The Devil JOVE

The Devil JOVE
125. Kekhawatiran Kiara


__ADS_3

"Halo sayang, tumben sekali kau menelpon Bibi. Sesuatu telah terjadikah?" tanya Rose sambil tersenyum kecil saat menjawab panggilan dari keponakannya. Saat ini Rose, Adam, dan juga Kiara sedang duduk berbincang di halaman belakang rumah sambil menunggu waktu untuk beristirahat tiba.


"Bibi, aku ingin membagikan kabar bahagia padamu. Tolong simak dengan benar ya?" sahut Pamela dari dalam telepon. "Ekhmm-ekhmmm. Tadi aku baru saja melakukan pemeriksaan terakhir untuk memastikan apakah darah milik Kak Jove cocok atau tidak dengan darah milik Casandra. Dan Bibi tahu tidak hasilnya seperti apa?"


Ucapan Pamela menggantung. Hal ini tentu saja membuat Rose merasa sangat penasaran sekali. Dia lalu menyalakan tombol loudspeaker agar semua orang bisa mendengar langsung tentang kabar baik yang ingin di sampaikan oleh gadis psikopat itu.


"Pororo, jangan terlalu suka menggantung perasaan orang. Itu tidak baik. Nanti kau di tinggal pacarmu," ledek Adam tak sabar menunggu anaknya Gerald bicara. Dari raut wajah istrinya, Adam menduga kalau Pamela ingin menyampaikan kabar bahagia. Entah tentang apa, yang jelas dia tak sabar ingin segera mengetahuinya.


"Ck, Paman Adam. Jangan sekali-kali Paman berani memanggilku dengan sebutan seperti itu ya. Aku inikan sudah besar, malu kalau sampai ada pria yang mendengar. Kan tidak lucu nama sebagus Pamela di ganti menjadi Pororo. Cukup Ayah saja yang menjengkelkan, Paman jangan ikut-ikutan. Oke?"


Kiara nampak tersenyum tipis saat mendengar protes yang dilayangkan oleh Pamela. Sambil mengoleskan obat ke luka memar di bagian kaki, Kiara diam-diam memendam perasaan aneh yang terus muncul di dalam pikirannya. Pagi tadi setelah menjalani pelatihan di hutan, Kiara tak sengaja mendengar bisik-bisik para penjaga yang menyebut kalau mutan yang berada di rumahnya telah di pindah tugaskan untuk mengawal Casandra. Hal ini tentu saja membuat Kiara merasa aneh. Jika memang benar mutan itu diminta untuk menjaga Casandra, lalu apa kabar dengan mutan yang menyamar sebagai dirinya? Bukankah jika mutan itu pergi keluarganya akan merasa curiga? Namun sebesar apapun rasa penasaran yang Kiara rasa, dia tak memiliki keberanian untuk sekedar bertanya pada ibunya Jove. Kiara memilih untuk bertaruh dengan keyakinannya sendiri kalau adik dan kedua orangtuanya baik-baik saja. Dan dia juga sangat percaya kalau Jove tidak akan mungkin membiarkan keluarganya berada dalam bahaya.


"Adam, Pamela, tolong jangan bercanda dulu. Bisa?" tegur Rose saat suami dan keponakannya malah saling berbalas ejekan. "Dan Pamela, sekarang bisakah kau memberitahu kami kabar bahagia apa yang kau maksudkan?"


"Haihhh, baiklah. Karena Bibi Rose yang meminta, maka aku tidak akan mengulur waktu lagi. Selamat. Darah milik Kak Jove dan Casandra cocok. Mereka bisa tenang jika ingin membuat anak. Karena saat aku menyuntikkan gabungan darah mereka ke tubuh janin peliharaanku, janin itu tidak mengalami reaksi yang aneh seperti sebelum-sebelumnya. Jadi dengan ini aku mengumumkan bahwa Kak Jove dan Casandra bisa menikah kapanpun mereka mau. Yeyyyyy!" ucap Pamela heboh sendiri.

__ADS_1


Rose langsung membekap mulutnya dengan tangan begitu mendengar kabar baik yang di sampaikan oleh Pamela. Matanya yang tajam kini nampak berkaca-kaca. Rose terharu dan juga lega. Akhirnya setelah penantian yang sangat panjang, putranya benar-benar bisa terbebas dari penyakit kutukan itu. Jelas hal ini membuat Rose merasa sangat bahagia sekali. Dia kemudian menangis terisak, tak kuasa membendung rasa haru yang tengah menyelimuti hati.


"Pamela, kau kurang ajar sekali ya. Lihat, gara-gara perkataanmu sekarang istriku jadi menangis. Tanggung jawab kau!" omel Adam sambil menyeka matanya yang mulai sembab. Tak terasa air matanya menetes keluar saking Adam terkejut mengetahui kalau penyakit putranya tidak akan menular kapada calon cucunya kelak. Setelah itu Adam bergeser mendekat ke samping Rose kemudian memeluknya erat sekali. Dia tak henti menciumi puncak kepala istrinya yang sedang terisak haru di pelukannya. "Selamat, Honey. Kita akhirnya bisa dengan tenang membiarkan Jove menikahi Casandra. Sekali lagi selamat ya,"


"Hiksss, Adam. Bagaimana ini, aku tidak bisa berhenti menangis," sahut Rose sesenggukan.


"Kalau begitu jangan berhenti. Biarkan air mata haru itu keluar sepuasnya. Kau berhak untuk melakukannya, Hon."


"Jove, Dam. Akhirnya, putraku dan calon cucu-cucu kita tidak akan menderita lagi. Mereka bebas. Hikssss,"


"Ayuuuhhhhh Paman dan Bibi, bisa tidak bermesraannya nanti saja setelah panggilan ini berakhir. Sudah tahu Awan masih malu-malu untuk berpacaran denganku, kenapa kalian malah mengumbar cinta seperti ini. Aku kan jadi iri. Bagaimana sih!" protes Pamela merasa kesal karena di abaikan. "Ya sudahlah, aku tidak mau mengganggu lagi. Nanti tolong kalian bantu sampaikan kabar baik ini kepada Kak Jove ya. Aku sedang tidak mood bicara dengan mafia itu. Juga karena sekarang aku sedang dalam perjalanan mengunjungi kekasihku. Awan rewel, dia tak henti membuat ulah karena terlalu merindukan aku. Daaahhh!"


Setelah beberapa saat terlewat, barulah tangis Rose terhenti. Dia lalu menoleh ke samping, memperhatikan Kiara yang sedang sibuk mengobati bekas lebam di kaki.


"Kiara, apa kau mendengar perkataan Pamela barusan?" tanya Rose. "Darah Casandra dan darahnya Jove ternyata cocok. Itu artinya sudah tidak ada alasan yang bisa menghalangi pernikahan mereka. Benar?"

__ADS_1


"Iya Bibi, aku mendengarnya tadi. Selamat ya. Akhirnya Jove dan Casandra bisa segera naik ke pelaminan. Aku turut bahagia mendengar kabar baik ini," jawab Kiara sambil tersenyum kecil. Dia menghentikan tangannya yang ingin kembali mengoleskan obat ketika ibunya Jove menatapnya lekat. Kiara tahu, wanita ini ingin menyampaikan sesuatu yang lain. Karenanya dia segera bertanya. "Bibi Rose, adakah yang ingin kau sampaikan padaku?"


"Bersiaplah. Kau akan mulai menjaga Casandra begitu dia dan Jove menikah!" sahut Rose penuh maksud tersirat. "Sebagian orang yang sadar akan bahaya kematian jika berani mengusik Casandra saat sudah menjadi istrinya Jove, mungkin itu tidak akan terlalu memberatkan tugasmu. Akan tetapi bagi mereka-mereka yang nekad dan tak peduli dengan nyawa, maka kau harus bersiap sewaspada mungkin untuk melindungi menantuku. Ingat Kiara. Kau dididik menjadi wanita kuat adalah atas keinginan Jove, jadi Bibi berharap ke depannya nanti kau bisa membuat kami merasa bangga. Menjadi penjaganya Casandra hanya boleh dilakukan oleh orang pilihan saja, dan itu adalah dirimu. Kau mengerti apa maksud perkataan Bibi, bukan?"


Mata Kiara mengerjap beberapa kali. Dia kaget dan tak mengira akan secepat ini diminta melakukan tugasnya. Kiara bukan tak siap, dia hanya merasa kurang mumpuni saja untuk mengimbangi bahaya besar yang sedang mengintai Casandra.


"Paman, Bibi, maaf. Aku bukan tidak mau, tapi aku merasa kalau kemampuanku masih kurang layak untuk mulai menjaga Casandra. Bagaimana jika nanti aku sampai lengah? Jove pasti akan membunuhku!" ucap Kiara menyampaikan ketidaksiapannya. Lebih baik dia mengaku di awal daripada nanti terjadi sesuatu yang bukan-bukan. Bisa gawat nanti.


"Kiara, selama masa pelatihan kau itu di tangani oleh orang-orang berpengalaman. Bahkan Bibi pun ikut turun tangan langsung untuk melatihmu. Jadi apalagi yang perlu kau khawatirkan, hem?" sahut Rose memaklumi akan kekhawatiran gadis malang ini. Dan jujur, Rose bangga sekali karena Kiara berani mengakui kekurangannya secara langsung. Rose salut.


"Kalau aku sampai melakukan kesalahan bagaimana, Bi?"


"Maka kau akan di hukum sesuai dengan tingkat kesalahan yang kau lakukan!" sahut Adam. "Jangan takut, Kiara. Casandra sangat berharga untuk Jove. Dia tidak akan mungkin menyerahkan semua beban hanya kepadamu seorang. Dan kami juga tidak mungkin lepas tangan membiarkanmu menghadapi bahaya seorang diri. Kau punya kami, Nak. Kita akan berjuang bersama-sama. Oke?"


Sekujur tubuh Kiara langsung menghangat setelah dia mendengar perkataan ayahnya Adam. Perlahan-lahan kekhawatiran yang dia rasa pun mulai menghilang. Setelah itu Kiara dan kedua orangtuanya Jove kembali terlibat pembicaraan serius yang membahas tentang Casandra. Mereka juga memberitahu bagaimana cara terbaik untuk melindungi diri ketika sedang berada di posisi terjebak. Dan sebagai calon penjaga pilihan, sudah pasti Kiara menyimak dengan sangat seksama. Dia tak mau melewatkan perkataan mereka sedikitpun karena itu akan membuatnya rugi sendiri.

__ADS_1


Semangat Kiara. Sebentar lagi kau akan berhadapan dengan duniamu yang baru. Semangat!


***


__ADS_2