The Devil JOVE

The Devil JOVE
9. Hidup Serasa Mati


__ADS_3

Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.



***


Albert tercengang kaget begitu penjaga membuka kotak besar yang di kirim ke rumahnya oleh seorang misterius. Awalnya Albert pikir itu adalah benda berharga. Namun begitu dibuka, bukan benda berharga yang dilihatnya. Melainkan potongan tubuh anak buahnya yang semalam dia kirim untuk membakar gudang milik Jove. Juga ada lima mayat lagi yang kelima-limanya mati dengan cara yang sangat tragis.


“K*parat. Kau benar-benar k*parat, Jove!” umpat Albert sambil menendang kepala anak buahnya yang tertancap sebuah belati tepat di atas ubun-ubun. Melihat dari bentuk penyiksaan yang dilakukan, sepertinya Jove-lah yang turun tangan langsung untuk menghabisi anak buahnya. Benar-benar sangat sialan, Albert tak terima ini. Dia harus menuntut balas.


“Tuan Albert, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mata-mata kita yang berada di kelompoknya Don sudah terbunuh. Mustahil untuk kita bisa mengintai pergerakan Jove dan anak buahnya lagi,” tanya salah satu penjaga sambil menatap ngeri ke arah mayat teman-temannya. Mafia bernanam Jove Lorenzo adalah psikopat gila. Bisa-bisanya dia menghabisi manusia dengan cara yang sebegini kejam. Membuat perut mual saja.


“Aku juga sedang memikirkan hal itu, bodoh. Kau pikir aku tidak bisa melihat sendiri apa kalau orang suruhan kita mati dengan cara yang sangat mengenaskan!” amuk Albert semakin kesal mendengar pertanyaan anak buahnya. Dia juga tahu kalau sekarang aksesnya untuk mengawasi gerak-geriknya Jove sudah terputus.


“Maaf, Tuan.”


“Singkirkan semua mayat-mayat itu dari hadapanku sekarang juga!”


Anak buahn Albert segera membawa pergi kotak besar berisi potongan tubuh teman-teman mereka. Sedangkan Albert sendiri, dia terlihat berjalan mondar-mandir di dekat jendela sambil memikirkan sesuatu hal. Albert tak terima, dia harus membalas dendam atas kematian anak buahnya. Ya benar, Jove harus di balas. Apapun caranya.


“Brengsek. Kenapa aku selalu dan selalu saja gagal menghancurkan Jove dan anak buahnya. Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa segera tersingkir dari dunia ini? Arghhh, k*parat!” teriak Albert emosi sendiri.


Mengalahkan seorang Jove Lorenzo adalah hal tersulit yang pernah Albert lakukan. Sudah berulang kali Albert berusaha menghancurkan bisnisnya, tapi tetap saja akan berujung seperti ini. Dia kalah, dan harus merelakan anak buahnya mati mengenaskan di tangan psikopat gila itu. Meski demikian, ambisi Albert untuk mengalahkan mafia sialan itu tak pernah padam. Albert lalu terkenang dengan ucapan salah satu temannya yang mengatakan kalau dia sebaiknya meminta tolong pada seorang agen pembunuh bayaran yang kemampuannya sudah di akui di dunia hitam.

__ADS_1


“Ah benar. Sebaiknya aku meminta bantuannya saja untuk menghabisi Jove. Heh, akhirnya,” ucap Albert seraya menjentikkan jari tangannya.


Sambil bersiul kesenangan, Albert segera menghubungi temannya guna mencaritahu tentang si agen pembunuh itu. Kali ini Albert yakin kedudukan Jove pasti akan segera tergantikan olehnya. Ya, begitu baru benar.


🌹🌹🌹


Sementara itu di mansion mewah milik Jove, terlihat Franklin yang sedang sibuk bicara dengan seseorang lewat telepon. Di tangannya ada sebuah koper besar berisi uang yang nantinya akan di tukar dengan kelompok dari negara AG.


“Baiklah, Mr.Farjaad. Anda tidak perlu cemas. Kepala saya jaminannya,” ucap Franklin meyakinkan orang AG ini untuk tidak mengkhawatirkan keselamatannya lagi. Perihal lokasi pertemuan mereka yang dibocorkan oleh orang suruhan Don, Mr.Farjaad memang telah mengetahuinya. Itulah kenapa Franklin terus meyakinkan kalau pertemuan mereka kali ini aman karena lokasi telah dirubah.


“Oke. Kau sendiri yang bicara, Tuan Franklin!”


“Ya. Nyawa saya taruhannya.”


Setelah itu panggilan terputus. Franklin pun segera melapor pada bosnya kalau Mr.Farjaad setuju untuk datang ke lokasi yang telah di tentukan.


“Hmmm, menyusahkan,” geram Jove tak puas hati mendengar laporan Franklin. Gara-gara kerjaan Don yang tidak becus, sekarang Jove harus merugi waktu karena opium yang seharusnya dia terima malam ini di undur yang mana menyebabkan tertundanya pengiriman heroin ke luar negeri. Sebagai mafia yang merangkap pembisnis, hal seperti ini jelas sangat merugikan. Dan Jove tidak suka ini.


“Don … akan kita apakan, Tuan? Anda rugi milyaran dollar, haruskah kita membiarkannya duduk santai di rumahnya?” tanya Franklin tanggap akan rasa tidak puas di diri bosnya.


Jove yang tengah menatap ke luar jendela langsung berbalik menatap dingin ke arah Franklin. Alih-alih membahas Don, Jove malah menanyakan tentang polisi yang telah membuatnya merugi. Mendadak tangannya jadi gatal setelah Mr.Farjaad menolak untuk memberikan barang yang di inginkannya.


“Apa kalian sudah menghabisi semua anggota keluarga anjing sialan itu?” tanya Jove.

__ADS_1


“Sudah, Tuan.”


“Bawa dia ke hadapanku sekarang!”


Franklin mengangguk. Dia lalu meminta bawahannya untuk membawa polisi yang kala itu sudah dia tempatkan di dalam karung besar berisi anak-anak ular. Tidak, polisi itu tidak mati karena sebelumnya Franklin sudah menyuntikkan obat penawar racun ular ke tubuhnya. Jadi gigitan anak-anak ular itu hanya akan membuat polisi tersebut seperti di panggang hidup-hidup di dalam oven.


Brruuukkkk


Jove tersenyum. Dia melangkah pelan menuju seorang polisi yang sebagian tubuhnya sudah membiru. Ahh, jangan kalian kira polisi ini masih mengenakan seragamnya ya. Tidak, tidak seperti itu. Polisi ini di satukan dengan ratusan anak ular dalam kondisi tanpa pakaian. Apakah kalian penasaran? Maka pejamkan mata kalian lalu bayangkan ada seorang pria tanpa busana tengah menggeliat kesakitan karena di ujung k*maluannya ada anak ular yang tersangkut. Menarik bukan? Bagaimana rasanya? Apa tengkuk kalian meremang? Jika iya, maka selamat. Alam bawah sadar kalian telah berhasil memasuki dunia permafiaan yang sarat akan kekejaman.


“Sudah baik kau hidup terhormat dengan memakai seragam kebanggaanmu, kenapa kau malah membahayakan nyawamu sendiri hanya karena tak puas hati dengan uang yang kau terima. Why, hm? Apa jangan-jangan kau lebih suka yang seperti ini. Hidup serasa mati, tapi menyakitkan. Benar?” tanya Jove dengan dinginnya.


“T-T-Tuan, t-tolong am-ampuni s-saya. S-s-saya sa … lah. To-long, in-ini sangat menyakitkan,” ucap si polisi dengan suara gemetaran. Mata yang biasanya memancarkan aura licik kini terlihat memerah menahan tangis. Sungguh, tak pernah dia bayangkan kalau keserakahannya akan membawanya terjebak di dalam neraka dunia yang begitu sengsara. Menyesal, hanya itu satu-satunya hal yang dia pikirkan sekarang. Andai saja dia tidak berulah, saat ini dia pasti tengah berfoya-foya menikmati uang pemberian Tuan Don.


“Kenapa mudah sekali untuk seorang pendosa meminta ampun setelah dia melakukan kesalahan? Aku ini manusia, bukan Tuhan. Jadi tidak akan ada gunanya kau memohon ampun padaku karena kata itu tidak ada di dalam kamus hidupku. Paham?”


“Tuan, sudah waktunya kita berangkat,” ucap Franklin menyela pembicaraan bosnya.


“Hmmmm,” Jove menghela nafas panjang. Dia lalu menggerakkan kepala meminta agar anak buahnya kembali memasukkan polisi ini ke dalam karung.


Sebelum keluar dari mansion, Jove mengenakan kaca mata hitamnya terlebih dahulu. Setelah itu dia melangkah menuju mobil dengan diikuti oleh Franklin dan anak buahnya yang lain. Dan seperti biasa, kepergian Jove selalu di ikuti oleh banyak sekali pengawalnya. Apakah menurut kalian itu terlihat keren? Haha. Jangan salah. Bagi yang tahu siapa mereka, sudah pasti kata keren tidak akan muncul di dalam pikiran. Yang ada justru kematian yang sangat mengerikan jika ada yang berani menyinggung ketuanya. Hmmmm.


__ADS_1



***


__ADS_2