The Devil JOVE

The Devil JOVE
116. Rasa Sakit


__ADS_3

"Kau baik-baik saja, Kiara?" tanya Rose sembari mengusap keringat di kening wanita yang baru saja selesai melewati pelatihan. Mereka kini sedang berada di pinggiran hutan dengan di kawal oleh belasan penjaga.


Hari ini Rose sengaja membawa Kiara berlatih di hutan dengan di buru oleh beberapa anjing pelacak di mana sebelumnya anjing-anjing itu telah di beri obat perangsang n*fsu makan dalam kadar yang cukup tinggi. Hal ini dilakukan agar mereka bisa memburu Kiara dengan keadaan menggila sehingga membuat wanita itu tidak bersikap waspada dan juga ceroboh. Karena jika sampai terjadi, sudah di pastikan Kiara akan menjadi santapan empuk dari anjing-anjing kelaparan tersebut. Kejam? Tentu tidak. Karena nantinya Kiara akan berubah seribu kali lebih kejam dari apa yang dilewatinya sekarang. Semua orang hanya tinggal menunggu waktu saja.


"A-aku baik-baik saja, Bibi. Hanya ... hanya sedikit lelah karena terus berlarian," jawab Kiara dengan nafas terengah-engah. Dia kemudian jatuh terduduk di tanah dengan tubuh gemetaran. "Bibi, kenapa anjing-anjing itu memburuku dengan begitu ganas? Mereka seperti tidak pernah di beri makan sebelumnya. Aku sampai ketakutan saat berada di dalam hutan tadi. Takut kalau-kalau mereka akan memangsaku dengan brutal!"


"Anjing-anjing itu memang sengaja dibiarkan kelaparan supaya insting berburu mereka bisa naik lima kali lipat dari yang biasanya. Jadi wajar saja kalau kau merasa ketakutan seperti sekarang. Itu sangat lumrah karena mereka adalah binatang. Bukan manusia seperti kita yang mempunyai akal dan pikiran yang sempurna," sahut Rose sambil tersenyum kecil.


"Oh, begitu ya. Pantaslah!"


Kiara menarik nafas dalam-dalam saat mendapati lengan tangannya terus mengalirkan darah. Tadi karena terlalu panik, salah satu anjing berhasil mencabik bagian lengan atas. Beruntung saat itu Kiara mempunyai keberanian untuk menancapkan belati ke mata anjing tersebut sehingga dia bisa berlari menyelamatkan diri. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi di dalam tadi. Kiara tak berani membayangkannya.


"Bawakan obat dan juga jarum kemari. Tangan Kiara terluka!" perintah Rose kepada penjaga. Dia kemudian duduk di sebelah Kiara, menatap seksama aliran darah di lengan wanita ini. "Kiara, sebelumnya kau mungkin hanya seorang wanita lemah yang bertahan untuk tetap kuat demi keluargamu. Akan tetapi setelah ini kau tidak di izinkan lagi untuk berpura-pura kuat hanya demi sesuatu hal. Menjadi bagian dari hidup Jove haruslah kuat dan tidak terkalahkan. Mengerti?"


"Maksud Bibi apa ya? Aku kurang paham," sahut Kiara jujur mengakui ketidakpahamannya.


"Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan derita dan bahagia. Dan di saat kebahagiaan kita sedang di uji, ada kalanya kita merasakan derita yang sangat luar biasa sekali. Bibi hanya ingin memberitahumu bahwa suatu saat kau pasti akan merasakan kedua hal tersebut. Derita, lalu bahagia. Mungkin untuk sekarang derita pertamamu telah terlewati, tapi berganti dengan derita pelatihan yang harus kau jalani sebab Jove menginginkanmu. Ketahuilah, Nak. Jauh di depan sana, masih ada banyak sekali derita yang akan kau hadapi. Dan Bibi harap saat kau mulai melewatinya, jangan pernah ragu untuk membantai habis apapun yang telah membuatmu merasa menderita. Selama kau berdiri di titik kebenaran, maka kau bebas mengekspresikan emosimu. Jangan khawatir, Bibi beserta Paman dan Jove akan selalu ada di belakangmu. Oke?" ucap Rose dengan sabar menjelaskan.


Kenapa Bibi Rose bicara seperti ini ya? Seolah dia telah mengetahui akan ada sesuatu yang terjadi di hidupku. Ada apa sebenarnya?


Tangan Rose terulur menerima kotak P3K yang di berikan oleh penjaga. Setelah itu dia menggunting pakaian Kiara kemudian merobeknya hingga luka menganga yang ada di sana jadi terlihat jelas. Lumayan ngeri. Daging di lengan Kiara terkoyak cukup dalam dan rusak. Sepertinya anjing-anjing itu memang sangat kelaparan. Hmmm.

__ADS_1


"Tahan ya. Lukamu akan terasa sakit sekali setelah disiram dengan alkohol ini!"


"A-apa? Di-disiram dengan alkohol?" Kiara memekik kaget. Dia langsung menelan ludah saat ibunya Jove menganggukkan kepala. Yang benar saja. Di beri obat merah saja rasanya pasti sudah luar biasa sekali. Tapi ini? Ya Tuhan, sepertinya Kiara memang harus terbiasa dengan cara orang-orang ini menyembuhkan diri. "Bibi Rose, bisakah jangan menggunakan alkohol? Aku ....


"Takut?"


Seulas senyum tipis muncul di bibir Rose setelah dia menyela perkataan Kiara. Takut? Kata ini terlalu lucu untuk di dengar. Tak mau menuruti keinginan Kiara, tanpa banyak kata Rose langsung menyiram lukanya dengan sebotol alkohol yang ada. Dia lalu memegang kuat-kuat tangan wanita ini saat melihatnya hendak memberontak.


"Kalau kau berani berusik terlalu kuat, percaya tidak Bibi akan langsung mematahkan tanganmu sekarang juga. Kau tidak lupakan Bibi baru saja menasihatimu kalau menjadi anak buahnya Jove haruslah kuat dan tak terkalahkan?" tegur Rose penuh nada peringatan.


"T-tapi ini terlalu menyakitkan, Bibi. Rasanya benar-benar sangat perih," sahut Kiara dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah tak tahan lagi. Kulit lengannya serasa di cabik menggunakan belati yang sangat luar biasa tajam. Sangat menderita.


"Perih kau bilang?"


"Kiara, saat kau sedang bersama Jove, jangan pernah kau perlihatkan air mata ini. Dan juga setelah ini kau akan merasakan sesuatu yang seribu kali lebih perih dan menyakitkan dari apa yang Bibi lakukan sekarang. Bibi tahu kau kesakitan, tapi itu masih belum sebanding dengan rasa sakit yang nanti akan kau hadapi. Jadi bertahanlah. Kau pasti bisa melewati cara ini dengan baik dan kuat. Oke?"


"Hikssss, aku belum pernah merasakan rasa sakit melebihi apa yang sedang kurasakan sekarang, Bibi," sahut Kiara sambil terisak pelan.


"Iya Bibi mengerti. Karenanya sekarang kau sudah harus terbiasa dengan rasa sakit yang seperti ini. Tugasmu nanti sangat berat, jadi kau tidak boleh lemah. Ya?"


"Tapi ini sakit," cicit Kiara.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi rasa sakitnya juga akan hilang sendiri."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Memangnya kapan Bibi pernah berbohong?"


Namun, yang di katakan oleh Rose hanyalah hiburan sementara. Karena begitu darah di lengan Kiara berhenti mengalir, dia segera mengambil jarum kemudian mulai menjahit luka tersebut. Jangan di tanya seperti apa ekpresi ketakutan Kiara sekarang. Wajahnya sampai pucat pasi melihat apa yang sedang Rose lakukan.


"Dulu semua orang pernah merasakan hal yang sama juga sepertimu, Kiara. Mereka lebih parah malah. Akan tetapi karena mereka memiliki tekad yang sangat kuat, rasa sakit yang muncul tak pernah mereka rasa. Itulah kenapa semua orang yang kau temui di pulau rata-rata tak mengenal rasa takut pada apapun. Terkecuali bagi anggota yang baru saja bergabung. Di bawah tekanan Reina dan yang lain, para anggota baru itu juga melewati didikan yang seperti ini. Jadi jangan takut ya. Kau tidak sendirian,"


"Apa mereka semua juga melakukan hal serupa saat terluka seperti ini?" tanya Kiara sembari menggigit bibir menahan sakit. Rasanya sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Bayangkan saja sendiri rasa sakit seperti apa yang muncul saat daging di tubuh kalian dijahit tanpa dibius terlebih dahulu. Di jamin kalian pasti bisa pingsan jika tak kuat.


"Ya." Rose menjawab singkat. "Bahkan saat mengeluarkan peluru pun semua orang dilatih dengan menggunakan cara ini. Bukan menyiksa, tapi memang hanya cara ini yang bisa di gunakan untuk memangkas waktu agar lebih cepat. Dengan begitu musuh tidak akan bisa membaca pergerakan kita lagi!"


"Tapi Bibi, kita semua bukan berada di zaman perang. Kenapa harus sampai seperti ini?"


"Siapa bilang kita bukan berada di zaman perang, Kiara? Kau salah jika berpikir seperti itu!"


Rose menghela nafas. "Sampai dunia ini kiamat pun yang namanya kejahatan akan selalu menjadi musuh kebenaran. Itu artinya selama kita berada di salah satu dari kubu tersebut, maka kita akan selalu terlibat peperangan. Hanya caranya saja yang berbeda dengan peperangan di masa lalu. Paham?"


Kiara mengangguk dengan cepat. Bodoh sekali dia bertanya seperti itu pada ibunya Jove. Dasar konyol.

__ADS_1


Tidak apa-apa, Kiara. Demi keluargamu, kau pasti bisa melewati semua rasa sakit ini. Jove dan Bibi Rose adalah orang yang bertanggung jawab, jadi kau tidak perlu merasa cemas akan keselamatanmu dan juga keluargamu. Di bawah perlindungan mereka semuanya pasti akan baik-baik saja. Jadi bertahan dan patuhlah agar kau bisa segera pulang ke rumah. Hmmmm, aku rindu sekali pada kalian. Tolong tunggu sebentar lagi ya. Aku janji aku akan membawa kalian semua pergi jalan-jalan sampai puas. Hehe.


***


__ADS_2