
Setelah Zian pergi, mood Jove terus saja memburuk. Dia hanya duduk diam tanpa ada niat memeriksa berkas yang bertumpuk di atas meja. Jove sama sekali tak mengira kalau Zian akan memiliki keberanian sebesar itu untuk berbicara padanya. Mengambil izin sepihak dengan memasukkan Omary Group ke dalam proyek bioteknologi yang sedang di kembangkan oleh perusahaannya? Hah, luar biasa sekali nyali pria itu. Jove jadi geram sendiri sekarang.
"Tuan, ada apa? Sesuatu mengganggu pikiran andakah?" tanya Franklin sembari menatap bosnya. Dia berhenti memeriksa berkas dan memilih untuk memperhatikan bosnya terlebih dahulu. Suasana terasa menegangkan, itu artinya mafia ini sedang kesal. Franklin tak bisa abai. Jadi memutuskan untuk kembali bertanya setelah pertanyaan pertamanya tak mendapat respon. "Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Tuan Zian kemari, Tuan? Jika iya, perlukah saya mengirim salam padanya?"
"Hmmm,"....
Hanya seperti itu respon Jove saat Franklin berhasil menebak hal apa yang sedang mengganggu pikirannya. Bersamaan dengan itu, ponsel di atas meja berdering. Namun, suara deringan tersebut hanya di abaikan saja oleh Jove. Hingga akhirnya Franklin yang turun tangan untuk menjawab.
"Halo, Tuan Magaska. Ada apa?" tanya Franklin dingin. Orang yang menelpon adalah salah konsumen tetap yang kemarin ketahuan berbelok membeli heroin dari Albert. Sungguh sial sekali orang ini. Menelepon di saat suasana hati bosnya sedang buruk. Bisa jadi sasaran empuk dia jika mafia ini sampai merespon. Hm.
"Halo, Franklin. Bisakah aku bicara dengan Tuan Jove? Seperti biasa, aku ingin membeli barang miliknya," jawab Magaska dengan begitu santainya.
Sebuah smirk tipis muncul di bibir Franklin saat mendengar permintaan Magaska yang ingin membeli heroin milik bosnya. Merasa ada hiburan yang cukup menyenangkan, Franklin segera berbisik pelan pada bosnya.
"Magaska ingin membeli heroin seperti biasa. Mungkin jika anda mau, saya bisa sedikit mempermainkan orang ini. Anggap saja untuk menebus keberaniannya yang sudah bersekutu dengan Albert. Bagaimana, Tuan?"
"Biarkan aku bicara dengannya. Kau atur saja permainan apa yang harus dimainkan. Kebetulan aku sedang bosan," sahut Jove setuju dengan apa yang inginkan Franklin. Dia lalu menerima telepon dan mulai berbicara dengan Magaska. "Ada apa? Apa Albert sudah tidak mengizinkanmu membeli heroinnya lagi, hem?"
"Tuan Jove, ayolah. Aku inikan hanya konsumen, wajar jika ingin berbelanja di lain orang. Tolong jangan beranggapan aku adalah seorang pengkhianat hanya karena kemarin aku sedikit dekat dengan Albert. Oke?" jawab Magaska. "Just bisnis. Hanya itu. Yang lainnya aku sama sekali tak terlibat. Albert menawarkanku harga yang sedikit lebih miring darimu. Makanya aku tergiur untuk mencobanya. Akan tetapi heroin miliknya tidaklah sedasyat heroin buatanmu. Aku jera. Sungguh!"
__ADS_1
"Oh. Begitu ya?"
Brengsek sekali manusia satu ini. Begitu tahu kalau barang milik Albert tidak sebagus barang miliknya, dengan to lolnya Magaska ingin kembali menjadi pelanggan pada Jove. Di kira Jove ini orang bodoh apa. Sekali pengkhianat, di beri kesempatan seratus kalipun akan tetap menjadi pengkhianat. Hal ini tentu saja membuat Jove merasa kian meradang. Dia lalu menggerakkan dagu ke arah Franklin, memberi kode kalau dia sudah tidak sabar ingin segera bersenang-senang.
"Berapa yang kau butuhkan? Karena sebelumnya kau telah menyinggungku, maka kau harus membayar tiga kali lipat dari harga yang biasa kita sepakati. Jika tak setuju, silahkan cari penjual lain. Aku tidak butuh mitra miskin yang hanya omong besar sepertimu!" olok Jove sengaja memancing emosi Magaska. Lumayanlah untuk memanaskan keadaan.
"Kenapa aku merasa kau sedang merencanakan sesuatu di belakangku ya? Kau tidak sedang menargetkan aku, bukan?" tanya Magaska sarat akan nada khawatir. "Jika kecurigaanku benar, maka sebaiknya kita batalkan saja transaksi ini. Aku tidak mau mencari masalah denganmu, Tuan Jove!"
"Takut?"
Jove terkekeh. Dia memejamkan mata kemudian menaikkan kedua kakinya ke atas meja. Jove lalu menyilangkan kaki sembari menyenderkan tubuh ke kursi kerjanya. "Magaska, kalau kau memang adalah pelanggan tetapku, harusnya kau tahu hal apa saja yang bisa membuatku menargetkanmu. Di depan mataku sendiri kau dengan santainya menjalin hubungan jual beli dengan Albert. Namun, hal tersebut masih bisa kumaafkan. Lalu sekarang setelah aku setuju untuk memberikan barangku padamu, dengan rendahnya kau malah mencurigaiku? Percaya tidak detik ini juga aku bisa menghabisimu kalau aku mau. Hah?!"
"T-Tuan Jove, b-bukan seperti itu maksudku. Aku ... umm baiklah. Aku setuju untuk membeli heroin sesuai dengan harga yang kau tetapkan. Beritahu saja kapan dan di mana aku harus mengambilnya. Jika bisa maka lakukan secepatnya saja karena aku kehabisan barang. Oke?"
"Aku mungkin tidak akan membunuhmu, Magaska. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan tubuh utuh. Entah itu jari tangan atau lidahmu, aku pastikan Franklin akan memotongnya!" gumam Jove dengan raut wajah yang begitu mengerikan. "Ingin mempermainkanku? Cihhh, hanya Casandra yang bisa melakukannya!"
"Tuan!" Franklin datang mendekat. "Jam tujuh malam nanti di dekat pelabuhan. Heroin akan kita pilihkan yang sisa saja. Dan sekarang anak buah kita sedang menuju ke sana. Magaska tidak akan selamat!"
"Jika nanti dia berani melawan, langsung kau potong saja dua jari tangannya. Dan jika dia masih tak patuh, potonglah saja lidahnya. Aku muak mendengar omongan yang keluar dari mulutnya!" sahut Jove dingin.
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
"Ayo pergi keluar. Aku seperti tidak bisa bernafas jika terus duduk di sini!"
Franklin mengangguk. Segera dia membukakan pintu lalu berjalan di belakang bosnya. Franklin kemudian menatap tajam pada seorang karyawan wanita yang dengan terang-terangan menatap penuh pesona pada bosnya yang memang terlihat sangat tampan dengan kaca mata hitamnya.
"Hati-hati dengan matamu, Nona. Saat ini kau sedang menatap pria yang tidak seharusnya kau tatap. Ingat! Mulut, mata, tangan, dan bahkan telinga bisa menjadi penyebab kematianmu. Paham?" tegur Franklin sesaat sebelum menyusul bosnya masuk ke dalam lift.
Si wanita yang baru saja di tegur oleh Franklin nampak diam mematung, syok. Karena dirinya adalah karyawan yang baru saja mulai bekerja hari ini, wanita ini sama sekali tidak tahu kalau tindakannya merupakan langkah pertama menuju kematian. Setelah itu datang dua orang wanita yang langsung mengajaknya pergi ke tempat lain seraya memberitahukan aturan seperti apa yang ada di CL Group.
"Pria yang kau tatap tadi adalah Tuan Jove, dia bos besar di perusahaan ini. Lalu pria yang menegurmu bernama Tuan Franklin. Dia adalah orang yang paling harus di hindari di CL Group. Jika di lain waktu kau tak sengaja berpapasan dengan mereka, segera tundukkan kepalamu serendah mungkin. Sikap ini bisa menyelamatkanmu dari bahaya besar dan juga dari pemecatan. Walaupun keadaan di CL Group sering terasa menegangkan, tapi semua karyawan yang bekerja di sini tidak ada mau resign. Kenapa? Karena Tuan Jove adalah seorang bos yang sangat royal sekali kepada para bawahannya. Beliau memang jarang sekali datang ke perusahaan, tapi kinerja kita tak pernah lepas dari pantauannya. Jadi berhati-hatilah dan fokus pada tugasmu saja. Oke?"
"Se-semengerikan itu?"
"Ya. Dan dari rumor yang kami dengar, Tuan Jove dan Tuan Franklin merupakan seorang mafia besar yang sangat di takuti oleh lawan. Itulah kenapa aura mereka begitu gelap. Sekarang kau sudah mengerti, kan?"
"Iya, aku mengerti. Ya ampun, hampir saja aku mati sia-sia karena tidak tahu apapun tentang mereka. Selamat-selamat."
"Ya sudah, kita kembali ke ruangan kita saja. Ayo!"
__ADS_1
"Baiklah,"
***