
Franklin membukakan pintu mobil untuk bosnya begitu mereka sampai di kediaman rumah utama. Ya, mereka langsung pergi ke sini setelah bosnya selesai berbicara empat mata dengan Tuan Cadenza.
“Malam ini pastikan Casandra bisa melihat pertunjukan dengan benar, Frank. Aku mau dia tahu kalau di dunia kita tidak ada tempat untuk seorang pengkhianat!” ucap Jove sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah untuk menemui orangtuanya.
“Baik, Tuan. Anda jangan khawatir tentang masalah ini. Saya pastikan Nona Casandra akan mengingat kejadian malam nanti hingga di akhir nafasnya,” sahut Franklin seraya menganggukkan kepala.
Jove membuang puntung rokok dari tangannya. Sembari melepas kaca mata hitamnya, Jove berjalan melewati para pelayan dan juga penjaga yang datang menyambut. Dan begitu dia sampai di ruang tamu, kedatangan Jove disambut oleh satu pemandangan hangat di mana sang ibu tengah duduk anggun sambil tersenyum kecil ke arahnya.
“Selamat datang, Jove. Apa kabar?” sapa Rose penuh kerinduan. Dia lalu mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Jove saat putranya itu berjongkok di hadapannya. “Wajahmu terlihat tidak nyaman. Ada apa, hem? Apa hal yang membuat putra Ibu terlihat tidak senang?”
“Aku tidak tahu harus menganggap kabarku baik atau buruk, Ibu. Dan ini tentang Casandra,” jawab Jove jujur. Dia lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang ibu, seolah menyiratkan kalau hatinya sedang gundah gulana. “Casandra tidak sedang baik-baik saja sekarang, Bu. Dan kemungkinan besar ketidakbaikan ini akan terus berlanjut hingga di penghujung nafasnya!”
Rose langsung mengerutkan keningnya bingung mendengar perkataan Jove. Khawatir ada hal buruk yang menimpa wanita penyelamat putranya, Rose meminta Jove agar menjelaskan dengan detail masalah apa yang tengah membelit hidup calon menantunya itu. Sembari bicara, tak lupa Rose membelai rambut Jove penuh sayang. Kemanjaan yang tak pernah Jove tunjukkan pada orang lain selain pada dirinya seorang.
“Gerangan apa yang terjadi pada calon menantu Ibu sehingga membuatmu menjadi begitu gelisah, Jove? Ceritalah. Jika mampu, Ibu pasti akan membantumu,”
“Ibu, apa Ibu percaya dengan kutukan yang terhubung pada keabadian?” tanya Jove. Dia kemudian mendongak. “Aku barusaja berbicara dengan Tuan Cadenza. Dan tujuan awalku menemuinya adalah untuk mendengar alasan mengapa sampai detik ini Casandra masih belum mengetahui kalau darah yang mengalir di tubuhnya sangatlah istimewa. Namun yang aku dengar dari Tuan Cadenza benar-benar membuatku merasa sangat tidak tenang. Karena selain darah langka yang dimiliki oleh Casandra, keluarga Lin masih menyimpan rahasia lain di mana rahasia itu bisa sangat berbahaya jika sampai di ketahui oleh orang lain!”
“Kutukan dan keabadian?” Rose membeo. “Walaupun Ibu tidak bisa memastikan kebenarannya, tapi Ibu percaya kalau kutukan dan keabadian itu memang ada. Bahkan tanpa kita sadari kedua hal itu hidup berdampingan dengan keseharian kita. Tapi Jove, apa hubungannya Casandra dengan kedua hal tersebut? Apa kau bermaksud memberitahu Ibu kalau keluarga Lin merupakan keturunan keluarga vampir?”
“Tidak, Ibu. Bukan itu yang ingin aku beritahukan pada Ibu!”
__ADS_1
“Lalu?”
Sebelum melanjutkan obrolan itu, Jove terlebih dahulu memastikan kalau di sana tidak ada orang lain yang bisa mendengar percakapannya dengan sang ibu. Jujur, Jove jadi merasa tak tenang setelah Tuan Cadenza memberitahu semua rahasia yang tertutup rapat di keluarganya. Dan karena ini berhubungan dengan nyawa Casandra, Jove perlu memastikan kalau tidak ada orang lain selain orangtuanya yang mengetahui kalau habisnya darah di tubuh Casandra bisa membuatnya mengalami hidup abadi.
“Jove, why? Kau kenapa, sayang?” tanya Rose kian penasaran melihat sikap Jove yang lain dari biasanya. Bahkan Rose sampai ikut-ikutan memperhatikan ke sekeliling ruang tamu rumahnya seperti yang sedang dilakukan oleh Jove.
“Bu, yang akan aku katakan akan berdampak sangat berbahaya jika sampai di dengar oleh orang lain. Karenanya aku perlu memastikan hanya ada kita berdua saja di sini!” jawab Jove setengah berbisik.
Tanggap akan keinginan Jove, segera Rose menekan tombol yang tersembunyi di bawah meja ruang tamu. Tak lama setelahnya seluruh ruangan seperti tertutup lapisan kaca transparan yang berbentuk mirip tirai tipis.
“Sekarang kita aman. Tirai ini tidak akan membiarkan siapapun yang berada di luar titik mendengar apa yang kita bicarakan. Mulailah!” ucap Rose dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.
Jove menghela nafas dalam. Gara-gara merasa tak tenang, dia sampai lupa kalau rumah ibunya dijaga dengan alat-alat mutakhir yang hanya ada di rumah ini saja. Sambil menggenggam sebelah tangan ibunya, Jove segera menceritakan pembicaraannya dengan Tuan Cadenza.
“Apakah ada cara untuk menghentikan penderitaan Casandra jika seandainya nanti kita sampai kecolongan?” tanya Rose agak syok mendengar penuturan Jove. Seumur-umur Rose hidup, baru sekali ini dia mendengar sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri semua. Pantas saja putranya terlihat sangat gelisah tadi. Ternyata ini penyebabnya.
“Tuan Cadenza memberitahuku kalau satu-satunya cara yang bisa memusnahkan kutukan itu hanyalah dengan membakar Casandra hidup-hidup. Tapi Ibu, mungkinkah kita sanggup melakukannya? Casandra bukan bagian dari bisnis yang aku geluti, mustahil aku mampu berbuat seperti itu kepadanya,” jawab Jove sambil menggeretakkan gigi.
Pasti ada jalan keluar untuk permasalahan ini. Dulu Mona juga memilih untuk mengakhiri hidupnya setelah dia tahu kalau rantai sekte itu akan terus membelitnya sampai kapanpun. Tapi sekarang kasusnya Casandra sangat jauh berbeda dengan yang di alami oleh Mona. Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Jove?
“Jove, tadi kau bilang hal mengerikan itu baru akan terjadi jika darah di tubuh Casandra di ambil habis hingga tak bersisa. Jika memang benar begitu harusnya kita bisa mensiasati masalah ini agar Casandra tidak perlu menjalani keabadian itu. Benar tidak?” tanya Rose yang tak sengaja menemukan celah dari masalah Casandra.
__ADS_1
“Caranya, Bu?”
“Kita jangan lagi mengambil darah dari tubuh Casandra. Ibu rasa cara ini cukup efektif untuk mencegah agar Casandra tidak harus berakhir dengan kematian tragis. Coba kau pikirkan benar-benar perkataan Ibu. Kau memang membutuhkan campuran darah milik Casandra agar Pamela bisa membuatkan obat penawar untuk racun yang ada di tubuhmu. Dan seharusnya kita tidak perlu mengambil habis darah di dalam tubuh Casandra jika hanya untuk itu. Cukup sedikit saja sesuai dengan kebutuhan yang kau perlukan. Bagaimana?”
Jove diam merenungkan cara yang di pikirkan oleh sang ibu. Benar juga. Kenapa sejak tadi dia tidak terpikirkan ke arah sana ya? Apa karena dia terlalu syok memikirkan penderitaan Casandra sampai-sampai Jove kehilangan fokusnya? Entahlah, Jove tidak tahu. Dia hanya bisa berharap kalau perkataan sang ibu benar-benar bisa menyelamatkan Casandra dari kematian tragis itu.
“Bu, aku setuju dengan pemikiran Ibu. Kita bisa mencegah kutukan itu dengan cara tidak mengambil sesuka hati darah milik Casandra. Dengan begitu dia tidak perlu melewati waktu mengerikan seperti yang di ceritakan oleh Tuan Cadenza tadi. Iya ‘kan?” ucap Jove sambil tersenyum samar. “Kau benar-benar sangat luar biasa, Ibu. Hanya dalam waktu singkat Ibu bisa menemukan jalan keluar untuk masalah yang sempat mengganggu pikiranku. Terima kasih banyak, Ibu. Aku mencintaimu,”
“Hmmmm, hati-hati saat menyatakan cinta pada Ibu. Kalau Ayahmu sampai mendengarnya, dia pasti akan langsung mengamuk. Kau tahu sendiri bukan kalau Ayahmu itu sangat pencemburu?” olok Rose lega melihat putranya sudah tidak sefrustasi tadi.
“Aku sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu dari Ayah. Jadi aku sudah tidak kaget lagi,”
“Dasar kau ini,”
Setelah berkata seperti itu Rose dengan penuh sayang mengusap wajah tampan putranya. Meskipun Jove sudah menjadi seseorang dengan kekuatan yang di takuti banyak orang, tetap saja di mata Rose Jove adalah putra kecilnya yang sangat manis.
“Ingat pesan Ibu baik-baik ya, Jove. Walaupun sekarang statusmu sangat tinggi, jangan ragu untuk datang meminta bantuan pada Ibu. Kau adalah putra Ibu, jadi jangan pernah merasa sungkan ataupun malu untuk membagi masalahmu. Pulanglah, lalu katakan kalau kau ingin Ibu membantumu. Mengerti?”
“Baik, Ibu. Aku tahu hanya Ibulah yang paling mengerti apa yang aku butuhkan dan aku inginkan. Terima kasih,”
Mungkin jika situasi ini dilihat oleh para musuh Jove, mereka semua pasti akan langsung menertawakanya. Namun ketahuilah kawan, sejatinya seorang anak akan tetap menjadi anak di hadapan orangtuanya. Terlebih lagi pada wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya sampai di detik ini. Jika sebagian orang akan menganggap ini sebagai satu kelemahan, hal berbeda justru dirasakan oleh seorang Jove Alexander Lorenzo. Di bawah kasih sayang ibunya yang tiada batas, Jove mampu menggenggam separuh isi dunia ini. Itulah sebabnya mengapa Jove hanya bisa tunduk pada perintah ibunya seorang. Karena kebahagiaan sang ibu adalah separuh dari nyawanya.
__ADS_1
***