The Devil JOVE

The Devil JOVE
54. Kolam Dan Jurang


__ADS_3

Franklin memberikan satu senjata api pada bosnya yang barusaja keluar dari dalam mobil. Setelah itu Franklin juga menyiapkan satu senjata api untuknya sendiri sebelum dia mengikuti bosnya berjalan menuju satu bangunan yang terhalang pintung gerbang dengan ukuran yang cukup tinggi.


“Lempar peledaknya!” perintah Jove seraya membenarkan letak kaca mata hitamnya.


“Baik, Tuan.”


Dua anak buahnya Franklin langsung melemparkan granat ke arah pintu gerbang yang tertutup rapat. Setelah itu semua orang berjalan santai menuju tembok samping gerbang, menunggu selama beberapa detik sampai granat itu meledak dan menghancurkan gerbang yang menjadi penghalang.


Duaaarrrrr


“Hemmm,” Jove menggumam. Dia kemudian mengulurkan tangan pada Franklin. “Seharusnya mereka tidak membuat kita menunggu terlalu lama di sini. Aku bosan!”


“Apa perlu saya memerintahkan mereka untuk memancing para bedebah itu agar keluar dari kandang, Tuan?” tanya Franklin sembari mengambil sebatang rokok. Setelah itu Franklin memberikan rokok tersebut pada bosnya dan tak lupa juga untuk menyalakan korek dan membakar ujungnya. Sambil menunggu bosnya menjawab, Franklin memperhatikan ke arah gerbang yang masih tertutup asap cukup tebal. Dia kemudian tersenyum. “Sungguh bodoh. Entah apa yang dipikirkan Albert sampai dia berani meminta bantuan pada Awan untuk menghabisi seorang Jove Lorenzo. Apa jangan-jangan otaknya sudah tumpul sampai tidak bisa membedakan mana jurang dan mana kolam?”


“Jangan terlalu banyak mengeluh, Frank. Albert hanya sedang tersesat, jadi kita wajib untuk memberinya teguran kecil supaya sadar,” sahut Jove sembari menghisap rokok dalam-dalam. Setelah itu Jove menghembuskan asapnya ke atas. Dia kemudian terkekeh. “Awan ... aku jadi penasaran padanya. Hmmm,”


Saat Jove tengah berbincang dengan Franklin, terdengar suara gaduh dari arah dalam gerbang. Jove yang tahu kalau para penjaga di rumah Albert sadar ada penyerangan tanpa pikir panjang segera menarik pelatuk pistol lalu mengarahakannya ke arah depan. Dan bagi siapapun yang muncul pertama kali, dia akan menjadi orang paling sial hari ini. Kenapa begitu? Karena orang tersebut akan mati dengan kepala pecah berhamburan.

__ADS_1


“Brengsek. Bajingan mana yang berani menghancurkan gerbang rumah milik Tuan Albert? Cari mati!” umpat seorang penjaga sambil menutup hidungnya saat menghirup asap tebal akibat ledakan. Dia kemudian berlari keluar jalan dan melihat ke sana kemari, mencaritahu siapa pelaku yang telah menghancurkan pintu gerbang di kediaman bosnya.


“Aku orangnya!”


Doorrrrr


Bruukk. Penjaga yang tadi mengumpat langsung jatuh terkapar di tanah dengan kepala hancur. Melihat hal itupun Jove dan Franklin tak kuasa untuk tidak tersenyum. Setelah itu mereka dan para pengawal yang sedang bersembunyi di balik tembok langsung keluar dan mulai menembaki anak buahnya Albert. Tanpa ada perlawanan, belasan anak buah Albert mati dengan lubang di kening dan dada mereka. Sedangkan Jove dan anak buahnya semua selamat tanpa ada yang terluka.


“Kalian periksa ke dalam. Hati-hati, anak buahnya Albert masih belum muncul semua!” perintah Franklin sambil memicingkan mata memperhatikan keadaan sekitar. Dia lalu berdiri di hadapan tubuh bosnya saat mendengar ada suara langkah kaki mendekat. “Tolong tetap di tempat anda sekarang, Tuan. Seseorang sedang berjalan kea rah kita!”


Jove malah dengan santainya mendorong tubuh Franklin ke samping lalu mengarahkan pistolnya ke arah depan. Sambil tersenyum evil, Jove menunggu seseorang yang akan muncul dari balik kepulan asap yang belum sepenuhnya menghilang.


“T-tolong. J-jangan tembak saya. S-s-saya hanya tukang kebun di sini,” ucap seorang pria dengan tubuh kecil yang muncul dengan kedua tangan terangkat ke atas. Ekpresi wajahnya terlihat ketakutan, seolah tahu kalau orang-orang yang tengah berdiri di hadapannya akan langsung menghabisinya tanpa basa-basi. Jadi dengan suara gemetar pria tersebut langsung mengatakan profesinya yang hanya seorang tukang kebun.


Antara Jove, Franklin dan juga para pengawal, masing-masing dari mereka saling memperlihatkan ekpresi yang berbeda begitu melihat kemunculan pria kecil tersebut. Jika Franklin dan anak buahnya tampak mengerutkan kening mereka, lain halnya dengan ekpresi yang muncul di wajahnya Jove. Sambil meng*lum senyum Jove berjalan menghampiri pria tersebut. Namun sebelum itu dia sudah lebih dulu memberikan pistolnya pada Franklin.


“T-Tuan, tolong jangan bunuh saya.”

__ADS_1


“Tentu saja tidak, kau tenang saja,” sahut Jove dengan ramah. Namun sedetik kemudian, Jove tiba-tiba sudah melingkarkan sebuah belati di leher pria itu. Setelah itu Jove terkekeh, merasa lucu dengan cara pria ini mengelabuinya. “Harusnya kau itu mengganti jam tanganmu dulu jika ingin menyamar sebagai tukang kebun. Mungkin jika orang yang ingin kau tipu tidak mengenal merk dari barang mewah yang sedang kau kenakan, mereka pasti akan langsung percaya kalau kau itu hanyalah seorang pria lemah yang tidak berdaya. Tapi aku ini Jove, mafia terkaya yang bahkan kekayaanku jauh melebihi kekayaan bosmu. Jadi bagaimana bisa kau terpikir untuk menipuku dengan casing mewah yang masih menempel jelas di tubuhmu, hm? Kalau ingin melawak pergilah ke panggung komedi, jangan di sini. Kau salah tempat, Bung!”


Awalnya pria itu terlihat sangat kaget saat Jove dengan cepat menyadari kebohongannya. Tapi tak lama setelahnya pria itu tiba-tiba tertawa sangat kencang. Dia lalu bertepuk tangan dengan heboh tanpa mempedulikan belati tajam yang sedang melingkar di lehernya.


“Oke-oke. Aku akui kalau trik kali ini seratus persen gagal. Kau benar kalau aku hanya sedang memainkan alibi untuk menipumu saja, Jove. Kau benar sekali!”


Satu seringai muncul di bibir Jove saat mendengar pengakuan pria tersebut. Tak mau berlama-lama, Jove perlahan menggorok leher pria itu sambil menatap ke arah Franklin yang sedang merekam dengan ponsel. “Albert, berhentilah bermain-main denganku. Hari ini aku khusus datang menyapa kediamanmu karena aku tidak suka dengan perbuatanmu. Dan lihatlah sekarang. Penipu kecil ini dan belasan anak buahmu harus mati di tanganku. Aku sarankan lebih baik kau jangan mengusik sesuatu yang bukan milikmu. Sekarang mungkin baru anak buahmu yang aku gorok lehernya, tapi di lain hari bisa jadi kau yang akan mati dengan cara seperti ini. Tetaplah di jalanmu dan jangan coba-coba mengusik harimau yang sedang terlelap. Mengerti?”


Setelah berkata seperti itu Jove langsung menggorok habis leher pria itu. Dia lalu melemparkan kepalanya ke dalam rumah Albert yang sudah sepi. Entah sepi karena sudah tidak ada orang atau karena para penjaganya bersembunyi di dalam rumah, Jove tak peduli. Yang jelas Albert harusnya paham kalau kepala anak buahnya adalah tanda kalau Jove sedikit merasa tersinggung.


“Kirimkan video itu pada Albert. Sekarang!” perintah Jove sembari menjilat ceceran darah yang membasahi tangannya. Dia kemudian meludah pada tubuh mayat yang terkapar tanpa kepala. “Aku masih cukup berbaik hati dengan hanya memisahkan kepalamu saja dari tubuhmu. Kalau suasana hatiku sedang buruk, aku akan membuatmu menjadi aliran dana ke rekeningku. Dasar sampah. Cuihhh!”


Franklin segera mengirimkan video yang tadi dia rekam ke nomornya Albert. Oya, kalian mungkin penasaran darimana Franklin bisa mendapatkan nomornya Albert. Tentu saja itu adalah sesuatu yang sangat mudah baginya. Seorang mafia kelas kakap seperti Jove Lorenzo sudah pasti memelihara hecker handal di suatu tempat. Dan begitu Franklin meminta hecker tersebut untuk mencaritahu tentang identitas seseorang, hanya dalam hitungan menit dia sudah akan mendapatkannya. Mudah sekali bukan?


“Tuan, videonya sudah saya kirimkan pada Albert!” lapor Franklin. Dia lalu memberikan sapu tangan pada bosnya kemudian menatap sinis pada mayat tanpa kepala yang tergeletak di tanah.


“Kita pulang saja. Aku perlu menghubungi Pamela untuk menanyakan tentang wanita itu. Keselamatan Casandra mulai terancam, aku butuh Kaira untuk melindunginya,” sahut Jove sambil berjalan menuju mobil. Dia kemudian tersenyum saat merasakan perih di bagian dadanya. “Lihatlah, Casandra. Rasa sakit ini membuatku jadi ingin memprovokasi kemarahanmu. Tapi maaf, sekarang aku tidak akan mengunjungimu dulu. Ada hal penting yang harus segera aku lakukan. Tunggu besok pagi saja ya!”

__ADS_1


Semua anak buahnya Jove segera masuk ke dalam mobil masing-masing setelah melihat Franklin dan bos mereka sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil juga. Setelah itu mereka semua pergi dari sana, meninggalkan belasan mayat tergeletak begitu saja. Termasuk juga dengan pria penjaga kebun yang mati dengan keadaan paling mengenaskan. 😏


***


__ADS_2