The Devil JOVE

The Devil JOVE
88. Mulai Tergerak


__ADS_3

Eugghhhhhh


Terdengar lenguhan pelan dari atas ranjang tempat Casandra terbaring. Dengan kondisi yang sangat lemah, dia berusaha untuk membuka mata. Namun sulit. Kepalanya serasa di tindih batu besar yang membuatnya lagi-lagi melenguh saat rasa nyeri datang menghampiri.


Ceklek


Pintu kamar terbuka perlahan-lahan bertepatan dengan Casandra yang mulai mendapatkan kesadarannya. Wanita itu kemudian bangun dan menyenderkan tubuh ke kepala ranjang.


"S-siapa itu?" cicitnya pelan.


Karena tak mau mengganggu, Jove memutuskan untuk pergi ke ruang kerja saja. Dia lalu meminta Franklin untuk memasang cctv agar bisa memantau keadaan Casandra dari jarak jauh. Dan begitu tahu kalau jaguarnya sudah sadar, secepat kilat Jove langsung datang ke kamar ini guna memeriksa keadaannya.


“K-kau … mau apalagi kau? Apa kau masih belum puas setelah membuatku jadi seperti ini?” tanya Casandra dengan suara kecil saat dia melihat Jove hanya berdiri diam menatapnya dari sisi ranjang. Tubuhnya yang masih lemas membuatnya tak kuat bergerak banyak, jadi hanya bisa sedikit beringsut menjauh. Ya, Casandra takut. Alarm tanda bahaya langsung menyala begitu dia teringat akan sikap kasar Jove pagi tadi.


“Maaf,” ….


Hening.


“Aku tak sengaja melakukannya. Sungguh,” lanjut Jove dengan penuh sadar melayangkan kata maaf. Hal yang sangat jarang sekali dia lakukan, bahkan pada ibunya sekalipun.


Casandra seketika membeku mendengar Jove yang tiba-tiba meminta maaf. Jujur, ini terlalu mengejutkan. Seorang bajingan sepertinya mendadak jadi bersikap baik setelah membuatnya pingsan dan kesakitan. Apa benar pria yang baru saja bicara adalah Jove? Casandra tidak mungkin salah mengenali orang ‘kan?

__ADS_1


“Cassey, ada alasan kuat mengapa aku bisa hilang kendali padamu pagi tadi. Dan itu sama sekali tidak di dasari oleh niat dari dalam hati. Semuanya terjadi begitu saja. Sungguh!” ucap Jove mencoba menjelaskan akan ketidaksengajaan yang dia lakukan. Dia bicara sambil mengepalkan tangan, tahu kalau jaguarnya menyimpan rasa trauma.


“Aku tidak peduli. Kau binatang, Jove. Kau memperlakukan aku seperti barang yang bisa kau pakai sesuka hati. Harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka kau menyentuhku tanpa izin. Itu penghinaan untuk harga diriku, Jove. Kau tahu itu ‘kan?” amuk Casandra dengan nafas terengah-engah. Dia kemudian menyeka air mata yang tiba-tiba menetes keluar. Sakit sekali saat pria ini meminta maaf setelah apa yang terjadi. “Ayah dan Ibuku menitipkanku padamu bukan untuk kau sakiti, tapi untuk di jaga. Tapi apa yang telah kau perbuat? Kau bahkan hampir membuatku meregang nyawa. Apa salahku, hah? Kesalahan apa yang telah kuperbuat sehingga aku harus pantas menerima semua kehinaan ini. Apa, Jove? Apa?!”


Melihat Casandra yang histeris membuat Jove menjadi tidak tahan. Segera dia memeluk Casandra kemudian membawanya untuk kembali berbaring. Jove diam saja saat tangan wanita ini terus memukul dada dan menjambak rambut. Biarlah. Dengan begini siapa tahu kekecewaan Casandra bisa sedikit berkurang. Karena bagaimanapun dialah yang bersalah telah membuatnya jadi seperti ini.


“Hiksss, kau jahat. Aku sangat membencimu, Jove. Benar-benar sangat membencimu,” ucap Casandra setelah kelelahan mengamuk. Dia lalu melesakkan wajah ke dada bajingan yang hanya diam tak membalas perbuatannya. “Kenapa harus aku yang bernasib sial seperti ini. Malang sekali,” ….


“Aku adalah seseorang yang sejak kecil telah menjalani takdir menyedihkan karena harus menanggung satu penyakit langka yang hanya kau saja yang bisa mengobati. Sebelum mengenalmu, hampir setiap malam aku selalu bergonta-ganti meniduri wanita. Aku menyukai suara d*sahan yang keluar dari mulut kalian, juga sangat suka dengan kelegaan yang kudapatkan setelah melakukan pelepasan. Tapi Casandra, ada kalanya aku merasa sangat menderita, bahkan seperti akan mati setiap kali rasa sakit itu datang. Tubuhku akan berubah kaku seperti kayu, dan itu rasanya seperti sedang di kuliti hidup-hidup. Dan pagi tadi tiba-tiba rasa sakit itu muncul lagi. Aku tidak bisa mengontrol rasa sakitnya, dan yang bisa aku pikirkan adalah bagaimana cara mendapat pelepasan. Kau obatku, Casandra. Itulah kenapa aku memaksa untuk melakukannya!”


Akhirnya Jove mengakui kelemahan terbesarnya di hadapan Casandra. Bukan untuk mencari simpatik, tapi memang seperti inilah fakta yang sebenarnya. Sambil terus menciumi puncak kepala jaguar ini, Jove kembali melanjutkan cerita tentang alasan mengapa dia sangat membutuhkannya.


“Wanita adalah kelemahan terberat di hidupku, dan kau adalah sebagai titik porosnya. Darah yang mengalir di tubuhmu telah berhasil memberiku harapan yang sangat besar. Ini bukan dalam konteks aku yang hanya ingin memanfaatkanmu saja. Jujur, aku juga tidak mengerti mengapa kita harus di pertemukan lewat cara seperti ini. Aku membutuhkan setetes darahmu agar bisa menghilangkan racun yang telah mengendap sejak aku baru dilahirkan ke dunia ini, dan kau yang membutuhkan kekuasaanku untuk melindungi diri. Tuhan sepertinya telah menggariskan jalan pertemuan yang rumit sehingga kau harus melewati kesakitan seperti ini. Tapi percayalah, hanya di hadapanmu aku terucap kata maaf. Kau sangat berharga bagiku, Casandra!”


“Cassey, aku tidak menuntutmu agar percaya padaku. Selain keluargaku, hanya kau satu-satunya orang luar yang mengetahui tentang titik kelemahanku. Dan reaksi yang kau lihat tadi pagi itu masih jauh lebih baik dari rasa sakit yang dulu biasa aku rasakan!” ucap Jove saat menyadari ketidakpercayaan wanita ini akan pengakuannya. Dia kemudian mencium puncak kepalanya, meresapi betapa ia sangat ingin wanita ini segera layak berdiri di sisinya sebagai Nyonya Lorenzo. “Aku tahu kau masih sangat membenci perbuatanku, aku minta maaf. Tapi jujur, tidak seujung kukupun aku memiliki niat untuk membuatmu jadi seperti ini. Semuanya murni berasal dari ketidakberdayaanku sebagai seorang pesakitan!”


“Apa tujuanmu mengatakan semua ini padaku, Jove? Apa kau berniat mencari simpatik dari wanita yang telah kau sakiti?” tanya Casandra merasa agak aneh saat Jove terang-terangan menyebut dirinya sebagai seorang pria pesakitan. Sedikit banyak dirinya mulai mempercayai kalau cerita itu bukanlah suatu kebohongan.


“Bukan simpatik yang ku cari, tapi dirimu. Aku menginginkanmu, sebagai ratuku, pendampingku, dan juga wanita yang akan melahirkan para pewarisku kelak. Bukan sebagai orang yang bisa aku manfaatkan ataupun ku jadikan sebagai pemuas n*fsu. Sekali lagi aku tegaskan kalau kau itu sangat berharga untukku. Kau paham itu?’ jawab Jove seraya memejamkan mata. Dia kemudian tersenyum, lega karena jaguarnya sudah sedikit melunak. Jove pikir tadi dia akan kembali di amuk olehnya, ternyata tidak.


“Dengan apa aku harus mempercayai perkataanmu?”

__ADS_1


Casandra kaget setengah mati saat Jove tiba-tiba membalik tubuhnya hingga terbaring telentang. Dia lalu menelan ludah saat bajingan ini menatapnya lekat.


“A-apa yang ingin kau lakukan padaku, Jove? A-aku masih sakit,” cicit Casandra ketakutan.


“Menciummu,” sahut Jove singkat.


Cup


Sekali. Dia mengecup kilat bibir Casandra yang terlihat kering dan pucat. Setelah itu Jove kembali menciumnya, dan kali ini di bagian mata. Dua kali. Lalu setelahnya Jove menyatukan kening mereka.


“Aku memang bajingan, tapi aku tidak terbiasa mencari simpatik dari orang lain. Kalau aku mau, maka aku akan mendapatkan itu dengan kemampuanku sendiri. Jadi Casandra, segeralah menjadi kuat agar aku semakin bangga memilikimu. Bisakah?” bisik Jove dengan lembut.


“A-aku tidak tahu,”


“Kau harus tahu, dan harus mau melakukannya. Ini perintah. Dan aku benci pada orang yang suka membantah!”


“Kau mengancamku?” Casandra langsung meradang.


“Tidurlah. Kau butuh banyak istirahat jika ingin kembali berdebat denganku.”


Tanpa berani membantah, Casandra dengan patuh memejamkan mata saat Jove membawanya ke dalam pelukan. Jauh di dalam lubuk hati, dia mulai berpikir tentang kebenaran dari pengakuan bajingan ini barusan. Hingga pemikiran tersebut tanpa sengaja membawa Casandra melingkarkan tangan memeluk pinggang pria yang kini sedang tersenyum samar. Mungkin … mungkin Jove tahu kalau hatinya mulai tergerak.

__ADS_1


***


__ADS_2