The Devil JOVE

The Devil JOVE
7. Keperkasaan Yang Mematikan


__ADS_3

Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.



***


“Bagaimana dengan bisnismu, Jove?” tanya Adam sembari memutar-mutarkan vodka di dalam gelasnya. Dia dan Jove tengah duduk berbincang di samping kolam renang selepas makan siang.


“Sejauh ini semua masih aman terkendali, Dad. Hanya terkadang muncul kerikil kecil menghambat pekerjaanku,” jawab Jove. “ Dan sepertinya malam ini kerikil-kerikil itu akan kembali mengganggu pekerjaanku. Hmmm.”


“Lalu kemana perginya anjing peliharaanmu?”


Jove tersenyum tipis. “Ada kalanya anjing menggigit tangan tuannya sendiri saat dia merasa tidak kenyang. Memang tidak semua anjing seperti itu. Namun anjing yang selama ini kupelihara adalah sejenis anjing yang tidak tahu diri!”


Adam terkekeh. Kali ini entah siapa yang telah memantik emosi putranya. Sebagai seorang mafia, Adam tentu sangat memahami arti di balik ucapan Jove barusan. Dan dia yakin salah satu anjing yang selama ini hidup dari uangnya Jove akan mati dengan cara yang mengenaskan. Itu pasti.


“Jangan terlalu kentara, Jove. Transaksimu malam ini sudah menjadi target operasi kelompok anjing Negara itu. Berhati-hatilah. Jangan sampai Mommy-mu merasa sedih!” ucap Adam mengingatkan putranya agar tidak sembarangan bergerak.


Jove mengangguk. Dia kemudian pamit pergi dari hadapan sang ayah. Tak lupa juga Jove menghampiri ibunya yang kala itu tengah beristirahat di kamar. Walaupun Jove adalah seorang mafia berdarah dingin, dia tak pernah bisa mengabaikan tugasnya untuk berbakti dan menyayangi kedua orangtuanya. Meski kadang Jove tak bisa menahan emosinya, tapi dia selalu berusaha untuk mengalah karena bagaimanapun Jove bukanlah siapa-siapa tanpa ayah dan juga ibunya.


Setelah berpamitan, Jove mengajak Franklin dan semua anak buahnya pulang. Dia perlu membereskan anak buahnya Albert yang semalam membuat kekacauan dengan membakar gudang miliknya. Saat Jove melewati jalanan tempat dia melihat si wanita tangguh, tiba-tiba saja hatinya tergerak meminta Franklin untuk berhenti di sana. Jove kemudian keluar, menatap datar ke arah bekas kecelakaan yang masih belum dibereskan.


“Ada apa, Tuan?” tanya Franklin setelah berdiri di sebelah bosnya.


“Siapa wanita itu?” sahut Jove balik bertanya.


Tanpa harus diminta tangan Franklin langsung berselancar mencari identitas wanita yang tadi mengalami kecelakaan di tempat ini. Dan tak butuh waktu lama, Franklin sudah mendapatkan semua informasi dan latar belakang dari wanita tersebut.

__ADS_1


“Wanita itu bernama Casandra, Tuan. Dia berusia 28 tahun dan berasal dari keluarga Lin,” ucap Franklin.


“Keluarga Lin?” Jove menggumam. “Pantas dia tangguh. Ternyata dia berasal dari keluarga yang cukup sulit untuk bersosialisasi. Hmmm, ini menarik!”


“Apakah saya perlu menyelidiki lebih jauh lagi tentang Nona Casandra, Tuan?”


“Tidak perlu.”


Franklin mengangguk. Dia segera membukakan pintu mobil saat bosnya berbalik hendak pergi dari sana. Setelah itu Franklin kembali melajukan mobil menuju rumah. Setelah berkendara selama dua puluh menit, mobil bergerak memasuki sebuah mansion mewah yang di jaga oleh banyak sekali penjaga berseragam hitam. Dan semua penjaga itu langsung menundukkan kepala saat Jove melangkah keluar dari dalam mobil. Raut wajah Jove begitu dingin, hingga membuat seluruh anak buahnya bergidik takut.


“Bawa mereka semua ke hadapanku, Frank. Waktu kita sudah tidak banyak!” ucap Jove sembari melepaskan jas yang di pakainya.


“Baik, Tuan.”


Segera Franklin memerintahkan bawahannya untuk menyeret anak buahnya Albert yang ditahan di ruang bawah tanah. Sambil menunggu mereka datang, Franklin memeriksa kembali pergerakan pihak kepolisian yang berniat menggagalkan rencana nanti malam.


“Don biar aku saja yang urus. Aku perlu mengingatkannya dengan siapa dia sedang berhadapan!” sahut Jove sembari tersenyum. “Malam ini transaksi akan tetap dilakukan. Atur tempat yang baru dan jangan lupa bawa anjing berseragam itu. Dia boleh saja menyepelekan omongan Don, tapi tidak denganku. Habisi semua keluarganya!”


“Baik, Tuan!”


Tanpa banyak babibu lagi Franklin segera memerintahkan bawahannya untuk membunuh keluarga dari polisi yang tadi di temui oleh Don. Sungguh, adalah hal yang sangat buruk memancing kemarahan seorang Jove Lorenzo. Apa polisi itu tidak pernah mendengar rumor yang menyebutkan kalau siapapun yang bermasalah dengan bosnya, orang itu pasti mati. Bahkan sampai ke seluruh keluarganya. Sepertinya polisi itu mempunyai nyawa cadangan hingga berani membagikan informasi penting tentang rencana bosnya yang akan melakukan transaksi narkoba jenis heroin dengan salah satu pemasok terbesar dari Negara AG. Luar biasa. Franklin sangat takjub akan keberanian polisi tersebut.


Dasar bodoh. Aku jadi penasaran apa isi otakmu sampai kau berani menyinggung seorang Jove Alexander Lorenzo secara terang-terangan. Tidakkah kau tahu keuntungan dari transaksi ini bisa menghidupi ribuan manusia hingga bertahun-tahun lamanya? Benar-benar konyol. Rasakan akibatnya.


Tak lama kemudian anak buahnya Jove datang membawa lima orang pria yang wajahnya sudah tidak berbentuk lagi. Jove kemudian tersenyum. Dia lalu menggulung kemeja hitamnya hingga sebatas siku kemudian berjongkok sambil mencengkeram kuat dagu dari salah satu anak buahnya Albert. Meski bibirnya menyunggingkan senyum, tapi mata elangnya Jove menunjukkan betapa dia sangat amat marah akan apa yang terjadi. Dan ketika Jove hendak bicara, dia menyadari sesuatu hal.


“Bawakan pisau dan tang untukku!”

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


“Hmmmm, Albert. Trikmu terlalu mudah untuk dibaca. Jangan kau kira aku tidak akan mengetahui kalau kau menanamkan sebuah cip perekam di bawah lidah anak buahmu. Kau terlalu kekanakan!” ucap Jove dingin.


“T-Tuan Jove, tolong ampuni aku. Aku hanya ….


“Ini tang dan pisaunya, Tuan,” ucap Franklin sembari menyerahkan dua alat yang tadi diminta oleh bosnya. Ekor matanya kemudian melirik ke arah anak buahnya Albert yang ketakutan melihat benda yang di bawanya.


“Pegangi tangannya. Aku perlu memotong lidahnya untuk mengambil chip yang tertanam di mulutnya!” perintah Jove seraya memainkan pisau di depan mata anak buahnya Albert. Hummmm, bahkan aroma darah sudah langsung tercium sebelum Jove memakai pisau tersebut untuk mengeksekusi lawan. Sangat menyenangkan.


Bekerja menjadi pengawal seorang mafia memanglah sangat berbahaya, bahkan terkadang harus rela kehilangan nyawa. Dan itulah yang sedang dirasakan oleh anak buahnya Albert dimana sekarang dia harus berhadapan dengan seorang mafia kejam bernama Jove Lorenzo.


Kreeessssss


“AAAAAAAAAAAAAA!!!!”


Bau amis seketika mencuat setelah Jove memotong lidah anak buahnya Albert. Menggunakan tang yang tadi di bawa Franklin, Jove mencabut paksa empat buah gigi lalu mengorek daging di bawah lidahnya guna mengambil chip yang tertanam di sana. Jove kemudian tertawa melihat tubuh anak buahnya Albert mengejang dengan bola mata membeliak lebar. Setelah mengobrak-abrik isi dalam mulut pria tersebut, Jove akhirnya menemukan apa yang di carinya. Dan barulah dia melepaskannya setelah Franklin berkata kalau pria itu sudah mati.


“Pecundang. Aku baru mencabut empat buah gigi dan memotong lidahmu tapi kau sudah lebih dulu mati. Harusnya kau tidak masuk ke dunia seperti ini kalau keadaanmu begitu lemah. Anak buhamu sungguh sangat mengecewakan, Albert,” gumam Jove sambil memainkan chip yang berlumuran darah di tangannya. Dia sama sekali tak mempedulikan wajah dan pakaiannya yang jugadi penuhi noda darah.


“Tuan Jove, bagaimana dengan sisanya?” tanya Franklin sambil menatap sisa musuh yang masih hidup.


“Cabut semua gigi dan kuku mereka lalu hubungi Paman Gerald. Mungkin dia butuh jantung mereka untuk bahan percobaan,” jawab Jove dengan santainya. “Setelah ini kau segeralah bersiap, Frank. Jangan sampai terlambat.”


“Baik, Tuan,” sahut Franklin seraya menganggukkan kepala.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Jove merobek kemejanya lalu membuangnya asal. Terlihat otot-otot tubuhnya yang begitu kekar, menunjukkan betapa dia sangat perkasa. Iya perkasa, tapi keperkasaan yang membawa kematian.

__ADS_1


***


__ADS_2