The Devil JOVE

The Devil JOVE
129. Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

"Ayah, aku mohon hentikan kegilaan Ayah. Cassey itu keponakan Ayah sendiri. Hentikan!" ucap Regent mencoba membujuk sang ayah yang ingin pergi ke rumah Casandra. Mata-mata yang di tempatkan di sana baru saja melapor kalau wanita itu tiba-tiba pulang dari mansionnya Jove. Dan sekarang ayahnya berniat datang berkunjung guna mencari kesempatan untuk menculik Casandra. Gila, bukan?


"Kau jangan coba-coba menghalangi Ayah ya. Ingat, Regent. Ini Ayah lakukan adalah untukmu juga. Jika kita bisa memiliki Casandra, maka kau akan menjadi orang paling berpengaruh di negara ini. Tidak, di seluruh dunia malah. Kau akan menjadi yang paling kaya raya. Tahu?!" sahut Eriko jengkel saat putranya terus membujuk. Kalau saja tak kasihan melihat gips yang masih terpasang di tangan, sudah sejak tadi Eriko menendangnya. Benar-benar ya.


"Aku tahu, Ayah. Tapi kalau Ayah nekad mengincar Cassey, yang ada Ayah akan di incar balik oleh Jove. Lihat aku. Aku jadi seperti ini karena dia. Memangnya Ayah tidak takut?"


Eriko mendengus kemudian membuang muka ke arah lain. Kalau di tanya sungguh-sungguh, dia sebenarnya juga takut jika harus berhadapan langsung dengan Jove. Akan tetapi godaan darah langka itu membuat tekad Eriko kembali berkobar. Hanya ini, hanya ini jalan satu-satunya yang bisa membuat Eriko dan Regent naik ke puncak kejayaan. Selain Casandra, tidak ada.


"Ayah, dengarkan aku. Kita masih bisa meraih kejayaan lewat cara yang lain. Dengan Ayah menculik Casandra itu sama saja dengan Ayah sedang berjalan menuju liang kematian. Jove sudah menandai Casandra sebagai miliknya, berarti mafia itu tidak akan membiarkan siapapun bisa mendekatinya. Bukannya sukses, nanti yang ada kita malah mati konyol di tangan Jove dan anak buahnya. Jadi tolong Ayah batalkan saja rencana itu. Oke?" ucap Regent masih terus membujuk sang ayah.


Aku sebenarnya juga tergiur pada darah langka itu. Tapi jika harus berhadapan dengan Jove, aku lebih baik mundur. Jove adalah simbol kematian, dan aku belum siap jika harus mati sekarang.


"Persetan dengan semua itu, Regent. Minggir kau!"


Eriko dengan kasar mendorong tubuh Regent hingga jatuh terduduk di lantai. Setelah itu dia buru-buru masuk ke dalam mobil kemudian melaju cepat menuju rumah Cadenza. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan keponakannya yang sangat berharga itu. Eriko bahkan sudah tidak peduli akan sebesar apa resiko yang dia terima jika tetap memburu keponakannya. Masa bodo.


"Cassey, Paman datang sayang. Marilah kita menjadi lebih akrab agar Paman bisa segera mendapatkanmu. Oke? Hahahahaha!" ucap Eriko dengan penuh kegembiraan.


Andai saja Eriko tahu kalau sebentar lagi dia akan berhadapan dengan seseorang dari keluarga yang pernah dia bunuh dengan kejam, mungkin Eriko tidak akan bisa tertawa sebebas ini. Tapi ya sudahlah, kita tunggu saja kelanjutannya.


Tak berapa lama kemudian sampailah Eriko di rumah Cadenza. Dia lalu mengerutkan kening melihat ada banyak sekali mobil terparkir di halaman depan rumah tersebut.


"Sepertinya mereka adalah anak buahnya Jove. Apa jangan-jangan dia datang untuk membujuk Casandra? Arhhh sial! Aku terlambat!" kesal Eriko sambil memukul stir mobil.


Namun karena sudah terlanjur sampai di sana, Eriko memutuskan untuk masuk saja. Sekalian dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Siapa tahu juga Jove memulangkan Casandra ke rumah ini karena mafia itu sudah bosan. Hal seperti ini bisa saja terjadi, bukan?

__ADS_1


Tin tin tin


Para penjaga hanya diam saja saat Eriko menyalakan klakson. Mereka acuh, bahkan tak peduli ketika melihat Eriko keluar dari dalam mobil. Dan sudah pasti hal tersebut membuat Eriko meradang. Ingin rasanya dia mengumpat, tapi tidak berani.


"Awas saja kalian. Tunggu setelah aku mendapatkan Casandra, akan kubuat kalian semua bertekuk lutut di bawah kakiku. Heh!" geram Eriko sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Akan tetapi saat akan melewati pintu, Eriko berpapasan dengan Jove dan juga Casandra. Segera dia memasang ekpresi ramah saat sang keponakan menatapnya lekat.


"Halo, Cassey. Kau mau kemana?" sapa Eriko. "Dan Tuan Jove, Anda di sini juga?"


Jove diam tak menyahut. Dia malas meladeni seseorang yang sebentar lagi akan segera mati di tangan Kiara. Sedangkan Casandra, dia tiba-tiba di dera perasaan sedih tanpa sebab begitu berpapasan dengan sang paman. Semacam satu firasat yang memberitahukan kalau usia pria tua ini tidak akan bertahan lama.


"Aku perhatikan sekarang Paman jadi sering datang kemari. Ada apa? Apa Paman sedang mencari sesuatu?" tanya Casandra penasaran.


"Saudara ya?" Casandra mencibir. Dia lalu menoleh menatap Jove. "Apa kau tak berniat mengundang Pamanku datang ke acara pernikahan kita?"


"Perlukah?"


Jove menghela nafas.


"Dia adalah saudara Ayah, masa kau sekejam ini, Jove?"


"Aku tidak melihat adanya hubungan saudara di sini. Justru adalah musuh dalam selimut. Benar begitu, Tuan Eriko?" tanya Jove langsung menyindir ayahnya Regent tepat di depan muka. Jove bukannya tidak tahu kalau di rumah ini Eriko telah menempatkan mata-mata, dia tahu. Akan tetapi sengaja di biarkan karena Jove tak mau di anggap lancang mendahului Kiara. Jadi biar saja. Selama calon istrinya aman, maka Jove akan diam.


"Tuan Jove, apa maksudmu bicara seperti itu? Siapa yang kau maksud musuh dalam selimut?" sahut Eriko balas bertanya. Mati-matian dia menahan amarahnya.

__ADS_1


Tak ada jawaban. Jove diam enggan menyahut. Karena jika bicara, itu akan membuat mulutnya terasa lelah. Casandra yang tahu kalau calon suaminya sudah bosan, segera mengajaknya pergi dari sana. Dia juga malas terlalu lama melihat wajah sang paman, membuat matanya jadi sakit.


"Brengsek! Berani-beraninya mereka mengacuhkan aku seperti ini. Awas saja!" geram Eriko.


"Apanya yang awas?"


Tubuh Eriko menegang. Dia menelan ludah saat seseorang menyentuh pundaknya dari arah samping.


"Tuan Eriko, bisa tolong beritahu saya siapa yang Anda sebut brengsek?" tanya Franklin. Karena ada panggilan mendesak, Franklin meminta izin pergi ke samping rumah. Namun begitu dia kembali dan ingin menyusul bosnya, Franklin tak sengaja melihat pria tua ini tengah mengumpat kasar. Karenanya dia datang menegur.


"T-Tuan Franklin," panggil Eriko syok begitu tahu siapa yang baru saja menepuk bahunya.


Kapan-kapan bajingan ini muncul? Bukankah tadi Franklin tidak ada di sini ya? Sialan. Membuat orang kaget saja.


"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Tuan Eriko!" sahut Franklin sembari menampilkan ekpresi yang sangat luar biasa dingin. Dia tentu saja tahu siapa yang di maksud, tapi sengaja menekan pria ini supaya tahu batasan.


"O-oh, it-itu. A-aku sedang teringat dengan seseorang yang menyakiti putraku, makanya tak sengaja mengumpat. Begitu."


Terlalu klise, tapi hanya alasan ini yang muncul di dalam kepala Eriko. Dia lalu meramalkan doa, berharap kalau kaki tangan mafia ini mau mempercayai ucapannya.


Franklin pergi begitu saja dari hadapan Tuan Eriko begitu menyadari kalau bosnya sudah terlalu lama menunggu. Segera dia masuk ke dalam mobil kemudian melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Lin. Eriko yang melihat semua mobil bergerak pergi dari sana pun segera menarik nafas dalam-dalam. Kakinya lemas sekali setelah berbicara dengan Franklin. Sungguh.


"Sialan!" gumam Eriko. Dia lalu terhenyak kaget saat teringat ucapan Casandra yang menyebut kata pernikahan. "Mereka sungguh-sungguh akan menikah atau hanya ingin mempermainkanku saja ya? Ah, sebaiknya aku tanya langsung saja pada Cadenza. Bisa gawat jika mereka benar-benar menikah. Aku akan semakin sulit untuk mendapatkan darah langka itu. Huh!"


***

__ADS_1


__ADS_2