The Devil JOVE

The Devil JOVE
140. Pemain Handal


__ADS_3

Casandra menatap tak berkedip ke arah tato yang terpahat di punggung Jove. Walaupun bukan yang pertama kali melihat, tapi dia tetap saja terpana. Terlalu gahar, sangat cocok dengan perangai suaminya yang dingin dan juga kejam.


"Terpesona, em?"


Jove berjalan menuju ranjang. Dia lalu membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Casandra. Wanita ini, kini telah resmi menyandang gelar sebagai Nyonya Lorenzo. Harus berapa kali Jove akui kalau hatinya teramat sangat bahagia. Terlebih lagi di antara mereka sudah tidak ada bahaya yang menghalang, membuat Jove jadi semakin mencintainya saja.


"Memang salah kalau terpesona pada suami sendiri?" jawab Casandra sewot. "Lagipula aku terpesona bukan pada orangnya, tapi pada tato yang ada di punggungmu."


"Bukankah kau sudah pernah melihatnya?"


"Memang sudah, tapi aku tetap saja merasa terpesona. Aku jadi penasaran ingin membuat tato juga. Boleh tidak?"


Bruk


Casandra kaget setengah mati saat Jove tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga jatuh telentang di atas kasur. Jika biasanya dia akan langsung berontak, kali ini tidak. Casandra malah dengan sengaja melingkarkan tangan ke leher suaminya yang terlihat marah gara-gara mendengar perkataannya barusan. Hehehe, siapa suruh menggodanya. Ya dia goda baliklah.


"Marah ya?"


"Aku bahkan tak rela melihat seekor nyamuk singgah di kulit lembutmu. Lalu kau dengan seenak jidat bicara ingin membuat tato?" ucap Jove dingin. Sudut bibirnya kemudian terangkat ke atas membentuk satu seringai yang cukup lebar. "Daripada aku harus membiarkan orang lain membuat tato di tubuhmu, lebih baik aku kuliti saja seluruh tubuhmu dengan tanganku sendiri. Dengan begitu kau akan selalu ingat kalau aku adalah tukang tato terbaik yang pernah kau kenal. Mau?"


"Baru kali ini aku mendengar ada seorang suami yang tega mengancam istrinya sendiri di malam pertama mereka. Tidakkah kau berpikir kalau kau itu sudah kelewat sadis, Jove?" protes Casandra agak ngeri mendengar ancaman yang baru saja Jove lontarkan. Dia hanya bercanda, kenapa mafia ini menanggapinya dengan begitu serius. Ya ampun, jadi takutkan dia sekarang.


"Justru karena kau sudah menjadi istriku maka kau harus belajar apa saja yang bisa memantik emosiku. Dan aku paling tidak suka milikku di sentuh oleh orang lain. Kau tahu itu wanita nakal?"


"Aku bukan wanita nakal, aku wanita baik-baik!"


"Lalu sebutan apa yang cocok untuk wanita yang berniat membuat tato di tubuhnya? Wanita alim? Atau wanita suci?"

__ADS_1


Casandra tergelak. Dia lalu memukul lengan Jove sedikit kuat. Benar-benar ya mafia satu ini. Paling pandai membuat orang menjadi kesal. Huh.


Jove mengembuskan nafas panjang melihat Casandra mengerucutkan bibir. Gemas, diapun menciumnya. Cukup lama, hingga suara decapan bibir mereka memenuhi seluruh ruangan kamar. Kali ini ciuman terasa jauh lebih manis karena Casandra membalas dengan penuh perasaan. Jove jadi tidak perlu bersusah payah memaksa dan memancingnya seperti dulu.


"J-Jove, kau bilang malam ini akan membiarkan aku istirahat. Kenapa tanganmu malah menjalar kemana-mana?" tanya Casandra agak kaget saat tangan Jove menelusup masuk ke balik baju yang di pakainya. Dia sampai gugup di buat pria ini.


"Hanya ingin menyentuhnya saja. Tidak apa-apa, kan?" sahut Jove dengan nafas yang mulai berat. Manalah mungkin dia tahan untuk tidak menyentuh tubuh istrinya yang candu ini. Bahkan sekarang otaknya Jove sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia gairah.


"Menyentuh apanya. Jelas-jelas jarimu tak mau diam. Itu tandanya kau sedang memancing gairahku!"


"Kalau begitu nikmati saja."


"Tapi aku lelah,"


"Aku yang akan bergerak. Kau cukup mend*sah dan bilang kalau kau mencintaiku. Aku akan langsung membawamu terbang melayang," bisik Jove sambil menelan ludah. Dia lalu menggigit bibir bawahnya saat mata mulai berkabut n*fsu. "Sayang, aromamu membuatku seperti akan gila. Aku tidak bisa jika tidak menyentuhmu. Bagaimana ini?"


"Mau aku bantu dengan cara lain tidak? Sungguh Jove, aku benar-benar kelewat lelah setelah seharian berdiri dan menyalami para tamu undangan. Aku takut kau tidak puas jika aku melayaninya hanya setengah-setengah," ucap Casandra mencoba meminta pengertian Jove. Jika pria ini menolak, maka terpaksa Casandra harus menyerahkan diri. Mau bagaimana lagi. Gairah suaminya ini selalu memuncak setiap mereka berdekatan.


"Maaf,"


"Ha?"


Jove menatap lekat manik matanya Casandra. Wajahnya memerah karena terbakar gejolak birahi.


"Maaf karena aku tidak bisa menepati perkataanku. Aku tahu kau lelah, akupun sama. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya, sayang. Aku harus bagaimana?"


"Kalau begitu jangan di tahan!"

__ADS_1


"Tapi kau ....


Sebelum Jove menyelesaikan perkataannya, Casandra sudah lebih dulu meraup bibirnya. Percuma di tahan-tahan. Karena secara perlahan tubuhnya juga mulai terbakar akibat gerakan tangan Jove di bawah sana. Casandra memang sangat lelah, tapi mau bagaimanapun malam ini adalah malam pertamanya dengan Jove. Dia tidak boleh egois. Jadi menggunakan tenaga yang tersisa, semampu mungkin dia akan melayaninya.


"Sayang, jangan memaksa. Besok pagi kita masih harus pergi ke Jepang. Nanti kau tidak bisa bangun," bisik Jove sambil mengusap bibir Casandra yang terlihat semakin merah akibat dia yang terlalu semangat mel*matnya.


"Yakin tidak mau?"


Dengan gerakan yang menggoda, Casandra menurunkan ikatan baju yang di pakainya. Matanya terus saja mengawasi perubahan ekpresi di wajahnya Jove dari yang terlihat tersiksa, bertambah semakin tersiksa akibat ulahnya.


"Aku memang lelah, tapi aku akan tetap melakukannya. Karena apa? Karena sekarang adalah malam pertama kita. Jadi mari kita lakukan, Jove. Aku milikmu malam ini," bisik Casandra sembari membelai lembut wajah tampan suaminya yang sudah merah padam. Jakun pria ini terus saja bergerak cepat, menandakan betapa dia sangat amat mendamba akan kenikmatan tubuhnya.


"Kau yakin?" tanya Jove memastikan. Kepalanya jadi terasa pusing melihat bagian dada Casandra yang sudah terekspos bebas di depan mata. Namun sebisa mungkin Jove masih berusaha bertahan. Dia ingin sedikit toleransi seperti kebanyakan pria-pria di luaran sana yang katanya tidak akan memaksa jika si wanita sedang lelah.


"Apa perlu aku yang memperkosamu lebih dulu?"


Jove terkekeh. Agak frontal perkataan istrinya ini. Sungguh sangat menarik. Hanya dalam hitungan detik Casandra bisa menunjukkan sikap yang berbeda-beda. Kadang lembut, kadang kasar, dan terkadang juga sangat manis. Akan tetapi untuk bagian yang manis biasanya Casandra hanya akan melakukan di saat-saat tertentu saja. Seperti saat melepas bajunya tadi. Sikap manis itu sanggup membuat pandangan Jove menjadi berkunang-kunang. Sangat seksi.


"Aku tidak akan melepaskanmu malam ini, sayang. Dan aku tidak akan peduli meski kau merengek sekalipun!" ucap Jove yang akhirnya kalah akan pertahanan diri. Dia tak kuasa menolak kenikmatan yang coba Casandra tawarkan. Dia tidak bisa.


"Baiklah, siapa takut!" sahut Casandra dengan sombongnya.


Tuhan, tolong jangan buat aku pingsan di tengah permainan. Pria yang menjadi suamiku ini tak pernah cukup jika hanya melakukannya sekali, dia pasti akan melakukannya beberapa kali. Tolong jangan biarkan aku kalah, Tuhan. Aku mohon.


Andai saja Jove bisa mendengar isi hati Casandra, di jamin dia pasti akan tertawa terbahak-bahak. Casandra yang menawarkan diri, tapi dia juga yang ketakutan melayani n*fsunya yang memang sangat besar. Tapi ya sudahlah, biarkan itu menjadi derita Casandra saja. Karena sekarang Jove sudah fokus menyentuh di sana sini. Sedangkan Casandra, wanita yang sok kuat itu kini tengah memejamkan mata sambil terus mengerang menghadapi rentetan kenikmatan di tubuhnya. Jove adalah pemain handal, sudah pasti dia akan menyiksa istrinya sampai tak berdaya sebelum menjemput kenikmatan yang sebenarnya. Ah, malam masih sangat panjang. Dan derita Casandra baru saja dimulai.


***

__ADS_1


__ADS_2