kalau gadis ini baru saja bersenang-senang dengan nyawa manusia. Terbukti karena di lehernya masih tersisa bekas cipratan darah, juga dengan kuku-kukunya yang terselip daging segar. Mengerikan. Usianya baru dua puluh tahun, tapi sudah sesadis ini dalam melenyapkan nyawa orang lain. Untung Pamela adalah keponakannya, jadi Adam bisa merasa lega karena Jove tidak harus berhadapan dengan musuh yang setengah gila seperti gadis ini.

__ADS_1


“Ummmm, sejujurnya kalian memang mengganggu kesenanganku. Akan tetapi karena Paman dan Bibi tidak selalu datang ke tempat ini, jadi ya sudah aku mengalah saja. Tidak apa-apa. Santai,” jawab Pamela sambil memperhatikan sang bibi yang hanya diam saja. Sedetik kemudian ekpresi di wajahnya berubah menjadi sangat dingin. “Apa Bibi sedang mengkhawatirkan sesuatu tentang aku?”


“Ya.” Rose menjawab singkat. Tangannya bergerak mengelus tabung berisi embrio bayi yang baru setengah jadi. “Aku sangat paham naluri orang-orang psikopat sepertimu, Pamela. Meskipun di hadapan Paman, Bibi, dan juga Jove kau terus menyunggingkan senyum, tapi Bibi tahu dengan jelas kalau diam-diam kau juga menginginkan darah yang ada di dalam tubuh Casandra. Apa Bibi benar?”


Hening. Pamela tak langsung menjawab. Ternyata dugaannya memang benar kalau kedua orang ini datang adalah untuk memperingatkannya tentang Casandra. Tak mau di anggap munafik, tanpa pikir panjang Pamela mengakui hal tersebut. Toh memang benar kan kalau dia sempat memiliki niat untuk ikut berburu wanita pemilik darah langka itu?


“Yang Bibi katakan sangat benar kalau aku sempat tertarik untuk ikut mengawasi Casandra. Jujur ku akui kalau wanita itu terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Terlebih lagi setelah Kak Jove memberitahuku jika darah yang mengalir di tubuhnya terkuras sampai habis, maka wanita itu akan menemukan keabadian di hidupnya. Sekarang coba Bibi bayangkan. Manusia mana yang tidak akan tertarik jika menemukan barang baru yang begitu menggiurkan? Begitu juga dengan aku. Aku sangat suka dengan hal-hal yang seperti ini!” ucap Pamela dengan lantang. Dia tahu siapa dua orang yang sedang berdiri di hadapannya. Akan tetapi status mereka sama sekali tak membuat Pamela merasa gentar. Selain Tuhan, di dunia ini hanya seorang Jesslyn Ocana-lah yang mampu membuat Pamela Thampson menangis tersedu-sedu saat di pasung di dalam kamar karena terlalu nakal. Jadi sekuat apapun pengaruh Adamar Clarence dan juga Rosalinda Osmond, itu tidak akan pernah menyurutkan keinginannya. Terkecuali ….


“Jadi?”


“Berikan aku dollar dan juga seorang pacar yang bersedia menemaniku tinggal di lab ini. Jika Bibi bisa memberikannya, maka aku akan mulai meyakinkan diri untuk tidak terlalu memperhatikan Casandra lagi. Bagaimana?” ucap Pamela melakukan tawar menawar dengan sang bibi.


Sebelah alis Rose terangkat ke atas begitu mendengar persyaratan yang diminta oleh Pamela. Dia kemudian menoleh, menatap seksama ke wajah gadis yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas. “Semudah itu?”


“Kenapa tidak kau pacari saja mutan ataupun dokter yang sudah ada di sini, Pamela?” tanya Adam terheran-heran akan permintaan gadis ini.


“Paman, mereka itu tidak ada yang menarik. Mereka membosankan karena saat aku membelah perut manusia, sikap mereka terkesan acuh dan santai. Karena itulah aku menginginkan kekasih yang bisa menjadi pemandu sorak ketika tangan indahku ini sedang menari-nari di atas tubuh manusia lain. Begitu,” jawab Pamela sambil menatap penuh cinta pada kedua tangannya yang pandai mengukir kekayaan. Dia kemudian menyeringai. “Aku suka Franklin, tapi dia tak suka aku. Dan sekarang aku membutuhkan seseorang yang bisa mengobati rasa patah hatiku. Jika tidak maka kalian harus bersiaga mengamankan Casandra dari kejaran orang-orangku. Hehehe!”


Rose menghela nafas. Inilah mengapa dia memutuskan untuk menghubungi Gerald. Mengurus Pamela bukanlah pekerjaan yang mudah karena gadis ini tidak takut pada apapun. Sebenarnya Rose bukan tidak bisa mengurusnya, hanya saja ikatan darah di antara mereka membuat Rose merasa sayang jika harus berperang dengan gadis ini. Terlebih lagi Pamela bagaikan harta karun yang harganya sangat tidak ternilai. Jadilah Rose memutuskan untuk menyanggupi permintaannya yang agak nyeleneh itu.


“Dollarnya akan Bibi kirim sepulang dari sini nanti. Akan tetapi untuk kekasih, masih harus mencari dulu. Atau jika mau ….

__ADS_1


“Bibi,” ….


Pamela menyela perkataan sang bibi. Dia berjalan mendekat lalu membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu Pamela tersenyum malu.


“Kau yakin mengingin dia sebagai kekasihmu?” tanya Rose sambil tersenyum kecil. Agak lain selera gadis satu ini.


“Katakan saja pada Kak Jove agar jangan menghabisinya. Cukup bersenang-senang sedikit lalu kirim dia kemari,” jawab Pamela penuh antusias.


“Darimana kau tahu kalau Jove akan bermasalah dengannya?” Gantian Adam yang bertanya.


“Oh ayolah, Paman. Aku sempat menginginkan Casandra, itu artinya semua orang yang berhubungan dengannya tidak akan bisa lepas dari pengawasanku. Termasuk siapa-siapa saja yang sedang mengejarnya,” sahut Pamela.


“Kalau benar begitu kenapa kau tidak langsung habisi saja mereka. Hitung-hitung membantu sepupumu.”


“Paman, aku juga punya aturan sendiri di hidupku. Selama mereka belum melakukan tindakan yang berlebihan, maka Kak Jove harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Dia sudah mengambil tanggung jawab untuk melindungi Casandra, jadi aku hanya akan memantaunya diam-diam. Lagipula aku itu kan lebih suka berada di lab untuk menciptakan uang. Kalian tahu itu, kan?”


Adam menghela nafas. Benar-benar melelahkan bicara dengan gadis satu ini. Padahal saat datang kemari Adam sempat berpikir kalau dia dan Rose akan mengalami kesulitan, tapi yang terjadi? Mereka malah jengah sendiri menghadapi Pamela. Benar-benar duplikat seorang Gerald.


“Bagaimana dengan obat penawar itu, Pamela?” tanya Rose setelah satu masalah terselesaikan dengan baik. Cukup singkat, dan syarat yang di ajukan cukup membuat kepala berdenyut. Bukan karena merasa berat, tapi lebih ke terheran-heran saja.


Tak langsung menjawab, Pamela memilih untuk mengajak Paman dan Bibinya pergi ke satu ruangan khusus tempat dia mengembangkan obat untuk sepupunya. Di sana dia menjelaskan tentang beberapa kelebihannya, termasuk memperlihatkan penemuan aneh tentang keistimewaan darah Casandra.

__ADS_1


Bagaimana bisa ada seorang manusia memiliki aliran darah yang begitu mengerikan? Astaga Casandra, siapa kau sebenarnya, Nak?


***


__ADS_2