The Devil JOVE

The Devil JOVE
98. Rasa Hangat


__ADS_3

Kiara mengerjapkan mata saat sinar matahari mengenai wajahnya. Karena kelelahan, Kiara begitu lelap dalam tidurnya hingga tak sadar kalau hari sudah siang. Sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam, dia menatap seksama ke arah seorang wanita yang berdiri membelakanginya.


Siapa wanita ini? Bentuk tubuhnya berbeda dengan bentuk tubuh Nona Reina. Apa jangan-jangan dia adalah penyusup? Brengsek! Aku harus segera menangkapnya.


Sesampainya di pulau, Rose langsung pergi menuju kamar Kiara. Dia berniat membangunkan gadis ini, sekalian memperkenalkan diri sebagai calon pelatih baru. Dan setelah membuka horden, Rose di buat tersenyum saat dia menyadari pergerakan Kiara. Sepertinya insting gadis ini sudah cukup terasah berkat pelatihan yang dilakukan oleh Reina cs. Buktinya Kiara langsung bersiaga begitu sadar kalau orang yang berada di dalam kamarnya merupakan orang asing.


"Jangan takut. Aku bukan seseorang yang pantas untuk kau curigai!" ucap Rose tepat ketika tangan Kiara hendak menyentuhnya. Dia kemudian berbalik, menatap lekat wajah pucat gadis ini. "Halo, Kiara. Apa kabar?"


Kiara tercengang. Tangannya yang tergantung di udara langsung terjatuh lemah begitu menyadari siapa wanita yang tengah berdiri di hadapannya. Ini, ini pasti ibunya Jove. Tatapan mereka sangat persis, tajam dan penuh intimidasi. Menyadari keadaan tubuhnya yang hanya berbalut selimut, Kiara memutuskan untuk kembali duduk sembari berdehem pelan. Dia berusaha untuk bersikap sopan.


"Jangan takut. Bersikaplah seolah kita adalah teman dekat. Oke?"


"Maaf, Nyonya. Saya tidak mengenali kalau anda adalah ibunya Jove," ucap Kiara dengan sopan meminta maaf. Dia tahu wanita ini bukan orang yang bisa di singgung, jadi sebisa mungkin Kiara mencoba menjaga sikap.


"Bicara yang santai saja, Kiara. Dan tolong jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya. Panggil saja Bibi Rose, dan untuk suamiku kau boleh memanggilnya dengan sebutan Paman Adam. Dia ada di luar sekarang. Sedang berbincang dengan Resan dan anggota lainnya," sahut Rose dengan lapang hati meminta agar Kiara tak bersikap seperti orang asing.


"Bibi?"


Rose mengangguk. Dia berjalan mendekat ke arah ranjang kemudian duduk di sisi Kiara. Sambil memperhatikan keadaannya, tangan Rose bergerak mengusap luka yang masih sedikit basah di bagian lengan. Sungguh sangat di sayangkan wanita secantik Kiara harus terpilih sebagai penjaga calon menantunya. Namun, Rose juga tidak mungkin mendebatkan masalah ini dengan putranya. Dia yakin betul kalau Jove pasti memiliki alasan kuat kenapa harus Kiara yang dia tunjuk untuk melindungi Casandra.


"Apa kau menyesal menjalani keadaan yang sekarang?" Rose bertanya bukan sebagai seorang pelatih, tapi sebagai seorang ibu yang tengah dilanda iba akan nasib putrinya. "Atas nama Jove Bibi ingin meminta maaf padamu. Entah alasan apa yang mendasari Jove sehingga harus membuatmu berada dalam situasi ini. Bibi harap kau tidak menyimpan dendam padanya, Kiara!"


"Bibi, kalau di tanya apakah aku merasa menyesal menjalani kehidupan seperti ini, sudah pasti jawabannya adalah iya. Malam itu Jove telah berjanji membantuku lepas dari jerat kehinaan yang sudah bertahun-tahun membelenggu kebebasanku. Akan tetapi belum juga aku berkumpul dengan keluargaku, tiba-tiba saja Jove menculik dan membawaku ke tempat ini. Jika Bibi yang berada di posisiku sekarang, masih bisakah Bibi merasa tidak menyesal? Aku bahkan sempat terpikir untuk bunuh diri. Namun, niat itu aku urungkan saat Nona Reina menunjukkan video tentang keluargaku yang sedang tertawa bahagia dengan seseorang yang entah bagaimana caranya bisa serupa denganku. Walaupun pahit dan juga sangat sakit, aku bertekad untuk keluar dari tempat ini hidup-hidup. Aku begitu ingin berkumpul dengan keluargaku, Bibi. Aku rindu mereka," jawab Kiara sambil tersenyum getir. Dia kemudian menyeka cairan bening yang mengalir keluar dari sudut matanya. "Bibi Rose, bisakah kau memberiku sedikit keringanan sebelum kita melanjutkan pelatihan? Tolong izinkan aku pulang menemui keluargaku sebentar saja. Aku janji aku tidak akan kabur ataupun melakukan tindakan yang salah. Bisakah?"


"Tentu saja kau sangat bisa melakukan itu semua, Nak. Kau dipilih bukan untuk dipisahkan dari keluargamu, tapi hanya sementara saja menjauh dari mereka. Tenang saja, kami bukan orang yang tidak punya hati. Nanti setelah keadaanmu pulih, Paman dan Bibi yang akan mengantarkanmu pulang ke rumah. Jangan khawatir!"

__ADS_1


"Benarkah?"


Mata Kiara langsung berbinar cerah begitu ibunya Jove menganggukkan kepala. Dia sama sekali tak menyangka kalau wanita ini akan langsung mengiyakan keinginannya. Padahal tadi Kiara sempat ketar-ketir menunggu jawabannya. Tapi syukurlah semua tidak sesulit yang dia bayangkan.


"Karena sekarang sudah siang, bagaimana kalau Bibi membantu menyeka tubuhmu di kamar mandi. Reina bilang kemarin kau menjalani pelatihan yang cukup berat. Jadi biarkan Bibi sedikit memanjakanmu. Boleh?"


"Apa tidak apa-apa Bibi melakukannya? Tubuhku kotor. Dan dulunya aku adalah seorang ....


"Syuuuttttt," ....


Rose langsung memotong perkataan Kiara yang hendak menyebutkan kisah kelamnya. Dia tak suka mendengar cerita tentang kisah wanita yang harus rela menjual tubuh di bawah satu tekanan. Itu membuat hatinya seperti tersayat karena mengingatkannya pada satu kejadian pahit di masa lalu. Mona, nama gadis polos itu masih tertanam kuat dalam ingatan. Bahkan mungkin sampai matipun Rose tidak akan pernah bisa melupakan pengorbanan yang telah dilakukan oleh sahabatnya itu.


"Yang lalu biarkan saja terkubur seiring berjalannya waktu. Dan Bibi minta kau jangan pernah menganggap kalau dirimu kotor. Bukankah kau melakukan semua itu bukan atas dasar keinginan hati? Benar, kan?" tanya Rose dengan nada suara yang sedikit gemetar. Dia paling sensitif dengan hal-hal yang seperti ini. Sungguh.


"Manager yang telah menjualku untuk melayani pria hidung belang, Bibi. Aku di jebak menggunakan sebuah video di mana sebelumnya aku sudah di cekoki obat perangsang. Karena saat itu profesiku adalah seorang model, aku hanya bisa patuh saja setelah di ancam kalau isi video itu akan di sebar ke media. Aku tidak berdaya, Bibi Rose. Harga diriku hancur di tangan orang yang paling ku percayai kala itu. Aku terpuruk,tapi tak bisa melarikan diri!"


"Hiksss, kenapa, Bi. Kenapa dunia ini sangat kejam pada orang-orang yang ingin menjalani hidup sebagai manusia baik. Aku datang ke kota dengan tujuan ingin mengangkat derajat keluargaku, tapi apa yang ku dapat? Aku malah melemparkan kotoran ke wajah mereka. Bahkan menghidupi mereka dengan uang hasil menjual tubuhku. Adakah yang bisa mengerti penderitaanku? Hikssss," ucap Kiara di sela-sela isak tangisnya. Dia sedih sekali.


"Terkadang Tuhan menakdirkan makhluknya agar menjalani kehidupan yang penuh ketidakadilan di saat hati begitu ingin menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi percayalah. Di balik penderitaan dan juga kehinaan yang kau jalani, pasti ada manis madu yang akan kau reguk nantinya. Ingat, Kiara. Manusia di ciptakan untuk membuat rencana, tapi hanya Tuhan saja yang berhak menjadi penentu. Yakinlah, setelah ini kau pasti akan segera menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kau tidak sendirian, sayang. Ada Jove dan juga Bibi yang akan mendukungmu. Jangan sedih. Oke?" hibur Rose merasa terenyuh mendengar cerita Kiara. "Mulai sekarang kau dilarang untuk menoleh ke belakang. Songsonglah masa depan dengan penuh kebahagiaan, jangan jadikan masa lalu itu sebagai penghambat kehidupan. Jangan lupa, kau masih mempunyai keluarga yang akan selalu merindukanmu. Jadi berusahalah kuat agar selalu bisa menjadi penopang mereka!"


Setelah memberikan sedikit nasehat, Rose membimbing Kiara turun dari ranjang. Dia lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya, membiarkan bekas lukanya terekspos begitu saja. Tanpa merasa jijik sedikitpun, Rose mengajak Kiara masuk ke dalam kamar mandi. Dia lalu menyalakan shower kemudian menyiram tubuh lemah Kiara dengan air dingin. Mengapa air dingin? Agar gadis ini tahu kalau hidup tidak ada yang mudah. Jadi mau sepanas dan sebeku apapun badai yang datang menghampiri, dia harus mampu berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Seperti sekarang. Walau tubuh menggigil kedinginan, Rose tidak akan membiarkan Kiara merengek. Tidak akan pernah.


"Apa kau mempunyai saudara?" tanya Rose sembari menuangkan sabun ke tubuh Kiara. Dengan gerakan yang sangat lembut dia membalurkan busa ke beberapa luka yang masih basah. "Tahan saja. Karena seharusnya rasa perih dari luka ini tidak sebanding dengan penderitaan di masa lalu. Benar?"


Kiara mengangguk. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat saat lukanya di gosok cukup kasar. Harus bertahan, Kiara bertekad.

__ADS_1


"Aku memiliki seorang adik laki-laki, Bibi. Saat ini adikku masih duduk di bangku SMA. Tahun depan baru lulus," jawab Kiara seraya menyunggingkan senyum saat menceritakan tentang adiknya. Dia sedikit lupa dengan rasa perih yang tengah mendera tubuh.


"Mintalah adikmu agar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jangan khawatirkan soal biaya. Sampai adikmu lulus nanti biar Paman dan Bibi yang menanggungnya."


"Terima kasih banyak atas niat baik Bibi. Tapi maaf, Bibi tidak perlu membayarkan biaya pendidikan adikku. Menggunakan uang bayaran hasil menjadi model, aku sudah menyisihkan sedikit tabungan untuk biaya pendidikan kuliahnya. Sekali lagi terima kasih banyak, Bibi Rose. Kau baik sekali!" Kiara menolak dengan sopan bantuan yang di tawarkan oleh ibunya Jove. Bukannya tak tahu diri, tapi dia merasa masih sanggup membiayai kebutuhan adiknya dengan menggunakan uangnya sendiri. Kiara tidak setidak tahu diri itu dengan memanfaatkan kebaikan orang lain.


"Hmmm, jadi niat baik Bibi di tolak ya?" ucap Rose pura-pura merajuk. "Padahal Bibi ingin sekali menyenangkanmu, Kiara. Gara-gara Jove, kau sudah banyak menderita di sini. Dan bahkan setelah keluar dari sini pun kau masih harus melewati pelatihan yang akan di pimpin langsung oleh Bibi. Tidak ada permintaan lainnya kah?"


Seulas senyum manis terbit menghiasi bibir pucat Kiara. Dia merasa seperti sedang berbincang dengan ibunya. Sungguh, ibunya Jove adalah wanita yang sangat luar biasa baik. Meski mereka baru sekali ini bertemu, tapi Kiara sudah bisa merasakan ketulusan sikap dan juga tutur katanya.


Apa benar yang di katakan oleh Nona Reina kalau Bibi Rose adalah jelmaan iblis cantik yang akan berubah sangat mengerikan jika ada yang berani menyinggungnya? Kenapa aku ragu ya. Jelas wanita ini berhati seperti malaikat, masa iya bisa bersikap kejam. Aku tidak percaya.


Wajar saja jika Kiara membatin seperti ini. Karena yang ada di hadapannya sekarang adalah Rosalinda Osmond, seorang wanita yang telah banyak berubah setelah dinikahi oleh pria bernama Adamar Clarence. Lain cerita jika Kiara bertemu saat Rose masih menjadi ketua organisasi Ma Queen. Di jamin bahkan bulu halus di tubuhnya akan langsung berdiri semua hanya dengan mendengar suaranya saja. Meski begitu, tekanan intimidasi masih begitu kuat Rose tunjukkan setiap kali berbicara dengan orang lain. Namun karena hati Kiara begitu bersih, dia sama sekali tak merasakan kengerian yang menguar dari dalam tubuh wanita ini. Dia malah asik berbincang tanpa menyadari betapa berbahayanya ibunya Jove.


"Sudah selesai. Ayo kita keluar. Bibi akan memilihkan pakaian ganti untukmu," ucap Rose sambil menyiram lantai kamar mandi yang sudah tercampur dengan genangan darah. Diam-diam Rose membatin mengagumi kegigihan Kiara yang sama sekali tak mengeluh meski luka di tubuhnya digosok dengan sangat kuat olehnya. Rose takjub. Dia puas melihat kekebalan wanita yang akan menjadi penjaga calon menantunya.


"Apa Bibi tidak merasa risih melihatku dengan kondisi seperti ini?" tanya Kiara agak canggung saat keluar kamar mandi dalam keadaan polos tak terbalut apa-apa.


"Kenapa juga Bibi harus merasa risih?" Rose tersenyum. "Kita memang baru sekali ini bertemu, tapi Bibi sudah menganggapmu seperti keluarga Bibi sendiri. Jadi kau jangan merasa sungkan ya. Kita adalah keluarga, terlepas dari apapun masalah yang ada. Mengerti?"


"Mengerti, Bi. Terima kasih,"


"Sama-sama."


Bak seorang ibu yang tengah merawat putrinya, Rose dengan telaten mengelap tubuh Kiara kemudian memilihkan pakaian yang akan di kenakannya nanti. Sedangkan Kiara sendiri, dia hanya diam dan patuh saja menerima perlakuan wanita baik ini. Hatinya yang hampir membeku tiba-tiba berubah menjadi hangat. Kiara suka dimanjakan seperti ini. Sungguh.

__ADS_1


Kiara, sampai detik ini aku masih belum bisa menebak alasan mengapa Jove memilihmu. Hatimu putih tanpa ada noda dendam meskipun kebahagiaanmu telah direnggut paksa. Akan tetapi mustahil jika Jove memilihmu tanpa ada alasan yang pasti. Entah itu adalah keistimewaan atau dendam tersimpan, aku yakin pasti ada yang berbeda di dalam dirimu. Terlepas dari apapun itu, aku sangat berharap nantinya di antara kalian tidak akan ada pertikaian. Semoga saja.


***


__ADS_2