The Devil JOVE

The Devil JOVE
58. Datang Tiba-Tiba


__ADS_3

Casandra langsung membuang muka ke arah lain saat sang ayah masuk ke dalam kamarnya. Dia masih sangat marah atas tindakan sang ayah yang tega menyita mobil milik Fidel. Juga karena Casandra yang merasa tak terima ayahnya lebih membela Jove ketimbang membela anaknya sendiri.


“Sudahlah, berhenti bersikap kekanakan!” tegur Cadenza mencoba memutuskan perang dingin antara dia dengan Casandra. Satu hari sudah terlewat tapi putrinya ini masih juga belum mencair kemarahannya. Membuat Cadenza terpaksa memilih untuk mengakhiri perang dingin ini karena tak mau membuat istri kesayangannya merasa sedih. “Ayah sadar sikap Ayah memang sedikit keterlaluan padamu. Tapi kau perlu tahu satu hal, Cassey. Jove orang yang sangat berbahaya, Ayah sangat takut dia akan melukaimu jika kau terus-terusan memprovokasi kemarahannya. Tolong mengertilah. Ya?”


“Terus saja bela begundal brengsek itu, Ayah. Sekalian lupakan fakta kalau aku ini adalah anak kandung Ayah!” sahut Casandra enggan mengalah. Dia lalu memalingkan muka menatap sang ayah yang terus saja menghela nafas panjang. Mungkin kesal, begitu pikir Casandra. “Ayah, memang seberapa berbahaya sih si Jove itu. Kalau memang benar dia tidak ada niat untuk mempermainkan aku, dia pasti sudah membunuhku sejak malam di mana kami bertemu. Jadi aku rasa Ayah tidak perlu bersikap berlebihan begini. Jove itu brengsek. Dia bajingan tengik yang sangat ingin kumusnahkan dari muka bumi ini kalau Ayah mau tahu!”


“Benarkah?”


Jove yang barusaja datang langsung masuk ke dalam kamar Casandra sambil menenteng satu paperbag di tangannya. Dia lalu tersenyum pada Tuan Cadenza yang terlihat kaget melihatnya datang. “Selamat malam, Tuan Cadenza. Apa kedatanganku terlalu mengejutkanmu?”


“Selamat malam kembali, Jove,” sahut Cadenza ramah. “Fidel tidak mengatakan apapun padaku. Dan ya, aku agak kaget melihatmu yang tiba-tiba muncul di rumahku.”


"Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu," ucap Jove sambil melirik ke arah wanita yang kini tengah menatapnya sinis. "Tunggu anda istirahat di kamar saja baru membukanya. Jangan di sini."


"Oh, baiklah. Terima kasih," sahut Cadenza seraya menerima paperbag pemberian Jove.


“Cihhhh, begundalan yang tidak memiliki sopan santun sepertinya mana mungkin mengerti tata cara bertamu ke rumah orang lain, Ayah. Jangan berharap lebih kepadanya!” cibir Casandra sinis.


Jove menunduk sambil meng*lum senyum. Sepertinya Casandra masih belum percaya kalau Jove itu sangat tidak suka dengan wanita yang mudah mengumpat. Apalagi umpatan itu di tujukan langsung kepadanya. Jove tidak marah. Justru dia merasa kalau sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk mempermainkan anak jaguar ini. Mumpung ada kesempatan, begitu pikirnya.


“Hmmmm, Tuan Cadenza. Bisakah kau meninggalkan kami berdua di kamar ini?” tanya Jove penuh maksud tersirat. “Ada pelajaran penting yang ingin kuberikan pada putrimu.”


Cadenza menelan ludah. Matilah, mafia ini tersinggung. Tak mau putrinya kenapa-napa, Cadenza berniat memintakan maaf atas nama Casandra. Namun baru juga mulutnya akan terbuka, Franklin sudah lebih dulu berdiri di sebelahnya.


“Tuan Cadenza, mari. Saya akan mengantarkan anda ke ruang tamu saja. Di sana anda akan merasa lebih leluasa untuk berpikir,” ucap Franklin dingin.


“Baiklah,” sahut Cadenza pasrah. Mau bagaimana lagi, ajakan Franklin bukan ajakan biasa dan Cadenza tahu akan hal itu. Jad untuk mengurangi beban bahaya, dengan berat hati Cadenza akhirnya keluar dari dalam kamar putrinya dengan di kawal oleh Franklin.

__ADS_1


Sepeninggal ayahnya, Casandra langsung melayangkan tatapan sengit pada Jove. Kalau saja kakinya sedang tidak terluka, dia pasti sudah menendang tubuh Jove yang kini sudah berbaring telentang di atas ranjangnya. Benar-benar menjengkelkan.


“Casandra,” ….


Suara lirih Jove dalam menyebut nama Casandra membuat bulu kuduk Casandra berdiri semua. Dan rupanya hal itu di sadari oleh Jove. Sambil terkekeh pelan, Jove mengajak Casandra untuk bicara.


“Apa makanannya enak?”


“Maksudnya?” beo Casandra bingung.


“Jagung bakar dan kopi hangat. Apa kau suka?”


Jove menoleh menatap Casandra lekat. “Makanan yang siang tadi kau makanan aku yang mengirimnya. Dan melihat reaksimu sekarang sepertinya kau benar-benar menikmati makanan itu. Aku benar, bukan?”


Apa?? Jadi jagung bakar dan kopi itu adalah kiriman dari Jove? Tapi bagaimana bisa? Dan juga darimana Jove tahu kalau tadi siang aku sangat menginginkan kedua makanan itu? Ya Tuhan, apa mungkin di rumah ini ada orang yang menjadi mata-matanya? Woaahhh, brengsek!


“Yang kau pikirkan benar, Casandra. Aku memang menempatkan seorang mata-mata di rumahmu,” ucap Jove langsung memberitahukan kebenarannya pada Casandra. Dia lalu menyentak kuat tangan Casandra hingga membuatnya jatuh berbaring di ranjang. Setelah itu Jove langsung naik dan menindih tubuh Casandra kemudian menciumnya dengan panas sebelum anak jaguar ini sempat memberontak.


Aha, aku ada ide. Hehehe, rasakan kau, Jove.


Tepat ketika Jove sedang menyesap bibir atasnya, Casandra dengan kuat mengigit sudut bibirnya Jove. Dia lalu menyeringai lebar saat perbuatannya berhasil membuat Jove berhenti menikmati bibirnya.


“Hmmmm, kau menggigitku, sayang,” ucap Jove santai sembari menyeka darah yang merembes keluar dari sudut bibirnya. Di hadapan mata Casandra, Jove terang-terangan menjilat darah tersebut kemudian tersenyum. Setelah itu Jove menempatkan bibirnya yang terluka tepat di depan mulut Casandra yang tengah menyeringai. “Kau tahu, Cassey. Aku pernah dibuat ketagihan pada satu permainan wanita di mana wanita itu mengajarkan aku tentang kekerasan di dalam percintaan. Dan aku sungguh tidak menduga kalau kau itu adalah seorang masokis. Aku … suka!”


Kedua mata Casandra langsung membulat besar begitu mendengar ucapan Jove. Seringai yang tadinya menghiasi bibir Casandra secara perlahan-lahan mulai menghilang. Masokis? Oh ayolah kawan. Casandra tentu tahu istilah macam apa ini. Ibarat kata sudah jatuh tertimpa tanga pula. Niat hati ingin memberi pelajaran tapi perbuatannya malah membangunkan sisi setan di diri Jove. Kali ini Casandra salah memainkan trik. Secara tidak langsung Casandra malah mengundang Jove agar menganggapnya sebagai seseorang yang menyukai kekerasan dalam berhubungan badan. Sial sekali, bukan?


“Kenapa diam, hem? Takut?” ejek Jove. Menggunakan jari telunjuknya, Jove menyusuri wajah cantik Casandra. Terpesona, itu sudah pasti. Jove bukan pria munafik yang tidak akan mengakui kalau dia itu cukup menggilai para wanita dengan kecantikan ektreme. Dan Casandra adalah salah satunya.

__ADS_1


“J-Jove, cepat menyingkir dari atas tubuhku. Kau berat!” ucap Casandra beralasan. Dia gugup setengah mati sekarang.


“Jangan mengalihkan pembicaraan, Casandra. Aku tahu kau terkejut atas tindakanmu sendiri. Iya ‘kan?” tanya Jove sambil menciumi sisi rahang Casandra yang entah kenapa terlihat begitu menggoda.


Mata Casandra terpejam. Sepertinya sia-sia saja bicara dengan ucapan yang lembut. “Apa yang kau inginkan dariku, hah! Cepat katakan lalu keluarlah dari dalam kamarku. Aku ingin istirahat!”


Terdengar kekehan pelan dari dalam mulutnya Jove saat dia menyadari kekalahan Casandra. Sebelum beranjak dari atas tubuhnya, Jove lebih dulu menyesap bibir ranum itu kemudian menarik Casandra agar bangun bersamanya.


“M-mau apalagi kau?” Casandra salah tingkah sendiri saat wajahnya dan wajah Jove barada dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan Casandra bisa merasakan dengan sangat jelas hembusan nafas yang keluar dari lubang hidungnya.


“Cassey, kapan kau akan berhenti memakiku, hem? Kau sadar tidak kalau sikapmu yang liar itu membuatku ingin kembali menidurimu?” tanya Jove dengan mimik wajah yang sangat serius.


“Jangan terus-terusan mengancamku dengan hal menjijikkan itu, Jove. Kalau kau tidak suka aku memakimu, maka berhentilah muncul di hadapanku. Asal kau tahu saja ya. Sejak mengenalmu, hidupku selalu tertimpa kesialan. Kau membawa nasib buruk untukku, Jove. Tahu kau?!” jawab Casandra meluapkan kebenciannya secara terang-terangan. Dia tak peduli apakah perkataannya akan menyinggung perasaan Jove atau tidak. Masa bodo.


Hening. Tak ada balasan kata yang keluar dari mulutnya Jove setelah Casandra bicara seperti itu. Khawatir kena serangan jantung, tanpa sadar tangan Casandra tergerak untuk menepuk pelan pipinya Jove. Dia bisa dijadikan perkedel oleh ayahnya kalau Jove sampai mati mendadak saat sedang bersamanya.


“Jove, you okay?”


“Kau mempesona.”


“Y-ya?”


Cup


“Sampai jumpa besok pagi, Cassey,” bisik Jove sesaat sebelum dia melangkah keluar dari dalam kamar Casandra.


Sedetik kemudian ….

__ADS_1


“YAAAKKKKKKK, dasar brengsek kau, Jove. Mati saja kau sana. Arrgghhhhhh!”


***


__ADS_2