The Devil JOVE

The Devil JOVE
115. Merasa Aneh


__ADS_3

Setelah berhasil terlepas dari kekuasaan Jove, Casandra akhirnya bisa leluasa beraktifitas. Dia dengan santai melambaikan tangan ke arah mobil calon suaminya yang mulai bergerak meninggalkan halaman depan L Group, perusahaan milik sang ayah. Sambil mengibaskan rambut, Casandra melangkah masuk ke dalam. Dia lalu tersenyum manis saat beberapa karyawan menyapa.


"Apa kalian masih akan terus mengikutiku?" tanya Casandra sesaat sebelum masuk ke dalam lift. Dia bicara pada dua penjaga yang mengekor di belakangnya.


"Selama Tuan Jove memerintahkan, maka ke lubang kubur sekalipun kami akan tetap mengikuti anda, Nona," sahut salah satu penjaga.


"Hmmm, tidak ku sangka ternyata kalian begitu takut pada perintah Jove. Aku salut!"


"Terima kasih atas pujiannya."


"Hei, itu bukan pujian ya. Tapi itu adalah sindiran untuk kalian berdua. Paham?"


Sambil bersungut-sungut, Casandra masuk ke dalam lift. Dia memilih untuk berdiri di pojok dan membiarkan kedua penjaga itu berdiri tepat di hadapannya. Tadi saat di perjalanan menuju kantor sebenarnya Casandra sudah berusaha membujuk Jove agar tidak membiarkan penjaga mengikutinya saat sedang berada di perusahaan. Jujur, Casandra merasa tak bebas. Namun apa daya. Bukannya setuju untuk menarik kedua penjaga ini, Jove malah dengan songongnya berkata akan menambah armada lagi agar setiap sudut L Group di penuhi oleh anak buahnya. Gila, bukan? Dan kegilaan ini membuat Casandra hanya bisa patuh dengan membiarkan kedua pria berwajah datar ini tetap mengikutinya kemana-mana. Dia sudah pasrah.


Ting


Pintu lift terbuka. Dan kedua alis Casandra langsung tertaut begitu melihat siapa yang sedang menunggunya. Ayahnya Regent, Paman Eriko. Sambil tersenyum lebar pria tua itu terus menatap ke arah lift di mana Casandra berada.


"Tuan Eriko, perhatikan bibir anda dengan baik. Jangan tersenyum seperti itu kepada Nona Casandra atau kami akan memanjangkan bibirmu sampai ke dekat telinga!" tegur salah satu penjaga tanggap akan keanehan yang dirasa oleh wanita yang masih belum keluar dari dalam lift. Dia lalu melangkah keluar lebih dulu kemudian berdiri berhadap-hadapan dengan pria yang sudah mendapat tanda merah di mata Tuan Jove. "Sebaiknya anda jangan terlalu memprovokasi, Tuan. Karena saya tidak pandang bulu meski anda adalah Paman Nona Casandra!"


Brengsek! Berani sekali penjaga rendahan seperti mereka mengancamku. Tapi tidak ada apa-apa, Eriko. Tenang. Tujuanmu datang ke L Group adalah untuk mendapatkan perhatian Casandra. Jadi jangan sampai emosimu merusak sesuatu yang sudah kau rencanakan dengan baik. Sabar. Tenang.

__ADS_1


"Apa salah jika seorang Paman ingin menyapa keponakannya sendiri?" tanya Eriko mulai bermain peran. "Seseorang memberitahuku kalau wanita yang sedang kalian jaga telah ditawan di rumah seorang mafia. Wajar sekali bukan jika aku mengkhawatirkannya?"


"Apa maksud Paman bicara seperti itu di depan penjagaku?" Casandra bereaksi. Dia merasa tersinggung saat pamannya menyebut kalau Jove telah menawannya. Setelah itu Casandra melangkah keluar dari dalam lift kemudian berdiri di belakang punggung si penjaga. "Paman Eriko, entah siapa yang telah memberitahumu tentang hal tidak masuk akal ini. Akan tetapi ketahuilah kalau Jove sama sekali tak menawanku. Aku sendirilah yang ingin tinggal bersamanya. Tahu?!"


"Cassey, Ayahmu sudah memberitahukan hal ini kepada Paman. Namun, Paman masih merasa tidak tenang sebelum mendengarnya langsung dari mulutmu!" sahut Eriko terus berusaha. "Oke anggaplah memang benar kalau kau tinggal di rumah mafia itu adalah atas keinginanmu sendiri. Akan tetapi tidakkah kau berfikir seperti apa latar belakang keluarga kita? Jika orang luar sampai tahu kau tinggal bersama seorang pria asing tanpa memiliki ikatan yang jelas, orang pasti akan menganggapmu sebagai wanita murahan. Kau tahu itu akan sangat mencoreng nama baik keluarga Lin, bukan?"


Satu smirk tipis muncul di sudut bibir Casandra saat dia mendengar nasehat sang Paman yang terkesan sedang meremehkannya. Tak terima, Casandra maju selangkah ke depan hingga kini sejajar dengan tubuh si penjaga. Setelah itu Casandra melipat tangan dan memperhatikan sang paman seseksama mungkin. Dia penasaran sebenarnya atas tujuan apa pria ini sampai repot-repot datang mengunjunginya di L Group.


"Paman, hubungan kita tidak pernah sampai sedekat itu sehingga Paman bisa bersikap sekhawatir ini terhadapku. Jujur saja. Katakan apa yang sebenarnya ingin Paman ketahui tentang hubunganku dengan Jove!"


Cihhh, dasar licik. Tidak anak tidak orangtua, sikapnya benar-benar sangat menjijikkan. Untung saja suasana hatiku sedang tidak buruk. Kalau tidak, aku pasti sudah memakinya kemudian meminta kedua penjaga ini untuk mengusirnya pergi dari perusahaan. Membuang waktu saja. Huh.


"Jangan salah paham dulu, Cassey. Paman datang kemari adalah murni karena mengkhawatirkanmu saja. Sungguh," sahut Eriko santai.


"Tentu saja."


"Tapi sayang sekali, Paman Eriko. Aku bukan bocah tujuh tahun yang bisa dengan mudah kau bohongi!" ejek Casandra menolak untuk percaya. "Selama kita menjadi keluarga, belum pernah sekalipun aku melihatmu yang begitu khawatir seperti ini. Bahkan di saat aku hampir mati karena kecelakaan yang di sebabkan oleh putramu, kau sama sekali tak menunjukkan rasa empati ataupun rasa bersalah atas perbuatan Regent. Tapi sekarang? Mendadak kau muncul di perusahaan kemudian dengan tidak tahu malunya berkata kau sedang mengkhawatirkan aku. Tidakkah menurutmu ini sangat lucu?"


"Yang kau katakan memang benar, tapi kedatangan Paman kemari ada alasan kuat di baliknya!" sanggah Eriko masih terus berusaha sabar meski hatinya sudah terasa sangat panas. Dia terbakar amarah mendengar celotehan gadis ini. "Walaupun Paman dan Ayahmu adalah saudara tiri, tapi Paman tetaplah bagian dari keluarga Lin. Dengan kau tinggal bersama Jove tanpa ada ikatan yang jelas, secara tidak langsung itu sudah mencoreng nama baik Paman dan Regent juga. Orang-orang pasti akan menegur Paman jika mereka sampai mengetahui hal ini. Tahu?"


"Siapa bilang aku dan Jove tidak mempunyai ikatan? Paman salah jika berpikir seperti itu!"

__ADS_1


Eriko langsung mengerutkan kening mendengar perkataan Casandra. Dia menatap seksama pada gadis ini, menunggu penjelasan di balik perkataan tersebut.


"Jove sudah melamarku. Kami hanya tinggal mencari kapan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan!" ucap Casandra sambil tersenyum sinis. "Jadi jika orang-orang mulai menyudutkan Paman dan juga Regent, kalian tinggal bilang saja kalau sebentar lagi kami akan segera menyebar undangan. Beres, kan?"


"A-apa? Kau dan Jove ... kalian akan segera menikah?" Eriko syok. Nafasnya sampai tercekat mendengar hal tersebut. Dia lalu menggumam lirih. "Ini mustahil. Rencanaku bisa terhambat aral panjang jika kedua orang ini sampai bersatu. Tidak-tidak, aku harus sudah berhasil menculik Casandra sebelum pernikahan mereka terjadi. Harus!"


Casandra terus memperhatikan raut wajah sang paman yang langsung berubah aneh setelah dia memberitahukan tentang rencana pernikahannya dengan Jove. Sangat janggal. Casandra seperti menangkap adanya gurat kekhawatiran yang begitu besar di mata pria yang sedang sibuk dengan gumamannya. Hal ini membuat Casandra jadi merasa kalau sang paman telah mengetahui tentang adanya darah langka di tubuhnya. Tak ingin sang paman menyadari kegelisahan di hatinya, Casandra kembali membuka pembicaraan yang bisa membuat pria ini bisa segera enyah dari hadapannya. Casandra ingin menghubungi Jove.


"Kau terlihat begitu kaget sekali, Paman. Ada apa, hem? Apa Paman masih merasa keberatan juga setelah tahu kalau aku bukan wanita murahan seperti yang Paman sebutkan barusan? Iya?"


"Cassey, Paman hanya terlalu kaget saja mendengar hal ini. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Kalau memang pernikahan ini adalah yang terbaik untuk kalian, Paman hanya bisa merestui saja. Paman doakan semoga rencana kalian bisa berjalan lancar sampai hari H tiba. Dan jika ada waktu, sesekali ajaklah Paman dan kedua orangtuamu untuk makan malam bersama. Tentunya sebelum statusmu berganti dari seorang gadis menjadi seorang istri. Oke?" sahut Eriko menggunakan cara terakhir agar bisa mengajak gadis ini pergi keluar. Dan jika berhasil, maka itu akan menjadi hari paling membahagiakan di hidup seorang Eriko Lin.


"Akan aku kabari setelah aku memberitahu Ayah dan juga Ibu." Casandra melihat jam. Dia lalu menatap sang paman dengan pandangan jengah. "Paman, aku sudah cukup lama menghabiskan waktu untuk mengobrol tidak jelas denganmu. Sekarang kau pergilah dari sini. Aku mau masuk ke ruanganku dulu untuk memeriksa pekerjaan!"


"Owh, baiklah. Paman juga harus segera pergi ke rumah sakit untuk menjemput Regent. Hari ini dia keluar dari rumah sakit!"


"Ya sudah kalau begitu pergilah sekarang. Takutnya nanti ada seseorang yang membawa pria tengik itu pergi dari rumah sakit kemudian membunuhnya. Regent itukan biang onar. Aku yakin musuhnya pasti ada di mana-mana!"


"Cassey, kau ....


Belum sempat Eriko menyelesaikan perkataannya, Casandra sudah lebih dulu melenggang pergi dari sana. Sontak saja hal ini membuatnya merasa sangat tersinggung sekali. Akan tetapi Eriko tak bisa melakukan apa-apa karena kedua penjaga yang mengawal gadis angkuh itu langsung melayangkan tatapan membunuh ke arahnya.

__ADS_1


Dasar gadis angkuh. Tunggu saja. Sekarang kau mungkin bisa bersikap pongah di hadapanku, tapi nanti, heh. Menangis darah pun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Cuihhhh.


***


__ADS_2