The Devil JOVE

The Devil JOVE
57. Kopi & Jagung Bakar


__ADS_3

Fidel menatap sekilas ke arah majikannya yang sedang diam merenung sambil berdiri menyender ke pilar rumah. Setelah insiden majikannya melukai Jove, Tuan Cadenza marah besar. Semua orang sangat mengkhawatirkan keselamatan majikannya yang secara terang-terangan telah melukai seseorang dengan latar belakang yang sangat mengerikan. Sebagai orang yang sudah cukup lama mengikuti keseharian putri semata wayang keluarga Lin, sudah pasti Fidel sangatlah hafal dengan perangainya. Akan tetapi Fidel sangat tidak menyangka kalau Nona Casandra akan seberani ini dalam melakukan penyerangan terhadap mafia itu. Benar-benar memancing keributan.


“Fidel?” panggil Casandra lesu.


“Iya, Nona. Apa anda memerlukan sesuatu?” tanya Fidel dengan sopan menjawab panggilan.


“Kenapa aku harus terlahir dengan keadaan seperti ini. Aku lelah, Fidel. Aku benar-benar sudah sangat lelah hidup dalam kekangan Ayah,” jawab Casandra. Dia kemudian menoleh ke samping, menatap Fidel dengan pandangan yang tidak berdaya. “Aku ingin makan jagung bakar. Aku lapar sekali, tapi Ayah pasti tidak akan membiarkan aku keluar dari rumah. Ayah juga telah menyita kunci mobil kita bukan?”


Fidel berusaha menahan diri agar tidak tertawa melihat komuk majikannya yang terlihat sangat kasihan. Memang benar kalau kunci mobil yang biasa Fidel bawa telah diminta oleh Tuan Cadenza. Akan tetapi Nona Casandra masih belum tahu kalau Jove telah mencabut semua larangan yang selama ini membuat majikannya tak bisa menikmati kehidupannya dengan bebas. Sebenarnya Fidel bukan tak berniat memberitahukannya pada Nona Casandra, dia hanya merasa khawatir saja kalau gadis ini akan langsung pergi melarikan diri begitu tahu kalau sudah tidak ada larangan baginya untuk keluar rumah. Kalian pasti sudah hafal bukan dengan kenakalan majikannya ini? Jadi ya sudah lebih baik Fidel diam dan mendengarkan keluh-kesahnya saja daripada harus membuat seisi rumah ini pusing tujuh keliling.


“Kenapa kau diam saja, Fidel. Biasanyakan kau selalu memiliki cara unik agar bisa membawaku pergi jalan-jalan keluar. Apa kau juga ketahuan oleh Ayah?”


“Ekhmm, Nona Casandra. Saya rasa untuk beberapa hari ke depan sebaiknya anda tetap di rumah dulu. Tuan Cadenza melarang anda karena beliau khawatir Tuan Jove akan menuntut pertanggungjawaban atas apa yang telah anda lakukan. Tuan Jove sangat berbahaya. Tidak menutup kemungkinan dia akan datang dan menuntut balas dendam. Anda bisa mengerti, bukan?” sahut Fidel sedikit menakut-nakuti majikannya agar tidak membandel dulu. Dia tak tega pada Tuan Cadenza yang hampir frustasi karena memikirkan kelakuan putrinya.


Alih-alih merasa takut akan apa yang di ucapkan oleh Fidel, kekesalan di diri Casandra malah makin meluap begitu nama Jove di sebut. Dia yang awalnya sedang lesu langsung berubah menjadi bersemangat empat lima saat akan memaki bajingan yang telah merenggut keperawanannya.


“Heh, memangnya Jove itu siapa hah sampai berani ingin menuntut balas padaku. Dia yang memulaimya lebih dulu, jadi aku sama sekali tidak bersalah karena sudah melukainya. Dan jika dia sampai berani macam-macam padaku, aku bersumpah akan langsung mematahkan burungnya supaya tidak bisa berdiri lagi. Aku ini Casandra Lin, bukan wanita bodoh yang tidak berani melawannya!” sengit Casandra sambil mendengus kasar. Setelah berkata seperti itu Casandra berniat untuk pergi ke kamar ibunya. Dia butuh teman bicara untuk meluapkan kekesalannya. Namun begitu Casandra melangkah, dia langsung jatuh tertelungkup di lantai. “Awwhhhhh!”


Fidel sigap mengangkat tubuh majikannya lalu membawanya duduk di sofa. Setelah itu Fidel berjongkok untuk memeriksa luka di telapak kaki majikannya yang terbungkus perban akibat menginjak serpihan kaca. “Nona, lukanya kembali berdarah. Saya akan mengambil obat dulu dan menggantinya dengan perban yang baru. Permisi.”


Casandra hanya bisa mend*sah pasrah saat Fidel pergi meninggalkannya. Sambil menyangga dagunya dengan satu tangan, Casandra membayangkan betapa enaknya jika dia bisa menikmati jagung bakar dengan di temani secup kopi hangat yang waktu itu pernah di belinya di pinggir jalan. Sederhana sekali bukan? Tapi sayang, sepertinya Casandra tidak akan bisa menikmatinya dalam waktu dekat. Huh.


“Jagung bakar, kopi hangat. Aaaaa, aku sangat ingin memakannya,” gumam Casandra sambil menelan ludah. Dia lalu menunduk, menatap kakinya yang tiba-tiba berdenyut. “Cihhh, kau lemah sekali, Casandra. Hanya karena luka sekecil itu masa kau sampai jatuh tertelungkup di lantai saja sih. Untung saja Jove tidak ada di sini. Kalau dia melihatnya, aku pasti akan di bully habis-habisan olehnya. Menyebalkan!”

__ADS_1


Tak lama kemudian Fidel muncul sambil membawa kotak P3K di tangannya. Dengan cekatan Fidel berjongkok di lantai lalu meletakkan sebelah kaki Nona Casandra ke atas pahanya. Bak seorang dokter, dengan telaten Fidel membuka perban lalu membersihkan lukanya yang kembali mengeluarkan darah. Setelah itu Fidel membubuhkan obat kemudian kembali membungkusnya seperti semula.


“Terima kasih banyak, Fidel. Kau baik sekali,” ucap Casandra sambil tersenyum manis sekali. Fidel sudah Casandra anggap seperti kakaknya sendiri, dan dia selalu merasa nyaman setipa kali Fidel mencurahkan perhatiannya. Seperti sekarang ini.


“Sama-sama, Nona Casandra. Setelah ini tolong anda lebih berhati-hati lagi. Luka di kaki anda masih sangat baru, takutnya akan memburuk jika anda tidak bisa menjaga kondisi,” sahut Fidel kemudian berdiri. “Nona, saya akan pergi sebentar untuk mencuci tangan. Apa anda menginginkan sesuatu untuk dimakan? Nanti biar pelayan yang menyiapkan.”


“Aku ingin jagung bakar dan secup kopi hangat, Fidel. Aku ingin sekali,” ucap Casandra setengah merengek.


“Tapi Nona, sekarang kita sedang tidak bisa ….


“Tuan Fidel, Nona Casandra,”


Seorang pelayan tiba-tiba datang menimbrung percakapan Fidel dengan Casandra. Penasaran, Fidel pun segera bertanya pada pelayan tersebut.


“Tidak, Tuan Fidel.”


“Lalu?”


“Seseorang meminta saya agar memberikan jagung bakar dan juga kopi panas untuk Nona Casandra. Saya mendapatkannya saat hendak masuk ke dalam rumah setelah membuang sampah di luar.”


Kedua mata Casandra langsung berbinar terang begitu mendengar perkataan pelayan. Segera dia meminta agar pelayan tersebut menyerahkan padanya jagung bakar dan juga kopi yang sedang sangat diinginkannya itu. Fidel yang tidak tahu siapa pengirim makanan tersebut tak serta-merta membiarkan majikannya untuk menikmati makanan tersebut. Dia khawatir kalau makanan itu telah di bubuhi racun oleh si pengirim.


“Apa sih, Fidel. Kenapa kau merampas jagung bakarku?” kesal Casandra sambil menatap sengit ke arah Fidel. Dia lalu berusaha meraih bungkusan dari tangan Fidel, tapi gagal. Dan itu membuat Casandra kian kesal.

__ADS_1


“Nona, anda tidak boleh sembarangan memakan makanan pemberian dari orang asing. Bisa saja di dalam makanan ini ada racunnya!” sahut Fidel mencoba memberi pengertian pada majikannya yang sedang merajuk.


“Persetan dengan racun itu. Ayo cepat kembalikan jagung bakarku. Jangan jadi perampas makanan kau ya!”


“Tapi Nona, makanan ini ….


Drrttt drrttt


Ponsel di saku Fidel sudah lebih dulu bergetar sebelum sempat dia menyelesaikan perkataannya. Segera Fidel melihat siapa yang telah mengirim pesan untuknya tanpa mempedulikan rengekan sang majikan yang meminta agar bungkusan yang Fidel pegang diberikan kepadanya.


“Tidak usah cemas. Aku yang memesankan makanan itu untuk Casandra. Jangan membuatnya merengek, aku tidak suka!"


Jove, ternyata dia adalah orang yang telah mengirimkan jagung bakar dan juga kopi hangat untuk majikannya. Karena sudah terkonfirmasi, Fidel akhirnya mengalah. Dia memberikan semua makanan itu pada majikannya yang sudah hampir menangis karena jengkel.


“Waahhhh, jagung bakarnya harum sekali. Hmmmm,” ucap Casandra heboh begitu dia membuka bungkusan. Karena jumlah jagung bakarnya ada banyak, dia memberikan separuhnya pada pelayan yang tadi mengantarkan bungkusan tersebut. Tak lupa juga Casandra menawarkannya pada Fidel walaupun sebelumnya dia telah di buat kesal.


“Terima kasih banyak, Nona. Silahkan anda nikmati jagung dan kopi itu bersama pelayan saja. Saya masih kenyang,” tolak Fidel dengan sopan.


“Huuuu, padahal jagung ini manis sekali. Kopinya juga sangat sesuai dengan kesukaanku. Ngomong-ngomong pengirimnya baik sekali ya. Aku jadi penasaran darimana dia bisa tahu kalau aku sedang sangat menginginkan makanan ini,” ujar Casandra setelah menyesap kopinya. “Ah masa bodolah. Siapapun pengirimnya aku tidak peduli. Yang penting sekarang aku senang. Yeyyy!”


Nona Casandra, jika anda tahu kalau semua makanan itu adalah pemberian dari Tuan Jove, mungkinkah anda masih akan sebahagia sekarang? Hmmmm. Kalau hal sekecil ini saja Tuan Jove sudah langsung mengetahuinya, besar kemungkinan di rumah ini dia ada menempatkan mata-mata. Kalau tidak, mustahil Tuan Jove tahu apa yang sedang di inginkan oleh Nona Casandra. Tapi ada bagusnya juga sih jika memang benar ada anak buahnya yang ikut memantau keadaan di rumah ini. Dengan begitu keselamatan Nona Casandra akan jauh lebih terjamin lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2