
Euggghhhhh
Terdengar lenguhan pelan dari atas ranjang sebuah kamar yang cukup mewah. Ruangan yang luas, ranjang ukuran king size, juga dengan ornamen-ornamen yang tentunya adalah berharga sangat mahal. Dari pemandangan ini saja sudah cukup menjawab kalau pemilik rumah pastilah orang kaya dan bukan orang sembarangan. Tentu saja. Karena kamar mewah tersebut adalah milik keluarga Clarence, yang juga adalah kediaman Nyonya Rosalinda Osmond.
Mata Kiara mengerjap pelan. Samar-samar dia menatap langit ruangan yang sedikit asing dari yang beberapa waktu terakhir sering dia lihat saat membuka mata. Ah, dimanakah dia sekarang? Seingat Kiara tadi dia sedang berada di ....
"Sudah bangun?"
Suara lembut seseorang menyadarkan Kiara dari kebingungan. Segera dia bangun, tapi rasa sakit begitu kuat menghantam kepalanya. Kiara mendesis sakit, lalu menyender ke kepala ranjang sembari menjambak rambut hingga kepalanya ikut tertunduk.
"Ssshhhh, s-sakit," cicit Kiara. Rasanya tak tertahankan, seperti ada banyak jarum menusuk dalam hingga mengenai batang tengkorak kepala. Apa yang terjadi?
"Bertahanlah. Sebentar lagi rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya," ucap Rose seraya tersenyum kecil. Sudah dari sepuluh menit yang lalu dia berdiri di sisi ranjang tempat Kiara duduk sekarang. Dalam diam mengawasi gadis yang saat ini sedang kesakitan.
"Bibi Rose, ini dimana?" tanya Kiara setelah tahu siapa yang bicara. "Bukankah tadi kita sedang berbincang dengan Nona Reina di pinggir pantai ya? Kenapa aku bisa tiba-tiba ada di sini. Apa yang terjadi?"
Senyum di bibir Rose semakin mengembang saat Kiara bertanya padanya. Karena lokasi pulau yang memang harus selalu dirahasiakan, Kiara sengaja diberi obat bius sebelum di bawa pergi dari sana. Tujuannya? Agar gadis ini tak bisa mengingat titik lokasi keberadaan Reina cs. Walau akan dipekerjakan oleh Jove, Rose tetap tak mau mengambil resiko besar dengan membiarkan Kiara menghafal jalan menuju pulau. Karena menjadi seorang pengkhianat adalah sesuatu hal yang sangat mudah. Terkecuali jika nanti Kiara benar-benar rela menyerahkan diri untuk bergabung dengan mereka. Baru Rose akan mengizinkannya keluar masuk pulau dengan bebas.
"Sekarang kita sudah sampai di rumah, Kiara. Mungkin karena terlalu kelelahan setelah melewati pelatihan panjang di pulau, kau terus tertidur nyenyak selama dalam perjalanan. Makanya kau tidak sadar saat para penjaga memindahkanmu ke dalam mobil," jawab Rose berusaha meyakinkan. Dia kemudian duduk di sisi ranjang, mengelus pelan kening Kiara yang sedang mengerut. "Jangan membiasakan diri berpikir tentang sesuatu yang sudah terlewat. Pikirkan saja apa yang akan kau lakukan jika besok Tuhan masih memberimu kesempatan untuk hidup. Ya?"
__ADS_1
"Apa begitu jelas, Bibi?"
"Sangat. Kulit di keningmu buktinya."
Kiara tersenyum kikuk. Dia memang sedang memikirkan apakah benar dia terlalu kelelahan hingga tak bisa mengingat apapun. Namun karena wanita baik hati ini sudah meminta demikian, mau tak mau Kiara hanya bisa menurut patuh. Lagipula juga tidak mungkin akan ada jawaban atas rasa penasarannya itu. Jadi ya sudah, abaikan saja.
"Nanti malam kalau kau sudah tidak terlalu lelah, Paman dan Bibi ingin membawamu pergi mengunjungi seseorang. Dan orang ini yang nantinya akan kau jaga. Namanya Casandra!" Rose bicara sambil terus memperhatikan manik mata gadis di hadapannya. Dia mencoba menelisik adakah keinginan untuk kabur dari rumahnya atau tidak. "Casandra adalah calon menantu kami. Jadi besar harapan Bibi kau bisa melindunginya dengan baik!"
"Jadi barang berharga yang di maksud oleh semua orang adalah calon istrinya Jove ya?" tanya Kiara agak kaget begitu tahu kalau orang yang akan dia jaga ternyata adalah calon menantu Bibi Rose. Sungguh mengejutkan sekali. Tak sedikit pun Kiara mengira kalau dia akan menerima tugas sepenting ini. Mendadak dia jadi bersemangat.
"Iya. Dan Casandra adalah wanita yang sangat istimewa. Mungkin alasan Jove memilihmu adalah karena dia tahu kau mempunyai hati yang baik. Juga karena kau bisa memahami situasi dengan pemikiran yang cukup dewasa. Tapi ini hanya perkiraan Bibi. Karena sampai detik ini belum ada yang tahu alasan mengapa Jove tiba-tiba mengambil keputusan untuk menjadikanmu sebagai penjaga Casandra. Pemikirannya sedikit sulit untuk dir*ba. Kau tahu itu, bukan?"
Tatapan mata Rose menjadi sedikit tajam saat dia mendengar Kiara yang berbicara tanpa beban. Benarkah gadis ini telah bersedia menerima kehidupan sebagai orang pilihan putranya? Atau jangan-jangan gadis ini hanya sedang mempermainkan kepercayaannya saja. Entahlah, ini agak aneh.
Gadis ini tidak mungkin jatuh cinta pada Jove, kan? Jika benar begitu kenapa Jove malah menempatkannya di sisi Casandra? Apa bukan bom bunuh diri namanya. Tapi tidak mungkin. Mustahil Kiara menyukai Jove. Ada yang tidak beres di sini.
"Bibi Rose, sangatlah berat untukku menjalani hari-hari setelah aku di culik. Setiap detik yang terlewat aku selalu memikirkan bagaimana cara bisa kabur dari cengkeraman Jove dan anak buahnya. Di mataku semua orang terlihat kejam dan tak berperasaan. Seolah mereka ingin menjadikan aku seperti monster yang hanya boleh hidup di bawah perintah Jove seorang. Namun, seiring berjalannya waktu perhatian dan kesabaran Nona Reina mulai membuka mataku. Dari sanalah aku memiliki keyakinan kalau aku pasti bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Selama Jove tidak menyakiti keluargaku, aku telah mengambil sumpah setia untuk terus patuh pada aturannya. Karena bagaimana pun Jove lah yang telah mengeluarkan aku dari kubangan hina yang dulu menjeratku," ucap Kiara secara sadar. Dia lalu meraih tangan Bibi Rose kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. "Aku tahu ini mungkin sedikit mengejutkan untuk Bibi. Tapi jujur, aku mengatakannya tanpa ada niat tertentu. Aku menerima dengan suka rela pekerjaan yang Jove bebankan kepadaku. Dan Casandra, aku akan berusaha melindunginya sebaik yang aku mampu!"
"Kiara, kenapa kau tiba-tiba bicara seperti ini kepada Bibi? Apa yang kau inginkan?" tanya Rose dengan ekpresi wajah yang begitu tenang. Matanya menyelam dalam ke manik mata gadis ini untuk mencari tahu sesuatu hal.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan keluargaku, Bibi," jawab Kiara sambil tersenyum kecil.
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu. Aku masih bertahan hidup adalah untuk mereka, dan aku akan memilih mati jika mereka sampai meninggalkan aku sendiri di dunia ini!"
"Kau yakin dengan kata-kata itu?" Rose menyipitkan sebelah mata. Meragu, itu sudah pasti. Namun, dia juga tidak mungkin mengendurkan tekad di diri gadis ini. Jadi Rose putuskan untuk memastikan bahwa Kiara tidak sedang main-main dengan ucapannya.
Bukan menjawab, Kiara malah menundukkan kepala. Lama dia termenung, hingga akhirnya memberanikan diri untuk menatap ibunya Jove. "Aku pernah bermimpi melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Ayahku, Ibuku, juga adikku. Mereka semua terlihat pucat dan sedang berdiri di tepi jurang yang sangat terjal. Saat aku ingin menghampiri mereka, tiba-tiba saja mereka melompat bersamaan ke dalam jurang tersebut. Aku berteriak, berharap ada seseorang yang datang untuk menolong. Tapi sayang sekali, sekeras apapun aku menjerit, tidak ada satupun orang yang datang. Hingga pada akhirnya sebuah tangan terulur kepadaku. Tangan orang ini berlumuran darah dan juga sangat dingin. Tapi ....
"Tapi apa?"
"Tapi kata-katanya berhasil menyadarkan aku dari mimpi buruk tersebut!"
"Kiara, sebenarnya apa yang coba kau sampaikan dari cerita ini?" tanya Rose merasa bingung mendengar perkataan Kiara yang terkesan berputar-putar.
"Bibi, orang yang mengulurkan tangan di dalam mimpiku adalah Jove. Dan itu adalah alasan mengapa aku berubah pikiran dengan mencoba untuk berdamai atas apa yang aku alami saat ini," jawab Kiara seraya tersenyum kecut. "Aku tahu ini aneh dan tidak masuk akal. Akan tetapi ketahuilah, Bibi. Jove secara tidak langsung telah membantuku, baik itu di kenyataan maupun di alam mimpi. Aku harap penjelasan ini cukup untuk meyakinkan hati Bibi agar tidak meragukanku lagi!"
Ada apa ini? Hal penting apa yang sudah kulewatkan sehingga Jove dan Kiara bisa memiliki kedekatan seperti ini? Mustahil mereka menjalin hubungan. Dan ... dan kenapa juga Jove bisa hadir di dalam mimpinya Kiara. Aneh sekali. Sepertinya aku perlu melakukan sesuatu untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Ya, harus.
__ADS_1
***