The Devil JOVE

The Devil JOVE
135. Perasaan Lega


__ADS_3

Bruukk


Kiara jatuh terduduk di lantai setelah bertabrakan dengan seseorang. Dia lalu mendongak, menatap datar pada pria yang tengah sibuk mengibaskan jas yang di pakainya.


"Beginilah jika orang rendahan datang ke acara pernikahan orang kaya. Menjijikkan!" ejek Eriko sambil menatap sinis pada wanita yang baru saja di tabraknya. Dia yang kesal melihat Casandra bersanding dengan Jove di pelaminan memutuskan untuk keluar dari tempat acara untuk mencari udara segar. Namun siapa sangka di pintu keluar dia malah bertabrakan dengan wanita kampungan ini. Cihhh.


"Maaf, Tuan. Siapa yang kau maksud dengan orang rendahan?" tanya Kiara. Segera dia berdiri kemudian maju mendekat ke arah pria yang baru saja menghinanya. Alisnya lalu terangkat ke atas. "Ooh, Tuan Eriko Lin ternyata. Aku kira siapa,"


Kening Eriko mengerut. Dia agak kaget karena ternyata wanita ini mengetahui namanya. Dalam hati, Eriko bertanya-tanya tentang siapa wanita ini. Wajahnya sedikit familiar, tapi di mana dia pernah melihatnya?


"Jangan merasa asing begitu, Tuan Eriko. Aku Kiara, model yang pernah kau sewa untuk mempromosikan produk perusahaanmu. Kau ayahnya Tuan Regent, bukan?" ucap Kiara yang memang mengenal pria tersebut.


Dulu saat dirinya masih menjadi model, Omary Group pernah sekali bekerjasama dengannya. Waktu itu Kiara dan Regent sempat saling mengenalkan diri, tapi tidak akrab. Jadi wajar saja kalau Kiara bisa dengan mudah mengenali pria angkuh yang telah menabraknya. Sudah tak heran.


"Oh, jadi kau seorang model ya?" Eriko mencibir sinis. Baginya status seorang model tetaplah status yang tidak bisa di banggakan.


"Ya, aku mantan model."


"Ada urusan apa kau berada di acara ini? Numpang makan atau menjadi tamu undangan?"


Agak aneh saat Kiara di tanya seperti itu oleh Tuan Eriko. Akan tetapi Kiara tak bisa melakukan apapun padanya karena pria ini adalah kerabat dekatnya Casandra. Jadi sebisa mungkin dia berusaha sabar karena tak mau membuat kegaduhan. Ayolah, Kiara di dididik oleh ibunya Jove agar tidak menjadi wanita yang lemah. Bukan hal sulit baginya untuk merontokkan semua gigi yang ada di dalam mulut pria ini. Tapi ya sudahlah, Kiara harus tahu tempat. Jove bisa murka jika dia sampai membuat masalah sekarang.


"Kiara?"

__ADS_1


Saat Kiara hendak menjawab pertanyaan Tuan Eriko, seseorang memanggilnya. Ternyata ibunya Jove. Segera dia datang menghampiri wanita yang tengah menatapnya sambil tersenyum.


"Bibi pikir kau pergi kemana. Lama sekali," ucap Rose seraya melirik ke arah Eriko. Mungkin bagi yang tidak mengenal siapa Rose, orang tersebut pasti akan menganggap lirikannya sebagai lirikan biasa. Akan tetapi bagi yang sudah mengetahui seperti apa wataknya, bulu kuduk mereka pasti akan berdiri semua. Lirikan mata Rose sarat akan sesuatu, dan yang pasti itu memiliki tujuan tersendiri.


"Aku merasa jenuh berada di dalam, Bibi. Jadi memutuskan untuk jalan-jalan sebentar," sahut Kiara menjelaskan alasan kenapa dia menghilang. Kiara tiba-tiba terpikir dengan keluarganya tadi, dia merindukan mereka. Jadilah Kiara berlama-lama di luar untuk meredakan rasa rindu yang begitu menyiksa hati.


"Lalu Tuan Eriko, apa kalian saling kenal?"


Mendengar namanya di sebut oleh ibunya Jove, Eriko dengan sombongnya malah melenggang pergi dari sana. Dia merasa muak berhadapan dengan orang-orang yang menjadi penghalang untuknya mendapatkan darah langka milik Casandra. Termasuk wanita bernama Rose ini. Hih.


Jangan terlalu tinggi mengangkat dagumu, Eriko. Karena tanpa kau sadari, kau baru saja bertemu dengan malaikat mautmu. Hati-hati. Keserakahanmu akan segera melahirkan wanita srigala yang siap mencabikmu sampai hancur. Kau telah merenggut sesuatu yang membuat srigala ini masih bersedia bertahan hidup. Nyawamu dalam bahaya, Eriko Lin.


"Bibi Rose, ada apa? Kenapa kau menatap Tuan Eriko sampai seperti itu?" tanya Kiara heran.


"Mereka itu hanya saudara tiri, Bibi. Mustahil sikap dan sifat mereka bisa sama. Masa Bibi tidak tahu tentang status hubungan mereka?"


"Ah iya, Bibi lupa kalau mereka bukan saudara kandung."


Setelah berkata seperti itu Rose terkekeh. Dia lalu mengajak Kiara untuk kembali masuk ke tempat acara. Sebenarnya tadi Rose keluar bukan untuk mencari Kiara, tapi dia sedang mengawasi gerak-gerik Eriko. Walaupun di sana ada banyak mata yang mengawasi, tapi insting Rose terus berkata agar tidak lengah. Jadi sebelum ada hal buruk yang terjadi, Rose memilih untuk berkeliling sejenak guna mengamati situasi. Pahamlah, yang sedang menjadi pengantin bukanlah pasangan biasa. Jadi wajar jika banyak musuh yang mengintai. Tapi siapa yang akan mengira kalau Eriko sedang berbincang dengan seseorang yang akan menjadi penyebab kematiannya. Malang sekali.


"Oya, Bibi. Kapan aku akan mulai bekerja pada Casandra?" tanya Kiara begitu dia dan ibunya Jove duduk. Dia lalu menoleh sekilas ke arah wanita cantik yang sedang tersenyum lebar di pelaminan. Casandra Lin, wanita itu seperti bidadari. Cantik sekali. Pantaslah jika Jove sampai tergila-gila padanya.


"Masalah ini nanti biar Jove saja yang memberitahumu. Entah setelah ini mereka akan pergi bulan madu atau tidak, yang penting kau siap. Jove orangnya sangat tidak terduga. Bisa saja tengah malam nanti dia memintamu untuk mulai menjalankan tugas. Jadi bersiaplah. Oke?" jawab Rose tak bisa memastikan kapan Kiara akan mulai menjadi penjaga Casandra.

__ADS_1


"Oh, begitu. Baiklah, aku akan bersiap mulai dari sekarang."


Rose mengangguk senang. Dia lalu menatap putranya yang seperti tidak peduli pada tamu-tamu yang datang. Jove, mafia itu terlalu kentara menunjukkan perasaannya. Tapi jujur, Rose lega sekali. Lega karena putranya jatuh cinta pada wanita yang telah menjadi obat atas rasa sakit yang menyiksa selama puluhan tahun.


"Jove dan Casandra benar-benar pasangan yang sangat serasi sekali ya, Bi. Lihatlah, mereka terlihat bahagia sekali di pelaminan itu," bisik Kiara sambil terkekeh lucu melihat Casandra yang seperti sedang beradu mulut dengan Jove. Itu terlihat menggemaskan di matanya.


"Kiara?"


Rose menoleh. "Jika di suatu hari nanti kau menemukan fakta yang membuat hatimu merasa sakit, bisakah kau jangan menyangkut-pautkan masalah tersebut dengan Casandra?"


Ada apa ini? Kenapa Bibi Rose tiba-tiba bicara seperti ini padaku?


Kiara diam tak menyahut. Akhir-akhir ini dia terus di buat heran oleh sikap orang-orang. Beberapa di antara mereka ada yang menatapnya dengan pandangan iba. Termasuk juga dengan kedua orangtuanya Jove. Paman Adam dan Bibi Rose seringkali memberikan pertanyaan yang membuat Kiara menjadi resah. Dia jadi terus memikirkan keadaan keluarganya.


"Ketahuilah, Nak. Yang sudah terlanjur terjadi tidak ada hubungannya dengan Jove ataupun Casandra. Mereka bersih dari masalah itu," ucap Rose lagi. Ayolah, berhadapan dengan orang yang kehilangan satu-satunya penyemangat hidup adalah sesuatu hal yang sedikit berbahaya. Sengaja Rose menyinggung hal ini agar nanti Kiara tidak khilaf menyerang Casandra karena bagaimana pun Eriko adalah pamannya.


"Bibi, aku tidak tahu apa maksud Bibi bicara seperti ini. Akan tetapi aku berjanji akanberusaha untuk tidak melibatkan mereka," sahut Kiara sambil tersenyum kecil. Dia lalu memegang tangan ibunya Jove. "Walaupun menyakitkan, tapi kalian semua sudah berbaik hati menolong dan merubahku. Jadi sebisaku aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan Paman dan Bibi. Aku janji."


Rasa lega kembali menyelimuti perasaan Rose setelah dia mendengar janji yang di ucapkan oleh Kiara. Setelah itu dia memeluknya, senang karena gadis ini tidak bersikap sulit seperti yang Rose pikir.


Eriko, aku benar-benar penasaran dengan cara apa Kiara akan menghabisimu nanti. Sikapnya yang tenang malah membuatku merasa yakin kalau dia memiliki titik emosi yang cukup mengerikan. Kau berhati-hatilah saja.


***

__ADS_1


__ADS_2