
Praannggg
Para pelayan langsung menunduk takut saat Casandra dengan marahnya melemparkan vas bunga ke arah cermin rias. Entah apa yang terjadi. Sejak majikan mereka membuka mata, majikan mereka yang cantik ini terus saja marah-marah tidak jelas. Namun anehnya majikan mereka sama sekali tidak mengatakan apapun. Hanya melempar asal semua barang yang diihatnya sembari menampikan ekpresi yang begitu muak akan sesuatu hal. Aneh sekali bukan?
“No-Nona C-Casandra, tolong tenanglah. Beritahu kami apa yang sedang terjadi. Kami takut anda akan terluka karena terkena serpihan kaca,” ucap salah seorang pelayan mencoba membujuk sang majikan yang tengah berusaha melemparkan kursi rias ke arah jendela.
“Hidupku benar-benar sangat sial karena bertemu dengan bajingan itu. Aku muak!” sahut Casandra sambil menggeretakkan gigi. Dia kemudian menunduk saat merasakan seperti ada sesuatu yang menusuk telapak kakinya. Setelah itu sebelah sudut bibir Casandra tertarik ke atas. “Cihhh, bahkan rasa sakit dari menginjak pecahan kaca ini sama sekali tak sebanding dengan perlakuan bajingan itu dalam melecehkan aku. Kau benar-benar sangat k*parat, Jove. Aku sungguh sangat ingin membunuhmu sekarang juga!”
Mendengar kata pelecehan yang terucap keluar dari mulut Casandra membuat salah seorang pelayan diam-diam keluar dari sana. Dan ketika pelayan itu membuka pintu, dia di buat kaget oleh kemunculan seorang pria tampan berwajah dingin yang akhir-akhir ini sering muncul di kediaman keluarga Lin. Jove, dialah pria tersebut.
“T-Tuan Jove,” sapa pelayan sambil menundukkan kepala. Tengkuknya meremang seketika. Dia takut.
Jove diam tak menyahut. Matanya terus tertuju ke arah Casandra yang belum menyadari kedatangannya. Sambil membawa sebuket bunga mawar di tangannya, Jove melangkah masuk ke dalam. Dia lalu menatap satu-persatu pelayan yang ada di sana kemudian memberi isyarat agar mereka semua pergi meninggalkannya dengan Casandra.
“Kau tunggu saja, Jove. Aku pasti akan mencari cara bagaimana agar bisa melenyapkanmu dari muka bumi ini. Pasti!” geram Casandra.
“Oh ya?"
Casandra terkesiap kaget. Familiar dengan suara tersebut, diapun segera berbalik menghadap ke belakang. Dan di detik selanjutnya emosi di diri Casandra langsung dibuat melonjak tinggi begitu dia mendapati kalau orang yang membuatnya terbakar api amarah sedang tersenyum tanpa dosa sambil menatapnya. “Kau. Apa yang sedang kau lakukan di kamarku hah! Pergi! Aku jijik melihat wajahmu yang brengsek itu. Cepat pergi!”
“Hemmm, haruskah aku kembali memberikan hukuman padamu karena sudah berani berkata kasar padaku?” tanya Jove santai. Dia lalu melangkah mendekati Casandra, setelah itu dia menyodorkan bunga yang di bawanya. “Good morning, babe. Morning kiss?”
__ADS_1
“Kau jangan kelewatan ya, Jove. Aku ini wanita baik-baik, jadi jangan perlakukan aku seperti seorang pel*cur murahan yang suka menerima hadiah dari pria hidung belang yang pernah menidurinya. Aku tidak seperti itu kalau kau mau tahu!” hardik Casandra kemudian menepis bunga yang di sodorkan Jove kepadanya. Setelah itu Casandra bersedekap tangan, sama sekali tak merasa takut sedikitpun melihat senyum aneh di bibirnya Jove. “Kau mungkin adalah salah satu pengusaha yang berlatar belakang seorang penjahat, Jove. Tapi aku? Aku adalah seorang wanita yang hidupnya sudah lama terkurung dalam penjara emas di rumah ini. Percaya tidak kalau aku berani melukaimu saat ini juga dengan kedua tanganku sendiri. Hah?”
“Tentu saja aku percaya,” jawab Jove. “Lakukanlah. Aku ingin membuktikan sendiri sejauh mana putri semata wayang keluarga Lin mampu mengasah mentalnya yang seperti kerupuk ini!”
Alih-alih merasa terancam, Jove malah dengan sengaja menantang Casandra agar melakukan niatannya. Dia lalu dengan santainya merentangkan tangan, membiarkan Casandra memilih sesuaka hati di bagian mana dia akan melukainya. Agak psycho bukan? Dan inilah gaya seorang Jove Lorenzo dalam mengasah mental calon pendampingnya. Dia tak segan membiarkan tubuhnya menjadi bahan percobaan dari wanita yang kini tengah memungut pecahan kaca di atas lantai.
Sreeetttt
Syuurrrrrr
Aroma anyir langsung memenuhi udara di dalam kamar begitu Casandra menggoreskan pecahan kaca ke perutnya Jove. Dan apa kalian pikir Casandra merasa takut? Hohoho, tentu saja tidak. Dia dengan berani kembali menggoreskan pecahan kaca ke bagian tubuhn Jove yang lain. Membiarkan begitu saja darah menetes keluar membasahi pakaiannya.
“Hanya seperti ini?” olok Jove. Secepat kilat Jove menarik tangan Casandra yang hendak menggores dadanya lalu dia putar sehingga kini pecahan kaca itu sudah berada di tangannya Jove. Setelah itu Jove mengalungkan sebelah tangannya yang masih memegang buket bunga ke leher Casandra lalu dia arahkan kaca tersebut tepat ke depan wajahnya. Menggertak, itu yang ingin Jove lakukan pada Casandra. “Saat kau memutuskan untuk menyerang, kau harusnya tidak memberi celah pada musuhmu untuk melakukan penyerangan balik. Jadi lain kali kalau kau ingin menyakitiku, pastikan dulu kalau ilmu bela dirimu sudah tinggi. Ya minimal sabuk hitam Judo lah. Baru kita akan bertarung secara sepadan. Paham?”
“Lepas?”
Jove terkekeh. Dia mencium kilat belakang telinga Casandra sebelum melepaskannya. “Pastikan besok bela dirimu sudah jauh lebih baik dari ini saat aku datang menyapamu. Dan hati-hati, aku benci melihat milikku terluka karena satu kecerobohan. Cepat minta pelayan untuk mengobati telapak kakimu atau aku akan turun tangan langsung untuk memotong kedua kakimu supaya kau tidak bisa pergi ke mana-mana. Mengerti?”
“Kau ….
Casandra hanya bisa mendengus marah saat Jove melenggang pergi dari dalam kamarnya. Setelah itu dia mengangkat sebelah tangannya yang terkena noda darah, merasa sedikit puas karena akhirnya bisa menyakiti bajingan tengik itu. “Jangan kau kira aku akan menuruti apa katamu ya, Jove. Kau pikir aku tidak tahu apa tujuanmu memintaku untuk memperbaiki seni bela diriku? Heh, Jove-Jove. Aku ini tidak sebodoh yang kau pikir. Aku sangat tahu tujuanmu meminta seperti itu adalah agar aku siap ketika ada salah satu musuhmu yang tiba-tiba datang menyerangku. Iya ‘kan?”
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Casandra memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Dia perlu berendam dengan air dingin agar kulit tubuhnya yang semalam di jamah paksa oleh Jove menjadi bersih seperti semula meski pada kenyataannya dia sudah ternoda. Tanpa mengurangi tensi kemarahannya, Casandra memenuhi bathup dengan air dingin kemudian langsung masuk dan berendam tanpa melepas pakaiannya terlebih dahulu. Dia lelah.
Mungkin sebagian dari kalian ada yang merasa penasaran apakah Casandra tahu kalau saat pingsan kemarin Jove diam-diam menidurinya. Dan jawabannya adalah Casandra sangat tahu kalau Jove telah menjamah tubuhnya tanpa izin. Dia merasakan ada yang salah dengan bagian intimnya saat bangun tidur. Dan ya, Casandra langsung menyadari kalau Jove kembali menikmati tubuhnya ketika dia pingsan.
Muak, marah, benci, jijik. Semua rasa itu bercampur menjadi satu di dalam hati Casandra. Membuatnya jadi uring-uringan sendiri karena selalu kecolongan.
Sementara itu di ruang tamu keluarga Lin, Franklin yang melihat bosnya muncul dengan keadaan berlumuran darah segera memerintahkan salah satu penjaga agar mengambilkan pakaian ganti dan juga obat di dalam mobil. Dia lalu membantu bosnya membuka pakaian yang sudah robek di beberapa bagian.
“Jove, apa Cassey yang melakukannya?” tanya Cadenza ketar-ketir sendiri melihat keadaan Jove yang terluka.
“Cassey?” Jove membeo. Dia kemudian tersenyum. “Nama yang cukup manis. Tapi sayang, sikapnya begitu galak seperti anak jaguar yang sedang kelaparan.”
“Tolong maafkan kelakuan Cassey ya. Dia ….
“Tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku, Tuan Cadenza. Karena aku tidak akan mungkin membuat perhitungan pada wanita yang sudah kutetapkan sebagai milikku. Kau tenang saja, Casandra tidak akan mungkin terluka karenaku. Tapi ... dia bisa melukaiku. Seperti sekarang contohnya,” ucap Jove menyela perkataan Tuan Cadenza.
Cadenza diam seribu bahasa mendengar perkataan Jove. Dia dan Fidel lalu bergidik ngeri melihat cara Franklin menghentikan pendarahan di atas luka basah tubuhnya Jove. Menyiramkan semacam minuman alkohol lalu menjahitnya dengan santai. Tidakkah menurut kalian hal itu sangat menyakitkan?
Astaga, apa iya semua mafia tidak ada yang memiliki rasa sakit? Ngeri sekali cara mereka saling menyembuhkan luka. Kalau Cassey ada di sini, aku berani jamin dia pasti dengan senang hati akan terus melukai Jove kalau dia tahu Jove sama sekali tak merasa kesakitan atas luka yang dibuatnya. Haihhh, Cassey-Cassey. Kapan sih kau akan berubah menjadi gadis penurut? Ayah lelah sekali rasanya setiap memikirkan kelakuanmu.
Seusai Franklin mengobati semua luka goresan di tubuh Jove, Jove pun segera berpamitan pada Tuan Cadenza. Franklin barusaja membisikkan satu informasi tentang pergerakan seseorang yang diam-diam hendak menyewa pembunuh bayaran agar bisa menghabisinya. Setelah itu Jove dan semua anak buahnya pergi dari kediaman keluarga Lin dan langsung menuju markas utama untuk membahas masalah itu.
__ADS_1
Dan … kalian pasti sudah tahu sendiri bukan siapa orang yang coba main-main dengan Jove? Jika tahu, tolong komentar di paragrap ini ya. Oke?
***