The Devil JOVE

The Devil JOVE
31. Kode Keras (Pamela & Gerald Thampson)


__ADS_3

“Nona Pamela, anak buah Tuan Jove datang membawakan darah dari wanita langka itu. Mereka juga mengirimkan dua mayat untuk di jadikan bahan penelitian di labolatorium kita!”


Terdengar suara decakan pelan dari mulut seorang wanita yang tengah sibuk dengan pisau bedahnya. Pamela Thampson, putri bungsu dari ketua organisasi Grisi, Gerald Haidar Thampson, langsung menoleh dan menatap tajam ke arah bawahannya yang baru saja datang melapor. Tanpa meletakkan pisau bedahnya yang masih berlumuran darah, Pamela bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan keluar untuk memeriksa kiriman mayat dari sepupunya yang bandar narkoba itu.


“Hmmmm, ternyata Kak Jove cukup tahu dengan seleraku. Dia mengerti kalau aku sangat tergila-gila dengan aroma dollar,” ucap Pamela seraya mengangguk-anggukkan kepala ketika melihat dua mayat pria yang mati dengan kepala hancur. Tidak apa-apalah kalau hanya kepalanya saja yang rusak. Setidaknya Pamela masih bisa menggunakan organ tubuh kedua mayat ini untuk di tukar dengan dollar. Haha, membayangkan tumpukan uang itu membuat Pamela tak kuasa untuk tidak merasa kegirangan. Dia bahkan tak segan untuk berjingkrak-jingkrak meski di sana ada banyak sekali bawahannya yang menyaksikan.


Sedikit perkenalan dengan Pamela. Sejatinya, seorang gadis yang baru berusia sembilan belas tahun akan menghabiskan waktunya untuk belajar dan juga bersenang-senang dengan kekasih ataupun dengan para sahabat. Namun bagi seorang Pamela hal tersebut sangatlah membosankan. Setelah dia berhasil menggagalkan rencana sang ayah yang berniat menjadikan kakak pertamanya sebagai pewaris organisasi Grisi, Pamela dengan cepat berpindah status dari seorang gadis nakal menjadi ilmuwan muda yang begitu menggilai uang dollar. Kenapa uang dollar? Jawabannya adalah karena Pamela terobsesi dengan gambar wajah yang ada di uang tersebut. Aneh bukan? Dan itulah Pamela, gadis ceria yang menyimpan segudang kesadisan dan juga rencana mengerikan yang tak bisa tertebak, bahkan oleh orangtuanya sekalipun. Dan khusus di part ini emak akan membagi kisah Pamela dengan keluarganya yang aneh itu. Tapi untuk sosok kakaknya, emak akan merahasiakannya. Hehe. Semoga kalian suka ya.


Drrttt drrrttt


Saat Pamela tengah berbahagia dengan pemberian Jove, ponsel miliknya bergetar. Karena kondisi tangannya yang kotor Pamela memerintahkan bawahannya untuk melihat siapa yang menelpon. Sambil berjalan menuju ruang bedah, Pamela menunggu laporan dari bawahannya itu.


“Nona Pamela, ini panggilan dari Nyonya Jessy. Haruskah saya mengangkatnya sekarang?”

__ADS_1


Wajah Pamela langsung pucat begitu dia tahu kalau sang ibulah yang menelpon. Secepat kilat dia membuang pisau di tangannya kemudian membuka sarung tangan yang berlumuran darah. Sambil berteriak kepanikan, Pamela meminta bawahannya untuk membantu membersihkan wajahnya. Dia akan langsung berpindah ke dalam kerak neraka jika sang ibu sampai mengetahui apa yang sedang dilakukannya di sini. Oya, sebenarnya keberadaan Pamela di labolatorium ini tidak mendapat izin dari sang ibu. Jadi aktifitasnya di tempat ini harus dirahasiakan karena ibunya pernah meminta cerai dari sang ayah saat Pamela tak sengaja ketahuan tengah mengobrak-abrik isi perut manusia di labolatorium ini. Alhasil setelah melewati kesepakatan sengit dengan sang ayah, Pamela akhirnya di izinkan untuk datang ke lab dengan syarat kalau dia tidak akan memposisikan sang ayah dalam bahaya yang bisa menjadikannya duda tampan.


“Pamela, apa yang sedang kau lakukan ha? Kenapa lama sekali menjawab panggilan dri Ibu. Kau pasti sedang melakukan hal yang tidak-tidak ‘kan?” teriak Jessy sambil memelotokan mata begitu Pamela menjawab panggilan video darinya. Sedetik kemudian mata Jessy menyipit ketika mendapati ada noda aneh di wajah putrinya itu. “Pamela, Ibu minta sekarang kau jujur pada Ibu. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan di sana hah? Jangan bilang kau sedang melakukan sesuatu hal kejam seperti yang waktu itu Ibu lihat ya. Jika benar, hari ini akan menjadi hari terakhirmu dan juga ayahmu bisa melihat wajah Ibu. Ayo cepat jujur!”


“Ibu, bisa tidak sih kalau bertanya itu satu-satu dulu. Aku kan pusing mau menjawab yang mana!” sahut Pamela pura-pura kesal. Sebisa mungkin dia menutupi kepanikannya agar sang ibu tidak mengetahui perbuatannya. Karena di bandingkan dengan darah, Pamela seribu kali lebih takut jika ibunya sampai marah. Dia sama seperti ayahnya yang berpikir kalau kemarahan macan tutul ini adalah momok yang paling mengerikan di dunia. Sungguh. “Sekarang tolong dengarkan penjelasanku baik-baik ya, Bu. Aku lama menjawab panggilan dari Ibu karena aku sedang sibuk meracik obat-obatan di lab. Dan mengenai kenapa wajahku terlihat kotor dan berantakan, jawabannya adalah karena aku sedang bekerja. Ibu pikir tidak lelah apa bekerja sebagai ilmuwan? Lihat, tubuhku sampai kurus kering karena memikirkan ini dan itu!”


Setelah Pamela selesai bicara, layar kamera ibunya tiba-tiba beralih menunjukkan wajah ayahnya. Seketika kepanikan di wajah Pamela langsung berganti menjadi ekpresi rubah licik. Dia tentu tahu mengapa wajah ayahnya bisa tiba-tiba muncul di layar ponsel. Apalagi sebabnya kalau bukan karena sedang merasa terancam. Hahaha.


“Pororo, tadi Ayah ….


Pamela langsung berteriak kencang saat sang ayah memanggilnya dengan sebutan Pororo. Jujur, dia sangat benci sekali dengan panggilan ini. Pamela merasa kalau dia itu bukan anak manusia, melainkan anak penguin yang berkaki dan bertangan pendek, juga pemakan ikan. Menyebalkan sekali bukan?


“Ayah, kalau Ayah masih berani memanggilku dengan panggilan Pororo, percaya tidak kalau aku akan mengarahkan kamera ponsel ini ke tempat pembedahan tubuh manusia. Mau?!”

__ADS_1


Hehe, jangan kalian kira Pamela mengatakan hal ini melalui mulutnya. Tidak, tidak seperti itu. Menggunakan darah yang ada, Pamela membuat tulisan tersebut di jendela kaca dengan maksud mengancam sang ayah secara rahasia. Hal ini Pamela lakukan agar sang ibu tidak mengetahui kode keras yang coba Pamela sampaikan pada ayahnya yang bodoh itu. Menjengkelkan sekali bukan?


“Po ... maksud Ayah Pamela, tadi Franklin mengirim pesan pada Ayah kalau dia telah mengirimkan sampel obat ke labolatorium. Bisakah kau memeriksanya secepat mungkin?” tanya Gerald langsung menciut membaca ancaman yang di tulis oleh Pororo. Ups, Pamela maksudnya. “Jove ingin segera mengetahui hasilnya.”


“Sampelnya barusaja sampai, Ayah. Dan jika Ayah ingin aku segera memeriksanya, aku sarankan Ayah sebaiknya mematikan panggilan video ini saja. Oke?” sahut Pamela malas-malas.


“Oh.”


Dan klik. Panggilan langsung di putus begitu saja oleh sang ayah tanpa ada embel-embel selamat tinggal atau bagaimana. Kesal karena lagi-lagi ayahnya bersikap dingin, dengan marah Pamela menggigit pinggiran ponselnya hingga sedikit retak. Dia kemudian menghentak-hentakkan kakinya ke lantai untuk memelampiaskan emosinya.


“Bagaimana bisa sih aku terlahir dari campuran macan tutul dan beruang kutub. Menyebalkan sekali!” gerutu Pamela sambil mengerucutkan bibir.


Teringat dengan pekerjaannya yang belum selesai, Pamela kembali memakai sarung tangannya kemudian masuk ke ruang bedah. Dan ketika dia baru akan duduk, Pamela kembali teringat dengan sampel yang di kirim anak buahnya Jove. Terpaksa dia mengalihkan pekerjaan menyenangkan ini kepada bawahannya yang lain karena dia harus sesegera mungkin meneliti darah yang di butuhkan untuk pembuatan biang penawar racun.

__ADS_1


“Untung saja kau itu kaya raya, Kak Jove. Jika tidak, aku tidak akan mau melakukan ini dan itu hanya untuk menciptakan obat yang bisa menyembuhkanmu. Huh!” ucap Pamela sambil menatap cairan merah yang ada di dalam botol. “Oke, red blood. Aku harap ini adalah kali terakhir aku menderita demi bandar narkoba itu. Jujur, aku sudah sangat muak menghadapi penyakitnya yang sangat aneh. Sangat melelahkan!”


***


__ADS_2